I Am No King

I Am No King
Chapter 62 – Keuntungan


__ADS_3

~Lacuna POV~


 


Atau tidak?


 


Sebuah ledakan muncul di dekat Pirang. Tampaknya, salah seorang penjaga meluncurkan roket, menghantam perisai Pirang.


 


Aku menggerak-gerakkan senapan, mencari sosok Pirang yang terlempar. Ah, ketemu. Dia beruntung karena terjatuh di semak-semak.


 


Ayolah, pirang! Keluarga Ibrahim bahkan belum menggunakan peluru penghilang kemampuan itu. Masa kamu sudah hampir mati? Apa kamu selemah itu, Pirang?


 


Pirang mengarahkan tangannya ke perisai besar yang tadi dia gunakan. Tampaknya, dia berusaha mengendalikan perisai itu. Namun, perisai itu tidak kunjung bergerak, hanya diam di tempat.


 


Oke, aku tarik ucapanku. Tampaknya peluru penghilang pengendalian telah digunakan. Kemungkinan, peluru itu bersarang di perisai besar milik Pirang. Jadi, mungkin, di dalam roket yang ditembakkan, terpasang fragmen-fragmen kecil peluru penghilang kekuatan. Dengan demikian, saat roket tersebut menghantam perisai, sebagian kecil dari fragmen tersebut menempel di perisai, membuatnya tidak bisa dikendalikan.


 


Selain itu, ada kemungkinan kedua. Kemungkinan kedua adalah ada fragmen peluru penghilang kekuatan yang menempel atau menancap di tubuh Pirang. Karena fragmen itu pecah oleh roket yang menghantam perisai, ada kemungkinan fragmennya berukuran kecil, seperti pecahan kaca atau batu kecil. Jika yang terjadi adalah kemungkinan kedua, bisa jadi, saat ini, kekuatan pengendalian Pirang sudah menghilang.


 


Aku mengarahkan teleskop ke sisi penembak. Orang yang melepaskan roket bukanlah seorang mercenary, tapi anggota keluarga Ibrahim bernama Ivic. Dia memiliki bekas luka yang besar di lehernya.


 


Kalau ada anggota keluarga Ibrahim yang sekompeten itu, kenapa mereka masih menyewa mercenary? Ya, aku tidak peduli juga sih.


 


Pirang berlari ke samping, melompat dan tiarap, mencoba berlindung di balik dinding rendah serendah lutut. Jika ingin kabur tanpa melompati dinding tinggi, dia harus berlari beberapa ratus meter ke pintu utama.


 


Merah memberi komentar, "oke, tampaknya ini adalah akhir dari hidup Pirang."


 


Aku setuju dengan Merah. Selain satu orang yang tadi melepaskan tembakan, ada dua orang lain mencoba mendekat. Pirang tidak melihat sosok yang mendekat dari balik dinding. Hanya tinggal menunggu waktu hingga dua orang itu berdiri di atas dinding rendah itu.


 


Aku tidak melihat pisau-pisau yang dibawa oleh Pirang melayang lagi. Tampaknya memang benar ada fragmen dari roket yang menempel di tubuhnya.


 


Di saat itu, aku melihat Pirang mengeluarkan sebuah handphone.


 


"Hah? Jangan bilang–"


 


Belum sempat aku mengeluarkan respon, smartphone di saku jaketku sudah berbunyi. Aku mengambil smartphone dan melihat nomor Pirang tertera. Aku bilang nomor, bukan nama, karena aku tidak menyimpan nomor teleponnya, tapi mengingatnya.


 


"Ya? Halo?" Aku mengangkat telepon.


 


[Selamatkan aku. Tumbangkan semua yang menyerangku agar aku bisa mendapatkan kesempatan untuk kabur.]


 


Aku terdiam sejenak.


 


"Berapa?"


 


[Hah?]


 


"Kamu mau membayarku berapa?"


 


[Ayolah, tidak bisakah kita membicarakan ini nanti?]

__ADS_1


 


"Tidak, terima kasih. Aku ingin semuanya jelas di awal."


 


Dari teleskop, aku melihat dinding pendek tempat Pirang berlindung sedang dihujani oleh peluru. Walaupun dua orang yang perlahan mendekat tidak sampai, cepat atau lambat, dinding yang melindunginya akan habis.


 


[....Sepuluh juta En!]


 


"Maaf. Senang berbicara dengan an–"


 


[Tunggu! Tunggu! Berapa yang kamu mau?]


 


"Seratus juta En."


 


[Hah? Kamu mau merampokku? Kalau aku memberi uang sebanyak itu, aku tidak bisa hidup bulan depan.]


 


"Kalau kamu tidak setuju dengan angka itu, kamu tidak akan hidup lima menit ke depan."


 


[. . .]


 


Aku tidak kunjung mendengar jawaban. Tampaknya dia masih bimbang. Namun, sebuah ledakan dari roket lain membuatnya yakin.


