I Am No King

I Am No King
Chapter 78 – Aura Haus Darah dan Niat Membunuh


__ADS_3

"Wah, kamu benar, Mulisu. Mereka lemah sekali."


 


Sebuah suara cuek yang sangat familier, milik Mari, terdengar.


 


"Ya kan?"


 


"Mereka semua berani menentang Lugalgin padahal selemah ini? Mereka bercanda, kan? Aku yang sehebat ini saja sama sekali tidak punya nyali untuk menentang Lugalgin."


 


Suara balasan Mulisu dan Ur pun terdengar.


 


Mereka belum memasuki ruangan, tapi masih berjalan menuju ke sini. Aku bisa mendengar karena mereka berbicara dengan keras, seolah ingin didengar oleh semua orang.


 


"Kalian bisa pergi," aku membubarkan agen-agen yang berlutut di ruangan ini. "Shu En, Jeanne, aku ingin kalian tetap di sini."


 


"Baik,"


 


Semua orang menjawab bersamaan. Setelah mengatakan itu, mereka keluar dari ruangan, menyisakan Jeanne, Shu En, dan aku.


 


"Shu En, orang-orang yang baru masuk memang kebetulan sedang bertugas di kota ini atau sedang cuti?"


 


"Dua-duanya. Sebagian sedang cuti dan kota ini adalah tempat tinggal mereka. Sebagian lagi kebetulan bertugas di sini," Jawab ibu-ibu berambut pirang panjang ini.


 


"Kalau kamu?"


 


"Aku kebetulan sedang bertugas di sini. Belum ada dua bulan sejak aku pindah tugas."


 


Sistem kerja intelijen Bana'an adalah satu dari sedikit hal yang tidak berubah walaupun manajemen sudah berpindah dari Keluarga Cleinhad ke Azzaha. Setiap anggota akan ditugaskan di suatu tempat selama beberapa waktu untuk misi tertentu, lalu setelah itu diberi cuti beberapa minggu untuk pulang ke kota asal.


 


Setelah itu, kembali bertugas di tempat lain. Waktu bertugas mereka tidak tentu, terkadang beberapa minggu, bulan, atau bahkan tahun, tergantung tugasnya.


 


"Dan tugasmu adalah..."


 


"Hanya mengumpulkan informasi dan mengawasi keadaan kota ini, melaporkan kondisi pasar gelap di sini dan apa pun yang di luar kebiasaan. Tidak lebih. Tugasku tidak spesifik seperti Jeanne." Shu En melirik ke kiri, ke arah Jeanne.


 


Lirikan Shu En membuatku ikut melirik ke Jeanne.


 


"Ah, hahahaha," Jeanne mengalihkan pandangan sejenak. "Aku ditugaskan di kota ini sejak beberapa bulan yang lalu. Lebih tepatnya, sejak aku memintamu menjadi pengawal."


 


"Hah,” aku menghela nafas. “Sudah kuduga."


 


Kami berhenti ketika orang-orang berisik itu tiba. Mereka mengenakan pakaian kasual. Semua mengenakan celana, hanya Mari yang mengenakan rok pendek berkibar.


 


Orang yang kupilih untuk membantu mengorganisir Intelijen Kerajaan ini adalah Mulisu, Ur, Mari, Simurrum, dan Uru'a. Emir dan Inanna juga di sini karena mereka belum bisa aku lepas ke pasar gelap. Masih terlalu berbahaya untuk mereka.


 


"Inanna, kamu cepat belajar ya," Simurrum memuji Inanna.


 


"Benarkah?"


 


"Ya, benar," Simurrum mengonfirmasi. "Meskipun kamu tidak memilik bakat dan insting dalam bertarung yang hebat seperti Emir, kamu mengimbanginya dengan kemampuan belajar yang tinggi."


 


"Hehe, terima kasih." Inanna mengusap-usap rambutnya.


