I Am No King

I Am No King
Chapter 178 – Keras Kepala


__ADS_3

[Gin, Ninlil dan Om Barun sudah menampakkan diri!]


Seperti ucapan Inanna, ayah dan Ninlil muncul. Mereka melayang dari bangunan utama ke sini.


Baiklah, apa aku harus menghadapi mereka berdua secara bersamaan? Jujur, menghadapi salah satu dari mereka saja aku tidak yakin bisa menang, apalagi dua sekaligus. Apa ini adalah akhir dari hidupku? Bisa jadi.


Setelah beberapa saat, akhirnya Ninlil dan ayah berhenti agak jauh dariku.


"Hai, kak," Ninlil menyapa dengan berteriak.


Tidak seperti biasanya dimana senyumannya penuh dengan cahaya dan keceriaan, sekarang Ninlil memasang sebuah senyum sinis di wajah. Tidak. Sinis tidak cocok. Kini, senyumnya begitu panjang. Dengan mata yang terbuka lebar dan dagu terangkat, Ninlil seolah melihat serangga yang akan diinjak.


Bukan hanya itu, kini Ninlil terus memancarkan aura haus darah dan niat membunuh dalam jumlah besar. Kalau yang berhadapan dengannya adalah orang normal, mereka sudah tidak bisa bergerak lagi.


"Hai, dik," aku membalas. "Belum ada 12 jam sejak kamu menghilang tapi kelakuanmu sudah berubah 180 derajat. Aku jadi ingin mempelajari teknik pencucian otak Enlil."


"Ya, aku setuju. Metode pencucian otak Enlil benar-benar efektif." Ninlil menjawab dengan lantang, arogan.


Hei, hei, kemana perginya adikku yang baik dan polos?


"Jadi, apa sekarang kamu membenciku?"


"Mungkin ya, mungkin tidak. Entahlah! Intinya, aku merasa gatal melihatmu, kak. Aku sangat gatal ingin membunuhmu!"


[GIN! Aku merasakan semua benda di sekitarmu bergetar!]


Tiba-tiba saja ratusan proyektil muncul dari sekitarku. Aku membuka peti arsenal dan berlindung di dalamnya. Meski proyektil itu berhenti ketika menghantam peti arsenal, tapi pengendalian Ninlil sangatlah kuat. Puluhan benda tajam muncul di peti arsenal yang merupakan ujung proyektil, menembus senjata yang terikat di dalam.


"Hahahaha. Sesuai ajaranmu, serang ketika lawan tidak menduganya."


Yap, itu benar-benar ajaranku. Aneh. Padahal, sebelum ini, sulit sekali bagi Ninlil untuk mencamkan ajaranku. Namun, sekarang, dia justru menerapkannya.


Namun, percuma saja kamu bilang seperti kalau aura haus darah dan niat membunuhmu terus muncul. Dua hal ini memberi tahu dengan jelas kemana kamu akan menyerang. Namun, mungkin, orang dengan pengendalian sekuat Ninlil tidak perlu mengkhawatirkannya.


Oke, urusan itu lain kali. Kalau Ninlil benar-benar menerapkan ajaranku, dia akan menyerang dari arah lain, atas. Sesuai dugaanku, ratusan proyektil kecil menghujaniku. Aku mengangkat minigun ke atas. Ditambah dengan kedua perisai di bahu, aku berhasil menghindari luka fatal.


Proyektil yang dilepaskan oleh Ninlil membuat minigun dan perisaiku tidak dapat melepas tembakan lagi. Meski aku masih bisa menggunakan minigun sebagai perisai, sayangnya terlalu berat.


Sekali lagi, instingku berontak. Aku melepas peti arsenal dari pinggang, melempar minigun ke udara, dan melompat keluar. Di saat itu, sebuah silinder raksasa muncul entah dari mana dan melumatkan kedua peti arsenal beserta semua senjata.


"Kakak, aku tahu semua senjatamu dapat menghilangkan kekuatan pengendalian. Kalau semua senjatamu tidak bisa digunakan lagi, maka kamu tidak ada bedanya dengan serangga yang tidak berdaya."


