
Pesawat jet pribadi, lalu dijemput oleh minibus. Sekilas, kami tampak seperti orang kaya sedang liburan. Well, aku tidak mengelak sih bagian kami adalah kaya. Namun, ketika melihat penjagaan yang dilakukan, daripada liburan, orang pasti mengira kami adalah delegasi Kerajaan. Penjagaan ini sama sekali tidak sesuai dengan pernyataan resmi yang menyatakan kami sedang bulan madu.
Melihat semua pengamanan ini membuatku sedikit nostalgia, teringat ketika mengawal Jeanne ke Mariander. Yang membedakan adalah perannya. Saat itu aku yang menjaga, sekarang yang dijaga. Ada hal lain yang membedakan. Saat ini tidak ada orang lain di dalam mobil ini selain kami berempat. Tidak ada guide atau apapun. Hanya sopir yang dipisahkan oleh pembatas. Di lain pihak,
Sementara ketiga istriku ngobrol tanpa arah, aku mengalihkan pandangan keluar. Sebagai daerah pegunungan, tentu saja, tempat ini tidak memiliki susunan bangunan yang rapat. Antar satu bangunan dengan yang lain memiliki jarak yang cukup jauh. Gedung yang paling tinggi, tampaknya, hanyalah lantai 5. Daripada membangun gedung beberapa lantai, warga lokal lebih memilih untuk membangun rumah-rumah kecil yang terpisah sebagai penginapan.
Reservasi yang kubuat, tentu saja, adalah gedung yang paling tinggi dengan 5 lantai. Jika diserang, ada banyak dinding dan pilar yang bisa digunakan sebagai pelindung. Rumah kecil yang terpisah-pisah tidak bisa memberikan perlindungan maksimal kalau diserang.
"Reservasi atas nama Lugalgin Alhold, di King's Suite. Silakan diperiksa datanya. Kalau sudah benar, silakan tanda tangan."
"Terima kasih."
Aku mengembalikan kertas setelah memastikan isinya benar dan membubuhkan tanda tangan.
"Gin kita di kamar nomor berapa?"
"Lantai paling atas, King's Suite. Seluruh lantai adalah tempat menginap kita."
Aku menjawab Emir yang mendorong trolley berisi beberapa tas. Sebagian besar dari tas yang kami bawa berisi senjata, lebih tepatnya senjataku dan Rina. Senjata Inanna dan Emir sama-sama hanya membutuhkan satu koper besar karena bisa diubah bentuknya.
"Ayo, Gin! Ayo!"
Ketiga istriku tampak begitu ceria dan bahagia, seolah memang berbulan madu. Aku tidak protes karena kesan dari luar penting. Untuk apa? Untuk menunjukkan pada orang-orang yang melihat kalau kami memang benar bulan madu, bukan untuk tujuan yang lain.
Daripada kamar, king's suite yang kami sewa lebih seperti rumah satu lantai. Begitu keluar dari lift, kami dihadapkan pada ruangan kecil dengan pintu ganda. Di balik pintu, langsung masuk ke ruang keluarga yang menerus hingga ke balkon, memberi pemandangan ke dataran dan gunung. Sebelah kanan dan kiri ruang keluarga dibatasi dinding dengan walppaper merah.
Di balik dinding kiri, adalah kamar yang sangat mewah dan penuh dengan perabotan mahal. Di balik dinding kanan adalah alasan kenapa orang rela menyewa King's Suite ini, sebuah pemandian air panas dalam ruangan dengan panorama pegunungan, dilindungi oleh kaca anti peluru.
__ADS_1
Tanpa instruksi, ketiga istriku sudah bergerak. Mereka menggeledah setiap sudut ruangan dan perabotan, mencari alat perekam yang mungkin dipasang, baik oleh intelijen maupun pasar gelap. Dan, tentu saja, kami mendapatkan ratusan alat perekam video dan audio.
Sudah beberapa jam berlalu tapi penggeledahan belum selesai. Sementara ketiga istriku melakukan penggeledahan, aku mengambil handphone dan membuat panggilan.
[Ada apa gin?]
"Ibla, saat ini, sudah ada lebih dari 200 alat perekam video dan suara terpasang di ruangan yang kutempati, dan masih terus bertambah. Aku tidak tahu Tigris juga terlibat atau tidak. Kalau terlibat, berarti mereka tidak bisa dipercaya. Kalau tidak, mereka lalai, kualifikasi mereka payah."
[... baik. Aku akan mengatur anggota Agade yang sudah ada di kota itu untuk mengambil alih peran Tigris.]
Identitasku sebagai Saru tidak diketahui banyak orang. Jadi, orang pasar gelap, umumnya, hanya menganggapku sebagai kepala intelijen. Mungkin mereka berpikir akan memerasku dengan informasi rahasia, dari hasil penyadapan, atau sekedar mengancam akan menyebarkan gambar istriku yang bugil.
Semua orang yang mengetahui rencana kami patut dicurigai, mulai dari Tigris, intelijen Kerajaan Agrab, pasar gelap, hingga manajemen hotel.
Setelah semua alat perekam dicabut, aku melakukan pemeriksaan kembali. Yap. Tidak ada yang tersisa. Ketiga istriku mampu melakukan pemeriksaan dengan baik. Apa yang kami lakukan dengan semua barang ini? Tentu saja kami melemparnya dari balkon ke luar, membiarkan semua alat perekam itu jatuh ke halaman hotel.
Apa yang kami lakukan, tentu saja, adalah sebuah provokasi dan pernyataan tegas.
Adalah pesan yang kami sampaikan dengan membiarkan semua alat perekam itu berserakan di halaman hotel.
"Jadi, Gin, ayo?"
Emir dan Inanna begitu aktif. Mereka langsung menarikku ke pemandian air panas. Sementara itu, Rina, seperti biasa, selalu ragu ketika dia harus melepas pakaiannya. Rina akan melihat ke Emir dan Inanna, lalu melihat ke dadanya. Dia akan melakukannya berkali-kali lalu menghela nafas dalam.
Ayolah, Rina. Aku sudah bilang meskipun dadamu inferior, pinggangmu superior.
"Ahh ... nikmat sekali pemandian air panas ini."
__ADS_1
Aku menyandar di samping kolam sambil melihat ke pemandangan pegunungan sore, seharusnya. Jendela anti peluru pemandian air panas menghadap utara dan barat. Sebelah timur, bagian belakang pemandian, adalah dinding. Namun, untuk mencegah sinar matahari silau, jendela pada bagian barat memiliki warga gelap.
Kami, tentu saja, masuk dengan menggunakan handuk atau sekedar pakaian renang. Sebenarnya kami bisa saja masuk dengan telanjang dan mengaktifkan fitur kaca gelap total. Namun, akan sayang kalau menikmati pemandian air panas di tempat ini tanpa pemandangan pegunungan.
Mari nikmati pemandian air panas ini sebelum nanti malam berjalan di dinginnya pegunungan.
Bersambung
\============================================================
Halo semuanya.
Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.
Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.
Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
__ADS_1