
~Ninmar POV~
"Hah? Kenapa sepi sekali? Dimana semua orang?"
Tanpa memberi jawaban atau respon, aku langsung maju menyerang.
Klang
"Akhirnya ada seseorang."
Insting perempuan ini bukan main. Padahal aku sudah bergerak tanpa suara, tapi dia masih bisa menangkis seranganku.
Aku menarik pedang kecil di tangan kiri dan mengayunkan pedang besar tangan kanan. Karla merendahkan tubuh, menggunakan lehernya sebagai tumpuan, dan mengayunkan kapak besarnya untuk menghalau seranganku.
Aku tidak berhenti. Aku kembali melancarkan serangan dari pedang kecil dan besar bertubi-tubi. Namun, pergerakan Karla begitu cepat dan lihai. Dia bisa menggunakan dan mengayunkan kapak besar itu dengan mudah. Bahkan, dia bisa mengayunkannya dengan cepat seolah memegang dua kapak.
Akhirnya Karla menyerang. Dia mengayunkan kapaknya secara vertikal.
Aku pun terpaksa salto dan meloncat ke belakang.
"Hei, apa pedang itu diberi oleh Sarru? Setiap bersentuhan dengan pedang itu, aku tidak mampu merasakan kapak ini lagi. Dan, setahuku, hanya Sarru yang memiliki senjata seperti itu."
Ya, dia tidak salah. Pedang yang kupegang ini dibuat dari besi yang diberi oleh Lugalgin. Dan, pedang ini, adalah penghilang pengendalian. Untuk bisa menggunakannya tanpa kehilangan pengendalian, pegangan pedang ini diberi lapisan kayu, karet, dan kain. Selain itu, aku juga mengenakan sarung tangan untuk berjaga-jaga kalau terpaksa memegang bilahnya.
Di lain pihak, sesuai dugaan, Karla bukanlah orang yang terlalu bergantung pada pengendalian untuk penggunaan senjata. Dia bisa mengayunkan kapak itu dengan mudah meski berkali-kali tidak bisa dikendalikan. Aku penasaran dari mana dia bisa mendapatkan tenaga sebesar itu di tangan kecilnya.
Tentu saja aku tidak mengatakan semua itu secara terang-terangan. Semua itu hanya ada di pikiranku.
Tanpa memberi aba-aba atau mengucapkan sepatah kata pun, aku membuat boneka besi setinggi 2 meter di ujung lantai melepaskan tembakan. Boneka itu kuberi nama Koma karena bentuknya yang mirip seperti beruang. Sebenarnya, bukan bentuknya seperti beruang, tapi karena kotak senjata ada di bagian perut dan sekitar tangan, jadinya mirip.
Namun, seperti sebelumnya, Karla mampu mengetahui ketika serangan datang. Dia menggunakan kapak besarnya sebagai perlindungan.
Aku tidak berdiam diri begitu saja. Aku berkonsentrasi dan berkonsentrasi, membayangkan molekul di udara terpisah.
"Wow, ruangan ini menjadi lebih dingin."
Karla mengatakan hal itu dengan sangat enteng.
Aku mengabaikan ucapan Karla dan menembakkan beberapa anak panah es dari udara ke arahnya. Peluru dari boneka Koma di sisi kanannya, dan anak panah es dari kirinya. Dia tidak akan mungkin bisa bertahan. Namun, hal yang tidak kuduga terjadi.
Karla mengangkat tangan kiri. Seketika itu juga, muncul dinding yang melindungi Karla, menahan dan memecahkan panah es yang kuluncurkan.
__ADS_1
Aku melihat baik-baik dinding yang muncul. Dinding itu terbentuk dari logam di atap dan di lantai. Apa ini berarti....
"Informasi yang beredar menyatakan pengendalian utamaku adalah besi. Namun, yang sebenarnya, Pengendalian utamaku adalah Aluminium. Bahkan, Leto tidak mengetahui hal ini. Dan, tidak seorang pun hidup untuk menceritakannya. Selain itu, sangat tidak kuduga, gedung ini dipenuhi dengan aluminium. Jadi, kau sungguh sial karena saat ini aku seperti sedang berada di kandang."
Ah, begitu ya. Kalau pimpinan Apollo saja tidak tahu, apalagi orang luar. Dan, kalau ucapannya adalah benar, aku cukup sial. Rumah sakit ini, hampir seluruh logam baik dinding, atap, lantai, atau apa pun, terbuat dari aluminium. Hal ini dikarenakan pemilik rumah sakit ini adalah Pak Barun, dan beliau memiliki pengendalian utama aluminium.
