I Am No King

I Am No King
Chapter 218 – Alhold Lain


__ADS_3

"Tuan Putri Rina Silant dari kerajaan Nina, calon Ratu kerajaan Nina."


Rina bersiul. "Aku sama sekali tidak menduga kalau kau mengenalku."


Tidak juga. Aku tahu identitas Rina bisa dibilang kebetulan. Saat dulu bertemu Lacuna, aku mencari tahu rambut perak berasal atau dominan di daerah mana. Saat aku mencarinya, hasil yang pertama kali muncul adalah kerajaan Nina di timur.


Saat itu, aku masih mengira rambut Lacuna adalah murni perak, yang kemudian aku ketahui kalau rambutnya hanyalah dicat. Namun, informasi tidak pernah sia-sia.


Alasan lain adalah nama kerajaan Nina, terutama keluarga kerajaan, muncul sebagai "kemungkinan inkompeten". Ibla, sebagai orang yang kutugaskan mencari informasi mengenai keberadaan inkompeten, memberi laporan bahwa kerajaan Nina memiliki tradisi dimana calon Ratu tidak diperbolehkan menggunakan pengendalian sama sekali.


Sebelum menikah, entah kakak atau adiknya, akan selalu berada di sisinya untuk mengendalikan benda-benda. Dan, bersama perempuan itu, adalah adiknya. Dengan kata lain, sejak berdiri, kerajaan Nina sudah bersiap kalau ada inkompeten lahir.


Selain itu...


"Yah, karena ada suatu Raja yang ingin kerajaannya dipimpin oleh inkompeten, kami pun terpaksa mencari penggantiku, dan namamu muncul. Kalau saja Raja itu tidak berkhianat, mungkin kami sudah mendatangimu. Dan, apa kalian juga yang mengirim senjata penghilang pengendalian beberapa bulan lalu?"


Rina tersenyum. "Karena tidak ada ruginya, ya benar, kami lah yang mengirim senjata itu. Kami bermaksud menambah sedikit bumbu di konflik pasar gelap kerajaan ini."


"Konflik pasar gelap kerajaan ini sudah cukup memiliki rasa. Jadi, bumbu itu sudah tidak diperlukan."


"Umm.... bisa tolong lepaskan aku? Aku berjanji tidak akan melakukan apa pun."


Perbincangan kami terhenti oleh sebuah suara dari kakiku. Kami berdua pun melihat ke bawah, ke laki-laki berambut perak dan bermata biru ini. Aku baru menyadari warna mata mereka adalah mirip. Kalau tadi Rina meletakkan tangan di mata, berarti dia mengenakan lensa kontak untuk menahan kekuatannya.


"Maaf, tapi aku tidak bisa melepasmu begitu saja. Kakakmu adalah Alhold sejati, sepertiku. Dan, sepertiku, aku yakin dia akan langsung menyerang begitu kau bebas."


"Well....aku tidak bisa menyangkalmu. Kakak memang orangnya licik seperti itu."


"Kan?"


"Hei! Tera! Kenapa kamu menghina kakakmu sendiri?"


Kakak adik ini pun berdebat kecil. Mereka pasti berharap aku lengah dengan perdebatan kecil ini, tapi tidak. Aku masih awas dengan keberadaan mereka. Bahkan, aku tahu kalau tangan laki-laki ini, Tera, sempat bergerak. Namun, tampaknya dia tahu kalau aku tidak menurunkan penjagaanku. Karenanya, dia pun mengurungkan niat.


"Jadi, apa yang kau lakukan di tempat ini, Yang Mulia Rina?"


Rina mengalihkan pandangan padaku. "Bisa tolong hentikan itu? Aku benci panggilan itu. Sebagai Alhold, kau paham lah."


"Ya, aku paham. Lalu, apa yang kau inginkan dariku? Bukanlah seorang Alhold namanya kalau dia pergi jauh-jauh ke negara lain tanpa suatu tujuan yang pasti, yang menguntungkan."


Dalam hidupku, mungkin ini adalah pertama kalinya aku merasa begitu kompatibel dengan orang lain. Dia benar-benar memahami jalan pemikiranku, dan aku juga memahami jalan pemikirannya. Seolah-olah kami diciptakan untuk bersama......


Tentu saja tidak! Hah! Kenapa? Lihat saja nanti.

__ADS_1


"Aku ingin memberimu peringatan. Jangan menggunakan kekuatanmu terlalu sering dan terlalu terbuka. Gara-gara kau, beberapa pihak mulai menduga kalau semua Ratu di kerajaan kami adalah inkompeten. Dan, gara-gara sifatmu yang liar, mereka pun mulai menganggap kami juga luar. Gara-gara kau, aku menjadi sangat repot. Mengerti?"


"Kau di sini, membiarkan Apollo melancarkan serangan yang hampir membunuh dua calon istriku. Di sini saja aku sudah melihat kau tidak peduli kalau aku repot atau bahkan kehilangan orang yang penting bagiku. Lalu, kenapa aku harus peduli kalau kau repot atau bahkan diserang?"


"Well..... fair point."


Perempuan ini tidak mendorong lebih jauh. Dia benar-benar memiliki karakter sepertiku. Dan, hal ini membuatku semakin tidak nyaman. Kalau dia tidak ada niatan untuk memaksa lebih jauh, tujuan yang sebenarnya bukanlah itu. Atau mungkin, dia sudah menyiapkan rencana lain untuk memaksaku menurut.


