
~Hervia POV~
Jujur, perasaanku tidak enak. Ada apa ini? Aku sudah tahu kalau kemungkinanku untuk menang untuk kecil, tapi perasaan ini baru saja muncul. Ada apa?
Meski kuakui keadaanku saat ini tidak cukup baik, dikepung oleh serangan dari segala arah, tapi bukan ini yang kukhawatirkan. Bahkan, justru sebaliknya. Semakin banyak anggota Agade yang mengerumuniku, semakin besar kemungkinan untuk Orion menang. Aku sangat yakin pada pengendalianku. Dan bahkan aku membuat tentakel di sekitar tubuhku kecil dan terpisah-pisah, memastikan senjata penghilang pengendalian Lugalgin tidak berfungsi.
Namun, meski berada di posisi yang menguntungkan, perasaanku benar-benar tidak enak.
"Tante Hervia!"
Sebuah teriakan familier terdengar. Aku melihat ke kanan, ke salah satu jalanan kota yang seharusnya kosong. Di tengah jalan, terlihat sosok laki-laki, Lugalgin, turun dari sepeda motor. Tanpa mengatakan apapun, dia melepas peti mati yang ada di punggungnya.
Aku langsung meningkatkan kewaspadaanku. Sejauh yang aku dengar, peti mati yang dibawa Lugalgin berisi senjata. Kalau dia membukanya ke arahku, mungkin ada misil atau rudal yang akan langsung melesat ke arahku.
Eh? Apa itu? Tidak ada misil, rudal atau peluru tambahan yang melesat ke arahku. DI dalam peti mati itu hanya terlihat satu sosok. Apa sosok itu memegang senjata? Namun tidak ada peluru tambahan yang meluncur. Aku tidak merasakan ada logam dari arah Lugalgin.
Di saat itu, entah kenapa, dadaku terasa sesak. Tubuhku pun terasa agak lemas
Ada apa ini? Apa Lugalgin menggunakan gas beracun? Tidak mungkin! Kalau dia menggunakan gas beracun, dirinya juga akan menjadi korban.
Sosok......di depan......Lugalgin.....
Tanpa bisa kukendalikan, pandanganku fokus sepenuhnya ke sosok di dalam peti mati Lugalgin. Aku menyipitkan mata, berusaha mendapatkan penglihatan yang lebih jelas di antara tentakel yang bergerak cepat.
Tidak....mungkin.....
Di saat itu, Jari-jemariku kaku. Selain itu, aku bisa merasakan semua darah mengalir begitu cepat ke otak. Tanpa memedulikan apapun, mulutku hanya meneriakkan satu nama sekuat tenaga, menghabiskan semua udara di paru-paru.
Semuanya menjadi gelap, hilang. Tidak ada apapun di mataku, selain dua hal, tubuh Illuvia yang terpejam dan laki-laki di sampingnya.
"LUGALGINN!!!!"
***
Aku tetap berdiri, teguh. Meski melihat puluhan tentakel menerjang dengan cepat, aku tetap berdiri kokoh, tidak bergerak.
__ADS_1
Satu detik berlalu. Lima detik berlalu. Tidak peduli sampai selama apa pun aku menunggu, tentakel-tentakel itu tidak akan mencapaiku.
Dalam waktu tidak sampai lima detik ini, tante Hervia mengerahkan seluruh tentakel yang dia kendalikan untuk menyerangku, menghilangkan pertahanannya. Seketika itu juga, belasan peluru bersarang di tubuh tante Hervia.
Kenapa tidak ratusan peluru? Karena Ninmar ikut maju. Tampaknya, Ninmar dan Umma berpikir walaupun ratusan peluru menembus tubuh tante Hervia, masih ada waktu beberapa detik sebelum dia benar-benar tewas dan pengendaliannya hilang. Asumsi ini didasarkan pada pendapat beberapa ahli dimana manusia masih hidup selama 8 detik walaupun kepalanya sudah terpisah dari tubuh. Dan, 8 detik sudah cukup untuk semua tentakel itu membunuhku.
Oleh karena itu, kelihatannya, Umma dan Ninmar memerintahkan semua personel menghentikan tembakan. Di saat terakhir, hanya Umma yang melepas tembakan.
Saat itu juga, Ninmar maju dan menusuk tante Hervia dengan pedangnya. Karena pedang yang dipegang Ninmar adalah senjata penghilang pengendalian, pemberianku, serangannya akan menghentikan tentakel yang menerjangku.
Dan, rencana mereka berhasil. Pedang sepanjang satu meter menembus dada tante Hervia.
[Gin, kita berhasil!]
Dor dor dor dor
Aku menjatuhkan peti mati berisi Illuvia dan mengambil rifle dari arsenal. Tanpa babibu, aku melepas empat tembakan ke tangan dan kaki tante Hervia. Tembakanku pun praktis membuat tante Hervia terjatuh, telungkup, ke atas jalanan beton yang dingin.
"Jangan lengah!"
[Eh?]
