
~Ninlil POV~
"Hah?"
Bukan hanya aku, bahkan Kak Emir dan kak Inanna yang seharusnya kehabisan tenaga dan lemas pun terkejut. Kalau bukan karena kelelahan, mungkin mereka sudah berdiri seperti aku sekarang.
"Emir, Inanna, aku melarang kalian terlalu banyak bergerak. Asal kalian tahu, kondisi kalian saat ini jauh lebih mengkhawatirkan daripada Lugalgin."
"Tidak, Om Barun, Lugalgin jauh lebih mengkhawatirkan," Kak Emir menyanggah.
"Benar. Kami hanya kelelahan. Kalau Lugalgin sampai muntah darah, berarti dia sudah mengalami pendarahan internal, kan?" Kak Inanna menambah sanggahan.
"Yang dokter aku atau kalian?"
"Tapi–"
"Cukup," Ayah menyela. "Kita akan bahas itu nanti. Berurutan. Ya. Dan, Emir, Inanna, kalian aku larang bergerak. Duduk saja di sofa."
Sebenarnya, aku juga penasaran dengan ucapan ayah. Namun, tampaknya, aku harus menurut. Aku pun kembali duduk ke sofa. Kak Emir dan Kak Inanna pun mengangguk.
"Ninlil, kamu mungkin tidak tahu, tapi sebenarnya, kakakmu berkali-kali pulang dalam keadaan terluka parah. Ada alasan kenapa dia sering mengenakan jaket dan pakaian gelap, untuk menutupi luka di tubuhnya."
Apa? Jadi, sebenarnya, selera pakaian kakak tidak sampah? Tapi dia memang memilih pakaian yang bisa menyembunyikan lukanya?
"Untuk selera pakaian kakakmu memang sampah, sama sepertiku."
Entah bagaimana, ayah bisa membaca pikiranku.
"Kembali ke Lugalgin. Aku adalah dokter, jadi meski dia mengenakan pakaian gelap dan jaket, aku bisa sedikit menduga jika tubuhnya terluka parah. Anehnya, tidak peduli separah apa pun luka di tubuhnya, dia tidak pernah pingsan atau tidak sadarkan diri. Karenanya, aku selalu memasukkan obat bius ke minumannya kalau hal itu terjadi."
"Jadi, Lugalgin,"
"Ya," Ayah melengkapi dugaan Kak Emir. "Normalnya, manusia akan pingsan ketika rasa sakitnya mencapai titik tertentu. Hal ini adalah metabolisme tubuh untuk melindungi pikiran, melindungi kita dari rasa sakit. Namun, tampaknya, metabolisme tubuh Lugalgin tidak demikian. Karena sadar, Lugalgin akan merasakan semua rasa sakit itu sepenuhnya. Karena inilah aku melarang kalian di dekat ruangannya. Kalau terbangun, dia akan terpaksa merasakan rasa sakit itu."
Jadi, tadi, aku sudah membuat Kak Lugalgin merasakan rasa sakit lagi? Aku memang adik yang tidak berguna!
"Tapi, om, waktu kami....uh...."
Kak Inanna tidak melanjutkan kalimatnya. Aku penasaran apa yang ingin dia katakan. Bahkan, Kak Inanna terlihat bingung. Matanya meraba semua tempat dan wajahnya pun memerah.
"Ah, intinya, om," Kak Emir masuk. "Kami tidak melihat ada bekas luka sedikit pun di tubuh Lugalgin. Rasanya, cerita om dimana Lugalgin sering terluka tidak masuk akal."
"Ya, benar," Kak Inanna kembali masuk. "Kalau Lugalgin sering terluka, maka seharusnya, tubuhnya penuh dengan bekas luka. Tapi, yang ada justru kulit Lugalgin begitu halus."
"Eh? Kak Inanna dan Kak Emir tidak salah? Terakhir kali aku mandi dengan Kak Lugalgin, tubuh Kak Lugalgin penuh dengan bekas luka dan memar."
"Eh?"
__ADS_1
"Eh?"
