I Am No King

I Am No King
Chapter 141 – Perselisihan dengan Raja, Lagi


__ADS_3

"Kami ingin membicarakan soal beberapa bangsawan yang melakukan pembunuhan rakyat beberapa hari yang lalu."


 


Yang berbicara denganku bukanlah Fahren, melainkan Permaisuri Rahayu. Fahren hanya terdiam, membuang pandangan keluar jendela.


 


Rekan-rekanku juga terdiam, duduk di kanan dan kiri. Namun, mereka tidak melihat ke luar jendela seperti Fahren. Mereka menundukkan kepala. Sesekali, Inanna atau Shinar mencium bau tubuh mereka. Emir pun sudah mengenakan jaket, seperti Inanna.


 


Berbeda dengan mobil Emir yang dulu, dimana kursinya hanya ada satu di belakang. Mobil ini memiliki dua kursi panjang di bagian kanan dan kiri.


 


Jadi, saat ini, yang berbincang hanyalah aku dan permaisuri Rahayu.


 


"Biar kutebak. kalian tidak akan menghukum mereka, kan?"


 


"...apa ada yang memberi tahumu?"


 


"Tidak. Tidak ada yang memberi tahuku." aku menolak dugaan permaisuri Rahayu. "Aku sudah bisa memperkirakannya. Kalau kalian menghukum semua bangsawan itu secara bersamaan, maka mereka akan membuat aliansi dan mencoba melakukan kudeta. Dengan kata lain, perang saudara."


 


Ayolah. Kalian sudah mengenalku cukup lama. Kenapa hal kecil seperti itu saja masih terkejut?


 


Permaisuri Rahayu cemberut. Dia bahkan tidak repot-repot memberi senyum masam. Tampaknya, masalah ini adalah masalah yang serius bagi kerajaan.


 


"Namun, kalau dibiarkan begitu saja, ini bisa memberi indikasi kalau keluarga kerajaan tidak lagi memiliki kekuatan. Iya, kan?"


 


"Yah. Kami juga menghawatirkan hal yang sama. Karena itu, kami membutuhkanmu."


 


"Untuk?"


 


"Saat ini, meski status mereka adalah agen yang dirumahkan, status mereka masih agen di bawahmu. Jadi, aku ingin kamu yang memberi hukuman pada mereka."


 


"Kamu mau aku melakukan pembersi–"


 


"Tidak! Aku minta kamu menjatuhkan hukuman selain pembersihan!"


 


Permaisuri Rahayu memotongku dengan cepat. Tampaknya, dia benar-benar membenci kata itu.


 


"Apa kamu pernah memikirkan kehidupan anak-anak yang keluarganya telah kamu bersihkan? Seperti anak-anak keluarga Menia yang baru saja kamu bersihkan hanya karena satu orang berkhianat?"


 


"Dia sendiri yang menandatangani pernyataan kesetiaan itu. Dan, menurutku, aku masih cukup baik, mengingat aku membiarkan mereka tinggal di panti asuhan yang dikelola langsung oleh ibuku, bukan keluarga kerajaan yang tidak becus. Seperti misal, yang dikelola Pangeran Charisma."


 


"Kamu bilang itu baik?"


 


"Aku bilang cukup baik. Kalau aku benar-benar berbaik hati, mereka sudah aku bersihkan juga. Dengan begitu, setidaknya, mereka tidak akan menderita. Atau aku harus meniru keluarga Cleinhad?"


 


"Lugalgin! Jangan bicarakan itu di sini!"


 


Akhirnya Fahren membuka mulut. Dia tidak lagi membuang pandangan ke luar, tapi melihat ke arahku. Dan, hal pertama yang muncul dari mulutnya adalah sebuah bentakan.


 


"Melihat reaksimu, tampaknya Permaisuri Rahayu tidak tahu banyak soal keluarga Cleinhad. Di ruangan ini..."


 

__ADS_1


Aku melihat ke arah Ninlil. Jujur, aku tidak tahu gerak-gerik Ninlil. Kemungkinan besar dia sudah mendengar ceritanya dari Inanna dan Emir. Dan, anggukan Ninlil, membenarkan dugaanku.


 


"Berarti, di ruangan ini, hanya Permaisuri Rahayu yang tidak tahu mengenai fakta dibalik keluarga Cleinhad."


 


"Kau menceritakan rahasia kerajaan pada orang luar?"


 


"Ha...Ha..." aku tertawa sinis. "Kenapa tidak? Inanna adalah calon istriku. Bahkan, ibuku lebih memilih Inanna daripada Emir. Dan lagi, sudah hampir tiga tahun aku memperjual-belikan informasi ini. Maksudku, banyak relasi dari anak-anak itu yang masih mencari. Aku pun masih mencari beberapa anak yang menjadi korban keluarga Cleinhad."


 


"Anak-anak?"


 


Fahren tidak berkata apa-apa. Dia hanya terdiam, menggertakkan gigi.


 


Di lain pihak, meski tampaknya penasaran, Permaisuri Rahayu tidak melanjutkan pembahasan keluarga Cleinhad. Justru sebaliknya, dia berusaha mengembalikan topik pembicaraan.


 


"Intinya, Gin, kami ingin kamu yang menjatuhkan hukuman selain pembersihan."


 


"Kalau aku tidak boleh membersihkan mereka, beri aku solusi hukuman apa yang harus kujatuhkan."


 


"Kamu bisa–"


 


"Sebelum Permaisuri menjawab, aku ingin mengatakan sesuatu." Aku menyela Permaisuri. "Apa permaisuri sadar jika hukuman dijatuhkan dengan menyisakan anak-anak, atau hanya ditegakkan pada satu dua orang, risiko yang ditimbulkan sangatlah besar?"


