
"Sebenarnya, aku lebih prefer bisa menolong Rina tanpa membuatnya jatuh hati padaku, tapi..."
[Gin, suspension bridge effect adalah hal yang tidak terelakkan.] Inanna merespons. [Pada dasarnya, saat ini, Rina sedang berada di kondisi paling bawah dan hancur. Dan, saat ini terjadi, tidak peduli siapa pun yang akan menolong, orang tersebut akan menjadi target jatuh hati bagi Rina. Ya, anggap seperti cinta pada pandangan pertama. Jangankan Rina. Aku bisa bilang kalau aku, Emir, dan bahkan cintamu ke Tasha adalah suspension bridge effect.]
Dan, Inanna mulai memberi ceramah panjang lebar mengenai sebuah ilmu psikologi.
Suspension bridge effect, ya. Aku tidak pernah menduganya. Dan, kalau aku pikir baik-baik, aku memang jatuh hati ke Tasha ketika berada di kondisi bawah, di dasar jurang. Apa ini berarti rasa sayangku ke Tasha adalah palsu.
Inanna, seolah bisa membaca pikiranku, melanjutkan ceramahnya.
[Bukan berarti rasa sayangmu atau kami adalah palsu. Anggap saja suspension bridge effect hanya pemantik atau gas di awal. Namun, kalau rasa sayang ini tidak diimbangi dengan kepedulian dan perilaku yang tepat, cepat atau lambat akan hilang. Karena kebetulan Tasha adalah orang baik, maka rasa sayangmu pun relatif stabil atau bahkan bertambah. Dan, itu juga yang terjadi pada kami. Jadi, jangan khawatir, rasa sayang kami padamu bukanlah palsu.]
"..."
Aku menutup wajah. Setelah mendengar ucapan Inanna, yang seperti pengakuan cinta, wajahku menjadi panas, tersipu. Padahal aku sudah berkali-kali mendengarkan mereka mengucapkan hal ini. Namun, entah kenapa, aku merasa kali ini berbeda. Apa karena aku sedang berpisah dari mereka?
Tidak! Tidak mungkin! Belum ada satu hari sejak aku berpisah dari mereka. Pasti ada alasan lain yang membuatku tersipu. Ya, sudahlah. Tidak penting juga alasan aku tersipu. Mereka calon istriku juga.
"Setelah kupikir-pikir, kenapa semua orang yang tampaknya jatuh hati padaku adalah tuan putri dan bangsawan?"
[Ah, tidak juga,] Emir menolak. [Kamu tahu, aku dengar dari Ninlil kalau ada beberapa teman SMAmu, yang bukan bangsawan, juga jatuh hati padamu. Jangankan begitu, bahkan, aku juga bisa melihat kalau Nanna, teman Ninlil, juga memiliki perasaan padamu. Dan, kamu sendiri juga menyadarinya, kan?]
Aku tidak mampu menjawab. Kalau aku pikir-pikir, mungkin ada kejadian seperti itu. Meski banyak kode yang bertebaran, aku memilih untuk mengabaikan itu semua. Dan, karena itu semua hanya kode, aku tidak sepenuhnya yakin mereka memiliki perasaan padaku. Ya, kecuali Illuvia. Dia mengatakannya langsung, jadi aku cukup yakin.
[Gin,] Inanna melanjutkan pembicaraan. [Kamu memang oportunis dalam hal bisnis dan yang lain. Namun, dalam hubungan, aku bisa bilang kamu tipe orang yang defensif, pengecut.]
"..."
Emir menambahkan, [Inanna benar, Gin. Setiap kita melakukannya, kami lah yang harus memaksamu. Dan kamu berharap kami percaya kamu akan bercinta dengan Rina? Hah! Lupakan! Kamu itu pengecut dalam hal percintaan.]
Aku menghela nafas. Kedua calon istriku ini benar-benar sesuatu. Mereka bisa menebak jalan pikiranku walaupun kita hanya berkomunikasi dengan suara.
"Oke, aku akui kalau aku pengecut. Dan, jelas tidak akan sampai bercinta. Tapi, mungkin, aku akan memeluknya, mencoba menenangkannya." Aku terdiam sejenak. "Rina menangis di tidurnya. Dia memanggil-manggil adiknya."
[Ah, pantas,] Inanna merespons lemah.
[Gin, kamu terlalu baik. Kamu sadar itu?]
