I Am No King

I Am No King
Chapter 258 – Maila


__ADS_3

Aku melihat ke samping. Wajah Illuvia sudah merah seperti kepiting rebus. Jika merahnya wajah Emir karena malu dan terangsang, merahnya Illuvia lebih karena kemarahan.


Sial! Aku harus segera menghentikan mulut perempuan ini!


Perempuan ini, tuan putri Inanna, benar-benar memiliki bakat dalam provokasi dan membuat lawan emosi. Kalau emosi, gerakan seseorang menjadi lebih sederhana.


Aku menarik tombak di punggung dan menerjang. Inanna melepaskan tangan dari dada Emir dan dadanya. Dia tidak menarik pedang, tapi menggunakan assault rifle untuk menghantam bagian samping tombak dan membelokkan jalurnya, mengelak seranganku.


Namun, aku tidak berhenti. Dengan bagian belakang tombak, aku melepaskan serangan lain dari bawah. Inanna melompat ke belakang, menghindar. Tidak akan kubiarkan dia pergi begitu saja. Aku harus memisahkan perempuan ini dari Emir dan Illuvia. Aku melompat dan mengejarnya.


"Illuvia! Biar aku yang urus perempuan bermulut sampah ini! Kamu urus Emir!"


"Memisahkanku dari perempuan tepos itu? Ide yang bagus. Baiklah! Aku akan melayanimu!"


Meski tampak melompat mundur, dari nadanya yang tenang, tampaknya Inanna memang berencana memisahkanku dari Illuvia. Apa yang ingin dia capai dari memisahkan kami? Tidak ada gunanya memikirkan hal itu di tengah pertarungan. Dan aku tidak perlu tahu!


Inanna terus mundur, menuntunku hingga keluar ruangan dan tiba ke taman. Sambil mundur, Inanna tak henti-hentinya menangkis seranganku. Kalau orang melihat, saat ini seolah aku sedang mendesak Inanna. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Aku lah yang terdesak oleh Inanna.


Aku menggunakan tombak, senjata dengan panjang hampir dua meter, sedangkan lawan menggunakan assault rifle yang panjangnya hanya 1 meter sebagai senjata pukul. Dalam pertarungan di ruang terbuka, seharusnya pengguna tombak dengan senjata lebih panjang yang mengatur jalannya pertarungan. Namun, hal ini tidak terjadi. Inanna mampu mengarahkan dan mengatur seranganku. Dia lah yang mengatur jalannya pertarungan.


"Eits...."


Tiba-tiba Inanna tidak berusaha menahan seranganku lagi. Dia menodongkan assault rifle tepat ke wajahku.


Aku menancapkan tombak ke tanah, memaksa tubuh ini berhenti, dan meloncat. Beruntung, gerakanku lebih cepat dari jari Inanna menarik pelatuk. Tembakan Inanna meleset.


Aku tidak mau melakukan kesalahan lagi. Aku memutar assault rifle yang menggantung di bahuku dan melepas tembakan. Inanna berlari ke samping, menghindar.


Taman ini hanya terdiri beberapa jalur pejalan kaki dan pohon setinggi paha. Tidak ada tempat untuk bersembunyi atau berlindung. Dan, itu juga berlaku untukku. Inanna melepas tembakan sambil berlari, memaksaku bergerak juga.


Kami berdua berlari sambil melepaskan tembakan. Namun, tidak ada satu pun peluru yang mendarat di tubuh kami.


Cklek cklek


Peluru kami habis. Tanpa mengatakan apapun, kami berdua membuang assault rifle dan maju.


Aku memegang pedang di kiri dan pistol di kanan. Inanna melakukan hal yang sama. Aku menodong pistol ke wajah Inanna, tapi dia menebaskan pedang untuk memotong tanganku. Tebasan Inanna memaksaku melipat siku, membatalkan tembakan. Di waktu singkat itu, Inanna menodongkan pistolnya ke wajahku. Namun aku melakukan hal yang sama, menebaskan pedang. Inanna pun terpaksa melakukan gerakan yang sama denganku.

__ADS_1


Kami berdua terus berusaha melepaskan tembakan dari pistol, tapi serangan lawan membuatnya tidak mungkin. Selama beberapa puluh detik, yang mampu kami lakukan hanyalah menodongkan, menghindar, dan mengelak serangan lawan.


Aku bisa merasa nafasku yang mulai pendek dan berat. Keringat pun mulai membasahi bajuku. Terkadang, aku bisa melihat tetesan keringat di mataku.


Di lain pihak, Inanna masih tersenyum lebar. Nafasnya masih normal, sama sekali tidak tersengal-sengal. Tidak hanya itu. Bahkan, aku tidak melihat keringat mengalir dari wajahnya.


