
~Emir POV~
"Bagaimana, Inanna?"
Aku membuka pintu pelan dan hanya memasukkan kepala.
"Dia sudah tertidur. Kalian bisa masuk, tapi jangan terlalu berisik."
Aku dan Mulisu pun masuk ke dalam kamar, tapi tidak sekedar jalan. Kami melangkah tanpa suara dan menyatukan ritmenya dengan nafas, mencoba menghilangkan keberadaan.
Akhirnya kami tiba di sofa, di depan Inanna yang membiarkan Lugalgin tertidur di pangkuan. Wow, perempuan ini benar-benar cepat! Dia sudah mempraktikkan saran ibunya dari beberapa hari yang lalu!
Eh? Aku? Tidak, aku sedang tidak ingin melakukannya. Aku ingin memberi kesempatan sekaligus penghiburan pada Inanna karena dia baru terluka. Ya, aku sengaja membiarkan Inanna menenangkan Lugalgin.
"Lama juga dia menangis. Hampir dua jam."
Seperti ucapan Mulisu, Lugalgin menangis hampir dua jam. Kami berdua yang berada di depan ruangan hanya bisa menanti hingga Lugalgin berhenti menangis. Bahkan, kami hampir tertidur di koridor. Kalau Inanna tidak mengetuk pintu dengan mengendalikan sendok, mungkin kami sudah terlelap.
"Sejak aku menjadi calon istri Lugalgin, mungkin ini adalah pertama kalinya aku mendengar Lugalgin menangis sekencang itu."
"Emir, jangankan kamu. Aku yang sudah menjadi rekan Lugalgin selama 5 tahun lebih saja baru tahu kalau Lugalgin bisa menangis seperti itu. Aku kira, kalaupun menangis, dia hanya akan menitikkan air mata tanpa suara. Ya, aku mengira seperti itu."
"Jujur," Inanna masuk. "Tadi, dia hampir melakukan hal itu, hanya menitikkan air mata tanpa tangisan. Namun, aku tidak tega melihat tubuhnya yang tampak begitu lemas seolah akan roboh kapan saja. Aku pun memaksanya menangis. Aku harap tangisan ini bisa mengurangi kesedihannya walaupun hanya sedikit."
Inanna memberi penjelasan sambil membelai rambut Lugalgin.
Aku melihat ke wajah Lugalgin yang tertidur. Matanya bengkak dan pipinya pun lembap. Bahkan, air matanya masih mengalir pelan walau dia sudah tertidur, membasahi celana Inanna.
Sebagai catatan tambahan, yang tidak akan pernah aku katakan pada siapa pun, tragedi ini membuat Inanna lebih tenang dan bisa menerima keadaan. Dia bisa meyakinkan diri kalau penampilannya bisa diperbaiki dengan operasi dan pengobatan.
Mari, walaupun sudah tiada, kamu masih memberi bantuan besar pada kami. Aku benar-benar berterima kasih.
"Dan, padahal, kamu belum memberi kabar soal Hurrian, kan?"
Inanna menggeleng. "Aku tidak tega. Aku tidak mampu mengemban beban untuk menyampaikan dua berita buruk sekaligus."
Di saat itu, pandangan Inanna dan Mulisu jatuh pada satu orang, aku.
"Ah....itu...."
Sebenarnya, aku ingin mengelak pandangan mereka. Namun, aku sadar betapa terbebaninya mental Inanna hanya untuk menyampaikan kematian Mari. Dan, Mulisu tidak akan mau melakukannya karena aku adalah calon istri Lugalgin. Kalau dia melakukannya, seolah melangkahi kuasa. Jadi, ini adalah kewajibanku.
__ADS_1
Wow, aku sudah mengkhianati keluargaku bahkan hampir membunuh ayah. Namun, entah kenapa, tugas kali ini terasa jauh lebih berat dari semua hal itu. Aku tidak ingin melihat Lugalgin bersedih lagi. Aku tidak ingin. Namun, aku tetap harus menyampaikan kabar buruk ini. Aku tidak bisa menyimpannya.
"Ada apa dengan Hurrian?"
Aku hampir meloncat ketika mendengar suara ini. Jantungku hampir terlepas rasanya. Bukan hanya aku, Mulisu pun memiliki reaksi yang sama denganku. Aku melihat tubuhnya yang sempat bergerak tapi dia menahannya.
"Sejak kapan kamu bangun, Gin?"
