
~Lacuna POV~
Dor
Aku menarik assault rifle dari belakang pinggang dan melepaskan tembakan, menyarangkan peluru ke kepalanya. Begitu dia tewas, aku menarik pitaku. Begitu terlepas dari tombaknya, aku bisa mengendalikan pita ini lagi.
Apa semua laki-laki memang sebodoh ini? Maksudku, kenapa mereka selalu berbicara sebelum melakukan sesuatu? Apa mereka tidak bisa langsung melakukan eksekusi tanpa berbicara? Seumur hidupku, hanya sedikit laki-laki yang langsung eksekusi tanpa banyak bicara. Bahkan, aku bisa menghitungnya dengan jari sebelah tangan.
Namun, kenapa tidak ada orang yang bergerak ke sini dari dalam? Apa Sonya gagal? Apa dia ketahuan dan orang-orang itu berhasil kabur? Mungkin.... tidak. Kelihatannya, ekspektasiku saja yang terlalu tinggi.
Setelah aku mengatakan hal itu, orang-orang berhamburan keluar. Laki-laki, perempuan, dan orang tua. Aku tidak terkejut kalau tidak ada satu pun anak-anak. Ketika aku memberi kabar pada keluarga Adams dan Anastasia kalau penyerangan adalah hari ini, mereka pasti sudah menculik anak-anak itu ketika mereka di sekolah tadi.
Tidak peduli apakah negara, kerajaan, ataupun pasar gelap, anak-anak adalah aset yang sangat berharga. Melatih anak-anak selalu lebih mudah dibandingkan melatih orang dewasa. Jalan pikir mereka pun masih bisa dibentuk. Mereka bisa menjadi tentara, bawahan, atau bahkan pimpinan organisasi di masa depan.
Dengan benang perak di tangan kanan, aku melibas orang-orang yang keluar, memotong tubuh mereka. Sayangnya, belum ada seperempat orang yang berhasil terpotong, aku sudah tidak mampu merasakan benangku lagi.
Salah satu orang di kerumunan ini memiliki senjata penghilang pengendalian itu. Ketika melihat pemotongan yang terjadi berhenti, mereka melempar pandangan ganas.
Aku tidak memedulikan pandangan mereka dan menerjang. Aku melepaskan benang perak di tangan kanan dan menarik katana. Pita di tangan kiri pun aku ikatkan ke tubuh lagi, berganti menjadi assault rifle. Sekarang, senjataku adalah katana di tangan kanan dan assault rifle di tangan kiri.
Aku tidak akan menggunakan pita karena aku tidak tahu kapan lawan menggunakan senjata penghilang pengendalian. Kalau tiba-tiba aku tidak bisa mengendalikan pita perak, meski hanya satu detik, aku bisa tewas.
Karena mereka berkerumun, orang-orang ini tidak akan berani menggunakan senjata api, takut melukai rekan mereka sendiri.
Seperti orang pada umumnya, mereka menggunakan pengendalian pada senjata yang mereka gunakan, entah itu pedang, tombak, atau apapun. Tujuannya adalah untuk menghilangkan faktor berat dan menambah kelincahan.
Ketika katana ini bersentuhan dengan senjata mereka, pengendalian tidak bisa digunakan pada senjata tersebut. Dikarenakan berat yang hilang tiba-tiba muncul, gerakan mereka akan kaku untuk sesaat. Di saat itu, aku melepaskan tembakan atau langsung menebas tubuh mereka.
"Perempuan ini juga memiliki senjata penghilang pengendalian?"
"Tidak mungkin!"
Di balik beberapa teriakan, aku mendengar beberapa orang masih bisa bertanya-tanya.
Sementara itu, aku terus melancarkan serangan tanpa henti. Menghindar, bertahan, menebas, dan melepas tembakan.
Setelah beberapa menit, semua orang yang mencapai taman ini sudah tewas. Dan, tidak terhindarkan pula, tubuhku berlumuran darah. Hingga akhir, tidak seorang pun dari mereka yang menggunakan senjata api.
Mungkin, di tengah-tengah, ada orang yang menggunakan senjata penghilang pengendalian. Namun, karena katana dan assault rifle yang kugunakan tidak menggunakan pengendalian sama sekali, aku tidak menyadarinya.
"Jangan bergerak!"
Sebuah suara terdengar lantang.
__ADS_1
Seriously? Klise sekali.
Saat ini, seorang laki-laki paruh baya muncul dari dalam bangunan. Dia menawan Sonya dengan sebuah pistol menempel di kepala.
