
Recap Singkat Arc/Season 3
Lugalgin mendapatkan calon istri baru, Inanna. Sementara Inanna mendapat keyakinan untuk hidup bersama Lugalgin, Emir justru bergejolak. Karena Lugalgin secara tidak langsung menyatakan akan menentang Raja Bana’an, Fahren, Emir takut harus berhadapan dengan ayahnya. Namun, akhirnya, Emir pun mendapat keyakinan untuk melawan ayahnya.
Di lain pihak, sambil mempersiapkan Lugalgin menjadi Raja Baru, Fahren menunjuk Lugalgin menjadi kepala intelijen kerajaan. Lugalgin tidak akan menerima posisi itu hingga Fahren memenuhi keinginan Lugalgin yang sebelumnya, dokumen mengenai anak-anak korban perdagangan manusia yang dilakukan oleh Keluarga Cleinhad, penanggung jawab intelijen kerajaan sepenuhnya.
Lugalgin, yang bertujuan menentang Fahren, merasa Emir dan Inanna harus mengetahui identitasnya yang sebenarnya. Namun, hal ini tidak semudah yang dia harapkan. Untuk mengatakan identitasnya, Emir dan Inanna harus menjadi anggota dari organisasi pasar gelap yang dia pimpin, Agade, satu dari enam pilar.
Meski terkejut dengan posisi Lugalgin di pasar gelap, Emir dan Inanna tidak mundur. Mereka mengambil tes yang diberi Lugalgin dengan gigih, dan lolos. Lugalgin pun memberi cerita mengenai masa lalu, guru, rekan kerja, dan juga Agade. Terutama, soal pembantaian keluarga Cleinhad.
\============================================================
"Kau bercanda, kan?"
"Sayangnya, tidak. Ini adalah laporan rekrutmen dan pelatihan sejak divisi intelijen diambil alih oleh keluarga Azzaha."
Aku mendapatkan informasi kalau Intelijen kerajaan ini memiliki kantor pusat di setiap kota. Karena aku tinggal di Haria, Fahren menyatakan aku bisa mengatur semua urusan dari Haria. Kantor pusat di Kota Haria berada di mal terbesar, Mal Haria Tomorrow. Beberapa lantai paling atas Mal, yang merupakan hotel, adalah ruang kerja agen schneider di kota ini. Dan, ya, aku sudah tahu ini sejak lama.
Ruanganku berada di sisi utara gedung, lantai paling atas. Ruangan ini berisi sofa di ujung, meja dan kursi tinggi di tengah, dan beberapa rak. Jendela yang menyambung balkon terpasang di belakangku.
Saat ini, aku duduk di kursi tinggi dan Jeanne duduk di depanku, di seberang meja. Dia mengenakan pakaian kasual, bukan pakaian militer atau kerajaan.
Dari informasi yang diberi Fahren, kantor pusat berpindah-pindah sesuai dengan tempat tinggal pimpinannya. Dan, ini adalah kali kedua kota Haria digunakan sebagai kantor pusat.
Karena kantor pusat sering berpindah, semua dokumen harus dimiliki dalam bentuk elektronik dan disimpan di istana. Karena sifatnya rahasia, dokumen elektronik ini tidak pernah dikirim melalui email, tapi dipindahkan melalui flash drive melalui kurir, yang juga adalah agen schneider.
Pagi ini, sekitar sehari sejak menjadi pimpinan Intelijen, aku memutuskan untuk langsung datang ke sini. Kemarin, aku meminta Jeanne untuk membuat kompilasi data rekrutmen dan pelatihan semua anggota Agen Schneider sejak diambil alih oleh keluarga Azzaha. Dan, entah apa niatnya, dia juga melampirkan data rekrutmen dan pelatihan ketika intelijen masih dipegang oleh keluarga Cleinhad.
Dugaanku pun terkonfirmasi. Keluarga Azzaha benar-benar tidak berkompeten. Sejak diambil alih, rekrutmen hanya fokus pada sekolah kesatria. Selain itu, boro-boro siswa memiliki potensi dan keunggulan, yang direkrut hanya orang-orang dengan latar belakang bangsawan. Meskipun agen schneider memberi masukan sebuah nama, kalau tidak memiliki latar bangsawan, langsung ditolak.
Selain itu, latihannya pun, entahlah, sangat ringan. Bahkan hampir sama dengan latihan sekolah kesatria. Jadi, dengan kata lain, orang-orang itu direkrut hanya untuk meninggikan gelar bangsawan dan menambah jabatan.
Karena buruknya manajemen oleh keluarga Azzaha, manajemen oleh keluarga Cleinhad tampak begitu baik dimana mereka tidak memedulikan latar belakang. Rekrutmen langsung melalui pengintaian dan pengumpulan informasi terhadap siswa-siswa yang sedikit atau sangat menonjol. Keluarga Cleinhad tidak peduli siswa itu dari sekolah mana dan latar belakangnya apa.
Latihan yang diberi oleh keluarga Cleinhad pun tampak cukup kompeten, mirip seperti latihan yang kuberi pada Emir dan Ufia beberapa bulan lalu. Bahkan, di sela-sela latihan, kandidat agen Schneider tersebut akan dipaparkan oleh rasa haus darah sesering mungkin, membuat mereka terbiasa.
Meskipun ada cukup banyak titik yang tidak lolos dari korupsi, kolusi, atau nepotisme, tapi, setidaknya, konsep dasar keluarga Cleinhad jauh lebih baik. Aku ulangi, jauh lebih baik daripada keluarga Azzaha.
__ADS_1
Namun, yang menjadi masalah utama adalah, menurutku, fakta bahwa Fahren membiarkan semua ini terjadi begitu saja. Dia, sebagai seorang Raja, seolah tidak peduli dengan semua ini.
