
~Lugalgin's POV~
Aku ke dapur dan mengecek persiapan makan malam. Saat baru masuk ke dapur, Inanna berbisik padaku.
"Hanya tahu teori apanya? Kamu melatih pengendalian Shinar dan juga anggota Agade, kan?"
Aku tersenyum ketika mendengar bisikan Inanna.
"Yah, aku tidak mau terlalu fokus pada Suen. Di lain pihak, aku juga tidak bisa meninggalkan Suen dan meladeni Ninlil begitu saja, kan?"
Aku balik berbisik, menjawab Inanna.
Jujur, bagiku, momen Ninlil bermain dengan Nanna dan Suen seperti ini adalah langka. Momen seperti ini mengingatkanku kalau kehidupanku tidak hanya berputar di sekitar intelijen, pasar gelap, dan pewarisan takhta. Aku kembali diingatkan kalau aku juga memiliki hidup sebagai rakyat jelata yang normal.
Di lain pihak, aku sudah tidak perlu khawatir soal penilaian ibu pada Emir yang tinggal menghitung bulan. Saat ini, Emir sudah bisa memasak dan melakukan pekerjaan rumah dengan baik, sama dengan Inanna.
Eh? Levelku? Hah, jangan bercanda. Meskipun militer Mariander memaksa Inanna mandiri, dia baru masuk beberapa tahun, apalagi Emir yang baru mulai. Aku sudah mengurus pekerjaan rumah sejak Ninlil lahir, 14 tahun lebih. Keahlianku dalam pekerjaan rumah tidak mungkin ditandingi oleh dua mantan tuan putri ini.
Aku jadi teringat masa SMA ketika Illuvia dan Maila protes gara-gara masakanku lebih enak dari mereka. Bukan hanya itu, aku yang membersihkan ruang badan eksekutif membuat mereka naik pitam. Mereka bilang, kalau sekolah tahu aku lebih ahli dari mereka dalam pekerjaan rumah, maka citra mereka sebagai pengurus inti akan tercoreng.
Di saat seperti itu, Arde akan membelaku dengan menyatakan bahwa normal untukku memiliki kemampuan itu karena aku adalah rakyat jelata. Namun, dia gagal meyakinkan mereka berdua karena dia sendiri mampu menghasilkan masakan yang lebih enak dariku. Kesimpulannya, cowok di pengurus inti badan eksekutif SMA kami lebih piawai dalam pekerjaan rumah dibanding ceweknya.
Ngomong-ngomong, aku sudah berapa bulan ini tidak mengontak Arde dan Maila. Beberapa kali aku mengirim pesan, tapi mereka baru membalasnya berapa hari kemudian. Tampaknya mereka benar-benar sibuk. Yah, mau bagaimana lagi. Kami sudah tidak satu sekolah. Agenda kami pun berbeda-beda. Mungkin, setelah ini, pertemanan kami akan semakin renggang.
"Nanna, terima kasih ya sudah mau berteman dengan Ninlil."
"Ah, tidak apa-apa, Kak Lugalgin. Justru kami senang Ninlil mau berteman dengan kami."
Mungkin yang lain tidak menyadarinya, tapi nada Nanna lebih pelan dan lembut ketika berbicara denganku. Dulu, saat aku masih tinggal satu rumah dengan ayah dan ibu, dia sering datang dengan menggunakan alasan main ke rumah Ninlil. Kalau aku di rumah, dia pasti mencari kesempatan untuk mengobrol denganku berdua saja.
Namun, sekarang, aku dengar dia tidak datang sesering dulu. Ninlil mengatakan sekarang Nanna lebih sibuk dengan belajar karena ujian sudah dekat. Namun, alasan sebenarnya adalah Nanna tidak memiliki alasan yang kuat untuk datang karena aku sudah tidak di rumah. Dia juga tidak mungkin tiba-tiba datang ke rumahku.
Sampai sekarang, aku tidak tahu apa yang membuat perempuan bisa jatuh hati padaku. Dan aku tidak mau mencari tahu. Namun, setidaknya, aku masih peka, tidak seperti seseorang.
Suen tampaknya masih memiliki perasaan pada Ninlil. Meski dia bilang ingin bertanya soal pengendalian padaku, dia berkali-kali mencuri pandangan ke arah Ninlil. Karena itu, aku mencoba mendekatkan mereka berdua.
Berbeda denganku yang selalu memperhatikan kondisi sekitar, bawaan hasil latihan Lacuna, Ninlil sama sekali tidak peka. Bahkan, aku berani bertaruh, saat ini dia tidak sadar kalau aku mendekatkannya ke Suen. Hah, aku jadi khawatir. Kemungkinan adikku ini mendapatkan pasangan rasanya sangat kecil.
