
Aku menolak pernyataan Fahren.
"Daripada mengurus intelijen yang sudah berantakan, aku yakin kamu lebih memilih untuk menjadikanku Raja, dimulai dari mempertemukanku dengan Emir dan Inanna. Dengan kata lain, kamu ingin mendorong semua tanggung jawab ini padaku, kan?”
Tidak terdengar jawaban dari Fahren. Di lain pihak, perempuan berambut coklat generik di depanku ini, Jeanne, masih tersenyum dan menutup mata. Dia tidak menunjukkan perubahan ekspresi dari tadi.
[Lugalgin, apa orang pernah bilang kalau kamu terlalu berburuk sangka?]
"Menurutmu?"
Fahren tidak menjawab. Setelah keheningan sesaat, aku mendengar suaranya yang menghela nafas.
[Ya, benar. Itu adalah jalan pikiranku. Aku ingin menyerahkan semuanya padamu. Maksudku, aku, Raja kerajaan ini, telah membiarkan keluarga Cleinhad memonopoli posisi intelijen begitu saja. Bahkan, aku menutup mata terhadap. Oleh karena itu, aku, yang telah membiarkan semua ini terjadi, merasa tidak memiliki hak lagi untuk mengatur urusan intelijen kerajaan.
[Apa kamu tahu, Gin? Sebelumnya, meski ingin menjalankan perintah Raja sebelum aku, perintah ayahku yaitu meneruskan takhta pada inkompeten, kamu, aku ragu. Aku ragu apakah aku bisa asal memberikan posisiku padamu, seseorang yang tidak pernah berurusan dengan kerajaan?
[Namun, akhirnya, insiden itu terjadi. Insiden itu seolah membuka mataku 'ini adalah hasil dari kekuasaanmu dan semua Raja sebelummu'. Seolah-olah aku diingatkan 'kau bukanlah pemimpin yang sesungguhnya'. Titik itu adalah momen ketika aku benar-benar yakin kalau aku memang ditakdirkan meneruskan takhta padamu, Lugalgin Alhold. Dengan kepemimpinanmu, mungkin insiden itu tidak akan terjadi.]
Ucapan Fahren tidak lagi tegas seperti biasa atau bercanda seperti sebelumnya. Kali ini, nadanya lemah, bahkan, sesekali, dia terdengar sesenggukan. Tampaknya, kehancuran keluarga Cleinhad menjadi sebuah cambuk yang amat sangat menyakitkan, bagi Fahren.
Di depanku, Jeanne, setengah membuka matanya. Matanya merah dan berkaca-kaca. Bahkan, air mata langsung mengalir ketika dia membuka mata. Tampaknya, sedari tadi, dia menutup mata untuk menyembunyikan tangis.
Dan, senyum yang terpasang di wajah Jeanne bukanlah senyum sinis atau senang karena mendengar ayahnya dihina dan dihujat, tapi lebih seperti senyum yang lega. Seolah-olah dia menanti aku melakukan ini semua. Seolah-olah aku yang menghujat Fahren adalah sebuah bentuk pengampunan.
Di lain pihak, kalau pembantaian keluarga Cleinhad adalah yang menyebabkan Fahren menjadi yakin untuk meneruskan takhtanya padaku, ini justru menjadi semacam karma untukku. Seolah-olah karma mengatakan, 'kamu yang menyebabkan semua kekacauan ini, maka kamu lah yang harus membereskannya'. This is not good for me.
[Gin, maaf, biar aku yang mengambil alih. Tolong beri Fahren waktu. Dia juga manusia biasa yang merasakan sedih. Dia masih merasa bersalah atas insiden Cleinhad. Fahren masih berpikir kalau seandainya sejak awal dia menetapkan pikirannya untuk menjadikanmu Raja, pasti insiden itu tidak akan terjadi.]
Suara Permaisuri Rahayu, calon ibu mertuaku, terdengar.
Fahren sentimen juga. Namun, aku juga sedikit memahami perasaannya. Di luar, di hadapan rakyat, dia tidak boleh terlihat lemah sama sekali. Dia harus tegar, menunjukkan kalau semua masalah adalah kecil di hadapannya. Namun, di belakang, dia masih bersedih dan menyesal. Dan, mungkin, beberapa anggota keluarga yang cukup peka menyadarinya.
Fahren, ingin dirinya disalahkan. Dia ingin orang lain mengingatkan dan menyalahkannya. Sayangnya, dia adalah orang tertinggi di Kerajaan ini. Tidak seorang pun berani melakukannya. Dan, akhirnya, hari ini, aku melakukan hal itu. Aku merasa hari ini adalah hari yang sangat ditunggu oleh Permaisuri dan Jeanne.
