I Am No King

I Am No King
Chapter 201 – Catatan Hitam


__ADS_3

"Maaf atas kelancangan saya. Maksud kami malam ini mengepung tempat ini, tidak lain dan tidak bukan, adalah untuk menemui permaisuri Rahayu."


"Menemuiku?"


"Ya, benar. Menemui Anda."


Selama berbicara, Shera masih membungkuk dan tidak mengangkat wajah.


"Jangan macam-macam kau!"


"Kau yang jangan macam-macam!"


Arid dan Etana berteriak. Bersamaan, puluhan orang di ruangan ini mengangkat senjata, bersiap melepaskan tembakan.


Aku dan para pengawal masih tidak mengubah posisi, mengelilingi Rahayu.


Sementara Shera masih terdiam, Etana mengambil alih pembicaraan.


"Jangan bodoh. Kalau kau melepas tembakan, kami juga. Kalau kami melepas tembakan, yang akan menjadi korban bukan hanya kalian, tapi juga pengunjung. Selain itu, kalau permaisuri Rahayu tewas karena kecerobohan kalian, perang antara Bana'an dan Mariander tidak akan terhindar."


Aku melirik ke kanan, ke arah Arid. Dia hanya menggertakkan gigi tanpa membalas ucapan Etana.


Di lain pihak, entah sejak kapan, kepanikan yang dipancarkan oleh para pengunjung sudah menghilang. Kini, mereka diam dan mengarahkan pandangan ke tengah ruangan, ke kami.


Para wartawan juga masih mengarahkan kamera ke arah kami sambil membuat catatan.


"Maaf jika kami lancang, permaisuri Rahayu, tapi ada sesuatu yang harus kami sampaikan secara langsung pada permaisuri."


"Secara langsung?"


Permaisuri Rahayu tidak langsung menjawab. Dia mengarahkan pandangan ke arahku, tampak bingung dengan respon yang harus diberi.


Aku hanya mengangguk, tanpa mengatakan apa pun.


"Berdirilah dengan tegak. Hal apakah yang ingin kau sampaikan padaku?

__ADS_1


"Terima kasih."


Shera menegakkan tubuh dan memasukkan tangan kanan ke saku celana. Seketika itu juga, semua orang, termasuk aku, mengarahkan pistol ke arah Shera. Kami khawatir kalau dia tiba-tiba mengeluarkan atau memicu peledak.


"Tenang, aku hanya akan mengambil sebuah smartphone."


Sesuai ucapannya, Shera mengeluarkan sebuah smartphone dari saku celana. Dia tidak mendekat, tapi langsung menggunakan fitur proyektor pada smartphone dan menayangkan sebuah tulisan dan gambar di udara.


"Permaisuri Rahayu, apakah Anda menyadari kalau suami Anda, Yang Mulia Paduka Raja Fahren, telah mengizinkan dan mempraktikkan perdagangan anak selama beberapa dekade?"


"Eh?"


Dan, akting permaisuri ini masih bertahan. Bahkan lengkap dengan mulut setengah terbuka.


Tidak lama setelah dia mengambil alih, aku mencoba menjelaskan mengenai sistem enam pilar dan perdagangan anak yang dilakukan oleh Bana'an dari generasi ke generasi. Namun, tidak kuduga, permaisuri sudah mengetahui hal itu. Bahkan, permaisuri Rahayu sempat menyatakan hal itu adalah salah satu kartu truf yang dia pegang kalau suatu hari ingin melakukan kudeta. Kalau.


"Ini adalah laporan yang bisa kami kumpulkan. Mekanisme, jumlah anak, nilai uang yang berputar, dimana anak-anak itu, dan lain sebagainya. Apa Anda berkenan?"


"Gin, tolong."


"Yang ingin saya tekankan adalah, Raja Arid juga ikut turut serta dalam penjualan anak-anak itu. Raja Arid membuat organisasi pasar gelap gadungan dan membeli anak-anak itu. Raja Arid, dan kerajaan ini, melatih mereka menjadi pasukan bunuh diri. Anak-anak itu dilatih untuk menyusup ke organisasi pasar gelap dan lalu menghancurkannya dari dalam. Lalu, di akhir, mereka akan meledakkan diri, secara harfiah, menghilangkan jejak. Untuk yang melihat siaran ini melalui internet, akan ada anggota kami yang memposting link laporan ini."


"Eh? Benarkah?"


"Yang Terhormat Paduka Raja Arid melakukannya?"


"Kejam sekali..."


Bisikan demi bisikan terdengar dari pengunjung. Untuk wartawan, sebagian ada yang berhenti menyiarkan dan menulis, sebagian masih lanjut. Wartawan yang berhenti sadar kalau kondisi ini sangat sensitif. Kalau siaran dilanjutkan, besar kemungkinan perusahaan mereka akan ditutup oleh pemerintah. Untuk yang lanjut, mereka tidak terlalu peduli dan hanya menginginkan berita sensasional.


Wajahku masih tidak menunjukkan ekspresi, poker face. Namun, di dalam hati, aku berjingkrak-jingkrak. Sudah lama sekali sejak rencanaku berjalan semulus ini. Aku benar-benar senang!


Dengan begini, ancaman True One akan diakui oleh seluruh warga, menghancurkan semua usaha kerajaan yang sebelumnya menyatakan kalau True One bukan ancaman. Bahkan, sebagian besar data yang mereka tampilkan berasal dariku.


Sekarang, True One berhasil mengekspos keburukan kerajaan Mariander dan Bana'an, yang akan membuat permaisuri memutus kerja sama. Hal ini akan Mariander terpaksa memfokuskan semua perhatiannya pada True One. Arid tidak akan sempat untuk mengurus kerajaan Bana'an. Jadi, walaupun Fahren meminta bantuan pada Arid, dia akan diabaikan.

__ADS_1


Itu adalah alasan utama. Namun, tentu saja, aku memiliki agenda lain di balik ini semua.


Di lain pihak, aku tidak perlu khawatir nama Agade, Akadia, atau Guan terseret. Agade dan Akadia dibentuk olehku dan ibu. Agade relatif baru, jadi belum pernah terlibat dalam praktik perdagangan anak. Hell! Tentu saja tidak! Aku pendirinya, tentu saja aku tidak akan mempraktikkannya.


Untuk Akadia, aku beruntung ibu juga tidak mempraktikkannya. Dia melakukan perekrutan murni melalui koneksinya. Lalu, Guan adalah organisasi yang merupakan kumpulan mercenary. Jadi, mereka tidak terlalu peduli mengenai regenerasi dan sebagainya.


"Bicara apa kalian?" Arid membuka mulut. "Aku tidak tahu ataupun paham soal perbincangan ini. Bisa tolong dijelaskan?"


Arid menjawab tuduhan dan bisikan yang diarahkan padanya dengan normal, tidak ada nada naik sama sekali, seolah dia benar-benar tidak tahu apa pun mengenai perdagangan anak yang dimaksud.


"Dan lagi, apakah laporan itu memang benar adanya? Bisa saja laporan itu adalah fiktif, kan?"


"Hehe, benarkah demikian?" Shera menoleh ke kanan. "Maul, ada yang ingin kamu katakan?"


"Hah? Maul?"


Bersambung


\============================================================


Halo semuanya.


Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.


Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.


Sampai jumpa di chapter selanjutnya


__ADS_1


__ADS_2