I Am No King

I Am No King
Chapter 316 – Pernikahan pt 3


__ADS_3

Tidak lama kemudian, kami melepaskan kontak. Sama seperti Emir, Inanna adalah pihak yang lebih dahulu mengakhiri ikatan pernikahan.


"Terima kasih, Gin."


"Kembali kasih, Inanna."


Aku menyeka air mata Inanna dengan jari dan membiarkannya kembali ke kursi. Tentu saja, tidak lupa, aku juga mengusap air mataku.


Setelah memastikan aku dan Inanna telah duduk di kursi, penghulu melanjutkan prosesi pernikahan.


"Mempelai wanita terakhir dipersilakan."


Akhirnya! Rina berdiri dan memberi pernyataan. Namun, berbeda dengan Emir dan Inanna, senyum yang ditunjukkan oleh Rina adalah senyum bisnis.


"Namaku Rina dengan ini menerima Lugalgin Alhold sebagai suamiku. Dengan pernyataan ini saya resmi menjadi istri terakhir Lugalgin Alhold."


Orang umum akan menduga teriakan lantang Rina adalah sebuah ketulusan. Namun, aku mengenalnya seperti diri sendiri. Teriakan itu bukanlah ketulusan, tapi formalitas.


Apa aku tersinggung? Tentu saja tidak. Aku sudah berjanji pada Tera untuk melindungi Rina. Dan lagi, aku tidak mungkin meninggalkan perempuan rapuh ini begitu saja. Tanpa kami, Rina tidak akan bertahan seminggu di luar sana. Dan lagi, tampaknya, sebuah ikatan khusus sudah muncul antara Rina, Emir, dan Inanna.


"Saya, Lugalgin Alhold, dengan ini menyatakan bersedia menjadi suami dari Rina Silant, menerimanya sebagai istri terakhir."


"Dengan ini, Lugalgin Alhold dan Rina Silant telah resmi menjadi suami istri. Kedua mempelai dipersilakan untuk melakukan ikatan pernikahan."


Penghulu menyatakan status kami sebagai suami istri telah resmi. Dan, sesuai prosesi, aku menunjukkan ikatan pernikahan dengan Rina.


Aku berdiri dan berjalan ke kanan, ke depan Rina. Aku meletakkan kedua tangan di bawah wajah Rina, melihat matanya yang berwarna biru kental, hasil mata biru yang menggunakan lensa kontak biru.


Rina menunjukkan sebuah senyum simpul, seolah menertawakan prosesi ini. Namun, aku tidak memedulikannya. Kami memejamkan mata dan mempertemukan kening dan ujung hidung, membiarkan kontak tubuh yang berbicara.


"Jangan terbawa suasana, Gin. Ingat, pernikahan kita hanya pernikahan diplomatis."


"Ya, aku ingat itu."

__ADS_1


Berbeda dengan Emir dan Inanna, pertemuanku dengan Rina relatif baru dan singkat. Bahkan, sejak awal, hubungan kami adalah saling memanfaatkan.


Kami, dua orang inkompeten, memiliki kepribadian dan jalan pikir yang sama. Orang mungkin berpikir menemukan orang lain yang mirip adalah jodoh, tapi tidak dengan kami. Rina dan aku sama-sama merasa aneh, tidak nyaman, dan terganggu ketika ada orang lain yang mirip. Namun, kami mengesampingkan itu semua demi tujuan yang sama.


Namun, semua itu hilang ketika kening dan ujung hidungku melakukan kontak. Rina bilang pernikahan ini hanyalah pernikahan politik, tapi tubuhnya berkata lain. Aku bisa merasakan tubuhnya yang gemetar.


Rina menahan nafas dan tubuhnya terasa kaku, menunjukkan dia ketakutan. Saat ini, dibandingkan kami, kehidupan Rina adalah yang paling tidak pasti. Dia membutuhkan orang lain untuk menenangkannya di malam hari.


Rina tidak membiarkan kening dan hidungku melakukan kontak dengan lembut dan tenang. Dia menekan kuat, seolah tidak ingin aku memisahkan diri, tidak ingin aku pergi. Mungkin alasan dia tidak ingin aku pergi adalah dendam pada Ratu Amana. Dan aku tidak keberatan. Aku akan menemani dan merengkuh perempuan ini selama dia membutuhkannya.


