I Am No King

I Am No King
Chapter 240 – Pertemuan Darurat


__ADS_3

[Gin, berita di–]


"Ya, aku tahu. Sekarang aku sedang menuju istana bersama Emir dan Inanna. Pastikan kami tidak perlu mengisi buku tamu dan administrasi."


Sebuah berita internasional tiba-tiba disiarkan. Berita itu berisi satu hal, serangan ******* di salah satu Mal Kerajaan Bana'an menewaskan Pangeran dan Tuan Putri Kerajaan Nina yang kebetulan berlibur. Gara-gara hal ini, aku harus segera pergi ke istana untuk bertemu dengan Rahayu.


Aku sudah menduga hal ini akan terjadi. Setelah Rina kabur, aku langsung meminta Emir dan Inanna mengambil satu mobil intelijen untuk pergi ke istana. Mulisu dan Yuan masih berada di gedung mal untuk mengurus aftermath. Emir dan Inanna memilih mobil dengan interior kulit dan kain, memastikan tidak ada bagian logam atau bahan non organik di dalamnya.


Sebenarnya, pihak Bana'an bisa saja mengelak dengan menyatakan tidak mengetahui kedatangan Pangeran dan Tuan Putri Kerajaan Nina. Bahkan, Bana'an bisa mengklaim kalau dua orang itu tidak pernah masuk. Namun, klaim yang dikeluarkan Bana'an tidak akan memiliki efek karena sejak awal Nina memang menginginkan perang.


Selama perjalanan, aku menelepon Etana dan Shera untuk membuat beberapa pengaturan. Aku harus membuat rencana dan skenario khusus agar Bana'an tidak terdesak. Tentu saja, aku juga berkomunikasi dengan Ibla dan Yuan.


Akhirnya kami tiba di istana. Begitu tiba di kompleks istana, Emir langsung melewati gerbang hanya bermodalkan kaca mobil turun, tanpa berhenti. Bahkan, Emir langsung parkir di depan pintu bangunan Inti, tidak di tempat parkir.


"Tuan Putri Emir?"


"Tolong parkirkan di tempat yang dulu biasa kugunakan."


Tanpa basa-basi, Emir langsung melempar kunci pada salah satu pelayan yang datang. Aku dan Inanna berjalan di belakang Emir, mengikuti.


"Dimana?"


[Ibumu bilang di ruang rapat tertutup.]


Kami bertiga bergegas menuju ruang yang dimaksud. Emir berjalan di depan mungkin bermaksud menunjukkan jalan di dalam istana. Meski sebenarnya sudah hafal dengan interior istana, aku tidak akan mengatakan hal ini pada Emir. Wajahnya terlalu serius untuk bisa menerima guyonan.


Setelah menuruni tangga beberapa kali, akhirnya kami tiba di ruang yang dimaksud. Ruang rapat tertutup ini terletak di ujung lantai 3, underground.


"Ibu?"


"Emir?"


Rahayu dan Emir berpelukan begitu mereka bertemu. Iya juga, mereka belum sempat bertemu sejak penyelamatan kami di Mariander. Meskipun Rahayu ingin segera menemui Emir setelah serangan di rumahku, Emir tidak langsung melakukannya. Dia mengatakan Rahayu masih harus fokus pada pembenahan kekuasaan di Bana'an dan juga urusan perang dengan Mariander.


Saat ini, Rahayu mengenakan pakaian kasual dengan celana panjang. Pakaiannya tampak begitu santai dengan warna yang bisa dibilang berantakan, tidak match satu sama lain. Aku bisa melihat kalau dia sama sekali tidak menduga kalau kami akan datang secepat ini.


"Inanna..... aku mendengar apa yang terjadi. Maaf, dan terima kasih telah melindungi Emir."


"Ah, tidak. Aku lah yang harus berterima kasih karena Emir sudah memberi pertolongan pertama padaku saat itu."

__ADS_1


Setelah Emir, Rahayu memeluk Inanna dan mengungkapkan terima kasihnya.


"Silakan duduk."


Rahayu tidak mengatakan apa-apa ke aku dan langsung mempersilakan kami duduk.


Baguslah. Aku harap dia tidak menjahiliku lagi seperti saat kami ke Mariander, apalagi di depan Emir dan Inanna.


