
Lord Susa memilih untuk berhenti di taman dan lalu keluar. Dia ingin di luar, makan camilan sambil minum sementara aku berbicara dengan Ira. Setelah peti arsenal dipindah ke belakang, aku duduk di tengah bersama Ira.
Aku tidak menyalahkan Lord Susa yang tidak mau mendengarkan cerita ini. Terkadang, ketidaktahuan adalah berkah.
"Jadi, begini ceritanya."
Ira memberi penjelasan yang, bisa dibilang, tidak terlalu panjang. Dan, sekali lagi, ini berhubungan dengan keluarga Alhold.
Keluarga Silant masih keturunan keluarga Alhold. Jadi, mereka masih memiliki sifat tidak mau menjadi pusat perhatian seperti bangsawan, pemimpin kerajaan, dsb. Namun, yang membedakan adalah, keluarga Silant lebih berperikemanusiaan dibanding keluarga utama.
Di masa lalu, mungkin benar keluarga utama adalah yang menyebabkan epidemi. Dan, kemungkinan, keluarga utama juga menghilang untuk menolong orang-orang terdampak epidemi dari balik layar. Keluarga utama pasti tahu risiko dan kemungkinan obat yang mereka kembangkan tersebar menjadi penyakit. Namun, kenapa keluarga utama masih melakukannya? Karena keinginan mereka untuk melepaskan jabatan sebagai keluarga kerajaan jauh lebih besar.
Jika seandainya keluarga Silant yang menjadi pemimpin, bisa dipastikan, epidemi tidak akan pernah terjadi. Mereka lebih memilih untuk menjadi pemimpin kerajaan daripada mengorbankan masyarakat. Hal ini, mungkin, baik untuk kerajaan. Namun, hal ini justru menyiksa Raja atau Ratu yang bersangkutan, dipaksa melakukan sesuatu yang mereka benci untuk seumur hidupnya.
Kalau menggunakan masa laluku sebagai acuan, sederhananya, keluarga Silant tidak akan pernah membantai Keluarga Cleinhad karena khawatir pada efek berantai setelahnya. Di lain pihak, keluarga utama, sepertiku, lebih mengutamakan kepentingan pribadi.
Aku setuju dengan ucapan Ira. Rina juga seperti itu. Kenapa aku bilang begitu? Saat ini, Rina sudah menikah dengan kepala intelijen sekaligus orang paling berpengaruh di pasar gelap Bana'an. Hanya dengan memintaku, Rina bisa menghancurkan seluruh kerajaan Nina dengan mudah.
Namun, Rina tidak pernah melakukannya. Sejak awal, Dia selalu berusaha melalui jalur diplomasi dan normal. Kalau aku pasti sudah menggunakan jalur ilegal. Sekarang aku paham aku dan Rina bisa membuat keputusan yang berbeda padahal jalan pemikiran kami relatif sama.
Kembali ke Rencana Ibu Amana. Rencana yang sebenarnya adalah pemecahan kerajaan Nina. Ibu Amana akan menyekap Tera dan mengirim Rina untuk meminta tolong padaku. Tentu saja, sebenarnya, sekapan itu hanyalah kebohongan, hanya pura-pura.
Lalu, setelah itu, Rina akan menikahiku. Dengan bantuanku, kami bisa menyelamatkan Tera. Kerajaan Nina akan terpecah antara yang mendukung Rina dan yang mendukung Ibu Amana. Ibu Amana akan membuat keputusan salah beberapa kali, yang membuat pihaknya kalah.
Ketika pihak Ibu Amana kalah, dia akan membebaskan seluruh wilayah Kerajaan Nina di bawahnya, memberikan mereka kemerdekaan. Feodal Lord yang mendukung Rina tentu saja tidak akan menerima keputusan Ibu Amana. Walaupun menang, mereka akan menuntut Ibu Amana dieksekusi penggal.
Tidak lama kemudian, para Feodal Lord yang di bawah Nina pasti meminta kemerdekaan, melepaskan dari kerajaan Nina. Selain dipicu oleh keputusan Ibu Amana yang memerdekakan wilayah, Rina juga menikahiku yang adalah orang luar kerajaan. Jadi, dengan kata lain, tidak ada keluarga Feodal Lord di belakang Rina. Ketika semua rencana berjalan, Rina akan hidup sebagai istri Lugalgin Alhold, sebagai rakyat biasa.
Namun, sayangnya, Tera mengatakan rencana itu hampir tidak mungkin berhasil. Rina, besar kemungkinan, tidak akan memimpin pergerakan demi perpecahan kerajaan. Rina hanya akan memintaku untuk menyelamatkan Tera. Hal ini tidak lepas dari sifat keluarga Silant yang masih memiliki hati nurani, takut menimbulkan korban jiwa banyak. Bahkan, Tera melihat Ibu Amana ragu.
Oleh karena itu, Tera membuat rencana baru. Dia meminum racun yang mengharuskannya mengonsumsi obat penawar secara rutin lalu pergi menemuiku. Dia meninggalkan pesan pada Ibu Amana mengenai rencana baru yang dibuat. Dan, rencana yang dibuat Tera, berjalan dengan lancar hingga titik ini.
Dengan kata lain, Tera bunuh diri demi menumbuhkan kebencian Rina pada Ibu Amana, agar kejatuhan Kerajaan Nina menjadi pasti. Lalu, Ibu Amana yang putus asa, akhirnya ikut meminum racun itu. Jadi, sampai sekarang, setiap 24 jam Ibu Amana butuh penawar.
