
Wow, urusan keluarga kerajaan semakin menjadi-jadi. Kalau seperti ini, seolah-olah keluarga Emir rusak karena aku. Apa aku bisa disebut perusak rumah tangga orang? Ya, mungkin.
Tiba-tiba saja smartphoneku berbunyi. Aku mengambilnya dan memeriksa pesan yang masuk.
"Emir, Inanna, aku harus menemui ayah."
"Oke...."
Emir dan Inanna menjawab bersamaan. Bahkan, aura sengit Emir yang baru muncul langsung menghilang.
"Jeanne, Yurika, kalau kalian pergi jangan lupa melapor pada Yuan."
"Siap!"
"I, iya...."
Sementara Jeanne menjawab dengan sigap, Yurika tampak ragu.
Setelah meninggalkan ruangan, aku langsung naik ke lantai atas, ke ruangan pribadi ayah. Dan, seperti biasa, setengah ruangan ini rapi, setengahnya lagi seperti kapal pecah. Ayah duduk di sofa, di bagian yang rapi. Aku pun duduk di sofa seberang ayah.
"Jadi, hasilnya?"
"Benjolan di jari tengah kananmu adalah tumor." Ayah memberi jawaban sambil melihat dokumen yang ada di tangan. "Ayah tidak mendapati tumor ini beberapa bulan lalu saat memeriksa tubuhmu setelah menyelamatkan Ninlil. Jadi, dengan kata lain, tumor ini tumbuh dalam waktu yang sangat singkat. Ayah khawatir tumor ini sudah bisa dikategorikan sebagai tumor ganas, kanker."
Ucapan Rina menjadi kenyataan. Tidak! Sejak awal, aku sudah tahu kalau ucapan Rina memang adalah fakta dan kenyataan. Namun, aku sama sekali tidak menduga kalau kejadiannya secepat ini.
"Di lain pihak, kemungkinan tumor ini menyebar ke bagian tubuhmu yang lain sangat kecil. Berkat anomali dagingmu yang terlalu padat, tumornya tidak bisa tumbuh ke arah lain. Satu-satunya arah tumor ini bisa tumbuh adalah ke permukaan kulitmu. Jadi, tumor ini tidak akan mengancam nyawamu."
Seolah berusaha memberi semangat, ayah mengatakan sisi baik dari kabar ini.
"Jadi, aku sudah mulai membuat jadwal untuk mengangkat tumor ini."
"Operasi?"
"Ya," ayah mengonfirmasi. "Setelah operasi, kamu masih harus menjalankan kemoterapi atau radioterapi, tergantung respon tubuhmu."
Aku harus memotong, "ayah, tampaknya, aku tidak bisa diobati."
"Jangan konyol." Ayah menjawab enteng. "Teknologi kemoterapi dan radioterapi zaman sekarang sudah sangat maju. Kematian karena kanker sudah sangat kecil. Bahkan, kami bisa hanya memberikan radiasi pada tanganmu. Kamu tidak usah khawatir rambut rontok atau tidak nafsu makan."
__ADS_1
Aku menghela nafas. "Bukan itu maksudku. Maksudku, setelah operasi, sangat besar kanker ini justru semakin parah."
Ayah menurunkan dokumen dan melihat ke arahku.
"Jelaskan!"
"Ayah sudah tahu kan kalau kanker ini ditimbulkan karena kecepatan penyembuhanku yang tinggi."
"Ya, lalu?"
"Tumor di jari tengahku ini, seharusnya, baru berumur 2 hari."
"Dua hari? Apa yang membuatmu mengatakan hal itu?"
Aku bercerita mengenai pertemuanku dengan Rina dua hari lalu dan bagaimana sayatan di tanganku tidak meneteskan darah.
"Dan, kemarin, aku sudah merasakan benjolan ini dan memeriksakannya. Dengan kata lain, tumor ini tumbuh karena sayatan yang aku lakukan."