"Bagaimana kalau–


"Kalau kau macam-macam dengan keluargaku atau orang yang kukasihi, aku akan mengerahkan semua tenaga untuk menghancurkan Kerajaan Nina. Bahkan, aku tidak peduli walaupun Kerajaan ini dan Kerajaan Nina hancur dalam prosesnya dan membunuh semua orang yang tidak bersalah. Dan, aku pastikan ibumu akan menjadi bulan-bulanan orang-orang yang penuh dengan nafsu birahi. Ini adalah sumpahku."


Akhirnya, perempuan itu menggertakkan giginya. Matanya pun melebar, menunjukkan dia tidak suka pada apa yang kudengar.


Ya, sebagai Alhold, kami tidak pernah terlalu peduli jika orang mengancam diri kami. Namun, kalau mereka mengancam keluarga atau orang yang kami kasihi, beda cerita. Aku baru bisa menggunakan trik ini karena dua inkompeten yang kutemui sebelumnya tidak memiliki ikatan batin yang kuat dengan orang lain.


"Apa kau tidak terlalu naif? Kau ingin orang-orang yang kasihi tidak diserang, tapi kau sendiri terjun dan bahkan salah satu orang paling dikenal di dunia, baik dunia normal maupun pasar gelap. Apa ini tidak kontradiktif?"


"Aku sadar benar ini adalah kontradiktif. Namun, apa yang bisa kulakukan, arus membawaku ke sini. Aku tidak dilahirkan di kalangan keluarga yang memang menginginkan kelahiranku, tidak sepertimu."


Mata perempuan ini semakin membelalak.


Aku belum memeriksa sejarah dan latar belakang perempuan ini, Rina, dengan saksama. Jadi, ada kemungkinan ucapanku salah atau bahkan menghinanya. Namun, aku tidak akan memedulikan hal itu untuk saat ini.


"Hah?"


"Calon Ratu dan pangeran berada di kerajaan lain, terlibat dengan urusan internal Kerajaan ini. Kalau pihak kerajaan seperti Permaisuri Rahayu mengetahui hal ini, dia bisa mengira Kerajaan Nina memasok senjata ke pasar gelap. Di lain pihak, pihak pasar gelap juga bisa mengira Kerajaan Bana'an mendapatkan bantuan dari Kerajaan Nina. Kalau kau ingin melindungi keluargamu dan kerajaanmu, langkah yang paling tepat adalah tidak pernah terlibat urusan kerajaan ini."


"Itu...."


"Aku juga bisa lihat kau hanya mengikuti arus." Aku tersenyum. "Kalau kita bertemu dalam keadaan lain, mungkin aku akan merasa iba bahkan jatuh hati padamu. Sayangnya, atau untungnya, kita bertemu dalam keadaan ini."


"Yah, untuk hal jatuh hati, aku setuju. Namun, tidak untuk yang lain."


Tiba-tiba saja kakiku terasa panas. Sebelum lebih parah, aku menarik kaki dan melompat ke belakang.


Tanpa menunggu instruksi dariku, Mulisu langsung melepas tembakan ke arah Tera.


Rina mengantisipasi tembakan Mulisu dengan melemparkan lempeng besi tepat ke samping Tera, melindunginya. Di saat bersamaan, sebuah asap muncul dari tubuh Tera.


"Mulisu, hentikan tembakanmu dan mundur!"


Tanpa memberi konfirmasi, Mulisu menurut. Dia melompat mundur dan menghentikan tembakan. Meskipun demikian, Mulisu tidak menurunkan senjatanya.

__ADS_1


Di lain pihak, aku merasa urusan ini sudah selesai. Aku berjalan ke samping Mulisu dan meletakkan tangan di senapannya.


"Ayo pergi."


"Eh?"


"Sudahlah."


Menurut, Mulisu pun menurunkan senapan apinya dan berlari bersamaku. Bersamaan dengan kepergian kami, sebuah suara terdengar dari dalam asap.


"Asap ini adalah asap khusus. Kalau kalian melepas tembakan, asap ini akan meledak dan membunuh kita semua. Apa menurutmu dua calon istrimu akan bisa bertahan hidup setelah kematianmu?"


Sudah kuduga! Kalau Mulisu langsung melepaskan tembakan, kami pasti sudah tewas.


Perempuan itu, Rina, adalah seseorang dengan darah Alhold sejadi. Dia akan mengerahkan segala cara untuk menjamin keselamatannya. Kalaupun keselamatannya tidak terjamin, dia akan mengajak pihak lawan hancur bersamanya. Benar-benar pemikiran yang sama denganku.


Duar


Sebuah ledakan muncul tepat suara itu. Aku dan Mulisu terlempar. Karena sudah cukup jauh, kami hanya terkena hempasan udaranya, tidak terluka sama sekali.


"Kita akan bertemu lagi Lugalgin Alhold. Dan, saat itu, kita akan mengobrol lebih lama."


Sebuah suara terdengar dari pengeras suara yang tampaknya ditinggalkan di medan perang ini.


Aku menduga pengeras suara itu terhubung dengan smartphone secara nirkabel (wireless). Jadi, percuma saja kalau aku mau mencarinya.


"Yah, kita akan bertemu lagi."


Bersambung


\============================================================


Halo semuanya.


Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.


Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.

__ADS_1


Sampai jumpa di chapter selanjutnya


__ADS_2