Kami bertiga menerima tawaran Rahayu dan duduk di sekeliling meja kotak. Ruang rapat tertutup ini memiliki ukuran studio normal, 6 x 8 meter. Meski ruang ini cukup luas, hanya ada satu meja persegi 1,5 meter x 1,5 meter di bagian tengah. Pada bagian samping, terlihat banyak furnitur, lemari penyimpanan berisi makanan, dan juga beberapa kotak senjata.


Ruang ini biasa digunakan jika ada hal yang urgen dan membutuhkan kerahasiaan. Orang-orang yang menggunakan ruangan ini, biasanya, adalah kepala militer, kepala kepolisian, atau kepala intelijen. Terkadang, ada juga bangsawan yang menggunakan ruangan ini. Namun, hal itu amat sangat jarang terjadi. Tiga orang dengan latar belakang keamanan kerajaan lah yang lebih sering menggunakan ruangan ini.


"Baiklah, Gin, bisa tolong jelaskan apa yang terjadi?"


"Aku ingin bertanya beberapa hal dulu. Sejauh mana kamu mengetahui rencana Fahren ingin menjadikanku raja dan alasannya?"


"Sejauh yang aku tahu? Dia ingin mendorong semua kebobrokan dan kesalahan yang terjadi di kerajaan ini padamu. Dia bilang, ini berhubungan dengan kamu yang seharusnya menjadi Raja, sebagai Alhold yang sesungguhnya."


"Dan....?"


"Menurutku, dia salah melakukan hal itu. Hanya karena gagal memerintah dan menemukan seseorang yang menurut legenda adalah keluarga Raja yang sesungguhnya, bukan berarti dia bisa lepas tangan begitu saja."


"Memangnya, ada apa?"


Kesunyian kami membuat Rahayu bertanya-tanya. Bahkan, dia melihat ke kami semua secara bergantian.


"Emir, Inanna, bagaimana menurutmu?"


"Menurutku," Emir memberi pendapat pertama. "Kamu tidak perlu memberi penjelasan mendetail."


"Ya, aku setuju," Inanna menambahkan. "Menurutku, penjelasan yang kamu berikan padaku di Mariander, malam itu, sudah cukup."


Ah, iya, penjelasan mengenai beberapa orang yang mengetahui cara membuat senjata penghilang pengendalian. Baiklah. Kurasa aku akan menggunakan penjelasan yang itu.


"Permaisuri Rahayu, apa yang kamu ketahui soal senjata penghilang pengendalian?""


"Hanya sebatas rumor. Hingga saat ini, tidak ada yang mengkonfirmasi. Ah, dan juga rumor mengetahui kalau kamu, Lugalgin, adalah satu-satunya orang yang memiliki akses pada senjata penghilang pengendalian di Bana'an."


"....itu rumor atau informasi?"

__ADS_1


Aku berbicara sendiri, bingung dengan tingkat keakuratan rumor tersebut.


"Baiklah, anggap saja rumor itu benar. Aku memiliki akses pada senjata penghilang pengendalian."


"Tapi, Gin, saat melihatmu bertarung di battle royale, aku melihat peserta lain masih bisa menggunakan pengendalian."


"Tentu saja. Saat itu, aku menggunakan senjata normal. Saat kunjungan ke Mariander sebagai pengawal Jeanne juga aku menggunakan senjata normal. Aku baru mengakses senjata penghilang pengendalian itu akhir-akhir ini saja. Lebih tepatnya sejak Fahren menunjukku sebagai kepala intelijen."


Lebih tepatnya ketika aku kembali aktif di Agade. Namun, tentu saja, aku tidak mengatakan bagian terakhir. Aku tidak paham seberapa jauh Rahayu mengetahui rahasia dan identitasku, dan aku tidak ingin mengambil risiko dia mengetahui lebih banyak.


"Oke, topik selanjutnya," aku membawa topik baru. "Mengenai sejarah kerajaan ini. Kamu sudah bisa menduga kan kalau Keluarga Alhold adalah keluarga kerajaan yang sebenarnya?"


Rahayu mengangguk.


"Dan, tampaknya, keluarga kerajaan Nina, keluarga Silant, adalah keluarga Alhold yang mengubah nama."


"Uh....apa ini berarti tujuan sebenarnya mereka mendeklarasikan perang adalah menduduki Bana'an? Mereka ingin mengklaim takhta dan kejayaan Keluarga Alhold?"


Bersambung


 


 


\============================================================


Halo semuanya.


Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.


Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.


Sampai jumpa di chapter selanjutnya

__ADS_1



__ADS_2