I Am No King

I Am No King
Chapter 270 – Selamat Malam


__ADS_3

~Emir POV~


 


Aku tidak jadi menusuk Illuvia. Aku langsung melompat ke samping, menghindari tembakan peluru dari belakang Illuvia. Saat ini, terlihat beberapa senjata api sudah melayang di atas tubuh Illuvia. Dia sudah tidak menggunakan penghilang pengendalian lagi.


Sial!


Aku melompat ke pintu keluar, berusaha lari sejauh mungkin. Karena Illuvia sudah tidak menggunakan pengendalian, aku bisa mengendalikan silikon yang terpasang di jaket dan celanaku, membuatku mampu melayang dan menghindar dengan cepat. Namun, tiba-tiba aku tidak bisa mengendalikan silikon di pakaianku lagi, membuatku terjatuh dan terguling.


Sial! Lugalgin Alhold, kenapa sih kamu harus mengajarkan teknik penghilang pengendalian ke perempuan gila ini?


Aku tidak menghentikan tubuh yang berguling. Aku terus dan terus berguling, mencoba mencapai pintu. Namun, tepat sebelum mencapai pintu, aku berhenti, mencegah tubuhku tertimpa peti arsenal palsu milik Illuvia. Gara-gara ini, rute kaburku pun tertutup.


"Dasar perempuan tak tahu diri. Aku sudah berbaik hati akan membiarkanmu menjadi istri kedua Lugalgin di sana. Tapi ini balasanmu?"


Aku melihat ke lantai. Terlihat tetesan darah di sekitar kaki Illuvia. Tetesan darah itu tidak berasal dari luka Illuvia ketika menerjang pecahan lampu dan jendela. Tetesan darah itu muncul dari kakinya, yang terhubung ke organ reproduksi Illuvia. Dengan kata lain, seranganku telah mengakibatkan sebuah pendarahan parah.


Dengan wajah merah mendidih dan penuh luka, dia menodongkan sebuah pistol ke kepalaku.


"Selamat tinggal."


dor


 


***


 


Tembakan pertama mendarat tepat di tangan kanan Illuvia, membuatnya pistolnya terlepas. Tidak berhenti, aku kembali melepas tembakan ke lengan kiri Illuvia. Dua peluru yang melesat sudah dioles dengan darahku. Jadi, dengan begini, Illuvia tidak akan bisa menggunakan pengendalian. Dia sudah tidak bisa menggunakan garpu tala, yang membuat obyek di sekitar tidak bisa dikendalikan. Selain itu, Illuvia juga tidak akan bisa mengendalikan semua senjata yang ada di belakangnya.


"Lugal....gin...."


Illuvia tidak roboh atau berlutut setelah menerima tembakanku. Dia masih berdiri, tegak, melihat ke arahku.


Aku tidak memasukkan pistol dengan bayonet ini kembali ke kotak arsenal. Aku masih menggenggamnya erat.


Dalam perjalanan, aku terhenti pada satu jalan karena ada gedung yang roboh. Kukira aku harus memutar, tapi, ternyata, sudah ada agen schneider yang bersiap di tempat itu dengan sebuah papan. Agen itu dikirim oleh Yuan untuk mengantarku. Dan, berkat keputusan Yuan, aku bisa mencapai tempat ini lebih cepat. Begitu menurunkanku di taman, agen schneider itu kembali ke tempat Yuan, ke markas lapangan militer dan intelijen.


Saat datang, pandangan Inanna berpapasan denganku. Namun, dia tampak tidak memiliki masalah. Inanna langsung mendongak ke arah bangunan utama resor, memberi isyarat agar aku segera masuk.

__ADS_1


Ketika akan masuk, aku melihat Emir yang berguling. Namun, tiba-tiba saja muncul sebuah peti hitam di pintu. Aku langsung lari ke samping kanan sambil mengambil satu pistol dengan bayonet. Melalui jendela, aku melepas dua tembakan, menghentikan Illuvia.


Aku membuka jendela dan masuk.


Apa? Akan lebih keren kalau aku lompat dan memecahkan jendela? Hell No! Tidak terima kasih! Aku tidak mau menambah luka untuk hal yang sepele.


"Emir, kamu tidak usah bergerak."


"Lugal....gin....?"


Illuvia, dengan tangan terjatuh lemas, berjalan ke arahku. Matanya menatap dalam ke mataku. Dia tidak lagi memedulikan keberadaan Emir. Semakin mendekat, semakin terlihat jelas kalau yang ada di pandangan Illuvia hanya aku seorang.


