
"Baguslah kalau begitu ..."
"NGGG!!!!"
Tetesan lilin lain turun. Perlahan, Emir meneteskan lilin ke bawah, mendekati ******** Rahayu.
"Tuan Putri Emir, tolong hentikan!"
"Emir, dia ibumu sendiri!"
"Hah? Ibu? Ibu macam apa yang berusaha menggagalkan pernikahan anaknya sendiri, hah? Ibu macam apa yang berusaha merebut dan bahkan menikahi menantunya sendiri, hah?"
Emir yang emosi menggerak-gerakkan tangan ke sana–sini. Di saat itu, lelehan lilin di tangannya tersebar ke mana-mana. Tidak jarang juga lelehan lilin mendarat di tubuh Rahayu yang bugil.
Di satu sisi, aku merasa kasihan dengan Rahayu. Namun, di sisi lain, dia layak mendapatkannya ... atau tidak?
"Gin, kamu tidak mengasihani ibu dan berpikir untuk memaafkannya, kan? Lalu, setelah memaafkannya, apa kamu juga akan menjadikan ibu calon istri, hah?"
Oke, ada yang salah dengan Emir. Dan, momen seperti ini hanya memiliki satu penjelasan.
"Emir, apa kamu datang bulan?"
"..."
Bingo!
Ya, setiap datang bulan, Emir mengalami perubahan. Mode bertarungnya berubah menjadi seperti mode bertarung Inanna. Ditambah lagi, mode bertarung Emir sangat mudah muncul di saat datang bulan. Sebelumnya, dia selalu melampiaskan emosi yang menumpuk, saat datang bulan, dengan latih tanding, berusaha mengalihkan pikiran. Namun, tampaknya, kali ini Emir memilih cara lain.
Di lain pihak, Emir datang bulan lagi ya. Jujur, aku tidak menghitung sudah berapa kali melakukannya dengan Emir dan Inanna. Namun, entah kenapa, mereka berdua masih belum hamil sampai sekarang. Aku tidak terlalu mengharapkan keturunan untuk saat ini, hanya penasaran.
"Oke, tenang. Tidak apa-apa."
Aku mendatangi Emir dan memeluk Emir, membelai rambutnya dengan lembut dan perlahan.
"Wah, tampaknya aku terlambat. Aku tidak melihat Emir yang menyiksa permaisuri Rahayu."
"Eh?"
"Permaisuri Rahayu?"
"NNGG??"
Semua orang, selain aku dan Emir, terkejut ketika melihat sosok yang baru saja datang. Di pintu, terlihat sosok wanita paruh baya dengan rambut merah muda lembut, Permaisuri Rahayu. Namun, wanita itu bukanlah Rahayu yang asli, tapi Mulisu.
"Yap, kamu benar-benar menjadi seperti Rahayu, Mulisu. Bahkan, tinggi badan, lingkar dada, dan lingkar pinggangmu juga sama persis dengan Rahayu."
"Apa kamu tergoda?"
Aku melirik ke kanan, ke tubuh Rahayu yang tidak tertutupi sehelai kain, memperhatikan lekuk tubuhnya dengan saksama.
"Gin, aku melarangmu melihat ibu dengan pandangan seperti itu."
"Pandangan seperti apa?"
"Pandangan seperti itu! Seolah kamu mau melakukannya dengan ibu."
Aku tidak akan melakukannya dengan ibumu, hanya mengagumi tubuhnya. Untuk ibu setengah baya, dada dan bokong Rahayu masih sangat kencang. Bukan hanya dada dan bokongnya, bagian lain juga tampak masih kencang.
__ADS_1
Oke, kembali ke Mulisu. Lupakan dulu fisik dan figur tubuh Rahayu.
Mulisu mengatakan tujuannya di pasar gelap sudah terpenuhi. Oleh karena itu, dia berpikir sudah saatnya membuang nama Mulisu. Dan, kebetulan, ada masalah dengan permaisuri kerajaan ini. Jadi, Mulisu memberi saran agar dirinya melakukan operasi untuk mengubah wajah dan suaranya menjadi seperti Rahayu, menjadi permaisuri.
Awalnya, aku hanya berencana membunuh Rahayu dan membuat rencana Emir berjalan lebih awal. Namun, Mulisu berpendapat lain. Kalau kepala kerajaan tiba-tiba menghilang, besar kemungkinan Bana'an akan hancur, baik karena serangan dari luar atau kolaps dari dalam. Oleh karena itu, Mulisu mengajukan diri untuk menggantikan Rahayu.
Lalu, siapa yang mengoperasi wajah dan pita suara Mulisu? Orang itu, tidak lain dan tidak bukan, adalah ayah, Barun Alhold.
Di kehidupan normal, ayah adalah pemilik rumah sakit. Dan, kehidupannya di pasar gelap tidak jauh berbeda. Ayah, sebagai dokter pasar gelap, menerima segala macam permintaan mulai dari menyembuhkan luka hingga mengganti wajah dan suara.
Di saat seperti ini, jujur, aku penasaran bagaimana ayah dan ibu bertemu. Apakah mereka bertemu di pasar gelap? Atau mereka bertemu di kehidupan normal dan baru tahu identitas pasar gelap pihak lain setelah menikah? Atau bagaimana? Ya, sudahlah. Aku akan menanyakan ayah dan ibu kalau ingat.
