
Hai Haiii ... Kurossu desuyoo ...
Hahahaha, jk.
Halo semuanya. Seperti biasa, author akan memberi pengumuman di jeda beberapa chapter mengenai GA dan Promo. Namun, minggu ini ada yang sedikit spesial. Selain pengumuman mengenai GA dan Promo, author akan memberi sedikit tips dan trik untuk membuat kalimat efisien dan rapi.
Oke, yang pertama, berikut adalah standing GA buku fisik I am No. King. Perlu diingatkan, ini adalah update minggu lalu. Update minggu terakhir ini (tgl 8 – 14 Juni) belum dihitung. Jadi, hari ini adalah last day pemberian vote.
Lalu, untuk promo. Author tampilkan prosedur kalau mau promo di I am No King.
Dan, akhirnya, tips dan trik membuat kalimat rapi dan efisien. Berikut adalah beberapa tips dan trik yang author gunakan dalam menulis. Author tidak akan copas dari buku menulis atau tips dan trik editing. Kalau author boleh jujur, buku itu sudah level advanced.
Jadi, anggap saja, tips dan trik yang akan author beri adalah level dasar hingga menengah. Author tidak akan memberi semua tips dan trik di satu post. Untuk minggu ini, author akan fokus pada penulisan kalimat. Belum di tingkat paragraf ya. Dan, mungkin di post pengumuman lain akan ada tambahan soal kalimat efektif.
Kenapa kok mungkin ada tambahan soal kalimat efektif di pengumuman lain? Well, karena author pelupa. Hehe.
Contoh kalimat di sini ada yang diambil langsung dari kesalahan “I am No King” atau baru Meski jumlahnya minimal jika dibandingkan draf novel mentah, tetap saja author tetap melakukan kesalahan ini.
1. Hindari penggunaan kata yang sama dalam satu paragraf\, kecuali kata ulang.
Menurut author, ini adalah salah satu teknik yang sangat mendasar. Sederhananya, penggunaan kata yang sama membuat pembaca “sedikit” bosan karena ada pengulangan. Makin sering pengulangan, “sedikitnya” makin numpuk. Jadinya, gak sedikit lagi, tapi sudah mencapai tingkat bosan.
Misal kalian dicurhatin masalah yang sama pada bulan, minggu, atau bahkan hari yang sama. Kalian pasti bosan kan? Anggap saja penggunaan kata yang sama seperti itu. Tapi kalau misal beda waktu sudah jauh, sudah oke. Anggap saja beda waktu sudah jauh, seperti sudah beda kalimat.
Kalau hanya teori, mungkin akan bingung. Jadi, author akan beri contoh juga. Berikut adalah dua contoh kalimat yang intinya sama tapi beda penulisan.
Seandainya saja aku boleh berpartisipasi sendiri, pasti aku sudah berpartisipasi dari dulu.
Seandainya saja boleh berpartisipasi sendiri, pasti aku sudah melakukannya dari dulu.
__ADS_1
Dua kalimat di atas memiliki inti kalimat yang sama. Namun, author melakukan aplikasi tidak menggunakan kata yang sama dalam satu kalimat. Kata “aku” pada bagian awal dihilangkan karena pembaca juga tahu kalau yang berbicara adalah satu orang. Kata “berpartisipasi” pada bagian akhir dihilangkan, diganti “melakukannya”. Kata “melakukannya” digunakan untuk memberi alternatif kata “berpartisipasi”. Manfaatkan kata ganti untuk menghindari penggunaan kata yang sama.
Jadi, kalau kalian sudah menggunakan kata “Dia” pada satu kalimat tapi ingin memunculkannya lagi, coba gunakan nama tokohnya. Yang sering dilakukan penulis pemula adalah penggunaan kata sambung berkali-kali, misal kata “yang”. Kalau sudah pakai kata “yang” sekali cari alternatifnya. Entah “dengan”, “dimana”, atau yang lainnya.
Namun, ini tidak sepenuhnya berlaku untuk kata ulang, misal “orang-orang”, “barang-barang”, atau yang lainnya. Meski demikian, kalau bisa diminimalisir juga akan lebih baik. Misal gunakan “penduduk” atau “Sebagian barang” atau “semua barang”.
2. Hindari dua kata dengan awalan kata yang sama.
Pada dasarnya, teknik membuat kalimat ini mirip dengan nomor 1, tapi next level. Hubungannya lebih ke tongue twister. Terkadang, hal ini membuat pembaca berhenti sejenak, mengulang kata sebelumnya. Hal ini, berhenti sejenak dan mengulang, merusak ritme membaca. Kalau keseringan, pembaca bisa dongkol.
Contoh:
Aku mengambil sebuah senapan laras panjang.
Aku mengambil senapan laras panjang.
