I Am No King

I Am No King
Chapter 310 – Sumpah Kesetiaan


__ADS_3

"Selanjutnya?"


Satu tubuh terjatuh, lagi. Dengan ini, aku sudah membunuh 37 orang, tersisa 6 orang.


Jujur, awalnya, aku mengira para regal knight akan mengeroyok, menyerang bersamaan. Namun, ternyata tidak. Mereka benar-benar memegang teguh kode etik kesatria, melakukan pertarungan satu lawan satu.


Awalnya, aku tertawa kencang, menganggap mereka semua bodoh. Sayangnya, meski beberapa orang tewas tapi mereka tetap teguh memegang kode etik kesatria, aku berhenti tertawa. Kalau menjadi seorang kesatria, aku akan menerima keteguhan mereka dan melawan sepenuh hati, menghormati lawan.


Namun, sayangnya, aku bukan kesatria. Saat ini, di dalam hati, aku hanya bisa mengelus dada, kasihan pada lawan-lawanku ini. Bahkan, walaupun aku sudah mengatakan keluarga mereka akan dibersihkan kalau masih bersikeras, para regal knight masih bersikeras melawan.


"Giliranku."


Satu orang maju, seorang wanita paruh baya. Di punggungnya terdapat 8 assault rifle melayang, bagaikan sayap. Di tangan, dia menggenggam sepasang pistol dengan bayonet.


"Perkenalkan, namaku adalah Melinda Pristina. Adalah sebuah kehormatan bagi saya untuk dapat menghadapi regal knight terkuat, Lugalgin Alhold."


Perempuan ini berbeda. Dia, Melinda, adalah orang pertama yang mengenalkan diri dan menyebut namaku secara tulus, tidak ada dendam atau merendahkan. Melinda benar-benar menghormatiku dari lubuk hatinya. Bahkan, dia membungkukkan badan.


"Bu Melinda, apakah anda tidak ada niatan untuk mengundurkan diri? Bukan hanya Anda yang terancam, nyawa putra dan putri Anda pun terancam."


"Jangan khawatir. Aku sudah memutus hubungan dengan keluarga. Kedua putra putriku pun sudah berada di bawah perawatan dan pengawasan teman dekatku."


"... kau sadar kan kalau aku kepala intelijen? Aku bisa saja mengklaim kalau kamu tidak pernah melakukannya dan tetap membersihkan mereka."


"Kamu tidak akan melakukan itu, Lugalgin. Aku bisa melihat kalau kamu adalah orang yang baik. Kamu tidak akan melakukan hal ini tanpa alasan yang jelas."


"Kalau begitu–"


"Tapi, ini dan itu adalah urusan berbeda." Melinda menyela. "Walaupun aku tahu kalau keluarga kerajaan ini sudah busuk. Walaupun aku tahu kalau kamu mampu memimpin Bana'an ke arah yang lebih baik. Aku tetap memiliki kewajiban untuk menentangmu hingga akhir. Kenapa? Karena aku adalah kesatria kerajaan. Aku telah disumpah untuk terus melindungi kerajaan dan keluarga kerajaan. Tidak peduli apa pun alasanmu, kita memang ditakdirkan untuk bertikai."


Bu Melinda telah berhenti menjadi Regal knight beberapa tahun lalu dan menjadi polisi. Dan, entah kenapa, Rahayu memanggilnya malam ini.


Jujur, hatiku hancur ketika dipaksa membunuh orang sejujur dan sebaik Bu Melinda. Sungguh disayangkan kalau aku harus membunuhnya.


"Bu Melinda, kalau Rahayu mengubah–"


"Tidak! Aku tidak akan mengubah keputusanku." Bu Melinda kembali memotong. "Aku bisa memperkirakan langkah yang akan kamu ambil. Dan, aku tegaskan sekali lagi. Aku tidak akan mengubah keputusanku."


"...Baiklah kalau begitu." Aku menghela nafas. "Perkenalkan, namaku adalah Lugalgin Alhold, mantan regal knight Tuan Putri Emir. Sekarang, aku adalah kepala Intelijen Bana'an, calon suami Emir, Inanna, dan Rina."


Tanpa aba-aba, kami berdua melompat ke depan. Delapan assault rifle di belakang Bu Melinda menjauh, melepaskan tembakan dari berbagai arah.


Aku tidak berhenti, justru mempercepat lari. Dengan berlari semakin cepat, aku hanya perlu menggunakan peti arsenal untuk menghalau peluru dari depan. Dengan tombak tiga mata di tangan kanan, aku mencoba menusuk Bu Melinda. Namun, dia mengelak seranganku dengan bayonet pistol. Tombak tiga mata tidak menghilangkan pengendalian Bu Melinda karena dia mengenakan sarung tangan.