Aku, Kak Emir, dan Kak Inanna sama-sama bingung. Kami saling melempar pandangan, melihat dalam ke mata pihak lain. Namun, aku tidak melihat ada keraguan di mata mereka. Berarti, ucapan mereka benar. Namun, seingatku, tubuh Kak Lugalgin penuh bekas luka dan memar. Bahkan, dulu, kalau kak Lugalgin tidak mengenakan kaos kerah tinggi, luka di sekitar leher...
Eh? Tanpa aku sadari, kakak sudah tidak mengenakan kaos kerah tinggi setiap hari, kadang-kadang saja. Sejak kapan Kakak tidak mengenakan kaos kerah tinggi lagi?
Aku melihat ke ayah. Kak Emir dan Kak Inanna pun melihat ke ayah.
Ayah membuka kopi kaleng yang ada di atas meja dan meminumnya.
"Seharusnya, bekas luka tidak bisa menghilang. Satu-satunya cara menghilangkan bekas luka adalah dengan operasi, yaitu menambalnya dengan kulit lain."
"Tapi, kakak tidak pernah operasi kulit, kan?"
"Ya, kakakmu tidak pernah operasi kulit," Ayah menjawab. "Sebagai catatan, kakakmu sering mengunjungi dokter pasar gelap. Dia cukup waspada dan tidak pernah menggunakan jasa dokter yang sama untuk kedua kalinya. Namun, aku tidak tahu kakakmu sadar atau tidak, tapi lebih dari setengah dokter yang dia sewa berada di bawah manajemenku."
Eh? Ayah melakukan manajemen dokter pasar gelap? Apa tidak salah? Aku kira ayah hanyalah dokter biasa. Bahkan, aku kira, tanpa ibu ayah tidak akan bisa mendirikan rumah sakit ini. Apa sebenarnya ayah yang hebat tapi dia hanya pura-pura di depan ibu?
Namun, setelah mengingat baik-baik semua kelakuan ayah, aku rasa ayah benar-benar takut pada ibu.
"Om Barun, Ninlil belum terlalu terlibat dengan pasar gelap. Apa tidak masalah menceritakan ini padanya?"
"Tidak masalah," Ayah membalas. "Dia ingin menjadi murid intelijen yang akan didirikan Lugalgin, kan? Anggap saja dia mendapat pelajaran sebelum mulai sekolah."
Ah, dari mana ayah tahu kalau aku ingin masuk ke sekolah intelijen? Apa kakak yang memberi tahu ayah?
Ayah menjulurkan tangan ke monitor, mengarahkan pandangan kami ke gambar yang selama ini terabaikan. Di situ, terlihat gambar 3d tubuh manusia lengkap dengan organnya. Apa itu tubuh kakak? Atau gambar tubuh manusia secara umum? Aku tidak tahu
"Ayah, kami bukan dokter!"
"Tadi, aku melakukan scanning penuh pada tubuh Lugalgin. Mulai dari tulang, sistem saraf, organ, dan seluruhnya. Ya, seluruhnya."
"Lalu?"
"Kakakmu adalah orang paling sehat yang pernah ayah lihat."
Bukankah itu hal yang bagus?
"Normalnya, orang seperti Lugalgin yang mengalami kekerasan sejak kecil, bahkan mengalami luka parah dan patah tulang, akan mengalami sedikit kelainan di tubuhnya. Entah tulangnya lebih kecil, atau daging tumbuh masuk ke tulang, atau ada otot yang cedera halus, atau bahkan tidak bisa berjalan normal."
Ketika mendengar semua kemungkinan yang diucapkan oleh ayah, aku sangat ingin menutup telinga. Aku tidak sanggup mendengar semua hal buruk yang mungkin terjadi pada Kakak. Lalu, aku teringat pada insiden tangan kanan kakak patah, yang menyebabkan kami semua keluar dari kompleks kediaman Alhold.
