I Am No King

I Am No King
Chapter 344 – Dukungan


__ADS_3

Sehari setelah deklarasi serangan istana, beberapa video menyatakan deklarasi dukungan dari Feodal Lord kepada Rina muncul. Tentu saja tidak satu pun deklarasi dapat diakses melalui internet Kerajaan Nina. Para Feodal Lord yang menyatakan dukungan membuat video lalu meminta pasar gelap untuk menguploadnya ke internet.


Dari mana aku mengetahui kalau para Feodal Lord meminta tolong organisasi pasar gelap? Mudah saja, karena sebagian pasar gelap Kerajaan Nina meminta tolong ke tiga pilar Bana'an. Begitu mencapai tiga pilar, tinggal urusan waktu sebelum video itu menyebar di internet. Bahkan, aku juga mendapatkan info kalau pasar gelap selain Bana'an ikut terlibat.


Dan, dengan bantuan jaringan internet pasar gelap, hari ini diadakan konferensi maya antar Feodal Lord yang mendukung Rina.


"Terima kasih atas dukungannya, Para Feodal Lord. Dengan ini, saya resmi membuka konferensi."


Rina, Lord Susa, Feodal Lord dari Peer dan Ursia, serta Mayor Jenderal Zortac duduk bersampingan menghadap layar raksasa. Ruangan konferensi ini terasa sepi tanpa adanya wartawan dan media massa. Hanya terlihat kru yang bertanggung jawab atas penyiaran dan konferensi yang ada di dalam ruangan ini.


Namun, tentu saja, aku, Emir, dan Inanna juga berada di dalam ruangan ini. Kami bertiga tidak duduk di sebelah atau di belakang Rina, tapi di ujung ruangan. Momen ini adalah momen penting bagi Rina untuk menunjukkan wibawa nya sebagai calon Ratu. Dia harus mampu menggaet suara para Feodal Lord ini.


Tujuan konferensi ini adalah afirmasi, memastikan kalau para Feodal Lord benar-benar akan memberikan dukungan pada Rina. Total ada 9 dari 24 Wilayah Kerajaan Nina yang menyatakan dukungan, termasuk Anshan, Peer, dan Ursia.


[Maaf, Tuan Putri Rina, tapi apa tidak lebih baik kalau Mayor Jenderal Zortac tidak mengikuti konferensi ini? Mengingat ini adalah urusan internal Kerajaan Nina.]


"Sayangnya, saya tidak bisa setuju dengan Anda." Zortac membuka suara. "Pangeran Tera menghubungi kami, militer Bana'an, dan meminta Tuan Lugalgin untuk menjaga Tuan Putri Rina. Dan, saat ini, Tuan Putri Rina adalah istri dari Tuan Lugalgin, Kepala Intelijen Bana'an. Jadi, kami memiliki kewajiban untuk memastikan keamanannya."


[Jadi, kalian mau melakukan intevensi?]


"Tidak, jika Tuan Putri Rina tidak berkenan."


Bagus, Zortac! Kamu mengembalikan wewenang dan pembuatan keputusan ke Rina. Dengan begini, kamu menunjukkan kalau Rina memang telah menjadi sosok yang patut dipercaya dan dapat memimpin militer.


"Ibu-ibu dan bapak-bapak sekalian, saya paham meminta bantuan kepada militer Kerajaan Bana'an seperti menodai nama Kerajaan Nina. Namun, saya meminta para Lord untuk memakluminya, mengingat masing-masing wilayah tidak akan memiliki akses ke logistik setelah ini."


Sebagian Feodal Lord mendecakkan lidah, sebagian lagi mengangguk. Untuk orang-orang yang mendecakkan lidah, aku penasaran sebenarnya apa yang mereka harapkan kalau Bana'an tidak mengintervensi? Mereka mau melawan Kerajaan Nina tanpa logistik? Mereka pasti bercanda.


Atau orang-orang itu yakin pasar gelap masing-masing wilayah sudah cukup? Yang benar saja. Kalian pikir ini Bana'an? Level pasar gelap tempat ini tidak ada apa-apanya. Fakta bahwa sebagian organisasi pasar gelap Kerajaan Rina meminta tolong pada tiga pilar saja sudah menunjukkan kalau masing-masing wilayah tidak bisa bertahan tanpa intervensi.


Ngomong-ngomong, sejak kapan aku menyebut tiga pilar? Aku tidak sadar. Yah, sudahlah. Itu tidak penting.

__ADS_1


[Maaf, Tuan Putri. Namun, sebenarnya, saya tidak benar-benar ingin mendukung Tuan Putri.]


Dan sebuah bom dijatuhkan oleh ibu dengan penuh keriput.


"Bisa tolong dijelaskan, Lord Inshu?"