"Mulisu, kamu datang sendirian?"
"Jangan panggil aku Mulisu. Sejak hari ini, aku adalah Permaisuri Rahayu. Hahaha."
Mulisu tertawa kencang ketika menjawab pertanyaanku. Dia tampak bersenang-senang.
"Kamu belum resmi menjadi Rahayu selama yang asli masih hidup. Kamu tidak datang sendirian, kan?"
"Tentu saja tidak. Anggota Agade sudah ada di seluruh penjuru istana, membersihkan sisa-sisa kekacauan yang kamu buat."
"Baguslah."
"Tapi, Gin, daripada membunuh Rahayu, aku memiliki ide lain."
***
Itu adalah pertanyaan pertama yang muncul di benakku ketika membuka mata. Hal terakhir yang aku ingat adalah Emir menyekapku dan ... seseorang yang mirip denganku muncul! Sial! Brengsek! Aku harus segera membunuhnya.
Aku berusaha bangkit dari kasur. Namun, sayangnya, aku tidak bisa bergerak. Aku melihat ke kanan dan kiri, melihat kedua tangan yang tidak dirantai atau diikat. Namun, entahlah, aku tidak bisa menggerakkan tanganku. Tidak! Jangankan menggerakkan. Aku bahkan tidak bisa merasakannya. Tidak hanya tangan, kakiku juga. Terlihat bekas potongan di siku dalam dan lututku.
"Sial! Ada apa ini?"
Aku tidak lagi berusaha menggerakkan tangan dan beralih melihat ke sekitar. Tempat ini mirip seperti kamarku, mulai dari dekorasi, kasur, bahkan warna barang-barangnya. Namun, ada satu hal di tempat ini yang berbeda dari kamarku. Terpasang sebuah televisi besar di seberang kasur, menghadap ke sini.
Baik, coba tenang. Kondisiku sekarang terbaring di atas kasur, di ruangan yang mirip dengan kamarku. Kondisi tangan dan kaki tidak bisa bergerak. Tidak terlihat sehelai kain pun menutupi badan, mengekspos seluruh tubuhku.
Tiba-tiba saja, layar televisi yang sebelumnya mati menyaka.
[Halo ibu!]
"Emir?"
[Apa ibu tidak bisa menggerakkan tangan dan kaki? Ya, tentu saja. Aku sudah meminta Om Barun untuk menghancurkan syaraf tangan dan kaki ibu. Jadi, tangan di bawah siku dan kaki di bawah lutut tidak akan bisa bergerak lagi untuk selamanya, lumpuh. Hahahaha!]
"Anak brengsek! Apa ini balas budimu setelah aku melahirkan dan membesarkanmu?"
[Ya, benar. Ini balas budiku setelah ibu berusaha menggagalkan pernikahanku dan merebut Lugalgin.]
Brengsek!
[Ibu jangan khawatir. Bana'an tidak akan hancur. Kenapa? karena kami sudah menemukan seseorang yang lebih layak menjadi kepala negara.]
__ADS_1
Ketika mendengar Emir, sebuah bayangan muncul di benakku ketika perempuan yang mirip denganku muncul. Bahkan, samar-samar, aku bisa mendengar Lugalgin yang mengatakan ukuran tubuh kami mirip.
[Namun, ibu tidak perlu mengkhawatirkan hal lain. Saat ini, yang perlu ibu khawatirkan adalah berapa lama ibu bisa bertahan.]
"Bertahan?"
[Ya, bertahan. Baiklah, rekan-rekan sekalian, silakan dimulai.]
Pintu terbuka, membiarkan dua perempuan masuk. Salah satu membawa koper.
"Siapa kalian?"
Koper terbuka dan sebuah syringe muncul.
"Tidak! Apa yang akan kalian lakukan? Aku adalah permaisuri Rahayu, kepala kerajaan Bana'an. Kalian tidak bisa melakukan hal ini."
Aku menjelaskan posisi dan statusku. Namun, dua perempuan ini tidak memedulikannya. Satu orang memegangi tubuhku dan satu lagi menusukkan jarum syringe ke leherku.
"A – apa yang kalian masukkan ke dalam tubuhku? A–"
Tiba-tiba saja, tubuhku terasa panas. Tidak hanya panas, kepalaku pun terasa pusing dan tertekan. Dadaku berdegup kencang dan nafasku tersengal-sengal. Dan, yang paling parah, aku bisa merasakan kalau aku sudah basah. Aku sangat ingin bergerak dan memasukkan jari ke dalam. Namun, aku tidak bisa melakukannya.
"Emir, apa yang – "
[Yang baru saja disuntikkan adalah obat perangsang dengan dosis tinggi. Dengan obat ini, ibu akan terangsang selama beberapa hari ke depan? Dan ...]
Dua perempuan yang baru saja datang keluar, digantikan oleh beberapa laki-laki, mengitari tubuhku yang tidak bisa bergerak. Mereka semua tidak mengenakan pakaian, mempertontonkan organ vitalnya padaku.
"Tidak. Kumohon. Ampuni aku."
Semua laki-laki ini tidak mendengar permintaanku. Mereka pun mulai meraba dan meremas tubuhku.
"Lugalgin, tolong, selamatkan aku."
Bersambung
\============================================================
Halo semuanya.
Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.
Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.
Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
__ADS_1