I Am No King

I Am No King
Chapter 314 – Pernikahan pt 1


__ADS_3

Oke. Proses pernikahan macam apa ini? Aku tidak pernah melihat atau mendengar prosesi seperti ini!


Aku berteriak dan mengeluh di dalam hati ketika membaca buku panduan pernikahan yang dibuat oleh ibu dan tante Filial. Tampaknya ibu dan Tante Filial benar-benar membuat tradisi baru.


Awalnya, aku hanya membaca bagian yang diberi bookmark. Setelah selesai, aku membaca bagian lain buku. Ternyata, buku ini juga memiliki panduan pernikahan normal untuk jumlah istri 1 orang. Di bagian cover dan belakang buku ini, terdapat tulisan dan logo You Wedding, salah satu EO pernikahan milik ibu, tempat Tante Filial bekerja.


Tampaknya, setelah pernikahanku, ibu dan Tante Filial berencana mengomersialkan prosesi pernikahan ini. Bagi orang-orang yang ingin menjalani pernikahan berbeda dari tradisi Bana'an, anti mainstream, prosesi ini akan menjadi pilihan utama.


Pernikahanku yang disiarkan ke seluruh Kerajaan Bana'an dan luar kerajaan juga merupakan publikasi dan marketing yang maksimal. Aku bisa membayangkan, setelah pernikahanku, banyak pasangan meminta prosesi pernikahan ini.


Lalu, hal kedua yang aku keluhkan, baju pernikahannya. Baju dengan warna dasar hitam dengan garis putih ini penuh dengan ornamen. Tidak berhenti di situ, aku juga mengenakan jubah putih panjang yang dikaitkan ke bahu. Jujur, aku bingung apakah penampilanku seperti bangsawan atau pahlawan super komik?


"Kak, ayo!"


"Ayo Kak Lugalgin!"


Ninlil dan Ninshubur masuk ke kamar ganti untuk menjemputku. Aku bangkit dan mengikuti mereka. Kami berjalan menyusuri lorong berkarpet merah. Seperti hotel elite pada umumnya, pencahayaannya memberi kesan hangat, warm white. Dinding putih pun berubah warna menjadi kecokelatan.


Tidak lama kemudian, aku tiba di depan pintu besar. Ninlil dan Ninshubur pergi menyusuri lorong, masuk dari pintu lain.


Di depan pintu ini, di kanan kiriku, terlihat dua meja dengan buku tamu. Di belakang meja, berdiri sosok yang aku kenal, Ufia dan Nammu. Mereka bersama kakak dan adiknya. Tentu saja, hanya Ufia yang ditemani oleh kakak adiknya. Nammu hanya ditemani oleh seorang adik.


Yang dirias bukan hanya pengantin, semua pihak yang terlibat juga ikut dirias, tidak terkecuali Ufia dan Nammu. Mereka mengenakan pakaian ketat bermotif bunga diselimuti rompi panjang dengan kerah lapel. Sungguh menawan. Di lain pihak, laki-laki hanya mengenakan jas dengan jubah pendek di bahu kiri.


"Kalian benar-benar menawan, Nammu, Ufia."


"Terima kasih, Gin."


"Jangan sampai Emir mendengarnya, ya. Aku tidak mau menjadi sasaran selanjutnya."


Sementara Nammu menerima pujianku dengan tulus, Ufia justru membalas dengan nada dingin. Bukan nada dingin, lebih tepatnya, merinding. Dia pasti khawatir akan bernasib seperti Rahayu. Hal ini wajar karena dia melihat langsung keganasan Emir berapa hari yang lalu.

__ADS_1


Ngomong-ngomong soal Rahayu, aku harus bilang staminanya cukup besar. Rahayu mampu bertahan hingga 3 jam padahal dia dipaksa melayani beberapa orang sekaligus tanpa istirahat. Aku tidak bisa membayangkan kalau dia melakukan hubungan normal bisa bertahan berapa lama.


Kalau rahayu kuat selama 3 jam tanpa istirahat dan melakukannya dengan banyak orang, aku jadi penasaran pada hal lain. Kira-kira berapa lama Emir bisa bertahan kalau melakukan hubungan normal denganku? Selama ini, aku selalu berhenti ketika Emir sudah terlihat lelah, lega, atau tertidur. Ya, selama ini, aku lah yang menentukan kapan waktunya berhenti. Emir tidak pernah meminta berhenti.


