
Banyak hal di hidup ini yang tidak akan berjalan seperti kemauanmu. Namun, terkadang, hidup ini justru berjalan lebih baik dari kemauanmu. Seperti yang sekarang terjadi padaku.
Berkat serangan yang baru saja terjadi, beberapa hal justru menjadi lebih baik untukku. Pertama, salah satu bangunan Alhold, hancur. Selain itu, dari laporan kepolisian di tempat kejadian perkara, beberapa anggota keluarga Alhold pun juga tewas. Meski aku tidak terlalu peduli pada keluarga Alhold, tapi tidak ada salahnya berbahagia ketika musuh berkurang, kan?
Lalu yang kedua, aku mendapatkan senjata penghilang pengendalian, yang kemungkinan besar, milik inkompeten tak dikenal. Dengan menyelidiki sumber senjata ini, aku bisa menemukan inkompeten itu dan mendorong Fahren dan Arid padanya. Dia lah yang akan menjadi Raja baru.
Yang ketiga, ada kemungkinan agen yang dirumahkan akan berpikir ulang mengenai perlawanan mereka. Agen schneider yang dirumahkan, kebanyakan, adalah agen yang lebih cocok menangani misi rahasia dan pengumpulan informasi. Mereka tidak memiliki tempat di pertarungan antar monster seperti Ukin, Karla, Constel, Mulisu, Emir, Inanna, Jin, dan lainnya.
Keempat, semua musuh berkumpul pada satu tempat. Jadi, aku tidak perlu repot-repot menaklukkan mereka satu per satu. Apalagi, dengan terlibatnya keluarga Alhold, aku bisa mengklaim serangan yang kulakukan adalah masalah personal, bukan bisnis.
Kelima, setelah Ukin membeberkan identitasku, Shu En dan Marlien memiliki kepercayaan yang lebih besar padaku. Mereka jadi yakin kalau aku memang layak berada di puncak, meski sebenarnya aku tidak menginginkannya.
Selain itu, Jin mengatakan tidak akan melawan organisasi oposisi. Namun, dia juga menyatakan tidak akan berada di pihak intelijen. Dia akan mengatur agar Guan menjadi pihak netral. Guan tidak akan melewati kuota transaksi, tapi tidak akan terlibat perseteruan secara langsung.
Namun, secara personal, Jin mengatakan akan datang kalau aku membutuhkan bantuannya. Yah, dalam waktu dua tahun terakhir, aku dan Jin beberapa kali saling menolong di pasar gelap. Meski demikian, wajah dan nama kami relatif tidak dikenal.
Dari menolong Jin ini lah, aku mendapat relasi dan mulai menjual barang antik. Namun, orang-orang yang mengenal kami justru tidak menyebarkan informasi ini. Mereka menyimpannya untuk diri sendiri. Info yang beredar soal Jin adalah null. Untuk infoku yang beredar soal adalah penjual barang antik.
Gara-gara tidak ada informasi beredar, kami beberapa kali harus berhadapan dengan pihak yang merepotkan. Mereka menganggap kami bukanlah siapa-siapa dan sering mengganggu. Ketika itu terjadi, kami pun berkonfrontasi. Dan, sebagai efeknya, kekuatan pihak yang mengganggu jadi berkurang. Secara tidak langsung, kami membantu orang-orang yang mengenal kami.
Karena aku dan Jin sering beraksi bersama, dulu, sempat beredar nama julukan untuk kami, Disabled Duo. Kenapa? Karena aku inkompeten dan Jin juga hampir tidak bisa menggunakan pengendalian.
Setelah aku pikir-pikir, aku pertama kali bertemu Emir sebagai penjual barang antik. Meski Fahren memang benar ingin mendekatkan Emir padaku, tapi pekerjaanku sebagai penjual barang antik lah yang benar-benar mempertemukan kami. Dengan kata lain, secara tidak langsung, Jin adalah alasan aku menjadi calon suami Emir saat ini.
Dalam waktu dekat ini, aku harus mentraktirnya makan di suatu tempat. Dia layak mendapatkannya.
"Guru kok senyum-senyum sendiri?"
"Hahaha, aku hanya senang."
Aku menjawab Shinar yang menuangkan teh hangat. Setelah meletakkan teh di mejaku, dia pun kembali ke sofa.
Kini, aku hanya berdua dengan Shinar di kantor. Aku memainkan handphone, membaca berita dan laporan kepolisian mengenai serangan tadi siang. Sementara itu, Shinar berkutat dengan laptop, membuat database calon siswa sekolah intelijen.
Karena aku sudah cukup sering berada di kantor, aku pun menyuruh Shinar untuk membeli teh herbal dari Kafe Ease di Mal. Karena aku sudah mengatakan pada Kisu kalau aku akan membeli tehnya, ketika Shinar datang, dia hanya mengambil racikan yang sudah disiapkan.
Awalnya, Shinar hanya menyeduh teh untukku. Namun, setelah aku membiarkannya mencoba teh herbal, dia pun menjadikannya rutinitas. Jadi, sekarang, bukan hanya aku yang menikmati teh herbal panas.
__ADS_1
Setelah kejadian tadi, aku menyuruh tiga pihak, baik Agade, Akadia, maupun intelijen kerajaan, untuk mencari asal usul senjata penghilang pengendalian itu. Mereka juga aku perintahkan mencari informasi mengenai pihak ketiga ini.