 


"Di lain pihak, Emir," Uru'a berbicara pada Emir. "Kemampuan belajarmu benar-benar payah. Padahal kami sudah menjelaskan berkali-kali, tapi kamu tidak mengerti juga. Bahkan, aku tidak bisa merasakan sedikit pun aura haus darah atau niat membunuh darimu."


 


"Ma-maaf."


 


Di lain pihak, Emir malah menunduk.

__ADS_1


 


Aku tersenyum melihat mereka yang tampaknya sudah akrab.


 


"Halo, bu. Kita ketemu lagi."


 


"Halo juga."


 


Mulisu dan Shu En saling melempar sapa.


 


"Jadi, apa yang baru saja kalian lakukan?"


 


Aku memecah perbincangan yang mengalir. Mereka semua pun melihat ke arahku, sebagian dengan senyum, sebagian membuang muka, sebagian lagi menghela nafas.


 


Reaksi mereka beragam juga.


 


Sebelum berbicara, Shu En menggunakan pengendalian pada sofa di ujung ruangan dan memindahkannya ke depan mejaku. Mereka semua duduk di sofa. Shu En, Mulisu, Mari, dan Ur berada di sisi kananku. Simurrum, Inanna, Uru'a, dan Emir di sisi kiriku. Jeanne masih duduk di kursi di depan meja.


 


"Jadi, saat perjalanan, Gin," Mulisu memulai jawaban. "Aku mengatakan pada mereka kalau anggota yang menentangmu, sebagian besar, adalah anggota baru yang kelewat lemah, bahkan menahan aura haus darah dan membunuh saja tidak kuat."


 


"Dan," Ur menyambung, setelah menghela nafas. "Awalnya, aku kira Mulisu hanya bercanda. Kamu tidak tahu betapa terkejutnya aku ketika menemukan ucapan Mulisu adalah benar. Maksudku, aku hanya memancarkan, mungkin setengah dari yang biasa kugunakan, dan mereka sudah tidak mampu bergerak. Bahkan ada beberapa yang roboh. Ya, setidaknya mereka belum pingsan."


 


Mari yang membuang muka, menunjukkan kekecewaan, menambahkan, "Padahal mereka selemah itu tapi berani menentang Ka–Lugalgin. Mereka pikir mereka siapa?"


 


Mari, kamu hampir mengatakan Kak, kan?


 


"Dan, maaf ya, bu," Mulisu masuk kembali. "Kami meminta agen yang kebetulan lewat untuk membawa mereka. Padahal, baru hari pertama kami di sini, tapi sudah merepotkan."


 


"Hahaha, tidak apa kok." Shu En menanggapi. "Justru aku berterima kasih karena kalian sudah melakukannya. Supaya mereka sedikit sadar betapa buruknya manajemen keluarga Azzaha."


 


Perbincangan mengalir tanpa perlu aku menimbrung. Namun, ada beberapa orang yang masih belum berbicara.


 


 


"Ah, tentu saja," Uru'a merespon. "Mereka bilang ingin tahu cara memancarkan aura haus darah dan niat membunuh."


 


Aku terdiam sejenak. "Emir minta diajari, aku paham karena militer kerajaan ini sampah. Namun, Inanna, kamu tidak bisa melakukannya?"


 


"Maaf, Gin," Inanna sedikit membuang muka. "Ketika dilatih menjadi Agen Gugalanna, kami hanya diajari untuk menahan dan beraksi di bawah tekanan aura haus darah dan niat membunuh. Pangkatku belum cukup tinggi untuk mendapatkan pelatihan itu.”


 


Ah, begitu. Pantas. Tapi,


 


"Kamu tidak perlu meminta maaf." Aku menambahkan.


 


Sifat lunak perempuan ini masih belum bisa hilang.


 


"Lalu, hasilnya?"


 


Kali ini, Simurrum yang menjawab, "Untuk Inanna, dia sudah bisa melakukannya. Namun hanya pada level orang normal. Dia tidak bisa mencapai level kami, apalagi kamu."