[Jujur, saat ini, masyarakat Kerajaan Nina terpecah dah resah. Sebagian mendukung Tuan Putri, sebagian mendukung Yang Mulia Paduka Ratu. Kalau Tuan Putri bersikeras, saya khawatir perang saudara akan tumpah di kerajaan ini. Tujuan saya yang sebenarnya adalah meminta Tuan Putri untuk mundur, bicarakan hal ini baik-baik dengan Yang Mulia Paduka Ratu.]


"Maaf, Lord Inshu. Namun, apa itu berarti Anda ingin mengajarkan anak cucu Kerajaan Nina untuk membiarkan anggota keluarga mereka dibunuh demi kelangsungan kerajaan?"


[Aku tidak mengatakan itu!]


"Anda mengatakan hal itu," Rina bersikeras. "Seorang pemimpin adalah idola dan contoh bagi masyarakat. Jika saya membiarkan kematian Tera begitu saja demi keberlangsungan kerajaan Nina, apa yang membuat Anda berpikir masyarakat tidak akan meniru saya? Bahkan, saya khawatir, masyarakat akan membunuh orang yang dibenci dengan alasan, 'demi kerajaan Nina,'. Apa itu yang Anda inginkan?"


Bagian pertama, mengorbankan keluarga demi Kerajaan Nina, adalah berlebihan. Namun, bagian kedua, masyarakat membunuh orang yang dibenci dengan nama Kerajaan Nina, sangat mungkin.


[Anda berlebihan, Tuan Putri Rina. Dan lagi, saya tidak melihat alasan kenapa Yang Mulia Paduka Ratu ingin membunuh Anda dan Pangeran Tera. Jangan-jangan justru Anda yang membunuh Pangeran Tera dan menyalahkan Yang Mulia Paduka Ratu?]


Inanna menepuk tangan keras, membuat konsentrasi semua orang buyar untuk sesaat. Namun, berkat Inanna, aura haus darah dan niat membunuh Rina menghilang.


Di lain pihak, aku harus mengagumi orang-orang ini yang bisa menjaga raut wajah dan ekspresi walaupun baru saja dihadapkan pada aura haus darah dan niat membunuh. Bahkan, mereka tidak menunjukkan perubahan ekspresi wajah ketika Inanna menepuk tangan. Tidak ada ekspresi lega atau terkejut. Hanya napas mereka yang terlihat lebih lama atau lebih cepat. Namun, aku ragu ada orang yang akan menyadarinya.


Karena hanya menepuk tangan sekali, tampaknya, orang-orang di layar tidak menyadari ketegangan di ruangan ini.


Namun, pertanyaan Lord Inshu cukup masuk akal. Dari pandangan orang normal, tidak mungkin seorang ibu akan membunuh anak-anaknya. Terlebih, anak itu adalah penerus kerajaan. Amat sangat tidak mungkin.


Sekarang, apa yang akan kamu katakan, Rina? Sejak awal, aku tidak pernah menyentuh topik ini. Lord Susa mendukung Rina karena kepentingan wilayah. Dia tidak benar-benar mendukung Rina.


Namun, untuk orang nasionalis seperti Lord Inshu, alasan dan motif jauh lebih utama dibandingkan kepentingan wilayah.


Jadi, Rina, apakah kamu akan mengatakan kalau Ibu Amana ingin menggunakan kematianmu dan Tera sebagai alasan untuk menyerang Bana'an? Namun, apa alasan di balik Ibu Amana ingin menyerang Bana'an? Apakah kamu akan mengatakan mengenai Alhold dan inkompeten? Apa yang akan kamu katakan, Rina?

__ADS_1


"Di mata ibu, aku dan Tera hanyalah alat."


Bersambung


 


 


\============================================================


Halo semuanya.


Minggu ini cuma 2 chapter meski sebenarnya jumlah kata bisa mencapai 3 chapter. Bingung soalnya mau potong dimana kalo dipaksa 3 chapter. wkwkwkwk


So\, saat ini\, author dah ga pake FF**UU**CC**KK OFF lagi untuk reply komen promo\, tapi dah pake kearifan lokal pake kata guuooblogg. Dan kliatannya dah ada yang kebakar. wkwkwkwk. Padahal di prolog dah ada larangan\, sepanjang chapter juga ga ngitung berapa kali bikin chapter pengumuman larangan promo. Bahkan (mungkin) sudah ada yang sadar kalau peringatan sudah diletakkan di sinopsis/blurb. Kalau masih promo\, berarti sudah siap menerima reply nya dong. wkwkwkwk.


Seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya digunakan untuk cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.


Sampai jumpa di chapter selanjutnya


 


 


__ADS_1


__ADS_2