Aku bisa mendengar suara Ninmar dan Umma yang terkejut melalui earphone karena dibentak.
"Pergi! Menyebar! Pastikan tidak ada anggota Orion di sekitar yang bisa menyerang. Nyawa kita belum aman selama masih ada di kota ini, mengerti?"
[Ba-baik!]
Aku berkali-kali melihat adegan itu di komik dan film. Ketika murid mendapat pencapaian dan bahagia, dia akan melihat ke arah guru. Sang guru, juga melihat ke arah murid dengan bangga. Dengan kata lain, mereka lengah. Dan karena lengah, pemandangan itu langsung berubah drastis di panel selanjutnya. Di saat itu, pasti ada momen yang langsung membunuh si murid. Entah musuh yang bersembunyi, atau musuh yang belum benar-benar tewas, atau yang lain.
Aku tidak mau momen di komik dan film itu menjadi kenyataan. Aku tidak mau ada anggota Agade lain yang tewas. Aku tidak mau.
Menurut, Ninmar pergi dari samping tante Hervia, meninggalkan pedangnya. Kehadiran Umma juga terasa menjauh dari tempat ini.
Setelah memasukkan sniper ke dalam Arsenal, aku menutup peti mati yang tergeletak di jalan dan membawanya, mendekat ke arah tante Hervia.
"Illu.....via....."
Ketika sampai di dekat tante Hervia, aku meletakkan peti mati ini dan mengeluarkan Illuvia, membaringkannya di samping tante Hervia. Tentu saja aku memastikan wajah Illuvia, yang terpejam, menghadap ke tante Hervia.
"Terima, kasih, gin."
Meski dalam kondisi akan mati, dan jasad putrinya ada di depan mata, tante Hervia tetap mengucap terima kasih padaku. Kenapa? Karena aku memberinya kesempatan untuk melihat wajah putrinya di akhir nafas.
Kalau orang lain, mungkin mereka akan lebih fokus untuk menghina dan melempar umpatan ke arahku, tapi, Tante Hervia tidak. Dan, jujur, untukku, akan lebih mudah kalau Tante Hervia juga menghina dan melempar umpatan. Namun, aku tidak akan mempermasalahkan hal itu. Aku akan menerima ucapan terima kasih Tante Hervia dan mengembannya untuk seumur hidupku.
Dan, aku tidak akan mengatakan "seandainya tante mau bekerja sama". Aku tidak akan menginjak dan menghina keputusan tante Hervia di akhir hidupnya. Daripada itu, aku lebih memilih untuk memonitor keadaan.
__ADS_1
Melalui layar smartphone, aku melihat peta yang dipenuhi dengan titik-titik merah dan biru. Dalam waktu cepat, titik-titik merah berkurang. Titik-titik merah ini menghilang ketika bertemu dengan tiga titik biru yang bergerak ke semua tempat. Aku mengasumsikan tiga titik biru ini adalah Ninmar, Umma, dan Inanna.
Aku memilih melihat melalui layar smartphone, bukan proyeksi ke udara, karena aku tidak ingin mengalihkan perhatian tante Hervia. Biar dia menghabiskan waktunya fokus pada Illuvia.
"Illuvia, maafkan ibu. Ibu tidak bisa melindungimu. Maaf....."
Illuvia tewas bukanlah salah tante Hervia, tapi salahnya sendiri. Namun, adalah hal normal bagi tante Hervia, sebagai seorang ibu, merasa bersalah. Saat ini, dia pasti merenung, kira-kira apa yang bisa dia ubah di masa lalu untuk mencegah kematian Illuvia. Meski semua itu hanya berandai-andai, tapi, hal ini lah yang membuatnya layak disebut menjadi seorang ibu.
"Gin, aku ingin mengajukan satu permintaan,"
"Ya, tante?"
"Cabut pedang ini dan putar badanku. Dan, tolong, letakkan Illuvia di atas tubuhku. Aku ingin memeluknya untuk yang terakhir kali."
Aku tidak merasakan ancaman dari ucapan tante Hervia sama sekali. Namun, untuk berjaga-jaga, membiarkan jari telunjukku tergores oleh pedang Ninmar dan mengusap darah ke dada tante Hervia, langsung ke tubuhnya.
Menuruti permintaan tante Hervia, aku membuat tubuhnya terlentang dan meletakkan Illuvia di atas dalam posisi tengkurap. Meski tidak diminta, aku menggerakkan kedua tangan tante Hervia ke belakang Illuvia, membuatnya memeluk Illuvia.
"Terima kasih, gin."
"Tidak usah berterima kasih."
Aku bangkit dan berjalan menjauh, memberikan waktu sendiri untuk tante Hervia dan Illuvia.
Aku kembali mengecek layar handphone. Akhirnya semua titik merah di peta menghilang.
[Gin, dengan ini, Orion telah resmi hancur.]
Bersambung
\============================================================
Halo semuanya.
Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.
Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.
Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.
__ADS_1
Sampai jumpa di chapter selanjutnya