
"Ah, begitu ya... Maaf."
Tasha menjawabku dengan suara pelan. Aku sadar benar kalau, saat itu, dia merasa bersalah.
Akhirnya, kami selesai mencuci piring dan pergi ke ruang tamu. Di ruang tamu, hanya terdapat dua pasang sofa yang dipisahkan oleh meja kayu. Selain dua hal itu, terdapat satu jam yang terpasang di atas pintu. Kami pun duduk di sofa, bersebelahan.
"Ngomong-ngomong, kamu harus menjemput adikmu jam berapa?"
"Jam 3.15 aku harus sudah di halte. Butuh 45 menit untuk bus mencapai sekolahnya dari sini."
"Masih lama ya berarti. Masih satu jam lebih."
"Ya, beg–eh?"
Tanpa memberi aba-aba ataupun peringatan, Tasha langsung menarikku. Dia memaksaku untuk menggunakan pangkuannya sebagai bantal. Di depanku, di atas tubuh, terlihat Tasha yang membungkukkan tubuh.
Itu adalah momen pertama aku bisa sangat dekat dengan perempuan. Meski aku tidak bisa melihat wajahku, kemungkinan besar, pipiku pasti merona saat itu.
"Kamu istirahat saja dulu."
"Tapi–"
"Kalau kamu tertidur, aku akan membangunkanmu. Aku tidak akan membiarkan adikmu menunggu terlalu lama."
Tampaknya, Tasha benar-benar paham kalau saat itu aku mengkhawatirkan Ninlil. Dan memang benar, kalau aku tertidur dan terlambat, aku khawatir Ninlil akan menangis.
Tanpa meminta izin, Tasha membelai dan mengelus-elus rambutku dengan lembut. Samar-samar, aku mendengar Tasha mendengung, meninabobokanku. Sejak aku mengenal sekitar, itu adalah pertama kalinya aku diperlakukan dengan lembut. Meski aku masih memiliki orang tua, aku tidak pernah mendapatkan perlakuan tersebut dari mereka.
Benar saja, aku tertidur dan Tasha membangunkanku tepat waktu.
Sejak hari itu, selama dua tahun ke depan, hampir setiap siang aku pergi ke panti asuhan Sargon. Kalau di akhir minggu, aku harus menemani Ninlil mengerjakan tugas sekolah. Jadi, aku tidak pernah pergi ke panti asuhan Sargon di akhir minggu.
Namun, yang jelas, setelah mengenal Tasha dan anak-anak di panti asuhan, hidupku jadi terasa lebih indah, meski sebenarnya hanya beberapa jam per hari.
Siang demi siang, kuhabiskan bersama Tasha. Kami melakukan banyak hal mulai mengantar tidur anak-anak, bermain kelereng, atau sekadar mengobrol.
Perlahan tapi pasti, sebagai cowok yang paling tua di panti asuhan, hubunganku dengan Tasha pun semakin dekat. Anak-anak panti asuhan mulai mendorong agar aku segera menyatakan perasaan.
__ADS_1
Aku yang dulu belum seberani aku yang sekarang. Maksudku, Tasha adalah cinta pertamaku. Tentu aku bingung apa yang harus dilakukan. Bahkan, aku pun tidak yakin apakah aku benar-benar mencintai Tasha. Bisa saja kan aku hanya mengaguminya karena dia perempuan pertama yang baik padaku. Ya, setelah ibu dan Ninlil sih.
Saat itu, karena terlalu fokus pada Tasha, aku mulai lengah. Aku sama sekali tidak sadar kalau anak-anak Alhold, aku ulangi, sama sekali sadar kalau mereka benci melihatku yang tersenyum lebar. Ketika pulang, mereka mengeroyokku. Saat itu, beberapa guru yang dikeluarkan juga ikut mengeroyok. Serangan mereka saat itu berhasil membuat lengan kananku patah.
Setelah menyerang, dan melihat tanganku patah, mereka langsung kabur. Di saat itu, aku tidak memiliki kepercayaan pada ayah maupun keluarga Alhold. Jadi, pilihan pulang langsung aku coret. Rumah, yang berada di kompleks perumahan keluarga Alhold, adalah tempat paling tidak aman untukku.
Dengan pertimbangan tersebut, aku memutuskan untuk pergi rumah sakit dengan bus, sendirian. Tentu saja sopir busnya panik dan menginjak gas sedalam mungkin. Bahkan dia mengantarkanku sampai ke lobi.
