I Am No King

I Am No King
Chapter 353 – Merdeka?


__ADS_3

"Jadi, Lord Susa, apa kamu masih tidak mau mendengar yang terjadi di balik layar?"


"Mendengar sebagian pembicaraan kalian beberapa hari lalu saja sudah membuatku pusing tujuh keliling. Aku tidak bisa membayangkan kalau kamu mengatakan seluruh kejadian di balik layar. Jadi, tidak, terima kasih."


"Haha, sayang sekali. Padahal aku berharap ada rekan tambahan yang mengetahui hal ini."


Seperti biasa, kami mengobrol selama perjalanan. Selain topik acak, aku juga beberapa kali bertanya mengenai kebiasaan atau kesulitan sebagai ibu hamil. Dengan bekal ini, aku berharap bisa sedikit meringankan beban Rina.


Setelah mengobrol kemana-mana, kesimpulannya adalah Rina tidak boleh mendapat tekanan atau stres berlebih. Namun, kesimpulan ini juga membuatku bingung. Menyelesaikan semua konflik ini bisa dijamin mengangkat salah satu sumber stres dan tekanan Rina, yaitu kebutuhannya akan balas dendam. Namun, setelah Rina mendapatkan balas dendamnya, dia akan dipaksa menjadi Ratu.


Sebagai seorang Alhold, dia pasti akan mengalami tekanan mental yang berkelanjutan karena menjadi Ratu. Beberapa kali aku menanyakan Rina apakah dia siap menjadi Ratu. Dan, beberapa kali itu pula, dia memberi jawaban yang sama, "aku siap selama dendamku bisa terbalaskan,".


Tidak! Jawaban itu tidak menunjukkan kalau dia siap! Justru sebaliknya! Rina justru menunjukkan kalau sebenarnya dia tidak mau menjadi Ratu. Setelah aku terus memaksa, akhirnya Rina bercerita sebenarnya dia sama sekali tidak mau menjadi Ratu. Tapi satu-satunya cara membunuh ibunya, dengan tangannya sendiri, hanyalah dengan menjadi Ratu. Tanpa menjadi Ratu, dia tidak akan pernah bisa mendekati posisi ibunya.


Melihat Rina yang bersikeras membunuh ibunya dengan prosedural normal, aku jadi kesal sendiri. Padahal, kalau dia mau menggunakan jasa pasar gelap dan intelijen, aku bisa langsung membawanya ke istana. Namun, dia bilang mau masuk ke istana dari pintu depan, tanpa sembunyi-sembunyi. Dia ingin membunuh dan mengeksekusi ibunya dengan kepala tegak, demi dendamnya.


Aku sangat ingin berkomentar kalau pikiran Rina sudah tidak logis. Dendam benar-benar mengaburkan penilaiannya. Namun, aku tidak bisa protes secara terbuka mengingat hal yang sama juga terjadi padaku.


Memastikan Rina mampu mendapatkan dendamnya dengan kepala tegak tapi tidak menjadikannya Ratu. Tampaknya, aku harus melakukan manuver agresif di kerajaan Nina.


"Lord Susa, aku ingin mengonsultasikan sesuatu denganmu. Dan, tidak, ini tidak berhubungan dengan kejadian di belakang layar. Tapi lebih kepada topik konferensi hari ini"


Aku menyela Lord Susa yang sempat membuka mulut, berusaha menolak.


"Baiklah. Aku tidak keberatan kalau tidak berhubungan dengan belakang layar.."


"Menurutmu, seberapa menggiurkannya kemerdekaan?"


"Sama sekali tidak menggiurkan."


"... kenapa begitu?"


"Sejak Kerajaan Nina berdiri, wilayah Anshan berada di bawah kerajaan Nina. Baik logistik, suplai makanan, maupun militer, kami sangat bergantung pada Kerajaan Nina. Dan saat ini, Wilayah Anshan bisa bertahan karena suplai dari Bana'an. Tanpa Bana'an, Wilayah Anshan pasti akan hancur dari dalam. Dan aku yakin Feodal Lord wilayah lain sependapat."

__ADS_1


Oke. Masuk akal. Jadi, kemerdekaan bukanlah sesuatu yang diinginkan oleh Feodal Lord.