Kalau dulu, aku akan membalas dengan, "aku masih memiliki toya dan sepasang pistol bayonet,". Namun, saat ini, aku tidak melihat dua senjata ini bisa digunakan untuk mengalahkan Ninlil yang terus menjaga jarak. Selain itu, ayah juga masih diam, tidak bergerak, melayang di sisi. Kalau dia ikut bergerak, hidupku pasti sudah berakhir dari tadi.


Kalau begini terus, aku akan tewas. Ya, benar, aku akan tewas. Aku fokus untuk sejenak, memanggil semua ingatan dan kenangan buruk yang pernah kualami, mencoba membangkitkan aura haus darah dan niat membunuh. Aku harus menghadapi Ninlil dengan serius.

__ADS_1


"Kak Lugalgin?"


Tiba-tiba saja Ninlil memanggilku. Begitu Ninlil memanggil, pandanganku teralihkan. Meskipun kini senyumnya benar-benar rusak dengan mata membelalak, aku tidak bisa menghilangkan bayangan Ninlil yang tersenyum dengan polos.


Kalau aku benar-benar serius, Ninlil bisa terluka parah. Dia masih SMP, masih anak-anak. Aku tidak mau merusak masa depannya. Ya, aku tidak akan serius.


Aku berlari, menerjang Ninlil. Sambil berlari, aku mengambil kedua pistol dengan bayonet dari pinggang. Belum ada setengah jarak, aku terpaksa berhenti. Aku melompat ke samping, melihat beberapa tiang aluminium muncul dari tanah.


Sial! Tampaknya, di bawah tanah dan batuan yang tersebar, terdapat lantai aluminium sehingga Ninlil bisa menyerang seperti itu.


Tiang lain meluncur dari samping. Aku menunduk, mencoba menghindar. Namun, aku tidak cukup cepat. Sebagian dari tiang masih menyerempet perisaiku. Sialnya, ketika tidak lagi dikendalikan oleh Ninlil, tiang ini langsung jatuh ke bawah, hampir menimpaku. Ini bukanlah pertama kalinya kemampuanku menjadi senjata makan tuan, dan aku yakin tidak akan menjadi yang terakhir.


[Gin? Butuh bantuan?]


"Tidak! Kalian fokus saja mengawasi sekitar! Aku tidak mau orang lain datang dan melukai Ninlil!"


Ya, aku tidak mau Ninlil terluka. Yang membesarkannya selama ini bukanlah ibu apalagi ayah. Yang membesarkan Ninlil, mulai dari mengganti popok, memandikannya ketika bayi, memberinya makan, mengajarinya berbicara, dan semua hal lainnya, adalah aku. Aku tidak mau masa depan Ninlil hancur oleh hal ini.


Ninlil, tenang saja. Tunggu saja. Kakak akan menghilangkan pengaruh cuci otak dan menyelamatkanmu.


Belum selesai serangan tiang ini berhenti, terlihat beberapa bazoka melayang di sekitar Ninlil. Dengan sebuah senyum, Ninlil menjentikkan jari dan melepaskan tembakan.


Blarr Blarr Blarr


Aku merendahkan tubuh, mencoba melindungi diri dari ledakan yang terjadi dengan perisai bahu. Meski sisi kanan dan kiri terlindungi, sisi depan dan belakang tidak. Aku hanya bisa bergantung pada kedua tangan untuk melindungi wajah dan dadaku. Namun, untuk dari belakang, aku hanya bisa berharap kevlar di balik pakaian militer ini menolong.


Ketika ada sela dimana Ninlil mengganti senjata dan membidik, aku berusaha menerjangnya, lagi. Ninlil tidak membiarkanku begitu saja. Dia melepaskan beberapa tembakan dan tiang, menghasilkan beberapa ledakan. Karena hal ini, aku terpaksa berhenti dan melompat ke samping untuk menghindar, mencegahku mendekati Ninlil.


[Gin–]


"Aku bilang aku tidak butuh bantuan!" aku berteriak, menyela dan membentak Inanna.