Meskipun Fahren tidak menjawab pertanyaan yang terakhir, aku bisa menduga rasa bersalahnya semakin besar melihat angka kematian agen yang meroket. Bahkan, aku bisa bilang dia cukup beruntung tidak ada satu pun dari putra putrinya yang masuk dalam daftar itu.
"Aku tidak keberatan, Permaisuri Rahayu. Sekarang, kalau Permaisuri berkenan menjawab, aku memiliki satu pertanyaan."
[Kalau bisa, aku akan menjawabnya.]
"Bagaimana reaksi keluarga Azzaha dan bangsawan lain mengenai penunjukanku menjadi kepala bagian intelijen?"
[Aku rasa kamu sudah menduganya. Dan, tentu saja, tidak baik. Mereka menolak penunjukanmu mati-matian.]
"Lalu, penjelasan apa yang kalian berikan pada mereka?"
Rahayu terdiam sejenak lalu menjawab, [Lugalgin, sebelum memberi jawaban, aku ingin meminta maaf terlebih dahulu.]
Oke, aku bisa menduga jawaban ini bukanlah jawaban yang kuinginkan. Besar kemungkinan, jawaban ini akan merepotkanku. Amat sangat merepotkan. Dan, aku sudah bisa menduga jawaban tersebut.
[Kami menjawab 'kalau kalian mempertanyakan alasan kami menunjuk Lugalgin sebagai pemimpin intelijen kerajaan, bagaimana kalau kalian cari tahu atau buktikan sendiri apa yang membuatnya pantas mendapatkan posisi itu?'.]
__ADS_1
Yap, dugaanku tepat. Mereka mencuci tangan, menyerahkan semua masalah padaku.
"Permaisuri, apakah permaisuri yakin akan menyerahkan semuanya padaku? Karena, berbeda dengan suamimu, aku tidak akan ragu untuk melakukan pembersihan, Purge, pada keluarga bangsawan yang menentang, memastikan semuanya berjalan lancar. Dan, tidak seperti yang terjadi pada insiden keluarga Cleinhad yang menyisakan anak-anak, dalam pembersihan kerajaan, normal untukku membersihkan keluarga hingga tiga generasi ke atas dan ke bawah."
Praktik pembersihan, Purge, adalah praktik eksekusi seluruh anggota keluarga yang terbukti mengkhianati Raja atau menentang perintah Raja. Dalam sejarah kerajaan-kerajaan yang masih berdiri, praktik ini sering dilakukan. Namun, Praktik pembersihan sudah jarang dilakukan sejak beberapa dekade yang lalu karena dianggap terlalu brutal. Jarang, tapi masih dilakukan.
[Untuk yang itu, Lugalgin, aku berharap kamu bersedia menempuh jalan selain pembersihan. Aku–]
"Permaisuri Rahayu," aku menyela. "Saat itu, aku mengampuni nyawamu karena kamu adalah ibu dari Emir, wanita yang akan menjadi istriku. Namun, kali ini, aku tidak mengenal bangsawan-bangsawan itu. Kalau ada yang mengenalku, aku ragu mereka berani melawan. Jadi, aku tidak peduli dengan nyawa mereka. Dan jangan berpikir untuk menggunakan nyawamu sendiri sebagai sandera. Seperti yang kubilang sebelumnya, jangan menganggap nyawamu terlalu tinggi."
Tidak terdengar jawaban lagi dari Permaisuri Rahayu. Di depanku, Jeanne, hanya menundukkan wajah.
"Dan jangan lupa, Fahren sudah menyetujui satu syarat yang kuajukan. Kalau menjadi kepala intelijen Kerajaan, aku tidak mau keputusanku dipertanyakan."
"Gin,"
Tiba-tiba, sosok yang sedari tadi terdiam mengeluarkan suara. Jeanne, akhirnya, memutuskan untuk ikut serta dalam perbincangan ini.
"Ya, Jeanne, ada yang ingin kamu tambahkan?"
"Aku, tidak," Jeanne menggeleng. "Kami, seluruh agen schneider senior, yang masih direkrut dan dilatih oleh keluarga Cleinhad, memohon padamu untuk tidak melakukan pembersihan. Kalau kamu bersedia mendengarkan permohonan kami, kami bersumpah tidak akan pernah mengkhianatimu."
Aku melihat ke mata Jeanne, yang masih berkaca-kaca, dalam-dalam. Aku ingin melihat seberapa besar resolusinya.
Di lain pihak, Jeanne tidak kunjung membuang atau mengalihkan pandangan. Dia balik memandangku dalam-dalam.
"Kalau seandainya, meskipun aku tidak melakukan pembersihan tapi masih ada anggota senior yang mengkhianatiku, apa yang akan kalian lakukan? Kamu sudah bekerja di dunia pasar gelap, kata-kata tanpa jaminan tidak akan bekerja untukku."
