I Am No King

I Am No King
Chapter 166 – Malam Berakhir dengan Catatan


__ADS_3

Setelah menyelesaikan telepon, aku turun ke lantai satu. Nanna sudah tertidur di pangkuan Inanna. aku menyuruh Inanna membawa Nanna ke kamarnya, biar mereka berdua tidur di situ.


Aku berjaga di ruang utama, tidak tidur. Untuk menghabiskan waktu, aku membuka dokumen transaksi antara keluarga Alhold dan Cleinhad yang didapatkan dua hari yang lalu. Seharusnya, dokumen ini tidak bisa dibawa keluar dari gedung intelijen. Namun, aku kepalanya, aku yang membuat peraturan.


Keterlibatan keluarga Alhold benar-benar di luar dugaanku. Ah, koreksi. Bukan keterlibatannya yang di luar dugaanku, tapi jumlah transaksi yang mereka lakukan. Jadi, sebelum organisasi pasar gelap Alhold dihancurkan olehku, yang bahkan tidak ingat, keluarga Alhold sering memberi pinjaman uang atau menjalankan permintaan orang. Bayarannya? Tentu saja anak peminjam.


Sederhananya, organisasi di bawah keluarga Alhold, Amber, menyuplai anak-anak ke keluarga Cleinhad, lalu keluarga Cleinhad meneruskannya ke organisasi pasar gelap. Amber adalah satu dari sekian organisasi yang menyuplai anak-anak ke keluarga Cleinhad. Bahkan, terkadang, Amber ini juga membeli anak-anak dari keluarga Cleinhad.


Peraturan keluarga Cleinhad cukup ketat. Kalau ada organisasi pasar hitam yang membeli anak-anak selain dari keluarga Cleinhad, maka organisasi itu harus membayar sejumlah uang tambahan. Uang tambahan ini dianggap sebagai dana menghilangkan catatan keberadaan anak-anak itu. Jadi, walaupun Amber berada di bawah keluarga Alhold, jika ingin mendapatkan anak-anak dengan harga normal, mereka masih harus melalui keluarga Cleinhad.


Dan, ya, Yarmuti kutemukan di Amber. Jadi, dulu, tanpa disadari aku lah yang menghentikan peran keluarga Alhold di pasar gelap.


Namun, sayangnya, atau untungnya? Entahlah. Aku tidak yakin. Yang jelas, yang menjual anak-anak panti asuhan Sargon bukanlah keluarga Alhold. Tampaknya ada organisasi pasar gelap lain yang bertanggung jawab mencari anak-anak panti asuhan.


Aku bilang hal ini disayangkan karena aku belum menemukan pihak yang menjual Tasha ke keluarga Cleinhad. Namun, di lain pihak, hati ini sedikit bersyukur karena aku bukanlah penyebab panti asuhan Sargon diserang. Setidaknya, mereka tidak akan menaruh dendam padaku. Mungkin.


Masih urusan keluarga Alhold. Karena Ukin sudah menyatakan dia tidak ada hubungan dengan serangan keluarga Alhold, maka, aku bisa asumsikan mereka tidak akan bergerak hingga aku selesai dengan Alhold. Yah, asumsinya mereka tidak akan bergerak terang-terangan. Kalau diam-diam? Hah! Tentu saja mereka akan bergerak.


Aku mengira keluarga Alhold tidak akan menjadi masalah karena ayah sudah mengurusnya. Namun, tidak kusangka, ayah malah berpihak pada keluarga Alhold. Kalau dia benar-benar terkena cuci otak Enlil, kalau bisa, aku tidak ingin membunuhnya. Namun, aku tidak tahu apakah ibu mengetahui hal tentang cuci otak ini. Kalau ibu menganggap ayah benar-benar berkhianat, tidak perlu dipertanyakan lagi, ibu akan membunuh ayah.


Saat berjaga sambil membaca dokumen dan memikirkan semua itu, tidak terasa satu jam sudah berlalu. Akhirnya, Emir dan Suen kembali. Bersama mereka, Elam juga datang. Elam tidak lagi memiliki rambut setengah botaknya. Kini, dia mengenakan wig pendek berwarna hitam.


Mata Suen bengkak. Kedua tangannya masih mengepal.


"Suen, ke sini."


Suen menurut. Dia duduk di sofa, di sebelahku. Tanpa menunggunya tenang, aku mengusap kepalanya.


"Ka-kak Lugalgin..."


"Kalau kamu masih mau menangis, menangislah. Aku tidak melarang."


"Ta-tapi–"


"Hanya karena kamu laki-laki, bukan berarti kamu tidak boleh menangis. Menangislah, aku mengizinkannya."


"U....UWAAAAA!"


Akhirnya, Suen menangis. Dia memelukku erat, membenamkan wajah ke badanku.


Aku tidak mengatakan apapun. Aku hanya mengusap rambut dan punggungnya dengan lembut, pelan dan perlahan.

__ADS_1


Tampaknya, karena mendengar tangisan Suen, Nanna terbangun dan turun. Dari tangga, dia melihat ke arahku dengan mata yang masih berair. Di belakangnya, Inanna menemani. Aku membentangkan tangan ke arah Nanna, mempersilakan kalau dia juga ingin menangis.