 


"Maksudmu?"


 


Ah? Tunggu dulu? Permaisuri masih berani bertanya apa maksudku? Kamu pasti bercanda kan? Apa Permaisuri masih naif? Semoga tidak.


 


 


"Tentu saja aku memikirkan hal itu."


 


"Berarti, permaisuri juga sadar kan kalau saat ini Emir merupakan target prioritas?"


 


"..."


 


Tampaknya, permaisuri baru sadar.


 


Di lain pihak, Fahren tidak memberi respon sama sekali. Berarti, besar kemungkinan Fahren menyadarinya dan tidak memberi tahu Permaisuri Rahayu. Hubungan suami istri yang harmonis sekali!


 


"Ayah, apa ayah membiarkan ibu berada di kegelapan begitu saja?"


 


Fahren masih tidak mau menjawab. Tampaknya, dia benar-benar kesal.


 


Jujur, kalau aku boleh bilang, Raja ini labil. Di awal, dia mendukungku secara penuh, bahkan sampai bersekongkol dengan Arid untuk menjadikan Inanna dan Emir istriku. Namun, kemudian, dia tampak bingung ketika aku bilang bahwa aku mengetahui mengenai kegiatan ilegal keluarga Cleinhad.


 


Setelah itu, tiba-tiba, Fahren tampak seperti menyesali perbuatannya membiarkan keluarga Cleinhad. Bahkan, dia sampai menangis. Namun, kini, dia tidak mau menghukum bangsawan yang mendukung keluarga Cleinhad, yang tidak mau menurutiku.


 


Dan, sekarang, dia tampak tidak mau menerima kenyataan kalau orang-orang yang bersamaku mengetahui sisi buruk kerajaan ini. Di lain pihak, dia membiarkan Permaisuri Rahayu berada di kegelapan.


 


Kalau seperti ini, kemungkinan besar, Fahren dan Arid berencana menjadikanku Raja boneka. Dengan dalih mengembalikan kejayaan kerajaan Kish, mereka akan menaklukkan kerajaan dan negara sekitar. Pada akhirnya, tampaknya, mereka hanya ingin kekuasaan. Mungkin.

__ADS_1


 


"Permaisuri Rahayu, biar aku–"


 


"Tidak, Gin. Biar aku." Emir menyela. "Ibu. Sebenarnya, kalau Lugalgin tidak membunuh semua anggota keluarga yang terlibat, maka sangat besar kemungkinannya mereka akan menarget orang terdekat di Lugalgin, yaitu aku dan Inanna."


 


Ketika mendengar ucapan Emir, mata Permaisuri membelalak. Dia pun menahan nafas, menanti penjelasan lanjutan Emir.


 


"Bukan hanya Aku dan Inanna. Ninlil, Ninshubur, Tante Yueni, dan Tante Filial juga terancam. Bahkan, keselamatan Tante Filial dan Ninshubur jauh lebih terancam karena mereka bukanlah warga kerajaan ini. Hukum tidak bisa benar-benar melindungi mereka.


 


"Saat ini, Lugalgin berusaha memancing semua perhatian padanya, dan memberi kesan kalau dia hanya bisa menang kalau bertarung dengan licik, memberi kesan kalau dia lemah. Dengan melakukan hal itu, perhatian para bangsawan yang ingin membalas dendam terpusat padanya, mengabaikan kami."


 


"Emir benar, Permaisuri Rahayu," Inanna melanjutkan. "Aku belum pernah melihat Lugalgin bertarung benar-benar serius. Namun, kalau sampai tiba momen dia terpaksa bertarung dengan serius, dan mereka menyadari kalau dia terlalu kuat, perhatian akan teralihkan pada kami, orang di sekitar Lugalgin, yang tampak lebih lemah. Saat itu terjadi, kami hanyalah alat untuk membalas dendam pada Lugalgin."


 


"..."


 


Permaisuri tidak memberi respon lebih lanjut. Kini, wajahnya benar-benar masam. Bahkan, dia tidak mampu melempar pandangan pada kami. Dia menurunkan pandangan dengan kedua tangan mengepal.


 


Di saat pandangannya turun, Permaisuri Rahayu sedikit menoleh ke kiri, ke arah Fahren yang hanya diam dan menggertakkan gigi. Melihat Fahren tidak berkata apa-apa, Permaisuri Rahayu kembali menundukkan kepala. Tampaknya, dia menyadari kalau semua ucapan Emir dan Inanna adalah benar.


 


Seingatku, permaisuri masih perlu melakukan manajemen pemerintahan daerah. Aku tidak pernah menyangka masih ada orang naif yang bisa melakukan manajemen pemerintahan. Atau jangan-jangan ada orang lain yang menjalankan manajemen pemerintahan?


 


Ketika memikirkan orang lain yang menjalankan manajemen pemerintahan untuk Permaisuri Rahayu, hanya satu orang yang terlintas di benakku, Tuan Putri Yurika. Dia cukup licik dan cerdik. Kalau ada orang yang akan menjalankan manajemen pemerintahan untuk Permaisuri Rahayu, hanya dia yang bisa.


 


Di lain pihak, aku tidak menyangka Emir dan Inanna mengetahui motif tersembunyiku. Ya, sudahlah. Mereka calon istriku. Tidak heran kalau mereka bisa menduga jalan pikiranku.


 


Kembali ke masalah utama.


 


Bersambung


 


 


\============================================================


 


 


Halo semuanya.


 


Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.


 


Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


 


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


 


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


 


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.


 


Sampai jumpa di chapter selanjutnya


 


__ADS_1


__ADS_2