"Hei, sebelum melanjutkan pertarungan ini, bagaimana kalau kau menjawab pertanyaanku."
Sebenarnya, aku malas meladeninya. Namun, kalau bisa mendapat informasi lain, meski sedikit, aku tidak keberatan.
"Apa?"
"Kemana orang-orang di rumah sakit ini? Aku dengar, hanya dua gedung yang dievakuasi, sisanya tidak."
Sesuai dugaan Yuan, informasi mengenai dua gedung yang dievakuasi pasti bocor. Namun, untungnya, mereka juga sudah mengantisipasinya.
Dan, tampaknya, bukan aku yang akan mendapat informasi. Yang ada, aku yang akan memberi informasi.
"Yah, informasi yang beredar memang demikian. Evakuasi dilakukan pada dua gedung demi dua gedung. Namun, waktu dan rute evakuasi dibuat sedemikian rupa agar orang yang terlibat hanya tahu kalau hanya dua gedung yang dievakuasi."
"Hoo..... jadi, orang-orang di luar bertarung berpikir gedung-gedung ini memiliki pasien, padahal sebenarnya sudah dievakuasi?"
"Begitulah."
"Termasuk kau, berapa banyak orang yang mengetahui hal ini?"
"Hanya tujuh? Tampaknya, bahkan, kalian tidak mempercayai sekutu sendiri, ya?"
Sebenarnya, bukan tidak percaya, hanya mencegah kebocoran yang tidak disengaja. Yang aku maksud dengan kebocoran tidak disengaja adalah jika ada pasien atau orang asing yang dievakuasi bertanya dan anggota terpaksa memberi penjelasan. Jadi, seperti ini lah hasilnya.
"Jadi, apa ini berarti, Sarru atau Lugalgin itu tidak ada di gedung ini?"
"Mungkin ya. Mungkin tidak."
"Kalau begitu, kau tidak memiliki fungsi. Segera mati sana!"
Karla mengayunkan tangan kiri lagi, mencoba mengendalikan aluminium lain. Namun, tidak ada yang terjadi. Yang terdengar hanya suara peluru berhadapan dengan kapak Karla.
"Eh? Apa yang terjadi? Kenapa....berat sekali?"
"Ketika pengendalian mencoba mengubah bentuk, ada momen dimana material tersebut menjadi tidak stabil. Ketika hal itu terjadi, ikatan kimia baru bisa terbentuk jika benda lain dilemparkan. Lalu, bagaimana jika benda yang dimaksud sudah ada di udara?"
"Kau....."
"Kau bilang bangunan ini adalah kandangmu karena banyak mengandung aluminium? Ha...ha... lucu sekali. Kalau aku mengatakannya dengan bahasamu, maka, seluruh dunia ini adalah kandangku, bukan kandang orang lain."
__ADS_1
Di saat itu, Karla terkejut pada tangan dan kakinya yang mulai membeku. Dia pun menarik kapaknya dan menghindar. Sejak pertama bertarung, mungkin ini adalah pertama kalinya dia menghindar.
"Ratu Es dari Agade ya....."
Karena aku mengenakan topeng badut, dia tidak tahu sosokku.
[Ratu es? Apa kamu mendengar itu Ninmar? Oh, tentu saja kamu mendengarnya. Kamu di depannya! Hahahahaha.]
Di headset, aku mendengar Ibla yang tertawa terbahak-bahak. Bukan hanya Ibla, aku juga mendengar suara Mulisu dan yang lain tertawa.
Ratu Es, julukan itu menempel sejak aku mulai menggunakan pemurnian nitrogen di udara untuk membuat es dan menurunkan suhu. Selama ini, aku hanya mendengarnya dari informasi orang kedua atau orang ketiga. Aku tidak pernah mendengarnya secara langsung seperti sekarang. Dan, aku sama sekali tidak menduga kalau aku akan semalu ini.
Julukan itu seolah-olah aku perempuan berdarah dingin!
AAAHHHH!!!!! Aku ingin membenturkan kepala. Maafkan aku Lugalgin karena telah membuatmu malu!
Oke, kembali ke pertarungan. Diluar dugaan, Ucapanku tidak membuat Karla mundur atau terkejut sekali pun. Yang terjadi justru sebaliknya. Dia justru menjilat bibirnya, seolah menikmati makanan yang ada di depannya.
"Ah, jadi kau adalah tipe yang suka dengan adrenalin ya," aku menggumam pelan
"Apa kau mengatakan sesuatu?"
"MATI!"
Bersambung
\============================================================
Halo semuanya.
Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.
Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.
Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
__ADS_1