Aku mengambil smartphone dan menekan nomor telepon. Aku hanya melakukan panggilan suara, bukan video. Tampaknya, untuk mencegah informasi bocor, handphone Fahren tidak pernah menerima panggilan video.
"Jeanne, kalau kamu memiliki kesetiaan dan loyalitas tinggi terhadap ayahmu, aku sarankan kamu keluar dari ruangan ini."
"Tidak apa, aku juga ingin sesekali mendengar ayah dimarahi oleh seseorang. Bahkan, kalau kamu tidak keberatan, aku berharap kamu menelepon dengan mode loudspeaker."
Aku terdiam sejenak sambil melihat ke arah Jeanne.
Jeanne mengatakan itu semua dengan sebuah senyum dan mata terpejam. Meski dia mencoba menutup niatnya yang sebenarnya, aku setengah paham kenapa dia ingin aku melakukan telepon dengan loudspeaker.
Aku menurut. Telepon dilakukan dengan metode loudspeaker. Setelah beberapa kali mendengar nada dering, akhirnya panggilan ini diangkat.
[Selamat pagi, Yang Mulia Paduka Raja Lugalgin. Maaf atas kelancangan hamba, apakah Yang Mulia Paduka Raja memiliki sebuah kepentingan dengan hamba sehingga hamba memiliki kehormatan untuk mendapatkan telepon dari Yang Mulia Paduka Raja?]
Mendengarnya membuatku sedikit naik pitam.
"Mendengar kamu memanggilku dengan sebutan Yang Mulia Paduka Raja, aku asumsikan kamu sendirian, kan?"
[Bukaan maksud ham–]
Fahren terdiam sejenak, lalu kembali berbicara. [Maaf, aku hanya bercanda. Saat ini, aku bersama istriku, Rahayu. Dan, ya, kami sendirian.]
"Sebelum aku lanjutkan, aku sarankan kamu jauhkan teleponmu sedikit dari telinga."
[Jangan khawatir. Aku sudah melakukannya.]
"Bagus. Kalau begitu." Aku menarik nafas, bersiap meninggikan suara. "Apa kamu bercanda? Manajemen macam apa ini? Daripada divisi intelijen, agen schneider hanyalah divisi pemberian gelar pada bangsawan! Dan lagi, ini semua terjadi di bawah pengawasanmu! Kamu serius apa tidak mengurusi kerajaan ini, HAH? Apa jumlah kematian agen dalam tugas yang meroket tidak menjadi masalah? Apa semua nyawa itu hanya lah angka untukmu, Hah?"
Ya, selain rekrutmen dan pelatihan, terdapat laporan lain yang mengganggu. Hal itu adalah angka kematian agen yang meroket setelah intelijen Kerajaan diambil alih oleh keluarga Azzaha. Dan, repotnya, sebagian besar laporan menyatakan agen-agen lama tewas karena kesalahan agen baru. Entah apakah agen lama itu benar-benar mengorbankan diri atau mereka dikorbankan.
"Baiklah, jawabanmu?"
Aku menarik nafas dalam, mencoba menenangkan diri.
[Baiklah, pertama, aku ingin menyampaikan permintaan maaf atas semua ini.]
__ADS_1
Seorang Raja meminta maaf ke seorang rakyat jelata, aku. Kalau orang melihat, mereka pasti akan berpikir Raja ini tidak memiliki harga diri. Seorang Raja tidak hendaknya menundukkan kepala, dengan kata lain meminta maaf, kepada siapa pun kecuali pada orang yang status dan jabatannya lebih tinggi, seperti Raja yang sebelumnya.
Ketika Fahren melakukannya, ini menunjukkan resolusinya yang ingin sekali membuatku menjadi Raja. Tidak, menunjukkan resolusi terlalu menyepelekannya. Bahkan, dia sudah menganggap statusku di atasnya. Dan, aku sama sekali tidak menyukai hal ini.
[Aku tidak akan mengelak kalau ini semua adalah salahku. Dan, aku juga mengaku bersalah karena telah membiarkan ini semua terjadi. Namun, permasalahannya adalah, manajemen yang sebelumnya pun memiliki celah dimana semua posisi petinggi intelijen diisi oleh keluarga Cleinhad. Dan, karena insiden keluarga Cleinhad, semua posisi pun kosong, membuat bangsawan lain langsung berebut.]
"Berebut? Apa bisa aku asumsikan kamu tidak menggunakan hakmu untuk menunjuk pengelola yang baru? Kamu membiarkan internal agen schneider memutuskan sendiri?"
[Ya, benar. Karena pada akhirnya para agen akan berada langsung di bawah perintahku, aku berpikir tidak masalah siapa pun yang memegangnya.]
Tidak. Aku tidak percaya Fahren berpikir seperti itu. Dia adalah orang yang licik dan penuh skema. Bahkan, pertikaian Emir dan Inanna adalah hasil perencanaannya dengan Arid. Oleh karena itu, aku berani mengatakan dengan lantang,
"Aku tidak percaya kamu berpikir demikian."
Bersambung
\============================================================
Halo semuanya.
Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.
Dengan chapter ini, Arc.... atau enaknya season? Kok kelihatannya lebih mudah dipahami kalau author menggunakan istilah season. Ya, biar author ulangi.
Dengan chapter ini, I am No King resmi memasuki Season 5. Di Season 5 ini, sudut pandang kembali ke Lugalgin dan segala masalahnya di Kerajaan Bana’an. Bagaimana dengan Lacuna? Yah, tunggu saja. Season 5 dan Season 6 masih fokus di Lugalgin. Hahahaha. Karena masih awal season, tidak banyak post note yang bisa diberikan. So, rasanya sudah cukup.
Dan, seperti biasa, author ingin melakukan endorse. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.
Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
__ADS_1