
~Lacuna POV~
Setelah gagal, dan kuselamatkan, Pirang datang ke apartemenku. Pirang bilang dia tidak bisa mengendalikan apapun dan menduga ada serpihan senjata penghilang pengendalian yang mungkin menempel di tubuhnya.
Aku sudah menduga hal itu dan setuju untuk memeriksa tubuhnya. Setelah kuperiksa baik-baik seluruh sudut tubuh Pirang, dugaan kami benar, memang ada serpihan logam yang menancap di kulitnya. Serpihan ini cukup kecil, kalau tidak teliti, aku tidak akan pernah bisa menemukannya.
Seperti ketika Mila menyentuh cincin itu, pengendalianku juga menghilang ketika menyentuh fragmen tersebut. Aku memasukkan semua fragmen yang kutemukan ke dalam sebuah tabung plastik kecil.
Setelah selesai, aku pun sedikit memberi pengobatan pada Pirang. Meski aku bilang pengobatan, aku hanya membersihkan luka dengan alkohol dan membalutnya dengan perban. Ya, daripada tidak sama sekali? Normalnya, aku akan meminta bayaran. Namun, karena kami baru saja melakukan transaksi, aku memberinya sedikit bonus.
Sekarang, sementara dia tengkurap di sofa, aku duduk di atas karpet. Kami berdua menonton televisi.
"Ngomong-ngomong, Merah sudah tewas," aku membawa sebuah topik ringan.
"Hah? Tewas? Jangan bilang..."
"Ya, aku yang membunuhnya," aku menjawab. "Sebelum kamu berprasangka, dia sendiri yang datang dan menodongkan pistol padaku. Jadi, perlu dicatat kalau bukan aku yang mencarinya."
"Kalaupun kamu yang mencarinya juga tidak masalah, kan?"
"Iya juga sih,"
Kami berdua tidak membicarakan kematian Merah lebih panjang dan lanjut menonton televisi. Setelah beberapa saat berlalu, Pirang memulai pembicaraan lain.
"Hei, Putih, apa kamu tidak penasaran kenapa aku tergesa-gesa?"
"Karena kamu ada masalah pribadi dengan keluarga Ibrahim. Iya, kan?"
"Apa kamu mau mendengarnya?"
"Tidak, terima kasih," Aku menolak Pirang dengan cepat.
"Kau tidak perlu membayarku dengan kisahmu atau apa pun."
__ADS_1
"Kalau gratis, oke, aku tidak masalah mendengarnya. Kalau diberi, kenapa aku harus menolak."
"Terima kasih."
Dan Pirang pun menceritakan masa lalunya. Sebuah kisah yang generik kalau aku bilang. Orang tuanya meminjam uang dari rentenir yang berasal dari keluarga Ibrahim, tidak bisa mengembalikan, ekonomi keluarga semakin buruk hingga akhirnya kedua orang tuanya tewas karena kelelahan.
Setelah itu, dengan dalih hutang orang tuanya, keluarga Ibrahim memaksa Pirang menjadi PSK. Suatu ketika, salah seorang klien Pirang, seorang mercenary, jatuh hati padanya. Sebuah kebodohan dilakukan laki-laki itu. Dia membawa Pirang kabur. Dan, seperti perempuan muda pada umumnya, dulu, Pirang masih naif.
Tentu saja keluarga Ibrahim tidak terima dengan perlakuan itu. Yang membuat keluarga Ibrahim marah bukanlah fakta satu PSK dibawa kabur, tapi lebih kepada fakta ada mercenary yang berani macam-macam dengan mereka. Dan, seperti biasa, mereka berdua pun diburu oleh pihak yang bersangkutan.
Suatu ketika, laki-laki tersebut membius Pirang dan membuatnya melewati operasi plastik. Saat Pirang sadar, laki-laki yang bersamanya telah tewas di tangan keluarga Ibrahim. Karena keluarga Ibrahim tidak mampu menemukan Pirang, mereka mengabaikannya. Bagi keluarga Ibrahim, tewasnya pria itu sudah cukup untuk memberi peringatan bagi mercenary lain untuk tidak macam-macam.
