
Seiring kemajuan zaman, teknologi mulai maju. Dengan adanya serum pembangkit, semua orang memiliki pengendalian. Oleh karena itu, perkembangan teknologi sangat berputar di sekitar pengendalian.
Karena fokus perkembangan adalah di sekitar pengendalian, Ratu dan calon Ratu Kerajaan Nina tidak bisa menggunakan teknologi yang muncul. Karenanya, istana kerajaan Nina sering melakukan pemesanan khusus pada beberapa perusahaan untuk mengembangkan alat tanpa pengendalian. Alasan publik karena pengendalian para pelayan istana bervariasi. Jadi, akan sulit mengakomodasi semua orang. Dari sini lah konsep barang antik mulai berkembang dan menyebar.
Ketika mendengar Ibu Amana mengatakan tidak bisa menggunakan teknologi, aku jadi ingat saat dulu memegang televisi atau handphone. Alat-alat yang bergantung pada mesin rotasi mini pasti langsung mati ketika aku pegang. Ini lah alasan lain ayah dan ibu menggunakan barang-barang antik di rumah. Karena teknologi akan hancur di tanganku.
Kalau ingin menggunakan teknologi, barang itu harus dilapisi karet atau apapun yang terbuat dari zat organik. Aku beruntung zaman sekarang casing dan layar handphone mengandung zat organik, jadi tidak langsung mati kalau aku pegang. Kalau masih seperti dulu yang full logam, aku pasti tidak bisa menggunakan teknologi.
Oke, kembali ke cerita kerajaan Kish dan kerajaan Rina. Mendengar cerita Ibu Amana, aku menyadari bahwa putra dan putri Zababa yang memiliki pengendalian bukanlah kehendak alam, tapi campur tangan dari keluarga utama. Jadi, kepercayaan mengenai inkompeten menuntun umat manusia hanyalah omong kosong keluarga kerajaan Kish. Aku yakin keluarga utama menyebarkan keyakinan ini agar putra putri mereka tidak dipaksa menjadi Raja.
"Ira. Karena kamu masih ada di ruangan ini, aku beranggapan kalau kamu juga tahu hal ini?"
"Benar, Tuan Lugalgin, saya mengetahui hal ini. Nenek moyang saya adalah anak pelayan yang pengendaliannya dibangkitkan oleh Ratu Kuba. Sejak saat itu, kami diangkat sebagai pelayan istana dan terus berlanjut sampai sekarang."
Apakah mungkin Ratu Kuba merasa bersalah pada nenek moyang Ira jadi dia menceritakannya? Ah, tidak mungkin. Ratu Kuba menceritakan semua itu hanya karena rasa bersalah terlalu kecil. Pasti ada alasan lain yang menguntungkan bagi Ratu Kuba. Namun, aku tidak akan mencari informasi lebih jauh soal itu. Saat ini, aku memiliki ketertarikan pada hal lain.
"Jujur, cerita itu sangat menarik, Ibu Amana. Namun, apa yang membuatmu menceritakan hal ini padaku?"
"Gin, kamu pura-pura bodoh atau memang bodoh?"
"Anggap saja aku memang bodoh."
Ibu Amana menatapku semakin tajam. Tampaknya, dia semakin marah dengan sikapku yang acuh tak acuh.
"Keinginan keluarga utama untuk tidak menjadi Raja membunuh jutaan orang. Bahkan mungkin puluhan juta mengingat informasi saat itu sulit. Keinginan mereka untuk lengser membuat orang lain, keluargaku, menjadi sengsara. Kalau kamu menjalankan rencanamu itu, ada kemungkinan orang lain menjadi korban juga. Kamu harus menerima takdirmu sebagai Raja, Gin!"
Aku tersenyum. "Takdir sebagai Raja? Jutaan orang tewas? Apa aku terlihat peduli?"
"Apa?"
"Sudah kubilang, aku bukan Raja. Aku tidak akan serakah. Aku hanya akan mengutamakan diriku, keluarga, dan orang yang aku kenal."
__ADS_1
"Kamu–"
"Ibu Amana, dari sini aku memperkirakan kalau Tera tewas di depanku adalah bagian dari rencanamu, kan? Kamu melakukannya agar Rina menjadi istriku. Dengan demikian, di masa depan, kamu berharap Bana'an dan Nina akan menyatu di bawah naungan kami, kan? Namun, sayang sekali, lebih baik aku membunuh 10 juta orang daripada harus membunuh orang yang penting bagiku, Ibu Amana."
"...."
"Kalau menggunakan ucapan Inanna, kamu sendiri tidak layak menjadi pemimpin, Ibu Amana. Kamu mengutamakan nyawa orang tidak dikenal daripada anakmu. Kamu tidak cukup serakah."
Ibu Amana terdiam. Saat ini, dia pasti merasa kita sudah tidak bisa mencapai kata sepakat.
"Oke, rasanya sudah terlalu lama aku di sini. Aku harus kembali ke istri-istriku."
"...."
Tidak ada respon dari semua orang di ruangan ini. Mereka hanya terdiam.
"Kalian tidak akan mencegahku?"
"Oh, informasi bapak sangat akurat ya."
Sesuai ucapan Bapak Bilad, tidak ada orang yang mampu mencegahku kabur. Dengan aura haus darah dan niat membunuh, aku bisa kabur dengan mudah dari mana saja. Namun, tentu saja, teknik ini bukanlah hal yang bisa digunakan kapan saja. Aura haus darah dan niat membunuh memancar ke segala arah, tidak peduli kawan atau lawan. Oleh karena itu aku tidak pernah memancarkannya ketika bertarung dalam tim. Namun, kalau di tengah musuh? Sudah jelas jawabannya.
"Jadi, Bapak Bilad juga sadar kan kalau saat ini juga aku bisa menghancurkan istana ini dan membawa kalian ke Rina?"
"Ya, aku sadar. Tapi, kamu tidak akan melakukannya, kan?"
Bapak Bilad memandangku tajam. Dia tidak mengancam. Justru sebaliknya, yang kudapat dari pandangannya adalah rasa kepercayaan, seolah dia sudah mengenalku luar dalam. Bapak Bilad seolah percaya kalau aku tidak akan menyerang istana dan membawa Ibu Amana ke Rina. Dan, kali ini, kepercayaannya diletakkan pada orang yang benar.
"Sebagai balas budi karena sudah merawatku berapa hari terakhir, dan juga makan malam lezat tadi, aku tidak akan menyerang. Rina lah yang akan menyerang. Jadi, sampai–"
Aku mengangkat kursi, mengelak pisau yang melayang ke arahku.
__ADS_1
"Ira, apa yang kamu lakukan?"
"Maaf, Tuan Bilad. Namun, saya tidak bisa membiarkan orang yang telah menghina Yang Mulia Paduka Ratu pergi begitu saja tanpa bersujud dan meminta maaf."
"Hah! Tidak akan!"
Bersambung
\============================================================
Halo semuanya.
Seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya digunakan untuk cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Lalu, di chapter ini, author iseng bikin Meme mengenai cerita I am No King XD
Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
__ADS_1