Tidak lama, aku terpaksa mengakhiri kontak. Prosesi ini harus segera diakhiri. Saat aku melepaskan kontak, terasa Rina masih mencondongkan wajah ke depan.


Aku berbisik, "mari segera kita akhiri prosesinya, Rina."


Rina tampak sedikit terentak, seolah baru bangun dari mimpi. Kelihatannya dia tidak sadar kalau tubuhnya hampir menopang padaku. Ya, tampaknya, Rina tidak sadar kalau dirinya ketakutan.


Aku mundur dan kembali ke kursi. Setelah kami kembali ke kursi, penghulu datang, menghampiriku. Dia menyodorkan satu surat di atas map. Surat ini berisi keterangan nikah yang telah dicap jari dan ditandatangani oleh Emir, Inanna, dan Rina. Di surat ini sudah ada cap jempolku. Untuk mengesahkannya, diperlukan tanda tangan dariku di akhir prosesi.


Dengan pena dari penghulu, aku menandatangani surat keterangan pernikahan ini.


"Dengan ini, prosesi pernikahan Lugalgin Alhold, Emir Falch Exesias, Inanna Arc Spicante, dan Rina Silant resmi berakhir. Mereka telah resmi menjadi suami istri yang telah diakui oleh Kerajaan Bana'an. Para tamu yang terhormat, terima kasih telah menyaksikan upacara sakral ini. Saya, mewakili pihak yang bersangkutan, mengucapkan terima kasih."


 


***


 


Akhirnya selesai juga!


Hari ini benar-benar melelahkan. Tidak! Aku tidak lelah secara fisik! Aku lelah batin! Hari ini, baik selama prosesi pernikahan maupun resepsi, aku terus menjadi pusat perhatian semua orang. Selama itu pula aku harus memberikan senyum terbaik. Untuk orang yang memang aku kenal sih tidak masalah. Namun, banyak dari tamu adalah undangan ayah, ibu, tante filial, pejabat kerajaan, dan lain sebagainya. Intinya, orang yang tidak aku kenal.


Jujur, rasanya, hari ini, perasaanku seperti dipermainkan. Selama prosesi pernikahan aku duduk di kursi penuh ornamen bak singgasana, lalu menyambut semua pejabat tinggi, dan kini tidur di kamar King Suite. Aku terus menerus menghindar untuk dijadikan Raja. Namun, hari ini, sebuah kesan kalau aku adalah seorang Raja melekat.

__ADS_1


Dan, tentu saja, bukan hanya aku yang kelelahan. Inanna, Emir, dan Rina juga kelelahan. Kalau aku hanya lelah batin, mereka ditambah lelah fisik. Setelah mandi bersama, di jacuzi terbesar yang pernah kulihat, kami terbaring di kasur dengan posisi yang aneh. Saat ini, Rina menggunakan badan kananku sebagai bantal, Inanna badan kiri. Dan yang terakhir, Emir malah menggunakan paha dan selangkanganku sebagai bantal.


Tante Filial mengatakan rumahku berantakan, penuh oleh kado. Jadi, sementara orang dari You Wedding merapikan rumah, kami tinggal di hotel paling elite di kota Haria.


Selama beberapa menit, kami hanya mengobrol dengan posisi aneh ini. Yang kami obrolkan hanya mengenai prosesi pernikahan yang unik, undangan resepsi yang banyak, dan makanan dan minuman yang enak. Setelah mengobrol beberapa menit, tidak ada seorang pun dari tiga istriku yang masih bangun. Mereka sudah memejamkan mata dengan nafas pelan, damai.


Sejak mandi hingga tidur, tidak seorang pun dari mereka yang meminta jatah. Ucapan ibu benar, malam pertama hanyalah mitos. Hampir tidak ada pasangan yang menghabiskan malam pertama setelah pernikahan untuk melakukan hubungan. Para mempelai, umumnya, akan kelelahan secara fisik dan batin oleh semua prosesi dan resepsi pernikahan yang dijalani. Karena itu, di malamnya, mereka hanya tidur, pulas, kecapekan. Dan, tampaknya, keluargaku juga sama.


Selamat malam. Selamat tidur, wahai istri-istriku.


Bersambung


 


 


\============================================================


Halo semuanya.


Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.


Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.


Sampai jumpa di chapter selanjutnya


 

__ADS_1



__ADS_2