"I, itu..."
Tok tok
Pintu ruangan diketok.
"Akhirnya kalian memutuskan untuk masuk. Sudah terlalu lama kalian menguping." Aku berkata sendiri lalu berteriak, "masuk!"
Setelah suaraku menggema, pintu pun terbuka. Dari balik pintu, belasan orang masuk ke ruangan. Tidak ada seorang pun yang mengenakan pakaian militer. Mereka semua mengenakan pakaian kasual.
Dari banyak orang, terdapat beberapa wajah yang kukenal. Beberapa wajah kutemui saat pesta inaugurasi, Shu En, dan beberapa orang yang kulihat di masa lalu. Mereka semua masuk, lalu berlutut di depan meja, berlutut padaku.
"Aku bukan Raja kalian. Kalian tidak memiliki kewajiban atau pun hak untuk berlutut."
"Ini adalah tanda kesetiaan kami." Shu En merespon. "Jika Anda bersedia untuk tidak melakukan pembersihan, kami bersedia memberikan nafas dan seluruh pengabdian kami kepada Anda, Lugalgin Alhold, pimpinan intelijen Kerajaan Bana'an." Kemudian, Shu En berbisik pelan. "Dan Raja selanjutnya."
Aku tidak mendengar bagian yang terakhir dengan jelas, tapi aku bisa membaca gerakan bibir Shu En.
"Selain itu," salah seorang mengeluarkan dokumen dari dalam jaketnya. "Saya juga membawa sebuah dokumen yang menyatakan kesetiaan dan pengabdian kami pada Anda. Di dalam dokumen ini juga tertuang jaminan yang Anda inginkan."
Laki-laki itu tidak berdiri, dia hanya mengeluarkan dokumen dalam posisi berlutut.
"Jeanne, ambilkan dokumen itu. Biar aku baca."
__ADS_1
"Baik!"
Jeanne bergerak dengan cepat. Dia mengambil dokumen itu dan memberinya padaku.
Aku membaca dokumen ini baik-baik. Dari surat pernyataan di halaman pertama, setidaknya ada ribuan orang yang bertanda tangan di dokumen ini. Kalau satu halaman berisi 40 orang saja, setidaknya dokumen ini sudah setebal 100 halaman lebih.
Aku penasaran, bagaimana caranya laki-laki itu menyimpan dokumen ini di jaketnya. Selain itu, sejak kapan mereka menyiapkan dokumen ini? Maksudku, mengumpulkan ribuan tanda tangan agen Schneider yang tersebar di seluruh kerajaan, dan dunia, bukanlah hal yang bisa dianggap remeh.
Namun, itu tidak penting. Yang penting adalah jaminan, atau lebih tepatnya perjanjian, yang mereka tuangkan pada beberapa halaman pertama.
"Aku ingin bertanya sekali lagi. Apa kalian yakin dengan apa yang tertuang di dokumen ini?"
"Ya, kami yakin," Shu En menjawab.
Aku melempar pandangan ke Jeanne, yang juga mengangguk.
"Permaisuri, kamu perlu berterima kasih pada agen schneider kerajaan ini."
Bersambung
\============================================================
Halo semuanya.
Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.
Chapter sebelumnya, chapter 76, mungkin terasa pendek padahal secara jumlah kata chapter 76 lebih panjang dari 10 chapter sebelumnya. Mungkin karena memang konfliknya belum muncul, jadi terasa lebih pendek. Hehehe.
Ah, informasi tambahan. Sabtu besok, versi novel I am No King vol 1 dan vol 2 akan dijual di comifuro pada booth A-12b. Masuk, belok kiri. Jajaran stand kedua pas di tengah (author dengar pas di depan kipas angin juga :D). Jadi, bagi yang datang ke comifuro, jangan lupa datang dan beli I am No King. Selain I am No King, ada beberapa karya dari rekan-rekan author di circle untomodachi yang akan menjual merchandise lain.
Untuk yang mengincar shopping place semacam tokopedia dan shopee, mohon bersabar. Sedang dalam proses perencanaan dan pencarian rekan printing :D
Seperti yang telah ditulis di wattpad dan mangatoon, Novel I am No King adalah proyek amal, semua keuntungan dari penjualan novel akan disalurkan ke yayasan panti asuhan. Jadi, kalau membeli novel I am No King, selain memberi dukugan moral kepada author, kamu juga telah membantu dan memberi makan anak-anak yatim piatu.
Sementara ini itu dulu. Post note cerita belum dulu karena baru mulai. Hehe.
Dan, seperti biasa, author ingin melakukan endorse. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.
Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
__ADS_1