Kata “Sebuah senapan” dan “senapan” memiliki makna yang sama, satu senapan. Namun, pada kalimat pertama, terdapat tongue twister berupa “Se ... Se ...”. Hal ini tidak masalah kalau tidak sering. Namun, masalahnya, tidak ada standar yang membedakan “sering” dan “jarang”. Ya, berusaha saja sebaik mungkin.
Author bilang minimalisir, bukan hilangkan. Ini bukan tabu, tapi kalau terlalu sering digunakan tidak baik juga. Misal:
Emir memiliki rambut merah yang membara bagai api.
Emir memiliki rambut merah membara bagai api.
Penghilangan kata “yang” pada contoh tidak mengubah arti kalimat, jadi dihilangkan saja. Namun, kalau penghilangan kata “yang” mengubah kalimat, jangan. Hilangkan kalau tidak mengubah makna. Jangan dihilangkan kalau mengubah makna. Misal
aku berjalan ke balkon, mengabaikan benda-benda yang membara
__ADS_1
aku berjalan ke balkon, mengabaikan benda-benda membara.
Penghilangan kata “yang” pada contoh di atas mengubah makna kalimat. Pada kalimat pertama, kata “yang” memberi kesan bahwa “benda-benda” terbakar, pasif. Pada kalimat kedua, penghilangan kata “yang” memberi kesan bahwa “benda-benda” memang membara, aktif.
Sederhananya, “benda-benda yang membara” memberi kesan bisa saja benda itu dibakar, seperti perabotan atau bekas ledakan. Namun, “benda-benda membara” spesifik memberi kesan kalau barang tersebut yang aktif mengeluarkan api, misal “perapian” atau “tungku”.
4. Pastikan panjang kalimat hanya berada pada belasan kata. Kalau kepepet\, maksimal 22 kata.
Ini adalah tips yang author dapatkan saat dulu awal menulis. Pada dasarnya, kalimat panjang membuat pembaca menahan napas. Untuk yang follow IG author, sudah melihat tips ini. Namun, author akan ulangi post di IG.
Ketika kalimat terlalu panjang tapi intinya tidak jelas atau tidak kunjung muncul, reader akan cenderung skip karena kehabisan napas. Makin sering reader skip, kesan "bosen" akan menempel.
Inilah salah satu alasan kenapa editor selalu mewanti-wanti agar penulis menggunakan kalimat efektif. Dengan menghindari kalimat tidak efektif yang terlalu panjang, efek skip bisa diminmalisir. Dengan demikian, kesan "bosen" bisa dihindari.
Kalau sudah belasan, hentikan kalimatnya. Kalau sudah kepepet dan terpaksa menggunakan kata yang sama dalam satu kalimat, pisahkan.
Dan, entah kalian sadari atau tidak, tips nomor 1 sampai nomor 3 juga memiliki efek terhadap panjang kalimat.
Oke, rasanya hanya itu yang author ingat ketika menulis artikel kali ini. Kenapa author menggunakan kata “membuat kalimat” tapi bukan “menulis kalimat”? Untuk menghasilkan tulisan rapi, perlu melalui proses editing. Kalau terlalu fokus “menulis kalimat rapi”, waktu yang dibutuhkan akan terlalu lama. Proses membuat melingkupi “menulis” dan “edit”. Anggap saja proses “menulis” adalah prototype dan “editing” adalah perbaikan atau “bug fix”.
Tips dan trik kali ini fokus di kalimat. Untuk minggu depan, author belum yakin temanya apa. Apa masih kalimat (kalau ada yang perlu ditambahkan) atau mungkin lanjut ke antar kalimat dalam paragraf. Ya, lihat saja minggu depan.
Meskipun author menulis tips dan trik ini, bukan berarti tulisanku lepas dari kesalahan-kesalahan tersebut. Self-edit hanya meminimalisir kesalahan, bukan menghilangkan sepenuhnya. At least, kalau “I am No King” dibaca oleh teman editor, author ga terlalu malu lah.
Tambahan yang terakhir. Penulis tersohor pasti akan mengatakan
“Tulis dulu, edit belakangan”
Author sendiri juga setuju dengan ucapan ini. Proses menulis dan edit memang harus dipisahkan. Kalau tidak, tulisan tidak akan pernah selesai. Namun, penulis pemula menyalahartikannya dengan
“Tulis dulu, edit kapan-kapan”
LOL. That, is not good at all. “Belakangan” dan “kapan-kapan” sangat berbeda. Dalam prosesnya, penulis profesional akan melakukan edit sebelum dikirim ke editor. Namun, karena platform online tidak ada editor, mungkin, ungkapan yang sesuai dan baik adalah.
__ADS_1
“Tulis, Edit, Publish”