__ADS_1
"Itu adalah cerita lengkapnya."
"****! BRENGSEK!" Aku berteriak kesal dan memukul kursi mobil. "Pura-pura jadi orang jahat? Apanya! Mereka hanya orang bodoh! Mereka semua hanyalah orang egois yang tidak berhenti dan menanyakan pendapat keluarga mereka sendiri! Dasar bodoh!"
Aku melampiaskan semua kekesalanku. Jadi, sebagian cerita yang diberikan oleh Tera adalah palsu. Dia benar-benar tahu cara berbohong. Dengan mencampur kebohongan dengan fakta, orang akan menganggap semuanya fakta. Jadi ini alasan kenapa aku merasa ada yang janggal dari cerita Tera. Di saat ini, aku jadi teringat ucapan Tera yang mengatakan kalau dia egois.
****!
"Tera bodoh! Kalau dia mau membicarakan rencana ibu Amana denganku, aku bisa memastikan rencananya berjalan sampai akhir. Atau kalau Ibu Amana atau Tera mau menceritakannya pada Rina dan Rina menyampaikannya padaku, aku pasti akan mencari cara agar mereka tidak perlu jadi keluarga kerajaan tanpa seorang pun dari mereka bertiga tewas."
Ya. Kalau menggunakan rencana asli Ibu Amana, di akhir, aku bisa menukarnya dengan kriminal yang wajahnya diganti, seperti Mulisu menggantikan Permaisuri Rahayu.
"Apa kalian tahu betapa sedihnya Rina ketika Tera tewas di pelukannya malam itu? Apa kalian tahu bagaimana Rina histeris setiap malam, memanggil nama Tera? Sial!"
Ira tidak memberi respons sedikit pun. Dia hanya duduk, terdiam, mendengarkanku yang terus dan terus melempar sumpah serapah.
"Kenapa harus menggunakan rencana yang berbelit-belit seperti ini? Kenapa kalian tidak umumkan saja akan ada transisi pemerintahan dari kerajaan ke aristokrasi atau republik atau yang lainnya? Kenapa?"
"Tuan Lugalgin."
Tiba-tiba saja Ira menyodorkan tisu ke arahku. Saking termakan oleh emosi, aku bahkan tidak sadar kalau pandanganku sudah buram dan berkaca-kaca. Kalau Ira tidak menyodorkan tisu, mungkin aku tidak akan sadar kalau sudah menangis.
"Terima kasih, Ira."
Aku mengambil tisu dan mengusap air mataku. Dengan sebuah napas panjang. Aku berusaha menenangkan pikiranku. Tera, Ibu Amana, kenapa kalian begitu egois? Tidakkah kalian tahu yang menanggung semua ini adalah Rina? Kenapa?
Namun, percuma aku bertanya-tanya. Nyawa yang hilang tidak bisa kembali. Kondisi ibu Amana yang berada di ambang kematian oleh racun juga tidak bisa diubah.
"Jadi, setelah ini, apa yang akan kamu lakukan, Ira?"
Aku mencoba membawa topik baru sambil meredam kemarahan dan kesedihan yang bercampur aduk.
"Jujur, aku sendiri bingung." Ira menjawab. "Sejak lahir, aku telah dilatih untuk melayani, menjaga, dan memberikan kesetiaan pada Yang Mulia Paduka Ratu dan keluarganya. Ketika diberi kebebasan untuk pergi, aku tidak tahu harus melakukan apa."
__ADS_1
"Keluargamu? Apa mereka tahu soal rencana Ibu Amana"
"Suamiku sudah tahu. Jadi, sementara aku masih menjadi pelayan, suamiku akan mencoba mengalihkan keinginan putra putri kami. Yah, suamiku sendiri adalah pelayan istana, jadi dia juga kesulitan."
"Jadi, apa kamu berharap aku memberimu jalan keluar? Yang setidaknya bisa memberi akhir yang tidak terlalu tragis untuk Ibu Amana dan Rina?"
"Menurutmu kenapa dari tadi aku memanggilmu Tuan?"
Oh, jadi itu alasannya. Sebenarnya aku tidak ada rencana khusus dengan Kerajaan Nina. Aku masih menunggu keputusan Rina setelah semua urusan ini selesai. Namun, setelah mendengar cerita Ira, aku tidak bisa mengabaikannya begitu saja. Bukan hanya itu, aku pun harus mengubah rencanaku. Aku harus lebih aktif lagi.
"Ira, aku membutuhkan kerja samamu."
Bersambung
\============================================================
Halo semuanya.
So\, saat ini\, author dah ga pake FF**UU**CC**KK OFF lagi untuk reply komen promo\, tapi dah pake kearifan lokal pake kata guuooblogg. Dan kliatannya dah ada yang kebakar. wkwkwkwk. Padahal di prolog dah ada larangan\, sepanjang chapter juga ga ngitung berapa kali bikin chapter pengumuman larangan promo. Bahkan (mungkin) sudah ada yang sadar kalau peringatan sudah diletakkan di sinopsis/blurb. Kalau masih promo\, berarti sudah siap menerima reply nya dong. wkwkwkwk.
Seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya digunakan untuk cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.
Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
__ADS_1