I Am No King

I Am No King
Chapter 210 – Menderita


__ADS_3

~Mari POV~


 


 


"Weidner dan Shanna tega melakukan itu?"


"Sejak dulu, kita tahu kalau Weidner memang nakal dan Shanna selalu menaruh perhatian lebih pada Weidner. Dan, mungkin, gara-gara suatu hal, Weidner lebih memilih untuk berhubungan dengan Lili daripada Shanna. Ini juga lah yang membuat Shanna menyerang Lili."


"Tapi....tapi....."


Kini, Maul menutup mulutnya sendiri. Aku bisa melihat matanya yang membelalak dan pandangan yang tajam. Urat nadi pun mulai muncul di pelipis dan telapak tangannya. Mungkin, kalau tidak aku suruh dia, Maul sudah berteriak sekuat tenaga sekarang, melampiaskan semua amarahnya.


"Sebagai catatan, Kak Lugalgin tidak mengetahui ini semua. Lili menghubungiku beberapa saat setelah dia berpisah dengan Kak Lugalgin."


"Kenapa? Apa dia tidak ingin Weidner dan Shanna dibunuh oleh Kak Lugalgin. Apa dia masih merasa kasihan pada mereka berdua?"


"Tidak! Lili tidak melakukan itu demi Weidner atau pun Shanna. Dia melakukannya demi Kak Lugalgin."


"Demi Kak Lugalgin?"


Aku mengangguk.


"Seperti yang kubilang, ketika Kak Lugalgin menemukan Lili, dia memeluknya erat dan terus berkata, 'maafkan aku, maafkan aku,'. Di saat itu, Lili menganggap kalau Kak Lugalgin mengira yang menyakitinya adalah orang-orang pasar gelap. Dia, kami, tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Kak Lugalgin ketika mengetahui kalau yang melakukan perbuatan keji itu bukanlah orang pasar gelap, tapi Weidner dan Shanna, orang yang dia cari-cari, yang ingin dia selamatkan."


"Weidner....Shanna....teganya kalian."


Mungkin Maul sulit percaya kalau ada anak panti asuhan Sargon yang melakukan hal itu. Di lain pihak, aku justru terkejut dari semua anak panti asuhan, hanya Weidner dan Shanna yang berakhir menjadi seperti itu. Kalau dihitung, persentasenya kurang dari 10 persen. Ya, aku terkejut, dan terkagum.


Wajah Maul memerah. Pandangannya tampak tajam dan membara. Namun, di lain pihak, dia menitikkan air mata. Tampaknya, perasaan antara marah dan sedih bercampur aduk di pikiran Maul.


"Lalu, Ha–Mari, apa ini berarti, tujuanmu bergabung ke Agade..."


Aku melanjutkan Maul, "Ya, benar. Alasan utamaku bergabung ke Agade adalah berjaga-jaga kalau hal ini terjadi, ketika salah satu dari kita justru menjadi musuh. Ketika hal ini terjadi, aku tidak ingin Kak Lugalgin yang mengonfrontasi orang itu/"


"Ya, aku setuju. Kita harus menyelesaikan masalah ini sendiri. Kita tidak boleh membiarkan Kak Lugalgin lebih menderita lagi."


Ya, aku tidak mau membuat Kak Lugalgin membunuh Weidner dan Shanna. Aku tidak mau. Aku tidak mau membuat Kak Lugalgin semakin menderita. Kehilangan Kak Tasha dan yang lain sudah lebih dari cukup untuk Kak Lugalgin. Aku tidak mau memaksanya mencabut nyawa orang yang ingin dia selamatkan. Biar aku, kami, yang melakukannya.


"Kamu sadar kan kalau kita melakukannya, Kak Lugalgin mungkin akan marah atau bahkan membenci kita."


Aku mengangguk.


Aku sadar kalau nyawa Weidner dan Shanna kucabut, bukan hanya Marah, Kak Lugalgin mungkin akan membenciku. Namun, aku sudah siap dengan konsekuensinya. Lebih baik Kak Lugalgin marah padaku daripada menderita. Ya. Aku sudah siap.


"Tampaknya aku harus segera menjadi kuat supaya bisa membunuh mereka sebelum Kak Lugalgin mendapatkan informasinya."

__ADS_1


"Ya, kita harus bergegas, sebelum Agade berkonfrontasi secara langsung dengan mereka, yang berakibat pada Kak Lugalgin terpaksa menghadapi Weidner dan Shanna."


"....sebelum Agade berkonfrontasi? Tunggu dulu, memang mereka musuh Agade?"


"Maul, menurutku, aku sudah cukup memberikan petunjuk mengenai organisasi yang dimaksud. Yah, mereka menjadi anggota dari Enam Pilar lain. Lebih tepatny–"


Kring Kring Kring


Ung? Telepon? Dini hari seperti ini?


Aku mengambil smartphone dari atas meja dan melihat identitas peneleponnya.


Emir? Ada apa?


"Ya, halo Emir?"


[Ah, un, Mari, apa Lugalgin bersamamu?]