 


[Lima puluh juta En!]


 


"Seratus Juta."


 


 


"Baik, baik. Sembilan puluh."


 


Tanpa memutus telepon, aku melihat Pirang menatap ke layar smartphone. Dalam sekejap, aku sudah mendapatkan pemberitahuan kalau aku mendapatkan transfer uang sebesar sembilang puluh juta En.


 


Sebagai perbandingan, pekerja normal di kota ini menghasilkan sebanyak lima ratus ribu En per bulan, dan uang itu sudah bisa digunakan untuk hidup selama dua bulan.


 


"Senang berbisnis dengan Anda."


 


Cklak.


 


Belum sempat aku menjalankan bisnis, sebuah pistol sudah menempel di kening kiriku.


 


Aku menjauhkan smartphone dari mulut. "Bisa tolong jelaskan apa maksudmu?"


 


"Sudah jelas kan? Kalau aku membunuhmu, maka si perempuan Pirang itu juga tidak akan selamat. Kalau kalian berdua tewas, aku tidak perlu terburu-buru dalam membersihkan keluarga Ibrahim."


 


"Oh, begitu."


 


Tanpa mengeluarkan peringatan atau apapun, aku mengendalikan benang perak yang ada di sebelah kiri. Dalam waktu singkat, tangan dan tubuh Merah sudah terpotong-potong. Karena aku asal menyerang, potongan tubuh si Merah pun tidak beraturan, termasuk magnum sniper rifle Wing-C yang dia miliki. Aku segera berdiri dan menjauh dari kubangan darah yang muncul.


 


Sebelum Merah datang, aku sudah mengubur benang perak di sekitar sini. Kelebihan dari menggunakan benang adalah, jika disebar, orang tidak akan bisa merasakan keberadaan perak karena terlalu samar.

__ADS_1


 


[Hoi! Belum juga?]


 


"Sabar...."


 


Aku tiarap dan melepaskan tembakan pertama. Sebuah peluru pun melesat ke laki-laki yang tadi melepaskan roket. Kepala laki-laki itu langsung terlepas dari tubuh. Tidak berhenti sampai di situ, tubuhnya pun ikut terpelanting.


 


Magnum Sniper Rifle Lupus didesain untuk mampu menembus baja. Jika peluru ini bersarang di tubuh manusia, organ tempatnya bersarang akan langsung copot dengan tambahan tubuhnya juga terpelanting.


 


Normalnya, orang berpikir kalau sebuah senapan mampu menembus baja, maka tidak ada apapun yang dapat ditembus. Namun, sayangnya, asumsi ini salah. Kaca anti peluru masih tidak dapat ditembus oleh senapan ini. Hal ini disebabkan karena sifat kaca anti peluru yang berbeda. Berbeda dengan baja yang menerima peluru begitu saja, kaca anti peluru menyebarkan energi dari peluru ke semua tempat, membuat tenaga peluru berkurang drastis.


 


Oke, lanjut ke target selanjutnya. Aku melepaskan beberapa tembakan lain. Dan, sama seperti sebelumnya, bagian badan yang terkena peluru terlepas diikuti dengan tubuh yang terpelanting.


 


Aku berbicara ke telepon. "Pergi ke selatan, ke gerbang. Aku akan membersihkan semua orang di jalurmu."


 


[OK!}


 


Sementara Pirang berlari, aku melepaskan tembakan berkali-kali. Begitu peluru habis, aku langsung mengganti magasin dan melanjutkan tembakan. Aku tidak hanya menembak orang-orang di jalur yang akan dilalui Pirang, tapi juga orang-orang yang terlihat mengarahkan senjata ke arah pirang.


 


Tidak lama kemudian, akhirnya pirang pun sudah menghilang dari pandangan. Begitu dia sudah menghilang dari pandangan, aku membereskan senapan dan semua senjata lalu berjalan menjauh. Di perjalanan, aku beberapa kali melewati lubang.


 


Lubang-lubang itu terbuka lebar, menganga, menunjukkan orang-orang yang tewas di dasar. Lubang-lubang ini adalah perangkap yang kubuat. Di bagian dasar, aku memasang beberapa tombak. Jadi, ketika ada orang berjalan di atas lubang, yang kututupi dengan rumput, mereka akan terjatuh dan tertusuk oleh tombak-tombak ini.


 


Mari pulang! Hari ini, aku sudah mendapatkan uang yang cukup banyak.


 


Bersambung


 


 


\============================================================


 


 


Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.


 


Untuk post note belum ditulis karena masih di tengah aksi. Tidak banyak yang bisa dijelaskan dari chapter ini.


 


Dan, seperti biasa, author ingin melakukan endorse. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


 


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


 


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


 


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.


 


Sampai jumpa di chapter selanjutnya


 


 


__ADS_1


__ADS_2