I Am No King

I Am No King
Chapter 100 – Ibu dan Anak pt 1


__ADS_3

Tok tok


 


"Gin, ini ibu. Tolong buka pintunya."


 


"Ya, Bu. Sebentar."


 


Aku bangkit dari kursi dan berjalan ke pintu.


 


Ada apa ibu datang malam-malam begini? Apa ibu mendengar percakapan kami? Tapi aku tidak melihat satu pun benda yang bisa digunakan sebagai penyadap seperti handphone atau mikrofon di dekat ayah. Di lain pihak, ayah hanya diam di atas kursi.


 


Aku membuka pintu. "Ya, ada apa bu?"


 


"Mana ayahmu?"


 


"Itu, ada di balkon."


 


Aku minggir, memberi jalan untuk ibu yang masuk dengan wajah merah.


 


Akhirnya, ayah berdiri dan masuk kembali ke kamar.


 


"Ah, sayang, sebentar, aku belum selesai berbicara dengan Lugalgin. Aku–"


 


Bug


 


Tanpa mengatakan apapun, tiba-tiba ibu memukul ulu hati ayah dengan cukup keras. Namun, tidak terlalu keras sehingga ayah masih sadar.


 


"Sudah aku bilang kalau ngomong yang bener! Kenapa kamu kalau ngomong ga pernah bener? Ga dulu, ga sekarang, sama saja!"


 


"Tapi, tapi,"


 


"Kamu bilang apa kemarin? Father and son time? Father and Son time mu membuatku hampir berhadapan langsung dengan putraku! Apa menurutku aku akan diam saja?"


 


"Maaf, maaf."


 


"Aku kan sudah bilang jangan aneh-aneh!"


 


Ibu tidak berhenti sampai situ. Dia bahkan menginjak kepala ayah sambil memutar-mutar kaki.


 


Sudah lama sekali aku tidak melihat ibu semarah ini.


 


"Anu, gin,"


 


Ung?


 


Aku menoleh ke pintu, dimana Emir berdiri dengan mengenakan piama. Berbeda dengan di rumah, dimana dia hanya mengenakan atasan putih dan celana dalam, kali ini dia mengenakan piama lengan panjang dan celana panjang berwarna merah muda. Di tangannya, dia membawa sebuah kotak berwarna hitam.


 


"Anu, kami mendengar semua percakapanmu dan om Barun."


 


Eh? Benarkah? Aku menoleh kembali ke dalam, memelototi setiap sudut kamar, mencari benda apapun yang mungkin bisa menjadi seperti sepiker atau mikrofon.


 


"Percuma, kamu tidak akan bisa menemukannya Gin. Aku sudah memasangnya di tubuh ayahmu. Apa yang dia dengar, aku dengar. Aku harus jaga-jaga karena dia terkadang salah ngomong seperti yang barusan."


 


"Hah?"


 

__ADS_1


Bukan hanya aku, Emir pun terkejut dengan pernyataan ibu.


 


Sementara Ayah terbaring di lantai, ibu mendekat ke arahku. Tanpa memberiku kesempatan untuk menghindar, dia langsung memelukku erat. Sangat erat.


 


"Maaf, ayahmu salah bicara. Ibu sama sekali tidak ada niat menanyakan itu semua atau bahkan menghadapkan Akadia dengan Agade."


 


"I, iya ibu, aku paham. Tapi, bagaimana kalau kita masuk dulu? Aku khawatir ada orang lewat. Malu kan nanti."


 


"Iya, iya. Ayo kita masuk dulu."


 


Ibu menarikku ke dalam, tanpa melepaskan pelukan. Emir pun ikut masuk dan menutup pintu.


 


Akhirnya, kami berempat duduk. Ayah dan Emir menarik kursi ke depan kasur sementara aku dan Ibu duduk di atas kasur. Sementara ayah dan Emir duduk normal, ibu masih memelukku dari samping.


 


"Ah, ibu, bisa tolong duduk normal? Aku malu ini...."


 


"Tidak, ibu tidak mau kamu salah paham lagi."


 


"Iya, iya. Aku akan mendengarkan baik-baik penjelasan dari ibu. Tapi, setidaknya, tolong lepaskan aku dulu."


 


"Janji?"


 


"Janji."


 


"Oke lah."


 


Ibu pun melepaskan pelukannya.


 


Hahaha, meski aku bisa menentang ayah dengan terbuka, tampaknya jalan untuk aku bisa menentang ibu masih sangat jauh. Atau bahkan, aku tidak akan pernah bisa menentang ibu.


 


 


"Sekarang kembali ke permasalahan utama," Ibu membuka kembali diskusi. "Gin, kami tidak mempermasalahkan kamu yang sudah membersihkan keluarga Cleinhad. Aku bahkan tidak mempermasalahkan ketika kamu melempar semua panti asuhan itu ke perusahaan ibu, kan?"