"Bagaimana kalau begini?"


Selama perjalanan, sambil mengemudi, Lord Susa mendengarku penjelasanku dengan saksama. Tentu saja, aku masih terus melempar pandangan ke Lord Susa, memastikan dia tidak mengalihkan pandangan dari jalan.


"Kenapa kamu baru konsultasi sekarang? Kenapa tidak kemarin-kemarin atau semalam?"


"Aku baru mendapat konfirmasi dari Rina kemarin. Dan lagi aku tidak mau mengganggu waktumu dengan Maru di malam hari."


"Oke. Alasan diterima."


"Jadi, bagaimana?"


"Hmm, saranmu tidak terlalu buruk. Bahkan, ada kemungkinan saranmu akan menghasilkan masa depan Anshan yang lebih baik dari rencana awalku. Pribadi, aku mendukungnya." Lord Susa menyerukan persetujuan. "Aku bisa mencoba meyakinkan Feodal Lord lain. Namun, yang membuatku khawatir justru pihak militer Bana'an."


Sangat masuk akal bagi Lord Susa untuk menyebut militer Bana'an. Kenapa? Karena, secara tertulis, mereka adalah yang paling berperan dan berjasa dalam peperangan ini. Tidak jarang militer lah yang meminta pendudukan tetap dilakukan dengan alasan buah jerih payah dan sebagainya.


Bahkan, tidak sedikit kerajaan yang pecah gara-gara perselisihan militer dengan Kepala Kerajaan. Setelah peperangan, ada kalanya Kepala Kerajaan menginginkan penarikan militer untuk mengembalikan kondisi seperti sedia kala, sebelum peperangan.


Lord Susa memang seorang yang baik.


"Jangan khawatir. Aku bisa mengatur militer Bana'an."


Aku tidak yakin militer Bana'an siap melawan kerajaan, kepolisian, intelijen, dan pasar gelap. Dan, kalau masih memaksa, aku bisa menyandera keluarga para petinggi militer Bana'an.


Tidak lama kemudian, kami tiba di kantor. Meski masih pagi, sudah banyak karyawan lalu lalang. Normalnya, kantor pemerintahan masih sepi jam segini. Namun, karena hari ini akan ada konferensi para Feodal Lord, para karyawan terpaksa datang lebih pagi untuk bersiap-siap.


Setelah memarkir mobil, Lord Susa dan aku tidak pergi ke ruang kerja, tapi ke ruang konferensi. Di dalam ruang konferensi terlihat meja bundar dengan mikrofon, minuman, dan camilan di atasnya.


Aku dan Lord Susa sempat tertegun ketika melihat Zortac sudah duduk di salah satu kursi sambil minum.


"Zortac, pagi sekali kamu. Tidak biasanya. Padahal konferensi baru dimulai satu jam lagi."

__ADS_1


"Jujur, aku sendiri tidak yakin kenapa. Firasatku mengatakan konferensi ini akan menjadi sesuatu yang jauh lebih mengejutkan dari konferensi yang sebelumnya. Di saat itu, aku merasa kamu pasti penyebabnya. Apa kamu berniat membeberkan rahasia besar lain pada konferensi nanti, Lugalgin?"


Zortac, firasatmu terlalu tajam.


Aku tersenyum. "Tidak rahasia juga, sih. Yang aku jelaskan lebih kepada arah kerajaan Nina ke depannya."


"Hoh ... dan apakah itu?"


"Sederhananya seperti ini."


Bersambung


 


 


\============================================================


Halo semuanya.


So\, saat ini\, author dah ga pake FF**UU**CC**KK OFF lagi untuk reply komen promo\, tapi dah pake kearifan lokal pake kata guuooblogg. Dan kliatannya dah ada yang kebakar. wkwkwkwk. Padahal di prolog dah ada larangan\, sepanjang chapter juga ga ngitung berapa kali bikin chapter pengumuman larangan promo. Bahkan (mungkin) sudah ada yang sadar kalau peringatan sudah diletakkan di sinopsis/blurb. Kalau masih promo\, berarti sudah siap menerima reply nya dong. wkwkwkwk.


Seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya digunakan untuk cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.


Sampai jumpa di chapter selanjutnya


 

__ADS_1



__ADS_2