I Am No King

I Am No King
Chapter 93 – Dibalik Topeng Palsu


__ADS_3

"Tolong hentikan!"


 


Sebuah teriakan terdengar dari arah Mulisu. Yang berteriak bukanlah Mulisu, tapi Kinum palsu yang diikat di depannya.


 


Dia memintaku berhenti ketika aku mencoba mengarahkan pistol ke bagian bawah peti arsenal, di sekitar lutut lawan.


 


"Maaf, maafkan kami. Maafkan kami karena kami sudah mengklaim nama Agade begitu saja. Maafkan kami karena sudah menggunakan nama Agade. Kumohon, maafkan kami. Kumohon, kumohon..."


 


Dia terus memohon dan memelas, sambil menundukkan kepalanya.


 


Kemana perginya semua keyakinan itu?


 


"Apa yang membuatmu berpikir kami akan mengampuni kalian?"


 


Sebuah suara terdengar. Suara ini berasal dari kiriku, dimana sebuah sosok pendek perlahan mendekat. Bukan hanya satu sosok pendek, sosok lain berkepala serigala pun juga mendekat.


 


"Kalian sudah menghabisi semua orang yang ada di sini?" Aku bertanya.


 


"Sudah!"


 


Mereka semua menjawab bersamaan, kompak. Melihat mereka menjawab meski aku menyela pertanyaan Ur, tampaknya pertanyaanku mendapatkan prioritas yang lebih tinggi.


 


"Bagus. Sekarang, kalian bisa beres-beres, sementara itu, aku ingin berbicara dengan Kinum dan Sarru palsu ini. Apa ada yang keberatan?"


 


"TIDAK!"


 


Setelah memberi jawaban, mereka menghilang ke dalam kegelapan malam. Saat datang ke sini, kami hanya membawa empat mobil 4wd. Aku tidak melihat ada truk atau apapun yang bisa digunakan untuk mengangkut semua senjata mereka.


 


[Kami, aku dan para karyawan, sudah meletakkan senjata mereka di tempat ini tadi sore. Dan, tentu saja, kami meletakkannya di tempat yang tersembunyi, memastikan Agade palsu dan Apollo tidak bisa menemukannya.]


 


Tiba-tiba saja terdengar suara Ibla di earphone topeng, seolah-olah dia bisa membaca pikiranku.


 


[Jadi menurutmu, bagaimana nilai kami?]


 


Aku menekan moncong topeng. "Sebelum aku memberi nilai, apa kamu sudah mengetahui identitas Sarru dan Kinum palsu ini?"


 


[Sayangnya belum. Maksudku, mereka akan tewas juga, kan? Kenapa memelajari nama orang yang akan tewas?]


 


"Dan siapa yang bisa memastikan kematian mereka, hah?"


 


Aku kembali bertanya dengan nada menekan.


 


Aku tidak mampu mendengarkan balasan Ibla. Dia terdiam. Tampaknya, pertanyaanku berhasil membuatnya panik.


 


"Aku tanya lagi. Siapa yang bisa memastikannya?"


 


Ibla masih belum memberi jawaban. Dia masih terdiam.


 


Oke, sudah cukup aku memberi tekanan.


 

__ADS_1


"Karena hal ini, nilai kalian hanya 7. Kesalahan kalian adalah tidak mengetahui identitas lawan sebelum menyerang. Bagaimana kalau ternyata lawan kalian jauh lebih kuat? Kalau salah satu dari kalian terluka parah, atau bahkan tewas, apa yang akan kalian lakukan? Kalian terlalu sombong. Kalian pikir kalian sudah berada di atas pasar gelap. Ingat! Di atas langit masih ada langit. Mengerti?"


 


[Me-mengerti...]


 


Kali ini, bukan hanya suara Ibla yang terdengar di earphone, tapi seluruh anggota Agade, kecuali Mulisu.


 


"Sarru, sudahlah, maafkan mereka. Mereka hanya terlalu senang karena bisa kembali beraksi bersamamu." Mulisu mencoba membela anggota Agade.


 


"Hah, Kinum, kamu terlalu lunak pada mereka. Karena ini lah aku harus mendisiplinkan mereka."


 


Di saat ini, kalau dilihat dari luar, posisi kami seperti sepasang orang tua yang bertengkar karena kesalahan anak mereka. Sementara Mulisu membela anak-anak, aku mengambil peran orang tua yang tegas dan disiplin.


 


"Ya, sudahlah," aku mengakhiri semua ini. "Segera bereskan barang-barang kalian. Kita langsung pulang setelah kalian selesai beres-beres."


 


[Baikk....]


 


Jawaban mereka semua terdengar lemas. Aku harus mengatakan sesuatu agar mental mereka tidak terlalu jatuh.


 


"Kemampuan bertarung kalian sudah meningkat drastis dalam dua tahun ini. Meski aku ada beberapa hal yang bisa ditingkatkan, kerja bagus untuk malam ini."


 


Sebuah keheningan muncul sebagai respon. Namun, hanya sesaat.


