I Am No King

I Am No King
Chapter 199 – Permaisuri Rahayu dan Permainan


__ADS_3

~Emir POV~


"HIT! Target berhasil diledakkan!"


"Yeay!"


Aku mendekat ke Inanna, melihat ke layar laptop. Di layar, terlihat video berisi sisa mobil dan jalanan yang berlubang. Seolah ingin menghiburku, Inanna membagi layar laptop menjadi dua, sisi kanan untuk kondisi saat ini dan sisi kiri untuk menampilkan beberapa saat sebelumnya.


Aku fokus pada sisi kiri layar. Di situ, tambak tiga buah mobil berjalan iring-iringan. Tidak lama kemudian, tiba-tiba ledakan muncul. Ledakan itu muncul terlalu cepat. Bahkan, mobil-mobil itu tidak sempat berbelok atau melakukan manuver menghindar sama sekali, seolah-olah ledakannya berasal dari dalam mobil. Seranganku benar-benar di luar radar dan di luar jangkauan.


Sementara aku menonton video, Inanna mengambil mikrofon yang terhubung dengan laptop dan membuat panggilan.


"Halo, misi sudah selesai. Kalian bisa jemput kami."


"Siap!"


"Siap!"


"Siap!"


Suara demi suara terdengar dari sepiker laptop. Kami mendengarnya satu per satu.


Tentu saja kami tidak melakukan misi ini sendirian. Banyak anggota non elite Agade berjaga, membuat perimeter dan mensterilkan area, memastikan tidak ada warga sipil yang mendekat. Selain itu, mereka juga berjaga agar tidak ada musuh yang menyerang ketika aku dan Inanna fokus pada artileri.


Namun, tampaknya, tidak semua musuh berhasil dihalau. Baru saja, terdengar satu orang merespon hampir bersamaan dengan yang lain. Orang luar Agade tidak akan menyadarinya. Namun, bagi anggota Agade, mereka akan sadar kalau ada musuh berusaha menyelinap.


Standar operasional yang dilakukan adalah respon dilakukan secara bergantian. Urutan merespon diubah setiap misi, mencegah musuh mengetahuinya. Kalau ada yang terlalu cepat atau terlalu lambat, sehingga menyebabkan respon muncul bersamaan atau hampir bersamaan, maka bisa dipastikan ada yang menyusup.


"Emir, masih bisa bertarung?"


"Tentu saja!"


Aku mengubah sebagian dari Krat menjadi sarung tangan besi. Sarung tangan ini memiliki cakar yang bisa ditarik. Jadi, aku bisa menentukan kapan harus menggunakan serangan cakar atau tinju. Krat yang tersisa menjadi tujuh turret tank.


Inanna juga bersiap. Dia mengirim beberapa proyektil kecil ke udara. Kemudian, dia mengubah dua proyektil panjang menjadi pedang katana sepanjang 1,2 meter.


Dengan proyektil eksplosif dan turret tank di udara, Inanna dan aku sudah siap menyambut lawan, baik serangan jarak dekat maupun jarak jauh.


Dalam waktu singkat, sebuah cahaya muncul dari kegelapan, memantulkan sinar bulan yang tidak sepenuhnya muncul di langit.

__ADS_1


 


 


***


 


 


~Lugalgin POV~


Semangat, Emir, Inanna! Aku mendukung kalian sekuat tenaga!


Ketika melihat Emir dan Inanna yang bertarung melalui video smartphone, tidak mungkin aku diam begitu saja. Yah, meski secara praktik aku diam, tapi kepala ini ingin berteriak dan memberi dukungan pada mereka. Aku bisa melihat Inanna dan Emir karena pada pakaian mereka berdua terpasang kamera yang hanya bisa diakses melalui smartphoneku.


Saat ini, aku berada di dalam mobil bersama Permaisuri Rahayu. Tentu saja, dia masih mengenakan gips untuk menyangga tangan kirinya yang patah. Karena perban dan luka di tubuhnya, Permaisuri tidak mengenakan gaun dengan tingkat eksposur tinggi. Dia mengenakan gaun yang tertutup. Hanya leher ke atas yang tidak tertutup.


Warna putih dan garis kuning gaun Permaisuri Rahayu menonjolkan rambut merah mudanya yang dikepang samping. Kulit putih saljunya seolah menyatu dengan gaun, seolah dia tidak mengenakan sehelai kain pun di atas tubuhnya. Tidak! Lebih tepatnya, seolah gaun yang dia kenakan menyatu dengan kulitnya.


Ketika aku melihat Permaisuri Rahayu yang begitu cantik dan menawan, tidak salah kalau Yurika dan Emir juga cantik dan menawan. Namun, aura dan wibawa wanita dewasa yang dipancarkan oleh Permaisuri Rahayu benar-benar membuat Yurika dan Emir tertinggal jauh. Kalau mereka bertiga di satu ruangan yang sama, aku berani menjamin semua mata lelaki akan tertuju pada Permaisuri Rahayu.