Ketika sampai rumah sakit, aku dilarikan ke UGD. Untungnya, patah di lenganku tidak parah, tidak perlu operasi. Dokter bilang gips saja sudah cukup.
Setelah selesai mengobatiku, seorang perawat bertanya apa ada pihak yang bisa dihubungi. Aku mengatakan kantor ibu. Pada awalnya, perawat bersikeras supaya dia yang berbicara dan aku istirahat saja. Di lain pihak, aku bersikeras ingin berbicara pada ibu. Akhirnya, perawat mengalah dan membiarkanku berbicara.
Aku masih teringat percakapan kami saat itu.
"Ibu, Lugalgin minta maaf."
"Ya? Kenapa Lugalgin minta Maaf?
"Hari ini, Lugalgin tidak bisa menjemput Ninlil. Ibu bisa menjemputnya?"
"Lugalgin sedang berada di rumah sakit kota. Tangan Lugalgin patah. Biasa, anak-anak keluarga Alhold."
Saat itu, tidak ada balasan dari ibu. Aku tahu ibu belum menutup telepon, tapi aku tidak meneruskan pembicaraan. Aku memberikan telepon pada perawat, yang melanjutkan perbincangan.
Setelah menerima telepon, perawat itu pergi. Tidak lama kemudian, perawat itu datang bersama dokter dan laki-laki berseragam. Perawat dan dokter bilang kalau laki-laki berseragam itu dari pihak kepolisian.
Pak polisi tidak hanya meminta keterangan mengenai penyebab tanganku patah, tapi juga meminta detail hidup sehari-hari yang kujalani. Tentu saja, aku menjawab dengan jujur semua hal buruk yang kualami. Setelah satu jam, akhirnya pak polisi itu puas dan meninggalkanku. Dokter dan perawat memintaku untuk tidur, dan aku menurut.
Ketika dimintai keterangan, aku sama sekali tidak menyebutkan soal panti asuhan Sargon. Aku tidak mau menyeret Tasha dan yang lain dalam masalahku.
Agak lama setelah aku dimintai keterangan, akhirnya ibu dan Ninlil datang. Aku teringat benar. Saat itu, ibu langsung masuk dan memelukku erat-erat.
Ibu menangis sambil berkata, "maafkan ibu, Lugalgin. Maafkan ibu, Lugalgin."
Ibu mengatakannya berkali-kali. Bukan hanya ibu yang menangis, Ninlil juga di ujung kasur.
Di saat itu, aku merasa bersalah karena telah membuat ibu dan Ninlil menangis.
__ADS_1
Aku tidak tahu kenapa, tapi aku tidak melihat ayah saat itu. Mungkin dia tidak dihubungi oleh ibu. Atau mungkin dia dipanggil oleh kepala keluarga.
Siang itu, aku tidak bisa datang ke panti asuhan. Malam pun harus aku habiskan di rumah sakit.
Malam itu, Ninlil tidur di kasur pengunjung, di sebelah kasurku. Aku, yang pura-pura tidur, mendengar ibu yang berbicara melalui telepon.
"Barun, hari ini, aku sudah membuat beberapa perjanjian kerja yang akan ditandatangani perusahaan milik keluargamu dibatalkan, dan aku tidak akan berhenti sampai di sini."
Ibu berhenti sejenak. Aku mendengar suara lain di telepon, tapi tidak cukup jelas.
"Tidak! Ini sudah lebih dari cukup!" Ibu berteriak, "Barun, selama ini aku mencoba sabar, menerima semuanya. Tapi, aku tidak diam saja. Bertahun-tahun lamanya, aku menumbuhkan Akadia hingga memiliki peringkat Enam Pilar demi hari ini. Karena, aku tahu saat ini pasti akan terjadi cepat atau lambat."
Saat itu, aku tidak tahu apa itu Akadia atau Enam Pilar. Namun, aku terus mendengarkan ibu.
"Aku akan pergi meninggalkan tempat terkutuk itu dan pindah ke tengah kota. Aku akan membawa Lugalgin dan Ninlil. Kalau kamu mau mencegahku, aku akan menganggap keluarga Alhold sebagai musuh Akadia."
Bersambung
\============================================================
Halo semuanya.
Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.
Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.
Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
__ADS_1