Dendam pun tertanam di dalam hati Pirang. Dia mulai mengambil pekerjaan sebagai mercenary kecil-kecilan, untuk mengumpulkan pengalaman dan modal, untuk membalas dendam. Suatu hari, makelar yang dia gunakan memberi pekerjaan ini. Meski sebenarnya belum cukup pengalaman dan kemampuan, Pirang langsung mengambil pekerjaan ini.
"Apa menurutmu aku bodoh?"
"Ya, kamu bodoh," aku mengatakan yang sejujurnya. "Kejadian yang kamu bukanlah kejadian yang langka. Banyak orang juga mengalaminya. Kalau aku bilang, kamu justru termasuk pada orang yang beruntung karena, tampaknya, keluarga Ibrahim tidak berniat mencarimu lebih lanjut, hanya berhenti pada pacarmu itu. Sayangnya, kamu seolah menyia-nyiakan hidup baru yang diberi oleh pacarmu. Kalau tadi kamu tewas, kematianmu pun akan sia-sia."
Pirang tidak meneruskan ucapannya dan membenamkan kepala ke bantal.
Aku juga cukup paham dengan perasaannya. Dendam bukanlah sesuatu yang bisa dilupakan atau dikubur begitu saja. Aku juga mengalami perasaan yang sama ketika salah satu muridku di masa lalu dibunuh oleh mafia.
Meskipun aku tahu kalau kejadian itu adalah normal dan sering terjadi, tetap saja aku dendam. Mereka berani menyerang muridku, yang bahkan belum satu minggu berlatih di bawahku, dan membunuhnya.
Mereka seolah-olah mengatakan padaku "kalau kamu tidak mau berakhir seperti ini, turuti kami". Sayangnya, mereka berurusan dengan orang yang salah. Aku membersihkan organisasi mereka keesokan harinya.
Organisasi itu hanyalah organisasi naik daun yang tidak tahu apa-apa. Mereka memang sengaja melakukannya agar aku menyerang, berharap bisa membunuhku dengan jumlah. Mereka juga berharap aku menjadi lemah karena terpengaruh emosi.
Namun, masa laluku tidak penting. Sekarang, aku harus mengurus perempuan muda ini.
"Lalu, kapan kamu akan menyerang mereka lagi?"
__ADS_1
"Entahlah," Pirang merespon lemas. "Karena tadi kehilangan pengendalian, semua senjata terpaksa aku tinggal di sana. Dan, sebagian besar uangku pun sudah kamu rampok. Aku bahkan tidak tahu apakah bisa melanjutkan pekerjaan ini atau tidak. Menurutmu, apa yang harus kulakukan?"
"Terserah," aku menjawab enteng. "Tapi, sebelum itu, aku ingin mengatakan sesuatu. Mau dengar?"
"Kalau gratis, aku mau."
"Haha, ini gratis kok. Anggap bonus untuk transaksi hari ini." Aku mulai memberi saran, "menurutku, kemungkinan besar, makelarmu tahu kalau kamu memiliki dendam terhadap keluarga Ibrahim. Dan dia pasti tahu kamu belum siap untuk pekerjaan sebesar ini. Tapi, meski tahu kamu belum siap, dia masih memberi pekerjaan ini padamu. Kemungkinan, dia berpikir kalau kamu tidak memiliki potensi untuk mengambil pekerjaan besar di masa depan.
"Daripada menjual informasi pekerjaan kecil-kecilan ke kamu, yang honor informasinya juga kecil, lebih baik dia langsung menjual informasi pekerjaan besar dan membiarkan kamu tewas. Dengan begitu, dia bisa fokus mencari informasi pekerjaan dengan honor yang lebih besar lain untuk mercenary lain."
"Ah, begitu ya," Pirang merespon, masih lemas.
Bersambung
\============================================================
Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.
Untuk post note belum ditulis karena masih di tengah aksi. Tidak banyak yang bisa dijelaskan dari chapter ini.
Dan, seperti biasa, author ingin melakukan endorse. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.
Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
__ADS_1