 


Yup, ucapan ibu semakin memperkuat pernyataan ayah kalau mereka memang mengetahui segala yang kulakukan.


 


Kalau tentang kemampuanku, sebenarnya cukup normal kalau mereka tahu. Anggap kemampuanku sudah bangkit semasa balita. Di saat itu, ayah dan ibu pasti masih sering memandikanku. Di saat mengalami kontak denganku, mereka pasti kehilangan pengendaliannya, kan?


 


Ibu melanjutkan, "kami hanya ingin tahu rencanamu setelah ini apa. Aku ingin memastikan agar Akadia dan Agade tidak saling berseteru."


 


"Ah, maaf," Emir mengangkat tangan.


 


"Ya?"


 


"Hii...." Emir sedikit mundur ketika mendapat respon dari ibu. Namun, dia memberanikan diri. "A, anu, maaf. Aku tidak tahu pokok permasalahannya. Kalau boleh, mungkin bisa sedikit dijelaskan? Apa hubungan antara Tante Yueni dengan Akadia?"


 


"Hah...." ibu menghela nafas sambil memegang pelipis. "Ini lah alasan kenapa aku lebih menyukai Inanna. Kamu agen schneider, kan? Harusnya kamu sudah bisa menyimpulkannya dari ucapanku."


 


"Bu, jangan membandingkan Emir dengan Inanna. Mereka berbeda." Aku sedikit membela Emir.


 


Hingga saat ini, hanya penentangan kecil seperti ini yang bisa kulakukan pada ibu.


 


"Sederhananya," Aku mencoba menyederhanakan penjelasan. "Akadia, satu dari enam pilar, adalah organisasi yang dimiliki dan dipimpin oleh ibu. Dan ke depannya, karena aku sudah menghidupkan Agade kembali, ibu khawatir kepentingan Agade dan Akadia akan bergesekan, menyebabkan perseteruan."


 


"Ah....ah....."

__ADS_1


 


"Ya, sederhananya seperti itu. Kamu dengar, Inanna?"


 


Ibu melihat ke arahku. Tidak. Lebih tepatnya, ibu melihat ke saku bajuku. Padahal, aku sama sekali tidak menyentuh benda di dalam saku ini atau membiarkan layar atau lampunya menyala.


 


"Bagaimana ibu bisa tahu?"


 


"Insting perempuan."


 


....oke, aku tidak akan menanyakannya lebih lanjut.


 


Aku pun mengeluarkan sebuah handphone dari dalam saku. Handphone ini bukanlah handphone layar sentuh atau smartphone, tapi handphone monokrom sekecil kartu atm dan setebal beberapa mili.


 


Aku menekan sebuah tombol, mengubah mode handphone menjadi handsfree. "Oke, Inanna, kamu sudah bisa langsung ngomong."


 


[Maafkan aku, ibu Yueni. Aku juga tidak benar-benar tahu seluk beluk masalahnya ketika Lugalgin tiba-tiba menelepon. Dan, dia juga menelepon melalui ibu, tidak langsung ke aku.]


 


"Tidak apa-apa. Ngomong-ngomong, kamu sudah tahu belum kalau Lugalgin sempat mengancam akan menembak adikmu?"


 


[Ya, ibu sudah menceritakannya. Meski aku ingin sedikit marah, tapi aku tidak mempermasalahkannya lagi karena ibu dan Ninshubur bisa keluar dengan selamat.]


 


"Kalau kamu mau marah atau menghajarku, aku siap menerimanya saat di rumah."


 


[Tidak. Aku tidak ada niatan. Bahkan, justru ibu yang memintaku untuk tidak marah dan memaafkanmu.]


 


Ya, aku tidak pernah benar-benar berusaha menyembunyikan fakta kalau aku sempat mengancam selir Filial. Dan, kalau dia mau marah, tentu saja aku akan menerimanya.


 


"Eh, kenapa Inanna dihubungi tapi aku tidak?"


 


"Emir, kamu mirip dengan ayah. Kamu pintar, tapi tidak ahli dalam memilih kata-kata. Jadi, aku berencana hanya akan memberi tahumu nanti setelah semua ini selesai. Aku khawatir kamu akan menimbulkan kesalahpahaman, seperti ayah."


 


Aku dan ibu melempar pandangan ke ayah, yang membuang pandangan.


 


Oke, kembali ke masalah utama.


 


Bersambung


 


 


\============================================================


 


 


Halo semuanya.


 


Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.


 


Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


 


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


 


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


 


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.


 


Sampai jumpa di chapter selanjutnya

__ADS_1


 



__ADS_2