__ADS_1


Tembakan lain datang. Namun, aku masih bisa menggunakan peti arsenal di tangan kiri untuk berlindung.


Walaupun di ambang kematian, Bu Melinda masih memegang teguh kode etik kesatria. Dia tidak pernah melepas tembakan dari belakangku.


Namun, sayangnya, aku bukan kesatria. Aku melepas peti arsenal dan berputar ke kiri, menerjang Bu Melinda dari belakang. Tombak tiga mata siap menusuk lawan .. atau tidak.


Bu Melinda terkejut dan berusaha mengelak seranganku. Namun, dia termakan tipuan. Tombak tiga mata tidak menyerang Bu Melinda, tapi menebas semua assault rifle yang melayang di sekitar. Semua assault rifle yang tidak bisa dikendalikan pun terjatuh ke lantai.


"Penghilang pengendalian?"


Aku mengabaikan Bu Melinda yang terkejut dan melempar tombak tiga mata, menembus dadanya.


"Si–"


Aku membuka peti arsenal dengan cepat dan mengambil pedang. Tanpa membiarkan Bu Melinda tersiksa lebih lama, aku langsung memenggalnya. Samar-samar, aku melihat sebuah senyuman dari kepala Bu Melinda yang menggelundung.


"****! BRENGSEK!" Aku berteriak dan menendang lantai, meluapkan kekesalan.


Sungguh sangat disayangkan orang sebaik Bu Melinda memberi sumpah dan kesetiaan pada Rahayu. Tidak peduli sebaik apapun kamu, kalau atasanmu sampah, masa depanmu pun akan suram.


"LIMA ORANG SISANYA, KEROYOK SAJA AKU!"


Meski aku berteriak, mereka tidak maju bersamaan. Regal knight yang tersisa masih maju satu per satu. Dan, seperti sebelumnya, aku mengalahkan mereka dengan mudah.


Aku memasukkan senjata yang berserakan kembali ke peti arsenal dan meninggalkan ruang aula.


"Gin!"


"Tunggu!"


Aku tidak menunggu Zage dan Ufia, tetap berjalan ke kamar Rahayu. Semakin lama, kekesalanku semakin memuncak. Malam ini bukanlah pertama kalinya aku terpaksa membunuh seseorang dengan kualitas tinggi gara-gara atasannya sampah. Ketika terjadi, perasanku selalu bercampur aduk antara marah, sedih, dan kecewa. Dan, aku tidak pernah menyukai perasaan ini.


"RAHAYU!"


Aku menendang pintu, mendobraknya. Namun, sebuah pemandangan yang tidak kuduga justru tersaji.


"Ah, Gin, akhirnya kamu datang juga."


Yang menjawabku, tidak lain dan tidak bukan, adalah Emir. Dia berdiri di samping kasur dengan sebuah lilin di tangan.


Di atas kasur, terlihat sosok wanita paruh baya dengan rambut merah muda lembut, Rahayu. Namun, matanya tidak selembut rambutnya. Kedua bola Rahayu membelalak seolah akan keluar. Kedua tangan dan kakinya diikat ke ujung kasur. Tidak terlihat sehelai kain menutupi tubuhnya.


"NNGGG!!!!"

__ADS_1


Rahayu berusaha untuk berteriak ketika lilin menetes di perut. Namun, sebuah kain di mulut menghalanginya.


Melihat pemandangan ini, entah kenapa, emosiku yang sebelumnya meluap-luap langsung hilang, seolah tidak pernah marah.


"Ah ... Emir? Kamu sendirian?"


"Iya, aku sendiri. Malam ini aku memberikan jadwal piket ke Inanna karena ingin menghukum ibu."


Emir memandangku tajam. Pandangannya fokus, tidak santai seperti biasanya. Saat ini, Emir berada pada mode bertarung. Namun, ini bukan mode bertarung yang biasanya, tapi mode bertarung yang berbeda. Pada mode ini, sisi liar Emir muncul


Namun, apa yang membuat mode bertarung ini muncul? Dia tidak sedang bertarung.


"Gin, menurutmu, tubuh siapa yang lebih baik? Tubuhku atau tubuh ibu?"


"Kamu! Tentu saja kamu!"


Aku refleks menjawab, tidak pikir panjang. Entah kenapa, baru saja, mode bertarung Emir sempat diarahkan ke sini. Aku bisa merasakan aura haus darah dan niat membunuhnya yang begitu pekat. Bahkan, aura haus darah dan niat membunuh yang dipancarkan Emir membuat bulu kudukku merinding.


Bersambung


 


 


\============================================================


Halo semuanya.


Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.


Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.


Sampai jumpa di chapter selanjutnya


 


__ADS_1


__ADS_2