
Lacuna POV
"In the midst of this drifting universe, somewhere, yonder. If there's a planet that can pass the prayer, would we head towards there? And then, what would we pray for?"
Tanpa disadari, aku sudah bersenandung pelan, memberi jawaban yang ambigu. Lagu ini, dulu, adalah lagu favoritku. Untuk sekarang, entahlah, aku merasa ini masih menjadi lagu favoritku, tapi aku sudah jarang mendengarkannya lagi.
Tapi.... ah..... jawabanku bodoh sekali. Malu sekali aku. Lugalgin pasti akan menertawaiku. Ini adalah pertama kalinya aku memberi jawaban seperti ini. Tampaknya, aku sudah semakin sentimen. Padahal, kalau di depan di depan orang lain, sosok kejam dan dinginku masih utuh. Entah kenapa, aku justru menjadi sentimen di depan laki-laki ini.
Namun, di luar dugaan, Lugalgin tidak menertawaiku. Apa yang dia lakukan selanjutnya justru membuatku membelalakkan mata.
"Unfulfilled promises, noble light we sacrificed. Even though there's nothing left anymore, right now, I can only move forward to path I trust."
Wait, what?
"Ka-kamu, kok kamu tahu lagu itu, Gin?"
Lugalgin memberi senyum liciknya. "Sudah kuduga."
"Hah?"
"Kamu tidak sadar kalau terkadang menyenandungkan lagu itu ketika mandi?"
Hah? Apa benar? Tidak mungkin! Aku tidak percaya!
"Kamu hanya mendengung, tapi setidaknya, dari situ aku bisa mencari nadanya di internet. Dan, aku mendapatkan lagu itu."
Tidakkk... aku tidak mau mendengarnya. Ini benar-benar membuatku malu. Tanpa kusadari, aku sudah membenamkan wajah ke selimut, mencoba menghilangkan Lugalgin dari pandangan.
"Flowers of hope. Now, an entwined bond is already right here, deep in our heart. And, it will become a power to live that shall not wither."
"Tidak! Hentikan! Aku malu..."
Aku refleks melempar bantal ke arah Lugalgin.
Lugalgin tidak menghindar atau menangkap bantal yang kulempar. Padahal, dengan refleksnya, dia bisa saja dengan mudah menangkap atau menghindarinya. Namun, dia membiarkan bantal itu menghantam tubuhnya.
__ADS_1
"Jadi, apa kamu mau bilang kalau kamu mencari tempat dimana keinginanmu bisa terkabul?"
Aku terhenti ketika mendengar ucapan Lugalgin. Di saat itu, semua rasa malu yang sempat muncul tiba-tiba hilang, menarikku kembali ke kenyataan.
Benar, momen yang kuhabiskan bersama Lugalgin saat ini bukanlah sebuah kenyataan. Ya, maksudku, ini benar-benar terjadi, tapi, ini bukanlah kehidupan yang layak untuk seseorang sepertiku. Setelah semua yang terjadi, aku hanya bisa terus berjalan, melanjutkan pencarianku.
Ketika aku terdiam, Lugalgin melanjutkan lagunya.
"Flowers of hope. This entwined bond will become our power and it will make tomorrows grow and blossom in full glory. No more place to turn back. Go! Towards a place we must reach. Hoist highly our no-hesitation-flag. We'll continue living the present." Lugalgin terdiam sejenak. "Aku akan berhenti sampai sini."
Aku melempar pandangan ke Lugalgin. Sebuah senyuman terpampang lebar di wajahnya. Meskipun dia tersenyum, tapi aku tidak merasakan kebahagiaan darinya. Yang kurasakan dari senyum Lugalgin hanyalah kesedihan dan kesepian.
Lugalgin bangkit dari tempat tidur dan mulai memakai baju.
"Aku tidak akan menanyakan masa lalumu dan motifmu lebih jauh. Aku juga sadar ada banyak hal yang hanya kita sendiri yang bisa pahami, bukan orang lain."
