
"Selamat makan...."
Aku, Emir, dan Inanna sarapan di rumah sakit. Emir masih dalam perawatan karena terluka cukup parah, terutama perutnya. Dia baru dioperasi dua hari yang lalu. Menurut ayah, Emir harus opname selama beberapa hari, atau bahkan minggu, tergantung kecepatan pemulihannya.
"Ahh, dasar. Coba Emir tidak naif. Saat ini kita sudah sarapan di rumah, menikmati masakan rumah dan Lugalgin."
Kenapa aku juga ada di menu?
"Ahaha, maaf ya, Inanna. Aku menyesal."
"Ya, sudahlah. Mau bagaimana lagi. Kamu jadi lebih bodoh sih kalau sedang bertarung."
"Ugh....."
Aku tidak merasakan kebencian dari suara Inanna. Dia mengatakan itu semua hanya sebagai basa-basi. Sama, Emir dapat menerima itu semua dengan santai. Mereka berdua, meskipun mengeluh dan protes, masih memberi senyum terbaiknya.
Indahnya hidup ini kalau dua calon istriku akur. Ya, kalau akur. Kalau tidak akur? Nasibku akan sama seperti Fahren. Cepat atau lambat, istriku akan membunuhku dan istri yang lain.
Tidak lama kemudian, kami selesai sarapan dan aku membawa nampan bekas makan keluar. Aku meletakkan nampan kami di pantri yang terletak di ujung lantai, tempat piring kotor dikumpulkan. Rumah sakit memiliki prosedural yang berbeda untuk membersihkan alat makan dibanding rumah makan. Jadi, pengunjung dan pasien tidak diperbolehkan mencuci sendiri walaupun ada pantri. Ya, orang normal mana sih yang mau mencuci alat makannya sendiri di rumah sakit.
Dan, tentu saja aku memasukkan Emir ke rumah sakit milik Ayah. Aku ingin keamanan yang terbaik untuk calon istriku.
Ketika berjalan kembali ke kamar, aku berpapasan dengan dua perempuan yang wajahnya tidak kukenal. Mereka memiliki rambut dan mata coklat, fitur generik Bana'an. Yang satu memiliki rambut pendek, yang satu panjang.
Namun, meski sudah mengubah wajah dan penampilan, aku masih bisa mengenali mereka dari aura keberadaan yang dimiliki. Dan lagi, aku sudah diberi kabar oleh Yuan kalau mereka akan berkunjung. Namun, tidak ada salahnya aku bertanya, basa-basi.
"Mau bertemu Emir?"
Perempuan berambut pendek membelalak. Tampaknya dia terkejut karena aku tahu tujuan mereka.
Yang satunya, perempuan berambut pendek, tidak terkejut. Dia sudah tahu kebiasaanku yang bisa mengenali orang tanpa melihat. Kenapa bisa tahu? Karena perempuan ini sudah sering bertemu denganku sebelumnya.
"Ya, benar." Perempuan berambut pendek menjawab.
"Kalau begitu, ayo ikut aku,"
Aku mengajak mereka masuk ke ruangan Emir. Di sana, Emir dan Inanna masih mengobrol dengan santai. Begitu aku masuk membawa dua perempuan ini, mereka terdiam. Setelah memperhatikan dua perempuan di belakangku untuk sejenak, mereka melempar pandangan padaku.
"Gin, siapa mereka?"
__ADS_1
Inanna adalah yang pertama bertanya.
Aku tidak menjawab, tapi justru mengajukan pertanyaan. Pertanyaan ini kuajukan pada Emir, yang sudah bersama mereka untuk waktu lebih lama.
"Emir, kamu tidak mengenali mereka?"
Emir menggeleng.
"Apa kalian masih belum bisa mengenali orang hanya dari auranya? Ayolah!"
"Gin, tidak ada orang normal yang bisa mengenali orang lain hanya dari auranya."
Emir dan Inanna menyanggah, bersamaan.
Perempuan berambut pendek tertawa kecil, "ahaha, aku setuju dengan mereka Gin. Sejauh yang aku tahu, hanya kamu yang bisa melakukan itu."
Sebenarnya, aku ingin menyanggah karena ada orang lain yang bisa melakukannya seperti Lacuna, Ukin, Mulisu, dan Jin. Bahkan, akhir-akhir ini, Yuan sudah bisa mengenaliku sebelum aku menyapanya. Namun, itu tidak penting.
Dua perempuan yang bersamaku masuk dan menutup pintu. Setelah pintu tertutup mereka langsung meletakkan kedua tangan masuk ke kaos, ke dalam kerah. Dalam waktu singkat, mereka berdua melepas wajah mereka.