Dan, karena melakukannya, hampir selalu, bersamaan, Inanna pun tidak pernah meminta berhenti. Mungkin jiwa kompetitifnya bangkit di atas ranjang.


Pintu terbuka, memperdengarkan alunan musik orkestra lembut.


"Mempelai Pria silakan masuk."


Sebuah suara kencang terdengar dari dalam ruangan.


Aku masuk. Sesuai prosedur pernikahan di buku, aku berjalan perlahan, di antara kerumunan orang. Di kanan kiri terlihat sebuah pembatas, memisahkan jalan dengan kursi tamu. Di ujung, di samping kanan tamu, terdapat panggung tempat para pemain musik.


Ratusan tamu mengarahkan pandangan mereka, melihatku yang berjalan perlahan dengan elegan. Jujur, situasi ini mengingatkanku pada inaugurasi setelah memenangkan battle royale. Saat itu, aku juga memasuki aula besar dengan banyak orang di kanan kiri.


Tidak lama, aku tiba di ujung ruangan. Di bagian depan, tidak lagi terlihat tamu di kanan dan kiri. Lantai di ujung ruangan lebih tinggi dari lantai aula, seperti panggung. Namun, tidak terlalu tinggi, hanya satu anak tangga.


Terlihat empat buah kursi merah dengan ornamen kuning keemasan. Susunan kursi adalah 1 menghadap ke tamu dan 3 kursi membelakangi. Di sisi kanan terlihat satu orang laki-laki tua mengenakan pakaian serba putih, penghulu, berdiri dan memegang sebuah map berwarna merah.


Seketika itu juga, bulu kudukku merinding. Aku sudah membersihkan keluarga kerajaan Bana'an, membuat Bana'an berperang dengan Mariander, dan menerima pernikahan dengan Rina. Semua itu kulakukan untuk menghindari posisi raja! Namun, kini, aku harus duduk di kursi yang mirip dengan singgasana?


Di saat ini, sebuah bayangan dimana aku menjadi raja dan menyatukan 3 kerajaan muncul. Kalau hal ini terjadi, berarti aku menjalankan rencana Ratu Amana. Apakah aku akan duduk di kuri sini? Tidak! Aku tidak mau! Tasha, tolong aku. Aku–


"Mempelai pria dipersilakan duduk."


Ah! Untung saja!


Suara penghulu, yang dikeraskan dengan microphone tempel, menggaung ke seluruh ruangan, membangunkanku dari ketakutan tanpa alasan. Kata ayah, saat pernikahan berlangsung, sebuah ketakutan tidak logis pasti akan muncul, memberi alasan untuk tidak melanjutkan pernikahan. Kenapa Muncul? Ayah bilang tidak penting kenapa. Yang menjadi pertanyaan adalah hal lain. Apakah kasih sayang dan cinta yang dimiliki mempelai cukup besar untuk menghadapi ketakutan itu dan melanjutkan pernikahan?


Ayah bilang, kalau ketakutan itu muncul, aku perlu mencari 1001 alasan kenapa pernikahan ini adalah penting dan harus dilanjutkan. Alasan yang digunakan bisa penting seperti hubunganku dengan Emir, Inanna, dan Rina. Lalu bisa juga menggunakan alasan logika berupa politik dan sosial. Bahkan, alasan tidak penting seperti tidak mau hidup sendiri juga tidak masalah. Alasan apapun boleh selama itu bisa membuatku tetap melangsungkan pernikahan.

__ADS_1


Namun, aku tidak membutuhkan alasan apa pun untuk menghilangkan keraguan dan ketakutan itu. Yang aku butuhkan hanyalah suara penghulu, tidak lebih. Dengan kata lain, aku berani bilang, keputusanku untuk menikah sudah amat sangat kuat.


Aku tersenyum simpul dan berjalan, melewati tiga kursi. Dengan sebuah senyum penuh percaya diri, aku duduk, memandang tamu yang hadir.


Pintu yang sebelumnya tertutup, setelah aku masuk, terbuka dan memperlihatkan tiga sosok.


"Mempelai Wanita silakan masuk."


Tiga sosok wanita, para calon istriku, berjalan.


Bersambung


 


 


\============================================================


Halo semuanya.


Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.


Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.


Sampai jumpa di chapter selanjutnya

__ADS_1


 



__ADS_2