Mereka semua, tampaknya, menganggap aku membutuhkan informasi ini untuk menghukum pihak yang bersangkutan. Aku sama sekali tidak bilang kalau aku ingin bertemu inkompeten yang berada di baliknya dan menjadikannya Raja. Dan, tentu saja, mereka tidak tahu kalau pembuat senjata itu adalah inkompeten lain.
Marlien, Shu En, dan Ibla, langsung membagi mayat dan senjata yang akan mereka bawa. Agade dan Akadia membawa tiga tubuh dan tiga senjata. Intelijen hanya membawa dua tubuh dan dua senjata. Shu En pun langsung membawa tubuh dan senjata tersebut untuk diteliti lebih lanjut. Jadi, kini, dia tidak menemaniku.
Emir, Inanna, Jeanne, dan Ufia, masih sibuk dengan dokumen yang aku minta, dokumen transaksi dan semua hal yang memberi informasi mengenai kerja sama antara keluarga Cleinhad dan Alhold. Sebenarnya, ini adalah urusan personal. Namun, secara tidak langsung aku tampak sedang mengurus intelijen karena berhubungan dengan keluarga Cleinhad.
"Apa serangan yang terjadi ini sesuai dengan rencana guru?"
"Tidak. Tidak. Sama sekali tidak," Aku menolak tuduhan Shinar. "Serangan ini terjadi di luar rencanaku. Namun, aku tidak menduga hal ini justru membawa beberapa hal positif untukku."
Shinar tahu kalau aku yang membantai keluarga Cleinhad. Namun, dia belum tahu kalau aku adalah Sarru. Menurut Shu En dan yang lain, mengungkap identitasku ke seluruh agen atau pihak yang terlibat bukanlah sesuatu yang disarankan. Mereka bilang, fakta itu terlalu penting dan signifikansinya terlalu besar.
Jadi, menurut Shu En dan yang lain, biar rumor kalau aku adalah Sarru menyebar dulu, perlahan menggantikan rumor yang sebelumnya. Kalau seandainya rumor itu sudah menyebar, orang-orang yang terlibat, terutama agen schneider, akan lebih mudah menerimanya dengan anggapan, "ah, pantas dia ditunjuk menjadi kepala intelijen,".
Yah, aku setuju dengan ucapan mereka. Sebuah informasi krusial yang tersebar secara mendadak pastilah akan mendapat perlawanan yang besar. Namun, kalau penyebarannya perlahan, orang akan lebih mudah menerimanya.
Kring kring
Sebuah telepon berbunyi. Yang berbunyi bukanlah handphone milikku atau Shinar, tapi telepon yang terletak di meja kerjaku.
[Maaf mengganggu. Tapi ini adik bapak bersikeras ingin masuk ke ruang dokumen. Padahal, Nona Jeanne sudah bilang tidak seorang pun boleh masuk sementara mereka di dalam.]
Ninlil? Apa yang mau dia lakukan di ruang dokumen?
"Suruh dia ke ruanganku."
[Baik, Pak.]
[Ah! Kak Emir! Kak Inanna! Tuan Putri Jeanne.]
Dari telepon, aku mendengar Ninlil yang memanggil Emir dan Inanna. Tampaknya Jeanne dan yang lain sudah mendapatkan dokumen yang kuminta.
DI lain pihak, aku memperhatikan hal lain dari suara Ninlil. Dia menyapa Emir dan Inanna dengan ceria dan ringan. Lalu, terdapat jeda kemudian dia menyapa Jeanne dengan sopan dan formal. Bahkan, mungkin, dia sedikit merendahkan tubuh, memberi penghormatan. Dan yang terakhir, dia tidak menyapa Ufia. Mungkin dia masih menyimpan kebencian pada keluarga Alhold.
[Maaf, Pak. Masalahnya sudah selesai. Jeanne dan yang lain akan ke ruangan Bapak sekarang.]
__ADS_1
"Ya, terima kasih,"
Aku menutup telepon.
Sebagai kepala, aku telah menjadi sosok yang dituakan. Meski usiaku belum mencapai 20 tahun, mau tidak mau, aku harus menerima panggilan "pak" ini. Untung aku tipe orangnya cuek bebek. Jadi, aku tidak mempermasalahkannya.
Di lain pihak, Emir sempat marah ketika dipanggil bu. Dia bersikeras masih muda. Ditambah lagi, karena posisinya di intelijen masih rendah, maka, mereka hanya perlu memanggilnya dengan nama. Fakta kalau dia adalah calon istriku dikesampingkan begitu saja.
Inanna tidak melawan atau menyanggah ketika dipanggil bu. Namun, aku bisa melihat mukanya yang masam setiap kali dipanggil bu. Karena Inanna sering bersama Emir, aku sempat lupa kalau dia aslinya penurut dan pemalu.
Aku pun memerintahkan orang-orang untuk menghentikan panggilan bu pada Emir dan Inanna.
Tidak lama kemudian, akhirnya, Jeanne dan yang lain datang. Dari lima orang yang datang, muka Ufia adalah yang paling masam, seolah dia baru saja mengunyah obat tradisional.
"Ufia, kamu kenapa?"
Bersambung
\============================================================
Halo semuanya.
Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.
Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.
Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
__ADS_1