I Am No King

I Am No King
Chapter 244 – Skenario Terburuk?


__ADS_3

"Jadi, ada pertanyaan?"


"...."


Tidak terdengar respons sama sekali. Semua orang terdiam seribu bahasa. Bahkan, aku bisa mendengar suara jam dinding berdetik yang normalnya tidak terhiraukan.


Saat ini, aku sedang berada di ruang utama rumah. Dengan anggaran intelijen, dan sedikit uang pribadi, aku sudah memperbaiki rumah dan juga bangunan di sekitar. Sejak serangan Apollo beberapa minggu lalu, area perumahan ini semakin kosong, semakin banyak warga yang pindah. Namun, berkat hal itu, aku bisa memasang lebih banyak pengaman di sekitar rumah. Jadi, kalau ada orang tidak dikenal berada pada jarak 2 kilometer dari rumah, aku akan tahu.


Di ruangan ini, selain aku, ada Emir, Inanna, Yuan, Mulisu, Ibla, Ninmar, Umma, Simurrum, dan Uru'a. Dari anggota elite Agade yang masih aktif dan hidup, hanya Elam dan Ur yang tidak hadir karena menjaga Suen dan adiknya. Kami duduk melingkar seperti sesi terapi kelompok. Emir dan Inanna duduk di sebelahku tentu saja.


Penjelasan yang baru saja kuberi di ruangan ini adalah mengenai kemampuan penghilang pengendalian yang kumiliki. Tentu saja, aku menjelaskan kalau kekuatanku hanya aktif kalau bersentuhan langsung dengan lawan, berbasis kontak langsung. Kekuatan Rina dan Etana, yang kebetulan sama-sama berbasis penglihatan, juga masuk ke penjelasan. Selain itu, aku juga memberi informasi kalau darah kami juga memiliki efek yang sama ketika menempel pada sesuatu.


Meski tampak begitu penting, sebenarnya, informasi ini hanyalah pengantar untuk penjelasan selanjutnya, yang adalah rencana perang dengan Mariander, Nina, dan juga penyelesaian perang internal pasar gelap kerajaan.


"Hah...." aku menghela nafas. Tampaknya, aku harus memancing pertanyaan.


"Ah, Gin,"


Yuan mengangkat tangan.


"Ya?"


Akhirnya ada respons. Untung aku tidak harus memancing.


"Apa ini berarti cairan ungu yang kau beri padaku secara rutin, untuk diuji coba pada keluarga Alhold yang ditawan, adalah darahmu?"


"Yap! Tepat sekali! Cairan ungu itu adalah darahku yang dicampur dengan pewarna biru."


"Uah...."


Begitu mendengar konfirmasiku, Yuan langsung membuka mulut dan wajahnya secara berantakan, seolah merasa jijik dengan fakta itu.


Hei! Darahku bukan kotoran! Kamu tidak perlu merasa jijik.


"Gin," Mulisu melanjutkan. "Apa ini berarti, semua senjata yang kamu buat memiliki darahmu di dalamnya?"


"Tidak semua. Ada beberapa senjata yang tidak. Ya, walaupun tidak, aku bisa mengoleskan darahku dengan mudah, sih."


"Bagaimana dengan benda-benda di rumah ini?"


"Tidak. Benda-benda di rumah ini tidak memiliki darahku di dalamnya. Emir dan Inanna juga hidup di sini. Aku tidak bisa memaksa mereka untuk hidup tanpa pengendalian, kan?"


"Ah, iya juga."

__ADS_1


"Um, Gin." Ninmar mengangkat tangan dengan gesit dan penuh semangat. "Apa pedang yang kamu beri padaku juga mengandung darahmu?"


"Ya, benar."


Begitu aku mengatakannya, entah kenapa, sebuah senyum terkembang di wajah Ninmar. Dan lagi, seharusnya, tanpa menanyakan hal itu Ninmar sudah bisa menarik kesimpulan dari penjelasanku atau pertanyaan Mulisu. Mungkin, dia hanya ingin mencari konfirmasi, ketenangan jiwa. Meski aku tidak yakin bagaimana konfirmasi dariku bisa membuatnya tersenyum.


"Jadi, ada pertanyaan lain? Sebelum aku memberi pemaparan mengenai rencana kita ke depannya? Ya, meskipun aku bilang kita, rencana ini adalah rencanaku sih. Kalau kalian merasa ada yang kurang atau tidak sempurna, tolong dikoreksi."


"Jadi, kemampuanmu hanya pengantar?" Ibla bertanya.


"Ya, benar."


"Kalau begitu, biarkan kami mendengar penjelasan yang selanjutnya."


Tidak ada yang protes. Mereka semua mengangguk, memberi persetujuan pada saran Ibla.