"Jangan bergerak! Atau kau ingin perempuan ini mati?"
"Ma, maafkan aku, Lacuna."
"Iya, iya, tidak apa-apa," Aku merespon dengan nada setengah tinggi.
Aku jarang dipertemukan dengan kejadian klise semacam ini, jadi aku ingin sedikit menikmatinya.
"Tidak kusangka akan ada orang yang bisa melakukan hal ini padaku. Kau, katakan! siapa yang mengirimmu?"
Dan, seperti semua klise itu, dia mulai berbicara tanpa arah.
"Keluarga Adams dan Keluarga Anastasia."
"Hah? Dua keluarga? Kau pasti bercanda, kan?"
"Tidak, aku tidak bercanda. Awalnya, hanya keluarga Anastasia yang mengirimku. Namun, beberapa hari yang lalu, anak buahmu menyerang apartemen tempatku tinggal, yang adalah apartemen milik keluarga Adams. Kau tahu sendiri lah apa artinya kalau kau menyerang apartemen milik mereka."
Kau kesal pada mereka di saat seperti ini? Kau pasti bercanda, kan? Aku sudah mengatakan kalau aku dikirim oleh keluarga Anastasia sebelum keluarga Adams. Walaupun kau tidak menyerang, aku tetap akan menyerangmu cepat atau lambat.
"Lalu, pedang itu, siapa yang memberimu? Apa keluarga Adams dan Anastasia juga?"
"Pedang ini?" aku mengangkat katana pemberian Lugalgin. "Tidak, aku diberi katana ini ketika berada di Kerajaan Bana'an."
"Hah? Bana'an? Kerajaan di ambang kehancuran itu?"
Hoo, kalau dia bilang di ambang kehancuran, berarti dia membaca berita tentang insiden keluarga Cleinhad. Aku tidak menyangka dia akan mengetahuinya.
"Bana'an ya. Kalau begitu, aku bisa..."
Laki-laki ini mulai berbisik sendiri. Ah, pasti dia berpikir untuk kabur dari negeri ini, pergi ke Bana'an, dan memulai organisasi baru. Apalagi, saat ini, kondisi kerajaan Bana'an berada pada titik terlemahnya, terima kasih pada satu orang. Dia pasti akan mencari pembuat katana ini, yaitu Lugalgin, dan memaksanya bekerja sama.
"Hei,"
"Hah?" dia meninggikan nada.
"Apa yang kau inginkan agar perempuan itu tetap hidup?"
__ADS_1
"Ah, itu ya," Laki-laki ini sedikit terentak. "Biarkan aku hidup. Jangan ikuti aku."
Ahh, maaf, aku tidak bisa melakukannya. Tapi, tampaknya, aku tidak akan bisa memperpanjang keadaan klise ini. Dan lagi, meski baru sebentar, aku sudah mulai bosan. Lebih baik, aku akhiri saja sekarang.
Aku memasukkan beberapa benang di pakaian Sonya sebelum kami berangkat, berjaga-jaga kalau hal ini akan terjadi. Karena Sonya terlihat jelas di pandangan, aku hanya perlu sedikit konsentrasi, mencoba merasakan benang perak yang kutinggal.
Aku merasakannya, sebuah kehadiran tipis yang memberi gema pada konsentrasi yang kusebar. Kini, benang itu sudah menjadi anggota tubuhku. Dengan cepat, benang itu keluar dari pakaian Sonya, seperti ular.
"Ha-"
Belum sempat laki-laki mengatakan sepatah kata, benang perak yang kukendalikan sudah melilit lehernya. Aku bisa merasakan lehernya yang sedikit keras ketika benang itu memenggalnya.
Duk duk
Sebuah suara benda berat jatuh terdengar dari dekat Sonya.
"Misi selesai."
Bersambung
\============================================================
Halo semuanya.
Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.
Kemarin, sekali lagi ada komentar tidak menyenangkan yang promosi judul lain di kolom komentar. Jujur, baca komentar semacam itu bikin down dan males. Sekali lagi author ingatkan, kalau kamu promosi judul lain di kolom komentar, sama saja kamu MENCORENG nama baik judul dan author yang kamu promosikan.
Di lain pihak, terima kasih juga kepada Desu dan Koa_Gaming yang telah memberi semangat lewat komentar. Benar-benar terima kasih banyak : ).
Dan, seperti biasa, author ingin melakukan endorse. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.
Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
__ADS_1