"Baru saja. Aku sendiri tidak tahu kenapa tiba-tiba terbangun. Namun, mungkin, untuk mendengar soal Hurrian."
Lugalgin menjawabku dengan lancar. Bahkan, aku tidak mendengar patahan atau suara yang terasa berat, seolah dia tidak bersedih sama sekali. Namun, entah kenapa, aku bisa mengatakan kalau itu semua hanyalah sandiwara yang dia tunjukkan.
"Mulisu, kalau kamu tidak keberatan–"
"Oh, aku tidak keberatan. Tenang saja. Kamu tidak menyakiti perasaanku kok."
Mulisu bisa membaca pikiranku. Tanpa memperpanjang, dia bangkit dan meninggalkan kami bertiga di ruangan ini.
Aku tidak tahu apakah dia memang pengertian atau hanya mencoba kabur. Namun, yang penting, kami bertiga memiliki waktu pribadi.
"Jadi, ada apa?"
Lugalgin bangkit dan duduk di sebelah kiri Inanna. Tiba-tiba saja, tanpa aba-aba atau isyarat apa pun, Inanna bangkit dan pindah tempat duduk. Dia kini duduk di sampingku.
"Eh? Tapi...."
"Sudahlah, lakukan saja. Percayalah padaku. Ini akan lebih mudah."
Pada bagian terakhir, Inanna berbisik. Inanna jarang memaksa. Kalau dia sudah memaksa atas suatu hal, pastilah hal itu penting.
Aku pun menurut dan duduk di sebelah Lugalgin. Begitu duduk di sebelahnya, aku mendapatkan pandangan penuh dari Lugalgin. Aku melihat matanya yang masih merah dan bengkak. Rambut coklatnya terlihat cukup rapi karena baru dibelai dan dielus oleh Inanna.
Ketika melihat wajah Lugalgin, sebuah bayangan langsung muncul di benak. Aku melihat Lugalgin yang akan kembali menangis. Dan aku dipaksa untuk melihat sosoknya yang hancur itu. Jujur, aku tidak tega dan tidak mampu melakukannya. Aku tidak mampu.
Hanya ada satu cara untuk bisa melakukannya.
"Lugalgin, maafkan aku."
"Eh?"
Aku menarik kepala Lugalgin dan membenamkannya ke dadaku, merengkuhnya erat. Aku tidak mampu melihat Lugalgin, dan satu-satunya cara untuk dapat menyampaikan berita buruk ini sekaligus menenangkannya adalah dengan cara ini.
"Lugalgin, aku ingin kamu kuatkan diri."
"Ya?"
__ADS_1
Dadaku terasa sedikit geli ketika Lugalgin berbicara. Aku harus menahannya.
"Hurrian, mulai dari perut hingga kaki kirinya hancur. Gara-gara ini, dia kehilangan sebagian organ tubuhnya dan hingga saat ini Om Barun sedang berusaha untuk memasang organ artifisial di tubuhnya."
Tiba-tiba saja aku bisa merasakan tangan Lugalgin yang mencengkeram punggungku. Meski terasa sakit, aku harus menahannya. Dibandingkan rasa sakit yang diterima hati Lugalgin, ini tidak ada apa-apanya.
"Belum selesai. Kata Om Barun, telinga kanan dan beberapa organ di kepalanya juga mengalami kerusakan. Setelah ini, kemungkinan besar, Hurrian akan sulit mengendalikan material. Dia juga mengalami masalah dengan keseimbangan tubuhnya gara-gara hal ini. Dan, Hurrian juga kehilangan tangan kanan, mulai dari bahu."
"Jadi, Hurrian...."
"Bisa dibilang, dia hampir lumpuh total."
"Uugghh....."
Lugalgin mulai sesenggukan.
Aku membelai punggung dan rambut Lugalgin dengan lembut, perlahan. Tidak lama kemudian, Lugalgin pun kembali menangis.
Aku menoleh sejenak ke arah Inanna. Dia hanya mengangguk tanpa kata-kata.
Meskipun beberapa hari lalu tante Filial mengatakan momen seperti ini, ketika Lugalgin rapuh, adalah saat yang paling tepat untuk masuk ke hatinya, aku tetap tidak bisa mengambil kesempatan. Di pikiranku, saat ini, aku hanya ingin berada di sisi Lugalgin, bersama, di sampingnya. Aku tidak ingin Lugalgin memikul kesedihan ini sendiri. Aku ingin turut serta memikulnya.
Bersambung
\============================================================
Halo semuanya.
Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.
Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.
Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
__ADS_1