"Eh? Kakak? Jeanne?"
Ya, benar, kedua perempuan ini adalah Yurika dan Jeanne. Sementara Jeanne hanya melepas wajah silika, Yurika juga harus melepas wignya. Sekarang, Yurika memiliki rambut pendek. Dan ketika aku bilang pendek, bukan short bob haircut, tapi pendek rapi seperti laki-laki.
Keluarga Herizzeta sudah menerima tawaranku dan menghilang dengan uang yang mereka dapat. Hanya Jeanne yang tersisa. Dia mengatakan ingin kembali menjadi agen schneider. Jeanne berkata dia merasa bersalah karena dirinya adalah salah satu orang yang membujukku untuk menerima posisi kepala intelijen. Dia berharap bisa melihat sifat buruk ayahnya, yang membuat nyawa warga sipil hilang, lebih awal.
Kedua adik Yurika, Maxwell dan Lexicon, juga seharusnya sudah hidup dengan identitas baru. Yurika masih tinggal karena dia tidak tega meninggalkan adiknya yang paling muda seorang diri, Bemmel. Meski sudah hidup di tempat yang berbeda, aku mendapat laporan tidak jarang Yurika mengawasi dan mengikuti adik bungsunya. Pada titik ini, Yurika hampir seperti stalker.
"Emir, aku dengar kamu terluka."
"Ah, ini? Tidak apa-apa. Hanya luka kecil. Hehe."
Halooo! Emir lukamu bukan luka kecil! Kamu ditusuk dengan pisau bergerigi ke perut. Bahkan ginjalmu juga sobek! Jangan lupa kalau yang baru kamu makan hanya bubur! Bahkan aku terkejut kamu bisa bangkit sekarang!
****!
"Gin, kamu tidak apa-apa?"
Tampaknya Emir bisa membaca wajahku karena aku tidak mengenakan poker face untuk kali ini.
__ADS_1
"Aku mengkhawatirkanmu, Emir. Apalagi besok pagi aku harus berangkat ke perbatasan, memeriksa dan mendengar laporan langsung dari Ibla dan personel perang."
Mungkin orang berpikir kalau di zaman sekarang kami cukup melakukan konferensi video atau mengirim email atau teknologi komunikasi jarak jauh lainnya. Namun, tentu saja, tidak ada satu pun dari tiga kerajaan yang cukup bodoh dan ingin melakukannya. Potensi kebocoran data atau peretasan data sangat tinggi. Bahkan, terlalu tinggi.
Apalagi, di saat perang seperti ini, dunia internasional akan memperhatikan kami. Bisa saja ada sekutu Kerajaan Nina atau Mariander yang meretas data kami dan menawarkannya pada mereka. Atau kalau ada informasi sensitif mengenai kemungkinan kejahatan perang, meski hanya kemungkinan tanpa bukti konkret, Kerajaan Bana'an bisa diseret ke pengadilan internasional. Walaupun tidak akan terbukti, tetap saja "diduga" sudah memberi efek buruk ke kerja sama internasional yang akan datang.
Jadi, ya, aku harus pergi langsung ke markas lapangan atau personel lapangan yang melakukan perjalanan ke sini.
Pilihan pertama dipilih karena kalau personel lapangan yang ke sini, akan ada delay waktu informasi. Jadi, bisa saja laporan yang dia berikan sudah tidak sesuai dengan kondisi lapangan. Di perang, banyak hal bisa terjadi dalam waktu singkat.
Meskipun aku memiliki handphone khusus yang tidak bisa disadar atau diinterupsi, sayangnya, handphone ini tidak diketahui oleh siapa pun selain yang memilikinya. Dan, daripada penyampaian informasi, kedatanganku lebih kepada menunjukkan muka kepada petinggi militer yang terlibat dalam perang, hanya untuk meningkatkan moral tentara. Setidaknya mereka tidak akan terlalu kesal karena berpikiran, "orang yang membuat perang ini pecah tidak pernah peduli,".
Selain perang antar negara, intelijen ketiga kerajaan juga sekarang saling serang. Dalam waktu kurang dari 1 bulan sejak perang dimulai, aku tidak menghitung sudah berapa banyak agen gugalanna dan marionette ditangkap. Ah, marionette adalah sebutan agen dari kerajaan Nina. Dan karena intelijen, tidak ada aturan, tidak seperti perang. Semua yang dilakukan intelijen "tidak pernah terjadi".
Dan lagi–
Bersambung
\============================================================
Halo semuanya.
Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.
Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.
Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
__ADS_1