
~Mari POV~
Sial! Hurrian bisa mati kalau begini!
Aku langsung berdiri di depan Hurrian dan membuat pelindung. Pelindung yang aku buat bukanlah lempeng besar, tapi dua buah dinding berbentuk V. Dengan begini, sebagian tenaga dari benda yang dilempar oleh Weidner akan teralihkan.
"Uhuk,"
Aku terbatuk dan darah muncrat dari mulutku.
Sebuah hantaman keras muncul di dinding. Untuk memastikan dinding ini tidak ikut terdorong ke belakang dan ******* kami, aku harus menahannya dengan pengendalian. Meski secara fisik luar tidak terlihat, tapi menahan hantaman tersebut benar-benar membebani tubuh. Aku bisa merasakan seluruh tubuhku ditekan dari segala arah. Bukan hanya itu, rasa sakit juga menyerang kepala yang terus berkonsentrasi.
Dari luar memang tidak tampak karena aku mengenakan jubah hitam. Namun, di balik jubah ini, aku tidak menghitung beraba banyak luka yang aku abaikan. Hanya untuk mengimbangi Weidner, aku mengorbankan tubuhku dengan menerima serangannya selama tidak menuju organ vital. Namun, tampaknya, keputusanku tidak tepat.
Luka-luka yang tersebar di seluruh tubuh mengalirkan darah tanpa henti, seolah aku sedang mandi. Rasanya, tubuhku begitu berat. Namun, aku belum boleh istirahat. Aku harus melindungi Hurrian walaupun nyawaku taruhannya.
"HAHAHAHA? APA HANYA SEGINI KEKUATANMU, HANNA?"
Weidner terus menghantam perisai ini dengan kuat. Aku tidak tahu dia menghantam dengan apa, tapi yang jelas, benda itu besar dan berat. Seiring dengan setiap hantaman, luka-luka di tubuh ini semakin terbuka lebar, membuat darah mengalir semakin deras.
Di tengah serangan, entah kenapa, perlahan, suara teriakan Weidner terdengar semakin pelan. Bukan hanya itu, di saat ini, entah kenapa, waktu terasa begitu lambat. Tekanan yang datang ke tubuhku pun terasa melambat. Bahkan, aku tidak lagi merasakan tubuhku terkena tekanan. Aku merasa tubuhku normal.
Sebuah suara letusan terdengar dan semua tekanan dari hantaman yang dilancarkan oleh Weidner tidak terasa lagi. Apa bantuan datang? Kalau benar demikian, aku bersyukur. Dengan demikian, nyawa Hurrian tidak akan melayang.
Aku rasa, aku sudah boleh istirahat.
"MARI! MARI!"
Teriakan demi teriakan terdengar. Namun, teriakan-teriakan itu terasa begitu jauh. Dalam waktu singkat, aku bahkan tidak mampu mendengarnya lagi.
"Hanna, apa kamu lelah?"
__ADS_1
Eh?
Dimana ini?
Setelah sadar, aku tidak berada di gedung rumah sakit yang setengah hancur lagi, tapi.....dimana? Sejauh mata memandang, hanya ada warna putih, baik lantai maupun langitnya.
"Hanna,"
"Eh?"
Aku berbalik. Di depanku, berdiri sebuah sosok yang seharusnya tidak ada lagi. Sebuah sosok perempuan mengenakan blus biru langit panjang. Dia memiliki rambut coklat yang terburai bagaikan sutra. Mata coklat jernih, memberikan ketenangan bagi semua orang. Sudah beberapa tahun berlalu, tapi aku tidak melihat perubahan padanya.
"Kak Tasha!"
Refleks, aku berlari dan melompat ke Kak Tasha. Kak Tasha pun menerimaku dengan tangan terbuka.
"Kak Tasha! Kak Tasha! Kak Tasha!"
Aku terus berteriak sembari merengkuh tubuh Kak Tasha, merasakan kehangatan yang dia pancarkan.
"Iya, Hanna. Kak Tasha ada di sini....."
"Kak Tasha.... Kak Tasha...."
Setelah beberapa saat berlalu, akhirnya, aku sedikit tenang. Kak Tasha melepas pelukannya, begitu juga aku.
"Tenang. Kamu sudah tidak apa-apa," Kak Tasha mengatakannya dengan tenang sambil menyeka air mataku. "Kamu sudah berusaha sekuat tenaga."
"Kak Tasha?"
Kak Tasha tidak melihat ke arahku. Dia menoleh ke kiri. Aku pun menoleh ke kanan, ke arah yang dituju Kak Tasha. Di depan, terlihat tujuh orang berdiri, tiga perempuan dan empat laki-laki. Dari mereka semua, hanya dua orang yang terlihat masih sama seperti dulu, Luci dan Roko. Yang lainnya, tampak lebih tua beberapa tahun.
Mereka memberikan senyum yang hangat dan menenangkan.
"Apa kalian datang menjemputku?"
__ADS_1
"Ya, kami semua datang menjemputmu."
Yang menjawabku bukan anak-anak panti asuhan, tapi Kak Tasha.
"Tapi, Kak Tasha, kalau aku pergi, Kak Lugalgin...."
"Hanna,"
Kak Tasha mengusap rambutku dengan lembut, tanpa mengatakan apapun. Tampaknya, Kak Tasha tidak ingin menyakiti perasaanku.
Setelah dipikir-pikir, kalau seandainya dari awal aku tidak bersikeras untuk melawan Weidner dan Shanna tanpa melibatkan anggota yang lain, mungkin hal ini tidak akan terjadi. Kalau seandainya sejak awal aku meminta bantuan mereka, mungkin aku masih berdiri tanpa luka. Kalau....
Tidak. Percuma saja aku memikirkan apa yang terjadi kalau melakukan hal lain. Meskipun sedih, aku tidak bisa mengubah yang sudah terjadi.
"Terima kasih, Kak Lugalgin. Dan, maafkan Mari, Kak Lugalgin."
Bersambung
\============================================================
Halo semuanya.
Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.
Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.
Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.
__ADS_1
Sampai jumpa di chapter selanjutnya