Ya, ucapan Lugalgin benar. Ada banyak hal yang tidak bisa dipahami orang lain. Orang-orang yang mengatakan 'aku paham perasaanmu' tidak benar-benar paham. Mereka hanya berpura-pura paham. Bahkan, walaupun mereka mengalami hal yang sama, keadaan dan latar belakang tidaklah sama. Oleh karena itu, mereka tidak akan pernah paham.
"Namun, kalau seandainya suatu saat kamu lelah dan ingin menghentikan pencarian itu, ketahui lah kalau aku masih ada di sini. Kamu adalah guruku dan aku adalah muridmu. Aku akan senantiasa memberikan tempat untukmu kembali."
Ah, aku benar-benar memalukan. Bagaimana bisa wanita tua sepertiku justru ditenangkan oleh anak-anak. Ups, dia sudah bukan anak-anak lagi.
"Haha, memberikan tempat untukku? Padahal belum ada seminggu sejak kita saling bertukar serangan."
Lugalgin setengah memutar kepala. "Aku sudah membuatkan tempat pulang untuk anak-anak itu dan bahkan melindungi mereka dari Mercenary terkuat di Bana'an. Apa menurutmu aku tidak bisa melakukan hal yang sama untukmu, Lacuna?"
Tanpa menunggu izin dari otak, wajahku sudah terasa rileks dan mengembangkan sebuah senyum.
Aku bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju Lugalgin, memeluknya dari belakang.
"Apa yang membuatmu terburu-buru? Ini malam terakhir kita bersama. Apa kamu tidak ingin menghabiskan waktu lebih lama lagi?"
***
Sudah beberapa bulan sejak momen itu, tapi entah kenapa, setiap aku mengingatnya, sebuah senyum terkembang dengan sendirinya di wajah ini.
__ADS_1
Lugalgin, tanpamu, sulit untukku bisa hidup. Tidak ada lagi yang membersihkan apartemenku. Aku tidak mungkin menyewa cleaning service. Aku tidak mau mengambil risiko cleaning service yang datang adalah pembunuh bayaran dalam misi untuk mengambil kepalaku.
Dan, karena dalam beberapa tahun terakhir ini aku memiliki Lugalgin, Ukin, dan Mulisu, aku jadi lupa betapa repotnya bekerja sendiri. Aku harus mengumpulkan informasi, melancarkan serangan, negosiasi, dan semuanya sendiri. Aku lupa betapa beratnya hidup seorang diri sebagai mercenary.
Setelah Bana'an, ini adalah negara ketiga yang aku kunjungi. Aku baru mendapat telepon minggu lalu, mengatakan ada pekerjaan yang membutuhkan sentuhan tanganku. Tidak. Membutuhkan sentuhan tanganku mungkin agak tidak tepat.
Koneksi yang memberi pekerjaan ini adalah seseorang yang aku kenal baik. Dia bilang tidak akan memberikan pekerjaan ini kepada mercenary lain selain aku. Kenapa? Karena aku mengenal baik siapa target pembersihan kali ini.
"Tunggu aku, ibu. Aku akan segera menemuimu."
Bersambung
\============================================================
Chapter ini diupload senin malam.
Seperti biasa, terima kasih atas semua dukungan, like, dan komentar pendukungnya.
Chapter 51 dan 52 diupload bersamaan karena sebenarnya 1 chapter. Jadi, kalau terputus rasanya ga enak banget. Wkwkwkwk. Di arc 4 ini, kita akan mundur beberapa tahun sebelum Lugalgin bertemu dengan Emir. Sebenarnya Arc 4 ini adalah spinoff yang digunakan untuk memberi sedikit gambaran mengenai masa lalu dan masa depan Lugalgin.
Bagi kalian yang otaku, kalian mungkin mengenal lirik lagu yang disenandungkan oleh Lugalgin dan Lacuna. Lagu itu adalah ending dari Gundam Iron Blooded Orphan yang dinyayikan oleh Uru, berjudul Freesia.
Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author
Dan, seperti biasa, author ingin melakukan endorse. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita. Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
__ADS_1