"Apa? Apa kau penasaran kenapa aku tidak berkeringat?"


Dia bisa membaca pikiranku di tengah pertarungan ini? Kau pasti bercanda, kan?


"Ya, kalau hanya setingkat ini, kau tidak akan melihatku berkeringat. Namun, walaupun berkeringat, kau tidak akan bisa melihatnya. Maksudku, topeng silika tidak memiliki pori-pori untuk mengeluarkan keringat, kan?"


Topeng silika? Tapi aku tidak melihat ada perubahan di wajahnya. Wajahnya sama seperti biasa.


"Ugh...."


Tiba-tiba saja sebuah tendangan mendarat di perutku, melemparku hingga beberapa langkah.


"Akh..."


Sial! Apa dia benar-benar perempuan? Tidak! Bukan hanya perempuan. Apa dia manusia? Tendangannya sakit sekali! Kalau jaket ini bukan jaket anti peluru dan aku menerima tendangannya tanpa peredam, mungkin organku sudah hancur.


"Ah, pertarungan ini membosankan. Karena kau teman Lugalgin dan rekan si Ukin itu, aku kira akan mendapat perlawanan yang lebih baik. Kalau hanya seperti ini, aku bosan."


Perempuan ini. Dia benar-benar meremehkanku. Bahkan, dia berbalik dariku. Bodoh! Peraturan pertama, jangan pernah memalingkan wajahmu dari lawan.


Tanpa membuat suara, aku menodongkan pistol dan melepas tembakan.


Tidak mungkin! Perempuan ini bukan manusia! Dia bisa menangkis peluru dengan pedang? Tidak mungkin!


Gerakannya terlalu cepat! Bahkan, tanpa aku sadari, dia sudah memasukkan pistolnya kembali ke holster dan kini memegang dua pedang.


"Apa kau lupa kalau pengendalian utamaku adalah timah? Berkat perempuan berdada datar itu, aku memang tidak bisa mengendalikan timah lagi. Namun, sayangnya, penghilang pengendaliannya inferior jika dibandingkan Lugalgin. Aku masih bisa merasakan keberadaan timah dan memperkirakan arah peluru. Jadi, menangkis atau menebas peluru timah adalah hal yang mudah."


Tidak! Walaupun bisa merasakan dan memperkirakan arah peluru, tidak berarti kau bisa mempertemukan pedang yang selebar beberapa sentimeter dengan kecepatan peluru. Itu masih tidak mungkin! Bahkan, menurut Ukin, Lugalgin juga tidak bisa melakukannya. Yang bisa dilakukan Lugalgin selalu berlindung di balik peti senjatanya.


Inanna berjalan. Senyum di wajahnya sudah menghilang. Sekarang kedua alisnya begitu tegang. Pandangannya menjadi tajam.

__ADS_1


"Aku sudah melakukan kesalahan beberapa minggu lalu. Kalau saja saat itu aku sudah bisa menangkis peluru, tidak sekadar menahannya di udara, luka di setengah wajahku ini tidak akan pernah ada. Namun, yang membuatku sedih bukanlah luka ini. Yang membuatku sakit adalah ekspresi Emir setiap kali melihat wajahku. Setiap melihat wajahku, dia akan langsung kaku dan meminta maaf. Apa kau tahu betapa hancurnya hatiku melihat Emir yang tersakiti seperti itu, hah?


"Tidak hanya itu! Kalau saat itu aku tidak terluka, Lugalgin tidak akan terburu-buru. Dia tidak perlu menggunakan serum pembangkit yang membuatnya harus dibius. Kalau seandainya aku tidak terluka, Mari tidak akan tewas. Lugalgin tidak akan mengalami kesedihan itu. Ya, seandainya saja aku tidak terluka...."


Tiba-tiba saja, perempuan ini mengatakan sesuatu yang tidak jelas.


"Kau pikir selama masa gencatan senjata ini aku hanya diam? Tidak! Aku meminta latihan pada ibu. Dan berkat latihan itu, aku sudah bisa menghalau dan menangkis peluru walaupun yang ditembakkan bukanlah peluru timah. Aku tidak mau, dan tidak akan, mengulangi kesalahan yang sama."


Suara langkah kaki semakin mendekat. Inanna, secara perlahan, mendekat.


Apa aku akan mati?


"Sebenarnya, aku ingin segera membunuhmu, tapi Lugalgin meminta agar kami tidak membunuhmu, Maila. Namun, dia tidak mengatakan apapun soal tidak melukaimu."


Bersambung


 


 


\============================================================


Halo semuanya.


Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.


Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.


Sampai jumpa di chapter selanjutnya


__ADS_1


__ADS_2