Akhirnya, makan malam sudah siap di atas meja. Aku duduk di antara Emir dan Inanna sementara Ninlil duduk di antara Suen dan Nanna. Kami pun menyantapnya dengan santai. Setidaknya, begitulah rencananya.
__ADS_1
"E–"
"Ya!"
Belum sempat aku memanggil Emir, atau Inanna, mereka berdua sudah bergerak dengan cepat.
Tak tak tak tak
Suara tumpul terdengar berkali-kali. Di jendela, terlihat ada beberapa lingkaran putih, percobaan peluru yang gagal memasuki rumah.
Sebelum tembakan peluru menghantam jendela, kami semua sudah bergerak. Emir dan Inanna melewati samping meja dan menarik Nanna dan Suen. Aku lompat ke atas meja dan menarik Ninlil. Saat ini, kami semua berlindung di balik dinding, di ujung ruangan.
Rumah ini sudah kupasang dengan kaca anti peluru. Bahkan sniper rifle tipe Lupus milik Lacuna tidak akan bisa menembusnya. Hanya senapan anti material yang mampu menembusnya. Namun, meski demikian, aku tetap harus berjaga-jaga.
"Gin,"
Aku menoleh ke Emir. Di pelukan Emir, terlihat Nanna yang gemetaran. Tangannya menggenggam pakaian Emir begitu kuat. Begitu juga dengan Suen. Dia juga melakukan hal yang sama pada Inanna.
Di lain pihak, Ninlil sama sekali tidak gemetaran. Dia menempelkan badannya padaku, tapi aku tidak merasakan getaran sama sekali. Tampaknya dia cukup tenang.
Kami tidak melakukan apa pun, hanya diam menanti. Tidak lama kemudian, suara tembakan pun terhenti.
Nanna histeris ketika mendengar dering smartphoneku. Emir mengelus dan membelai rambut Nanna dengan lembut, mencoba menenangkannya.
Aku melepaskan Ninlil dan mengangkat telepon. Sambil mengangkat telepon dari Mari, aku berjalan ke jendela, melihat bekas tembakan.
"Bagaimana?"
[Tiga orang dari keluarga Alhold. Mereka sudah tewas.]
Aku mendengar nada ketus Mari yang khas. Aku bisa membayangkan dia berbicara dengan matanya yang setengah terbuka, tampak sayu, di ujung telepon.
Ketika melihat bekas tembakan, yang membuatku terkejut adalah peluru yang ditembakkan tampaknya tidak mengincarku, tapi mengincar Ninlil dan dua temannya. Apa mereka ingin membunuh Ninlil? Tidak. Tidak mungkin. Ninlil adalah calon pemimpin keluarga Alhold. Tidak mungkin mereka membunuhnya.
Atau kemungkinan lain adalah, keluarga Alhold berusaha membunuh Nanna dan Suen, lalu mengancam Ninlil. Mungkin, mereka ingin menunjukkan kalau aku tidak bisa melindungi teman-teman Ninlil, memaksanya kembali ke rumah dan menuruti perintah kalau tidak ingin mereka terancam.
Ya, skenario ini adalah yang paling mungkin.
"Keluarga Alhold ya."
__ADS_1
[Ya, keluarga Alhold. Maaf Ka–Lugalgin. Awalnya, aku ingin menginterogasi mereka. Sayangnya, mereka tiba-tiba tewas saat aku tiba.]
Tiba-tiba tewas? Mungkin, ada orang lain yang mengawasi mereka dari kejauhan. Ketika ada pihak lain mendekat, orang itu akan menekan sebuah tombol, menyebar racun di tubuh penyerang.
"Cari orang dengan gelagat aneh dalam radius beberapa kilometer. Kamu boleh mengerahkan karyawan Agade yang sedang luang. Lalu, kamu hubungi seseorang dari markas dan lakukan autopsi pada tubuh mereka. Aku ingin tahu racun atau apapun yang menyebabkan mereka tewas."
[Baik Ka–Lugalgin.]
Sudah kubilang, Mari, kalau kamu mau memanggilku dengan panggilan Kak, aku tidak melarang.
Mari pun menutup telepon.
Aku mengirim pesan ke Shu En, meminta agar ada agen yang mendatangi rumah Nanna dan Suen dan memberi keluarga mereka perlindungan.
"Nanna, Suen, aku ingin membicarakan hal yang penting pada kalian."
Bersambung
\============================================================
Halo semuanya.
Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.
Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.
Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
__ADS_1