"Gin, kalau ucapanmu benar, maka data tumor yang aku pegang ini bukanlah berumur dua hari, tapi satu hari."
Ah, iya juga.
"Ya, aku merasakannya. Namun, aku bisa menahannya. Tidak. Lebih tepatnya, aku sudah terbiasa dengan rasa sakit."
"Justru itu adalah alasan kenapa kita harus segera melakukan operasi!"
Aku menggeleng. "Ayah tidak mendengarkan dengan baik. Aku bilang, tumor ini timbul karena aku menyayat jariku. Sekarang, coba ayah pikir. Apa yang akan terjadi kalau ayah melakukan operasi, menyayat daging di sekitar tumor ini untuk mengangkatnya?"
Ayah terdiam. Matanya terbuka lebar. Tanpa memberi jawaban, dia menutup mulutnya dan menunduk.
"Ya, benar, kalau daging di sekitar tumor ini disayat, maka sayatannya akan menjadi tumor baru. Dengan kata lain, operasi justru akan memperparah tumornya. Jangankan pisau bedah. Aku bahkan khawatir jarum suntik sudah bisa menimbulkan tumor baru."
"Kalau begitu, radiote–"
"Ayah," aku memotong. "Radioterapi memiliki efek merusak sel. Walaupun teknologi sudah maju dan target radioterapi bisa detail, sayangnya, radioterapi masih bisa merusak sel di sekitarnya, kan? Dan kita belum tahu apakah tubuhku akan menganggap sel yang rusak sebagai luka atau tidak. Kalau ternyata tubuhku menganggap sel yang rusak ini sebagai luka, maka, efeknya juga bisa memperparah tumor ini."
Tidak hanya radioterapi. Seribu satu skenario yang bisa membunuhku mulai melintas di kepalaku. Kalau aku menerima serangan dan tulangku retak atau bahkan patah, apa setelahnya aku langsung memiliki kanker tulang? Kalau aku memar saja, apakah aku juga akan memiliki kanker otot? Kalau aku mengalami luka bakar, apakah aku akan langsung memiliki kanker kulit?
"Tapi Lugalgin–"
__ADS_1
"Ayah,"
Aku mengangkat jari tengah kanan ke arah ayah, menunjukkan jari yang normal, tidak lagi benjolan. Bahkan, tidak ada bekas luka. Setidaknya untuk sekarang.
"Aku bisa memotongnya dengan mudah, seperti yang kulakukan tadi pagi. Dengan demikian, selama aku hanya memotong keloid yang muncul di kulit, tumorku tidak akan semakin parah."
Ayah terdiam, tidak mampu berkata-kata lagi. Dia hanya menunduk. Matanya kosong seperti ikan mati. Ayah pasti menyadari kalau memotong keloid sama saja dengan melukai diri sendiri. Selain kankerku yang mungkin akan semakin parah, aku juga harus merasakan sakit setiap memotongnya. Tiba-tiba saja, aku mendengar ayah menggumam.
"Maafkan ayah, Gin. Maafkan ayah...."
Saat ini, aku tidak terkejut kalau ayah menyalahkan dirinya sendiri. Dia menyalahkan dirinya karena di masa lalu ayah tidak bisa melakukan apa-apa saat aku dihantam dan dihajar oleh keluarga Alhold. Bukan hanya itu. Mungkin, kalau ayah lebih aktif di dunia pasar gelap dan mencegah Tasha dijual oleh kerajaan, aku tidak akan pernah terjun ke pasar gelap. Dan kalau aku tidak terjun ke pasar gelap, aku tidak akan terluka. Dengan kata lain, semua ini bisa dicegah.
Namun, semua itu hanyalah seandainya dan mungkin. Tidak ada yang tahu pasti.
"Aku harap ayah merahasiakan hal ini dari semua orang, termasuk ibu, Ninlil, Emir, dan Inanna."
Bersambung
\============================================================
Halo semuanya.
Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.
Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.
Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
__ADS_1