Tidak! Aku tidak sadar! Orang yang terlalu baik tidak akan membunuh asistennya hanya karena pengkhianatan. Orang baik tidak akan melakukan pembersihan. Dan, kalau aku orang baik, aku tidak akan membunuh Illuvia. Jadi, aku bukan orang baik.
"Hmm?"
__ADS_1
[Ada apa, Gin?]
"Ada tamu tak diundang. Aku akhiri dulu ya telepon kali ini."
[Oke, gin. Hati-hati ya.]
[Aku dan Emir menyayangimu.]
"Iya, aku juga sayang kalian."
Aku segera menutup telepon setelah mengucapkan perpisahan. Aku langsung menuju pintu dan membukanya.
"Ro–"
"Halo, room service, ya?" Aku menyela pelayan dengan berbisik. "Ada minuman untuk kami, kan?"
"Ah, iya. Silakan." Si pelayan ikut berbisik.
Aku menerima botol wine dari pelayan. "Temanku sudah tidur, jadi aku tidak mau membangunkannya. Terima kasih, ya."
"Terima kasih sudah mempercayai kami."
Aku pun menutup pintu dan kembali masuk ke kamar.
"Tidak ada apa-apa kok. Kamu bisa tidur lagi."
"...baiklah"
Rina kembali tidur di dalam selimut. Perempuan ini benar-benar lengah, tanpa pertahanan. Kalau aku mau membunuhnya sekarang juga, akan sangat mudah. Namun, tentu saja, aku tidak akan melakukannya. Aku bukanlah pembunuh berdarah dingin yang akan membunuh siapa saja tanpa pandang bulu.
Aku ke ujung ruangan sejenak, mengambil pistol berbayonet. Dengan botol wine di tangan kiri dan pistol di tangan kanan, aku kembali ke balkon. Tentu saja aku menutup jendela, memastikan keributan yang akan muncul tidak membangunkan Rina.
"Aku tidak mengira jaringan keamanan Agade bisa ditembus semudah ini. Tampaknya aku harus menceramahi mereka. Jadi, siapa kau dan apa yang kau inginkan?"
Aku duduk di kursi yang ada di balkon sambil melihat ke ujung kiri, dekat jendela.
"Ternyata rumornya benar. Kau memang sangat peka terhadap kehadiran orang lain."
Dari sudut yang hampir tertutup oleh bayangan, muncul seseorang. Dia mengenakan pakaian serba hitam dari atas sampai bawah, hanya kedua matanya yang tidak tertutup. Tidak lama kemudian dia duduk di kursi satunya yang kosong. Di antara kami, sebuah meja dengan wine dan dua gelas kosong telah siap.
Bukan aku yang membawa gelas kosong, tapi laki-laki itu.
__ADS_1
Aku menuangkan setengah botol wine ke dua gelas. Setelah itu, sosok ini membelalakkan mata. Normal untuknya melakukan hal ini. Kalau ada penikmat wine melihatku, mereka pasti akan langsung mengumpat dan melempar sumpah serapah. Apa yang aku lakukan? Aku tidak mengambil salah satu gelas, tapi langsung meminum wine dari botol.
"Aku tidak tahu apakah gelas itu bersih atau sudah dilumuri racun. Jadi, tidak, terima kasih. Aku akan langsung minum dari botol."
"Kau terlalu waspada. Aku tidak akan meracuni orang yang menolong kakakku. Dan, aku merasa sayang dengan wine berusia 25 tahun itu."
Sosok di sampingku membuka kain yang membalut kepala dan wajahnya. Dia memiliki rambut perak dengan potongan cepak ala tentara. Mata birunya memantulkan cahaya malam dengan cukup jelas, siap memesona setiap gadis yang ditemui. Dengan senyum elegan, dia mengambil gelas wine, sedikit menggoyangkannya. Setelah puas dengan aroma yang menyerang indra penciuman, dia meminumnya dengan perlahan.
"Melihat fitur wajahmu, aku ingin menyimpulkan kalau kau adalah Tera, adik Rina. Namun, aku juga tidak yakin. Bisa saja kau orang lain yang dioperasi untuk mirip Tera, seperti sebelumnya."
"Aku kira kamu bisa mengenali orang hanya dari hawa keberadaannya?"
Mengenali orang dari hawa keberadaan? Apa dia mendapatkan sebagai informasi atau rumor?
"Kalau aku sudah bertemu sekali atau dua kali dengan orang itu, ya, aku bisa. Namun, kalau belum pernah menemuinya, lupakan saja."
Bersambung
\============================================================
Halo semuanya.
Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.
Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.
Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
__ADS_1