
Kastel Silant, bangunan utama di lingkungan istana Kerajaan Nina. Meski disebut kastel, bangunan ini tidak lagi dibuat dari batu. Setelah proses pembangunan ulang, Kastel Silant tersusun atas rangka baja, batu-bata, dan jendela. Namun, dibandingkan bangunan besar pada umumnya, bangunan ini tentu saja termasuk tua. Di zaman sekarang, bangunan dengan dinding batu-bata sudah sangat langka.
Kastel Silant merupakan pusat pemerintahan Kerajaan Nina. Bangunan ini digunakan sebagai tempat pertemuan, pengurusan administrasi kerajaan, bahkan tempat tinggal anggota keluarga kerajaan. Dan, Kastel Silant juga lah yang kini menjadi pertahanan terakhir Kerajaan Nina.
"Gin! Kamu ngelamun?"
"Ya, sedikit."
Inanna cukup mengejutkanku. Tidak aku duga dia bisa tahu kalau aku sempat melamun. Yah mau bagaimana lagi. Malam sudah tiba dan banyak lampu yang tidak berfungsi, membuat bangunan ini menjadi remang-remang. Suasananya sangat mendukung untuk tidur atau melamun, kalau bukan karena suara peluru dan ledakan. Di lain pihak, aku terkejut masih ada lampu yang berfungsi. Aku kira orang istana atau militer akan memutus listrik bangunan ini. Namun, tampaknya tidak.
Sejak memasuki kastel Silant, bau hangus dan anyir sudah menusuk hidung. Ledakan, mesiu, darah, dan tubuh tak bernyawa menjadi sumber bau yang bisa membuat orang normal muntah. Kalau Rina melepas maskernya, aku berani bertaruh dia juga akan muntah. Mungkin.
Ira memang sudah menyampaikan informasi mengenai serangan militer Kerajaan Nina. Namun, aku tidak mengira jumlahnya sebanyak ini. Jenazah dapat ditemukan hampir di setiap sudut bangunan. Bahkan, tidak jarang hanya ada kepala, tangan, atau organ tubuh lain yang sudah tidak berbentuk. Padahal setelah gerbang istana roboh, hanya kami bertiga yang masuk. Namun, bangunan ini seolah sudah menerima serangan masif.
Ah, koreksi. Bangunan ini memang sudah menjadi target serangan, oleh militer kerajaannya sendiri.
Selama menyusuri lorong dan melewati semua anggota tubuh yang berserakan, pandangan Rina lurus ke depan. Dia tampak tidak memedulikan keadaan sekitarnya. Apakah Rina sudah dibutakan oleh dendam sampai tidak memedulikan kondisi istana? Atau memang bangunan ini tidak menyimpan kenangan indah baginya? Entahlah. Aku belum cukup mengenal Rina.
Namun, sejak masuk, aku tidak mendapati tubuh yang mengenakan pakaian khas pelayan istana. Semua tubuh, baik utuh atau yang tercecer, mengenakan atribut atau seragam militer. Mungkin Ira dan Ibla telah mengevakuasi para pelayan istana.
Setelah melewati gerbang istana, aku dan Rina memberi Emir dan Inanna assault rifle. Aku memegang sepasang pistol sedangkan Rina siap dengan senapan penembak jitu. Tentu saja, semua senjata kami telah terpasang bayonet.
Beberapa kali kami terpaksa berhenti, membunuh militer Kerajaan Nina yang menyerang. Kalau militer Kerajaan Nina berusaha membunuh kami, besar kemungkinan petinggi yang bertanggung jawab tidak ingin menjadi Feodal Lord. Petinggi militer yang bertanggung jawab atas semua ini pasti ingin menjadi Kepala Kerajaan Nina, kudeta. Dengan kata lain, ada kudeta lain sedang berjalan.
"Berhenti!"
Aku berteriak dan merangkak, menempel tembok. Inanna berada di belakangku sementara Emir dan Rina di dinding seberang. Sebenarnya tanpa perlu aba-aba ketiga istriku pasti berhenti. Namun, tidak ada salahnya jaga-jaga.
Setelah kami berhenti, ledakan muncul di depan, membuat dinding berlubang. Kalau tidak berhenti, kami pasti terhempas. Dari dalam lubang, muncul beberapa tentara. Sambil berjalan mundur, mereka melepas tembakan ke balik dinding. Karena terlalu fokus dengan serangan, tidak satu pun tentara menyadari keberadaan kami.
Dengan sigap, kami berempat membuat peluru bersarang ke tentara di depan.
"Musuh di luar!"
Suara lain muncul dari dalam, memberi peringatan. Namun, tidak lama, beberapa aura keberadaan di balik dinding menghilang. Setelah tentara di depan kami tewas, tidak lagi terdengar suara tembakan. Meski demikian, masih ada aura keberadaan beberapa orang di balik dinding. Karena tidak mengenal satu pun aura keberadaannya, aku tidak menunjukkan diri.
__ADS_1
"Tuan Lugalgin?"
Sebuah suara asing memanggil. Suaranya tampak tenang, tidak bergetar, seolah kondisi ini bukanlah hal yang aneh.
"Gin, semua pelayan istana menjalani latihan militer. Jadi, normal bagi mereka untuk bisa menangani serangan tentara."
Seperti biasa, entah bagaimana, Rina membaca pikiranku.
"Semua ... semua?"
"Iya! Semua semua!"
Aku dan Rina mengulang ucapan dua kali, meminta kepastian. Aku memang mendapatkan info kalau pelayan istana Kerajaan Nina mendapat latihan militer. Namun, aku tidak menduga kalau semua orang mendapatnya. Kalau semua orang mendapat latihan militer, apa gunanya aku mengirim orang untuk melindungi pelayan dan Ratu Amana? Berasa sia-sia semua usahaku.
Oke. Kembali ke pelayan.
"Benar, aku Lugalgin Alhold, suami Rina Silant."
"Apakah Tuan Putri Rina bersama Anda, Tuan Lugalgin?"
Kenapa pelayan ini memanggilku duluan, bukan Rina? Apakah Ira memberi instruksi khusus pada mereka.
"Tuan Putri Rina, silakan pergi ke ruang Audiensi. Yang Mulia Paduka Ratu sudah menanti Tuan Putri Rina."
"Hah? Ibu menantiku?"
Rina tampak terkejut ketika mendengar informasi dari balik dinding. Tentu saja Emir juga terkejut. Untuk Inanna, aku tidak yakin. Dia di belakang, jadi aku tidak bisa melihatnya.
"Apa kalian mau menjebakku?"
Bersambung
__ADS_1
\============================================================
Halo semuanya.
So\, saat ini\, author dah ga pake FF**UU**CC**KK OFF lagi untuk reply komen promo\, tapi dah pake kearifan lokal pake kata guuooblogg. Dan kliatannya dah ada yang kebakar. wkwkwkwk. Padahal di prolog dah ada larangan\, sepanjang chapter juga ga ngitung berapa kali bikin chapter pengumuman larangan promo. Bahkan (mungkin) sudah ada yang sadar kalau peringatan sudah diletakkan di sinopsis/blurb. Kalau masih promo\, berarti sudah siap menerima reply nya dong. wkwkwkwk.
Seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya digunakan untuk cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.
Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
__ADS_1