Sial! Tanpa kusadari, aku sudah membentak Inanna. Dia pernah hampir menarik diri karena aku menegurnya. Kuharap, setelah ini, dia tidak menarik diri lagi. Aku harus minta maaf padanya setelah semua ini berakhir. Ya, kalau aku keluar dari masalah ini hidup-hidup.


"Rasakan ini!"


Tiba-tiba, beberapa tiang di depanku berubah bentuk. Di saat itu juga, Ninlil melepaskan tembakan dari bazoka. Ketika benda yang dikendalikan berada pada fase perubahan bentuk, kondisinya sangat tidak stabil. Hal ini membuat sifatnya menjadi eksplosif. Lalu, Ninlil melepas tembakan dari bazoka.


Aku merendahkan diri dan merapatkan kedua bahu ke depan. Namun, ledakan yang dihasilkan benar-benar besar. Tubuhku pun terpelanting ke belakang, kembali ke titik awal.


"Hah, hah,"


Aku berusaha mengumpulkan nafas. Dengan susah payah, aku dapat kembali berdiri. Kondisiku sama sekali tidak baik. Kedua perisaiku hancur, bahkan sebagian bahuku terbakar. Bukan hanya itu. Kaki kiri dan paha kanan juga mengalami luka bakar. Aku juga bisa merasakan fragmen besi yang menancap dan masuk ke dalam daging.


[Kenapa kamu begitu keras kepala? Kalau begini terus, kamu bisa tewas! Apa menurutmu Ninlil akan senang kalau kamu tewas? Tidak! Dia tidak akan senang! Bahkan, mungkin dia akan menyalahkan dirinya sendiri untuk seumur hidup. Apa kamu tega?]

__ADS_1


Inanna masih bersikeras. Aku bersyukur dia tidak berkecil hati setelah kubentak barusan.


Ya, Inanna benar. Kalau aku tewas dan pencucian otak Ninlil hilang, dia akan bersedih dan menyalahkan dirinya untuk seumur hidupnya. Namun, meski demikian,


"Setidaknya, dia, hidup,"


Aku tidak bisa memberi jawaban dengan lancar. Nafasku sudah hampir habis.


Ya, Ninlil harus hidup. Dia belum membuat kesalahan separah aku. Selain itu, hidup Ninlil penuh dengan orang-orang yang mempercayainya. Dia tidak sepertiku yang hidup tanpa kepercayaan yang juga telah mengkhianati dua calon istriku siang ini. Bahkan, saat ini, aku akan menipu dan mengkhianati ibu.


Ya, masa depan Ninlil masih cerah. Di lain pihak, aku sudah tidak memiliki masa depan yang cerah. Aku akan terus berada di dunia memangsa atau dimangsa, membunuh atau dibunuh, mengkhianati atau dikhianati. Semakin cepat aku pergi, akan semakin baik.


Hingga kini, semuanya masih sesuai rencana. Jika berjalan hingga akhir, aku dan Enlil akan tewas. Begitu aku tewas, Ninlil tidak akan lagi merasa gatal untuk membunuhku. Setelah Enlil tewas, tidak seorang pun bisa mencuci otaknya. Dia akan menjadi kepala keluarga Alhold yang baru. Ayah, yang pengendalian aluminiumnya lebih lemah dari Ninlil, juga akan menurut.


Ya. Semuanya akan berjalan sesuai rencana.


Tiba-tiba saja, aku mendengar Inanna dan Ninlil yang bercakap-cakap, membuat rencana lain.


"Inanna! Emir! Aku sudah bilang tidak butuh bantuan! Kalian diam saja!"


Tidak! Aku tidak mau kalian mengacaukan rencanaku!


Tiba-tiba saja, sebuah bentakan muncul dari earphone.


[Tidak, Lugalgin Alhold! Kamu lah yang harusnya diam saja!]


Bersambung


\============================================================


Halo semuanya.


Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.


Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.


Sampai jumpa di chapter selanjutnya


__ADS_1


__ADS_2