Aku tidak bergerak. Aku hanya berdiri, terdiam, menanti Illuvia yang mendekat. Akhirnya, aku merasakan tubuh Illuvia yang menempel di badanku.


Illuvia, ketika tiba di depanku, merobohkan badan, membuat badanku menjadi sandaran. Dia tidak melihat ke arahku, kepalanya terbenam di dadaku.


Di lain pihak, aku merasa ancaman utama bukan berasal dari Illuvia, tapi dari sumber lain.


"Lugalgin.....kenapa?"


Kenapa apa ini? Kenapa aku menolaknya? Kenapa aku memilih Emir? Atau kenapa yang lain? Ya, aku tidak terlalu peduli kenapa yang mana.


"Karena kamu bangsawan."


"Selama dua tahun lebih, aku sudah mengatakan kalau aku tidak akan menerima perasaanmu karena kamu adalah bangsawan, kan? Namun, kamu mengabaikan ucapanku dan lebih memilih untuk menjadikanku bangsawan. Di lain pihak, Emir berani melakukan hal yang tidak kamu lakukan. Emir meninggalkan keluarganya, keluarga kerajaan. Dia meninggalkan status tuan putri demi aku."


"Jadi, ini salahku sendiri ya."


Secara sederhana, ya ini salahmu sendiri, Illuvia. Namun, kalau aku bilang, justru keputusan Illuvia adalah yang rasional. Dia adalah anak tunggal dari keluarga bangsawan. Tidak mungkin kan dia meninggalkan keluarganya demi seorang inkompeten tanpa masa depan sepertiku. Ya, setidaknya itulah kenampakan dari luar ketika kami masih SMA.


Kalau seandainya Illuvia mengetahui identitas dan diriku yang sebenarnya sejak awal, dia pasti tidak akan ragu meninggalkan keluarganya. Pada bagian ini, tidak bisa dipungkiri, aku memiliki kesalahan karena menyembunyikannya.


Kalau seandainya Illuvia tidak bertemu denganku di masa SMA, tapi setelah aku memenangkan battle royale, atau setelah aku menggagalkan serangan True One di Mariander, dia pasti akan memilih untuk meninggalkan status bangsawan dan mengikutiku.


Pada dasarnya, pertemuanku dengan Illuvia terlalu cepat. Dia bertemu sebelum aku memiliki reputasi. Berbeda dengan Emir dan Inanna. Pada kasus Emir, dia memang sudah memiliki perasaan padaku sejak lama dan juga beberapa kali mencoba menjadikanku bangsawan. Meskipun ada niat terselubung Fahren, tetap saja alasan utama Emir bisa meninggalkan keluarga kerajaan adalah karena aku menang di battle royale.


Hal ini juga lah yang terjadi pada Inanna. Kalau aku tidak menggagalkan serangan True One, membuat Kerajaan Mariander dan Selir Filial berhutang padaku, Inanna tidak akan dilepaskan begitu saja.


Dengan kata lain, sederhananya, Illuvia memang tidak ditakdirkan untuk menjadi istriku.


"Kalau begitu, setidaknya, biarkan aku–"

__ADS_1


Tiba-tiba saja Illuvia mendongak dan melompat. Dia berusaha meraihku, melekatkan bibirnya ke bibirku.


"Maaf."


Aku memiringkan kepala, membuat ciuman Illuvia meleset. Namun, bukan hanya itu, aku pun menggerakkan bayonet pistol tepat ke depanku, menusuk ulu hati Illuvia.


Tubuh Illuvia terjatuh. Namun, aku tidak membiarkannya begitu saja. Aku memeluknya dengan lembut, mencegah tubuhnya menyentuh lantai.


"Maaf, tapi yang bisa kuberikan padamu hanyalah pelukan. Tidak lebih."


"Lugalgin.....aku....."


Perlahan, tangan kiriku mulai bergerak ke atas, ke belakang kepala Illuvia. Dengan lembut dan perlahan, aku membelai dan mengelus rambutnya, mencoba memberi kenyamanan di saat terakhirnya.


"Selamat tidur, selamat malam, Illuvia."


"Lugalgin......aku....mencintaimu...."


Aku bisa merasakan nafas terakhir Illuvia yang meninggalkan tubuhnya, membelai leherku dengan lemah lembut.


Bersambung


 


 


\============================================================


Halo semuanya.


Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.


Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.


Sampai jumpa di chapter selanjutnya

__ADS_1



__ADS_2