Aku menurut dan mulai memberi penjelasan mengenai rencana ke depan.


Aku tidak akan masuk ke peperangan antar kerajaan sejak awal. Yang akan masuk dan berperan ke peperangan adalah Ibla, Simurrum, dan Uru'a. Tentu saja, aku meminta mereka untuk mulai memilih anggota Agade yang akan turut serta dalam peperangan.


Sementara aktif, aku akan meminta Ibla dan yang lain menjadi penyalur utama senjata penghilang pengendalian untuk mengimbangi Nina yang kemungkinan menggunakan senjata yang sama. Dengan hal ini, jasa mereka akan lebih dianggap.


Aku hanya menyarankan Ibla dan yang lain mengambil maksimal seperlima dari anggota Agade yang aktif. Sisanya masih harus menghalau Orion dan Quetzal. Namun, sebagai gantinya, aku akan memberi mereka wewenang untuk memberdayakan hingga seperempat anggota intelijen kerajaan yang masih aktif, baik yang murni intelijen maupun berasal dari Akadia.


Sementara itu, sisanya yang tidak ikut maju ke medan perang antar kerajaan, akan berusaha mengakhiri perang pasar gelap secepat mungkin. Setelah perang pasar gelap selesai, baru kami akan turut serta dalam perang antar kerajaan. Semakin cepat perang pasar gelap berakhir, semakin baik juga posisi kerajaan ini.


"Gin, izin," Yuan menyela. "Rumor mengenai kamu memiliki senjata penghilang pengendalian sudah menyebar sejak lama. Dan mungkin, saat ini, Rina sedang berusaha sekuat tenaga untuk memperkuat rumor itu. Jadi, rasanya, walaupun melalui Ibla dan yang lain, usaha untuk menyembunyikan namamu akan sia-sia."


Yuan melanjutkan. "Selain itu, ada kemungkinan Rina menyebarkan rumor baru, yaitu kamu lah pemasok senjata penghilang pengendalian ke militer yang sebenarnya, bukan Ibla. Kalau hal ini terjadi, kamu akan melakukan apa yang diinginkan oleh kerajaan Nina. Kamu akan memiliki modal yang amat sangat cukup untuk menjadi Raja Bana'an.


"Bahkan, bukan tidak mungkin permaisuri Rahayu tiba-tiba mengambilmu sebagai suami untuk menjadi Raja Bana'an. Dan, kalau Mariander kalah, Permaisuri Rahayu pun bisa membujuk agar kamu menikahi Duta Besar Filial, mengambil suara rakyat Mariander. Begitu perang ini selesai, tiga Kerajaan yang adalah Bana'an, Mariander, dan Nina, sudah di bawah kendalimu, Gin."


"...."


Sebuah kesunyian muncul. Namun, aku tahu benar kalau sunyi ini bukanlah hal yang bagus, melainkan sunyi sebelum badai.


"Yuan!"


"Aku lupa ada kemungkinan itu!"


Inanna dan Emir adalah orang yang pertama kali merespon. Wajah mereka memerah, entah karena malu atau marah.


Di lain pihak, yang lain hanya membuka mulut membentuk O atau memukulkan kepalan ke telapak tangan, menyetujui kemungkinan itu.

__ADS_1


Tiba-tiba saja, Emir dan Inanna memandangku tajam. Aku hanya bisa mengalihkan pandangan.


"Gin, kamu sudah menyadari kemungkinan ini sebelumnya, kan?"


"Apa ini berarti kamu tidak keberatan kalau harus menikahi ibu kami?"


Sial! Yuan, kenapa kamu harus mengatakan hal ini?


"Ah, harusnya aku tidak mengatakan hal ini. Maaf, ya."


Samar-samar, aku mendengar Yuan yang meminta maaf dengan suara pelan.


Percuma kamu meminta maaf sekarang!


Aku bisa memahami kekhawatiran Emir dan Inanna dengan baik. Karena sudah meniduri Lacuna, yang jauh lebih tua, mereka pasti berpikir aku memiliki preferensi perempuan yang lebih tua. Ya, aku tidak memungkirinya. Buktinya, Inanna dan Emir sama-sama lebih tua dariku, kan?


Di lain pihak, aku terkejut dengan kemungkinan Rahayu memaksaku menikahi Selir Filial. Aku menyadari kemungkinan Rahayu menjadikanku suaminya, tapi kemungkinan yang ini sama sekali di luar dugaanku. Dan, seperti ucapan Yuan, skenario ini bisa membuat tiga kerajaan berada di bawah kuasaku.


Tapi, itu urusan lain!


Bersambung


 


 


\============================================================


Halo semuanya.


Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.


Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.


Sampai jumpa di chapter selanjutnya


__ADS_1


__ADS_2