Bibir merah dan basah itu memberi sebuah senyum tipis yang begitu menggoda. Kalau belum menjadi calon suami Inanna dan Emir, mungkin aku sudah tergoda olehnya.


Ah, tentu saja, selain Emir dan Inanna, ada alasan lain kenapa aku tidak akan tergoda oleh Permaisuri Rahayu. Maksudku, kalau sudah mengenal dan mengetahui kepribadian Permaisuri Rahayu yang sesungguhnya, kamu tidak akan jatuh hati padanya. Yang akan terbersit pada pikiranmu adalah "ular" atau "rubah" atau sebutkan saja hewan berbisa dan berkedok dari semua cerita rakyat.


Akting dan kedok yang dibangun Permaisuri Rahayu benar-benar sangat sempurna. Dan, mungkin, aku tidak akan mengetahuinya kalau Emir tidak mengajukan ide kudeta ini. Bahkan, yang menyarankan agar aku melukai dan mematahkan tangan kirinya adalah Permaisuri Rahayu sendiri. Permaisuri Rahayu ingin memastikan kalau semua orang berpikir dia benar-benar korban.


Yah, sudahlah. Aku mengabaikan ucapan Permaisuri Rahayu yang sebelumnya, membawa topik baru.


"Kita akan tiba beberapa menit lagi. Tolong bersiap."


"Ahaha, kalau diabaikan, aku malah semakin ingin menggodamu."


"Kamu adalah calon mertuaku. Bisa tolong jangan lakukan hal yang aneh-aneh? Aku tidak mau tahu bagaimana reaksi Emir kalau tahu calon suaminya digoda oleh ibunya sendiri."


"Uhuhum,"


****! Bahkan tawanya terasa begitu khas dan menggoda! Perempuan ini memang berniat menggodaku, calon menantunya, atau apa sih?"

__ADS_1


Akhirnya, waktu menyelamatkanku. Mobil terhenti dan aku keluar terlebih dahulu. Dengan cepat, aku berpindah ke sisi kiri mobil dan membuka pintu untuk Permaisuri Rahayu.


Ketika pintu mobil dibuka, sosok Permaisuri Rahayu yang terus menggodaku menghilang. Kini yang berdiri di depanku adalah sosok seorang Permaisuri. Wajahnya tampak begitu tegar. Namun, matanya terlihat sedikit berkaca-kaca, menunjukkan kesedihan yang tersirat secara samar-samar. Penampilan yang ditunjukkan memberi kesan seorang yang sedang bersedih tapi berusaha berdiri tegak.


Aku menjulurkan tangan, memberikan gestur agar Permaisuri Rahayu menerima tanganku dan turun dari mobil. Di depanku, kini, berdiri seorang Permaisuri yang berusaha sebaik mungkin mengisi kekuasaan seorang Raja yang telah meninggal.


Kami disambut oleh karpet merah dan kerumunan orang. Warga maupun wartawan berkumpul. Mereka ditahan oleh dinding betis militer Mariander.


"Permaisuri Rahayu! Semangat!"


"Permaisuri Rahayu! Yang Tegar! Anda pasti bisa melalui semua cobaan ini!"


Pujian demi pujian yang ditujukan ke Permaisuri Rahayu terus terdengar. Mereka benar-benar mendukung Permaisuri Rahayu yang telah "kehilangan" suaminya, Raja Fahren.


Kami berjalan melalui semua sorak-sorai dan blitz kamera. Sementara aku berjalan dengan tegap dan pandangan tajam, layaknya pengawal, Permaisuri berjalan normal sambil sedikit melambaikan tangan dan menunjukkan senyum simpul.


Sekarang adalah kedua kalinya aku mendatangi tempat ini. Hotel yang selalu digunakan untuk menerima tamu luar negeri sekaligus konferensi pers. Mariander tidak pernah membawa tamu luar negeri ke kantor pemerintah untuk pertemuan karena mereka memiliki kebijakan kantor pemerintah hanya untuk urusan dalam negeri. Kalaupun ada tamu luar negeri diundang ke kantor pemerintah, hanya sekedar kunjungan, tidak untuk pertemuan.


Setelah melewati pintu, kami disambut oleh kerumunan lagi. Yang membedakan adalah, di ujung karpet tampak seorang laki-laki berambut pirang dengan potongan pendek berdiri. Laki-laki itu mengenakan pakaian putih dengan motif garis hitam penuh dengan dekorasi. Namun, yang menjelaskan posisi dan identitas sosok itu adalah jubah merah kerajaan dan mahkotanya.


Salah satu orang yang menyambut kami di ujung karpet adalah Raja Mariander, Arid Kai Behequem. Satu dari dua orang yang ingin menjadikanku Raja.


Bersambung


\============================================================


Halo semuanya.


Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.


Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.


Sampai jumpa di chapter selanjutnya

__ADS_1



__ADS_2