 


[Terima kasih banyak!]


 


Mereka terdengar begitu bahagia padahal aku hanya memuji mereka sedikit. Ya, sudahlah.


 


Sekarang, kembali ke masalah utama. Aku menoleh ke Kinum palsu dan melihat dia menempelkan wajahnya, yang tertutup topeng, ke tanah sambil mengucapkan "maafkan kami" berkali-kali. Di lain pihak, aku mendengar suara pelan dari bawah peti arsenal. Tampaknya, Sarru palsu ini menangis pelan, sesenggukan.


 


 


"Hei, Kinum palsu, jawab pertanyaanku."


 


"Ya?" Kinum palsu mengangkat kepala, merespon dengan cepat


 


"Waktu kami membunuh semua anggota Agade palsumu, kau tidak merespon apapun. Apa mereka hanya mercenary yang kau bayar?"


 


"Ya, benar. Mereka hanya mercenary. Informasi yang kami dapatkan mengatakan kalau pusat Agade hanya kalian berdua. Sisanya hanya orang-orang tidak penting yang kalian pungut. Jadi, kami berpikir untuk menggunakan mercenary saja sebagai pengikut."


 


Dia menjawabku dengan cepat, tanpa pikir panjang. Apa dia sudah benar-benar takluk?


 


Namun, pusat Agade hanya kami berdua? Aneh. Informasi yang beredar, seharusnya, anggota Agade hanya kami berdua dan kami selalu menyewa mercenary untuk misi dan pekerjaan. Mungkin dua hal ini tampak sama, tapi sebenarnya berbeda.


 


Kinum palsu mengatakan "pusat Agade". Dengan kata lain, informan yang dia bicarakan mengetahui kalau Agade memiliki anggota selain kami berdua, bukan mercenary. Dan, seharusnya, hanya satu orang yang mengetahui informasi ini, yang posisinya tidak kuketahui.


 


Tampaknya, bukan hanya aku yang memikirkan kemungkinan ini. Moncong topeng Mulisu mengarah ke sini. Dia melihat ke arahku.


 


Aku bertanya lagi, "Apa informan itu bernama Ukin?"


 


"Maaf, kami tidak mengetahui namanya. Dia selalu menutupi wajahnya dengan bandana dan hoodie."


 


Begitu ya. Namun, aku dan Mulisu, memiliki keyakinan yang besar kalau informan itu adalah Ukin. Selain Lacuna, hanya dia yang mengetahui kalau Agade memiliki anggota selain aku dan Mulisu.

__ADS_1


 


[Sarru, kami sudah selesai beres-beresnya.]


 


"Baik, aku akan mengakhiri sesi tanya jawab ini."


 


Aku berjalan mendekati Kinum palsu dan menarik rambut dan topengnya. Ketika aku melakukannya, sebuah wajah perempuan terlihat. Sudah kuduga, dia mengenakan wig. Di bawah wig ini, dia memiliki rambut coklat pendek yang hampir tidak menutupi telinga. Matanya pun coklat. Sebuah fitur wajah generik sepertiku.


 


Perempuan ini belum tua. Umurnya baru mencapai kepala 3 di tahun ini. Kulit wajahnya pun terlihat kencang. Kenapa aku mengetahui umur perempuan ini? Mudah saja, karena aku mengenalnya.


 


"Nerva, kalau kamu adalah Kinum palsu, apa ini berarti sosok yang ada di bawah peti itu adalah putri terakhir dari keluarga Nerras?"


 


"Eh? Kau mengenal kami?"


 


Sial! Aku sama sekali tidak menduga perkembangan ini. Dan aku sama sekali tidak menyukainya. Aku berjalan kembali ke peti arsenal dan menyingkirkannya dari tubuh Sarru palsu.


 


Begitu peti arsenal sudah tersingkir, Sarru palsu ini langsung mencoba memegang bahu kirinya.


 


"Jangan dipegang! Tulang di bahumu hancur. Kalaupun kamu menyentuhnya, hanya rasa sakit yang akan kamu rasakan."


 


"Ah? Ah?"


 


Dia tidak bisa memberi respon yang jelas.


 


Aku segera melepas topeng Sarru palsu ini, membuatnya dapat bernafas lebih mudah.


 


Kini, di depan mataku, terlihat seorang perempuan berambut panjang hitam berkilau. Kalau saat ini dia membuka mata yang menglirkan air mata, aku akan melihat warna hijau yang berkilau. Jika orang melihatnya dan Inanna bersebelahan, mereka akan dikira sebagai saudara kembar, padahal bukan.


 


"Illuvia.... apa yang kamu lakukan?"


 


Bersambung


 


 


\============================================================


 


 


Halo semuanya.


 


Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.


 


Untuk yang tidak ingat siapa Illuvia, bisa cek di chapter 1. Hahahaha. Pasti banyak yang lupa karena Illuvia hanya muncul sekali.


 


Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


 


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


 


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


 


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.


 


Sampai jumpa di chapter selanjutnya

__ADS_1


 



__ADS_2