 


"Maaf, Gin."


 


"Sudah aku bilang, kamu tidak perlu meminta maaf."


 


"Ma-maaf."


 


Ah, Inanna, kamu ini.


 


"Inanna," Simurrum masuk. "Justru kamu harus bersyukur. Mampu memancarkan aura haus darah dan niat membunuh sebesar kami, apalagi Lugalgin, bukanlah sesuatu yang bisa dibanggakan. Hal ini justru menunjukkan tingkat dendam, kebencian, kemarahan, dan semua emosi negatif yang kami simpan."

__ADS_1


 


Inanna langsung melihat ke arahku setelah mendengar ucapan Simurrum. Mulutnya setengah terbuka dan matanya menatapku dalam-dalam.


 


"Jangan bilang maaf, kamu tidak salah apapun," aku buka mulut sebelum Inanna mengatakan apapun. Lalu, aku mengganti target, mencoba mengalihkan pandangan Inanna padaku. "Untuk Emir, bagaimana?"


 


"Untuk Emir...." Uru'a menghela nafas panjang sambil menyandarkan punggung.


 


Di lain pihak, Emir hanya tertawa sambil mengusap-usap rambutnya. "Maaf, Gin, aku belum bisa melakukannya."


 


Kenapa dua calon istriku ini meminta maaf terus?


 


"Emir, kamu tidak perlu meminta maaf. Aku juga yang lupa belum mengatakan ini pada kalian semua."


 


Semua orang melihat ke arahku, menanti penjelasan yang muncul dari mulut ini.


 


"Aku lupa bilang. Tampaknya, Emir abnormal." Aku menoleh ke Jeanne. "Jeanne, kamu ingat saat kita melatih Ufia dan Emir di pangkalan militer beberapa bulan yang lalu?"


 


"Ya, aku ingat. Ke–" Jeanne terhenti sejenak, mencoba mengingat sesuatu. "Sekarang setelah kamu mengatakannya, aku jadi teringat. Iya, benar. Di saat itu, tidak peduli bagaimanapun dia tersudut, atau bagaimanapun buruknya seranganku terhadapnya..."


 


Aku menyambung. "Dia tidak pernah sekalipun memancarkan aura haus darah atau pun niat membunuh. Padahal Ufia sudah berkali-kali melakukannya saat itu. Bahkan, saat dia dan Inanna kuminta membombardir gunung di belakang panti asuhan itu, yang menewaskan puluhan pemberontak, tidak ada sedikit pun yang muncul dari Emir.


 


"Padahal, saat itu tanpa dia sadari, Inanna memancarkan aura haus darah dan niat membunuh yang cukup besar. Maksudku, mengingat True One sudah membunuh beberapa orang, wajar untuk haus darah dan niat membunuh muncul. Namun, sekali lagi aku tegaskan, Emir tidak memancarkannya sama sekali."


 


"Eh?" Mulisu tiba-tiba berdiri, mendekat ke meja. "Maksudmu, serangan di gunung yang masuk berita itu?"


 


"Ya, benar," aku membenarkan.


 


"Kalau begitu...."


 


Kami bertiga, tidak. Bukan hanya kami bertiga, semua orang di ruangan ini mengarahkan pandangan pada Emir.


 


Di lain pihak, Emir hanya tersenyum masam sambil menunjuk wajahnya sendiri.


 


Aku membuka mulut, "menurutku, Emir adalah satu dari sedikit orang yang tidak akan pernah bisa memancarkan aura haus darah atau niat membunuh."


 


Bersambung


 


 


\============================================================


 


 


Halo semuanya.


 


Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.


 


Maaf ya berapa hari tidak update. Author sedang sibuk dengan real life dan comifuro. Namun, sebagai gantinya, author langsung update 4 chapter.


 


Dan, seperti biasa, author ingin melakukan endorse. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


 


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


 


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


 


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.


 


Sampai jumpa di chapter selanjutnya


 

__ADS_1



__ADS_2