Aku langsung melihat ke tangan gambar di layar. Di tangan kanan Kak Lugalgin. Namun, tidak peduli selama apa pun aku melihatnya, tidak ada hal yang aneh. Selain itu, aku juga baru ingat. Saat itu, dokter dan ayah bilang, normalnya tangan patah baru sembuh setelah tiga bulan. Namun, yang terjadi, belum ada satu bulan Kakak sudah bisa menggerakkannya dengan normal.
"Ya, seperti yang kamu lihat Ninlil, bahkan lengan kanan kakakmu yang dulu patah tampak normal. Bukan tampak normal, tapi memang normal. Bahkan, mungkin, jauh lebih kuat dari tulang biasa."
"Eh?"
__ADS_1
"Aku sedikit penasaran dengan kakakmu. Dengan tinggi yang tidak sampai 180 cm dan lingkar pinggang di angka 80, berat badannya hampir mencapai 100 kg. Padahal, badannya juga tidak bengkak seperti bina raga. Aku bilang, badannya normal, ideal. Dan, hari ini, aku mendapati hal itu disebabkan oleh tulang dan dagingnya yang amat sangat padat. Bahkan, terlalu padat."
"Um, maaf, om" Kak Emir menyela. "Apa hubungannya ini dengan Lugalgin tanpa luka dan dia sehat?"
"Baiklah, biar aku percepat."
Ayah mengambil smartphone dari kantung celana. Dengan menggunakan smartphone, dia memperbesar gambar tubuh di layar. Selain memperbesar tubuh, ayah menekan tombol lain. Setelah itu, kini, gambar tubuh kakak yang sebelumnya tampak normal menjadi penuh luka.
"Warna yang lebih gelap, yang tampak seperti bekas luka, memiliki usia yang berbeda dengan yang lebih terang. Jadi, semua ini adalah luka yang pernah dialami oleh Lugalgin."
Bekas luka yang pernah dialami oleh kakak? Ayah bercanda, kan? Kalau begitu, hampir seluruh tubuh kakak pernah mengalami luka. Hanya leher ke atas yang hampir lolos dari luka.
"Aku tidak yakin sejak kapan karena baru mengecek tubuh Lugalgin sekarang," ayah memberi penjelasan. "Namun, entah bagaimana, tampaknya Lugalgin mampu pulih dan sembuh dari segala jenis luka jauh lebih cepat dari orang normal. Dan, mungkin, hal ini juga yang membuat tubuhnya tidak memiliki bekas luka lagi.
Ayah melanjutkan, "setiap kali Lugalgin menerima luka, tubuh Lugalgin akan menumbuhkan daging, kulit, atau bahkan organ yang terluka. Hampir sama dengan orang normal. Namun, yang membedakan adalah, kecepatannya sama sekali tidak normal."
Ayah melanjutkan, "aku tidak yakin karena saking cepatnya atau apa, tapi yang jelas, hal ini memiliki peran dalam menghilangkan luka di tubuh Lugalgin. Di lain pihak, hal ini juga lah yang membuat daging dan tulangnya menjadi sangat padat."
"Tapi, ayah, bukankah ini hal yang bagus? Maksudku, berarti kakak bisa sembuh tidak peduli separah apapun lukanya, kan?"
Ayah tidak menjawab. Dia melemparkan pandangan ke satu orang yang masih terdiam, memegangi dagu. Orang itu adalah Kak Inanna.
"Inanna, aku dengar dari Lugalgin, kamu tertarik dengan sains. Meski mungkin ini bukan bidangmu, tapi, kamu bisa sedikit menduga apa yang aku maksud, kan?"
Kak Inanna mengangguk.
"Kamu diam saja. Kamu masih butuh istirahat. Biar aku yang menjelaskan pada Emir dan Ninlil," Ayah kembali melempar pandangan padaku dan Kak Emir. "Secara sederhana, kecepatan pertumbuhan tubuh Lugalgin terlalu cepat, seperti kanker. Tidak, bahkan, lebih cepat dari kanker. Kalau hal ini dibiarkan begitu saja, dia bisa mati muda."
Bersambung
\============================================================
Halo semuanya.
Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.
Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.
Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
__ADS_1