Tidak pikir panjang, Nanna berlari dan melompat ke arahku. Kini, ada dua orang yang menangis di pelukanku.


Malam ini, seharusnya, Nanna dan Suen hanya bermain sebentar di sini dan lalu kembali pulang, ke keluarga mereka. Di rumah mereka, seharusnya, ada orang-orang yang menanti dengan sebuah senyuman. Walaupun malam ini tidak menyambut dengan senyuman, setidaknya, besok pagi mereka masih bisa bertemu, diantar oleh senyuman itu.


Namun, sekarang, semua itu tidak akan pernah terjadi. Senyuman yang menyambut mereka setiap hari tidak akan pernah dilihat lagi. Semua itu hilang, hanya meninggalkan kenangan.


Setengah jam berlalu dan akhirnya mereka berdua tertidur di sofa, menggunakan pangkuanku sebagai bantal.


"Inanna, Emir, tolong bawa mereka ke kamarku. Biarkan mereka tidur di kamar."


"Eh? Satu kamar?" Emir bertanya.


"Ya, biarkan mereka satu kamar." Aku menjawab Emir. "Pada momen putus asa dan sedih seperti ini, mereka tidak boleh dibiarkan sendiri. Kalau mereka sendiri, rasa putus asa itu akan semakin besar, dan hal ini bisa berakibat pada pilihan yang mungkin tidak diinginkan."


"Baiklah," Inanna merespon.


Inanna dan Emir membawa Suen dan Nanna. Sementara itu, aku masih di ruang utama dengan Elam di depanku. Tentu saja dia duduk di sofa, tidak berdiri.


"Gin, Ninlil–"


"Biar kutebak, dia berteriak tidak ingin ditemui dan pergi entah kemana, kan?"


Yah, Ninlil selalu melakukan hal itu ketika merasa bersalah. Dulu, ketika masih tinggal di rumah bersama ayah, ibu, dan Ninlil, aku bisa tahu kemana dia akan pergi. Dia sering pergi ke tempat terakhir yang dia sebutkan. Jadi, misal dia bilang, "kak aku ingin ke pantai," maka dia akan pergi ke pantai ketika dia merasa bersalah.


Namun, sekarang, aku tidak bisa tahu kemana dia pergi. Aku sudah tidak serumah dengannya dalam berapa bulan. Ketik dia tinggal di sini beberapa minggu, aku tidak mendengar dia ingin pergi ke suatu tempat. Namun, hanya satu yang jelas.


"Cepat atau lambat, dia akan menyerang Enlil," aku menggumam pelan.


Kalau seandainya Ninlil menyerang Enlil dan gagal, ada kemungkinan ibu akan murka dan membunuh semua anggota keluarga saat itu juga. Yah, sebenarnya, aku tidak terlalu keberatan. Namun, aku butuh ayah, dan mungkin beberapa orang, untuk kelinci percobaan. Karena ini lah aku tidak menceritakan kalau Ninlil akan pergi. Aku harus membuat ibu menyerahkan urusan keluarga Alhold padaku.


"Elam, berikan laporan mengenai kondisi rumah Suen!"


"Baik," Elam merespon. "Rumah mereka penuh dengan lubang tembakan. Tidak seperti rumahmu yang tahan peluru, rumah mereka adalah rumah biasa. Jadi, kedua orang tua Suen tewas dengan berbagai lubang di tubuh. Aku bahkan bersyukur Emir berhasil menghentikan Suen sebelum melihat jasad orang tuanya."


"Rumah Nanna?"


"Laporan dari salah satu anggota Agade menyatakan kondisinya sama saja."


"Begitu ya," aku memberi respons. "Kamu tetap di sini dan jaga mereka semua. Aku ingin ke rumah ibu. Aku harus membicarakan sesuatu dengannya."

__ADS_1


"Baik!"


Karena tidak seorang pun anggota Agade yang mengetahui kalau ibu adalah pendiri sekaligus pemimpin Akadia, jadi, mungkin mereka berpikir aku bertemu dengan ibu untuk urusan keluarga Alhold. Yah, kali ini memang benar sih.


Tanpa aku duga, handphone candybar berbunyi. Aku mengangkat telepon.


[Hai, Gin! Ini Jin!]


"Ada apa?"


[Aku memiliki sebuah informasi yang sangat menarik. Amat sangat menarik.]


Jin menelepon melalui handphone candybar, bukan melalui smartphone. Dengan kata lain, informasi ini sangatlah penting dan tidak boleh ada pihak lain tahu, untuk saat ini. Jadi, dia tidak akan mengirim datanya melalui email, tapi melalui cara lama.


"Kurir atau kita bertemu langsung?"


[Bertemu langsung. Pagi ini jam 7, di tempat biasa. Aku sarankan kamu tidak membawa siapa pun, terutama Tuan Putri Emir.]


Emir? Berarti informasi ini menyangkut soal Fahren?


"Baiklah."


Bersambung


\============================================================


Halo semuanya.


Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.


Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.


Sampai jumpa di chapter selanjutnya


__ADS_1


 


 


__ADS_2