"Ah? Tidak. Kak Lugalgin tidak bersamaku. Memangnya Kak Lugalgin belum pulang?"


[Sebenarnya, tadi dia sempat menelepon mengatakan malam ini tidak pulang. Tapi, setelah itu, teleponnya tidak bisa dijangkau lagi]


Hah? Tidak bisa dijangkau? Apa Kak Lugalgin diserang oleh enam pilar? Tidak! Tidak mungkin! Kalau Kak Lugalgin diserang oleh enam pilar, mereka pasti sudah membuat deklarasi atau semacamnya. Fakta kalau tidak ada deklarasi membuktikan kalau Kak Lugalgin baik-baik saja.


"Ahh....iya......aku lupa."


"Kak Emir tentang saja. Kak Lugalgin tidak apa-apa kok. Kemungkinan besar, nanti pagi, Kak Lugalgin sudah pulang kok. Percaya saja."


[Yah sudahlah. Tampaknya kamu tahu Lugalgin ada di mana. Aku titip Lugalgin ya, Mari.]


"Baik."


Aku pun mengakhiri telepon. Sementara itu, di depanku, Maul duduk dengan wajah datar.


"Siapa?"


"Kak Emir. Dia khawatir karena Kak Lugalgin tidak pulang."


"Eh? Tidak pulang?"


"Tenang. Kak Lugalgin tidak apa-apa kok."


Aku menoleh ke kanan. Di kejauhan, di luar jendela, tampak cahaya sudah mulai menampakkan diri.


"Ayo, ikut. Akan aku tunjukkan sesuatu yang membuatmu semakin ingin mengakhiri masalah Weidner dan Shanna tanpa melibatkan Kak Lugalgin."


Aku melangkah pergi dan Maul pun mengikutiku. Kami pergi ke basemen dan mengambil satu mobil. Dengan cepat, kami pergi meninggalkan markas, menuju ke pinggir kota.

__ADS_1


Dalam dunia pasar gelap, ada beberapa kesepakatan tidak tertulis seperti dilarang menyerang orang yang belum pernah berhubungan dengan pasar gelap atau waktu istirahat yang tidak boleh diganggu antara jam 3 hingga 6 pagi.


Aku hampir lupa karena sudah lama tidak menemukan anak panti asuhan lain. Namun, setelah menemukan mereka, Kak Lugalgin selalu pergi ke tempat yang sama.


"Makam?" Maul bertanya.


Selain dua aturan yang kusebutkan, pasar gelap memiliki beberapa safe haven atau tempat yang harus bebas konflik. Di lokasi yang telah ditentukan, tidak diperbolehkan adanya pertikaian oleh anggota organisasi mana pun atau siapa pun. Bagi yang melanggar, dia akan dikucilkan oleh semua organisasi dan diburu. Bahkan, kalah sampai hal ini terjadi, akan sangat mungkin enam pilar melakukan gencatan senjata hanya untuk mengejar orang ini.


Safe haven yang dimaksud bukanlah rumah sakit atau kantor pemerintah, tapi makam. Jika ada orang berada di makam, maka dia tidak boleh diserang oleh siapa pun. Diawasi atau diintai boleh, tapi tidak boleh diserang. Makam menjadi safe haven adalah sebuah penghormatan oleh semua organisasi kepada orang-orang yang telah tewas dan yang ditinggalkan.


"Ayo, masuk."


Aku membuka gerbang dan masuk ke dalam makam. Makam ini terletak di bukit kecil. Sepanjang mata memanjang, hanya terlihat abu-abu batu nisan dan hijau rumput. Satu-satunya pohon yang ada di tempat ini berada di puncak bukit.


Setelah berjalan beberapa menit, kami sampai pada salah satu sisi makam. Ketika tiba, sebelum aku, Maul telah berhenti duluan.


Di depan kami, terlihat sebuah tubuh terbaring di tanah.


"Ka, Kak Lugalgin...."


Ya, benar, seperti ucapan Maul, kami mendapati Kak Lugalgin di depan kami. Di situ, terlihat Kak Lugalgin yang terbaring di samping makam. Terlihat kelopak yang basah, mungkin bekas tangisan. Posisi Kak Lugalgin layaknya seseorang yang tidur dengan menggunakan pangkuan orang terkasih sebagai bantal.


Namun, sayangnya, yang digunakan sebagai bantal oleh Kak Lugalgin bukanlah pangkuan seseorang, melainkan gundukan tanah makam, seolah gundukan tanah itu adalah pangkuan Kak Tasha, seolah-olah dia sedang ditenangkan dan dihibur oleh Kak Tasha. Dia sudah tidak mengenakan topeng lagi, tapi masih mengenakan jubah dan pakaian bertarung Agade.


Ya, Kak Lugalgin selalu melakukan hal ini ketika menemukan satu orang dari panti asuhan, baik hidup maupun mati.


Aku berbisik, "Kak Lugalgin, istirahatlah. Biarkan aku yang menangani Weidner dan Shanna."


Bersambung


\============================================================


Halo semuanya.


Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.


Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.


Sampai jumpa di chapter selanjutnya


__ADS_1


__ADS_2