I Am No King

I Am No King
Chapter 259 – Flip


__ADS_3

Suara logam berdenting terus terdengar tanpa henti. Penyebab suara itu, tidak lain dan tidak bukan, adalah Illuvia dan aku. Illuvia mengambil dua buah pedang satu sisi dan terus melepaskan tebasan ke arahku. Namun, aku berhasil menghindar dan menghalau tebasannya hanya dengan sarung tangan besi.


"GARA-GARA KAU! GARA-GARA KAU!"


Berkat provokasi Inanna, gerakan Illuvia menjadi sederhana dan mudah dibaca. Aku bisa membunuhnya kapan saja. Namun, aku tidak mau melakukannya. Aku tidak mau membunuh teman baik Lugalgin.


Sebelum berangkat, Lugalgin hanya meminta agar kami tidak membunuh Maila. Namun, entah kenapa, Lugalgin sama sekali tidak menyebutkan apa pun soal Illuvia. Rasanya tidak mungkin Lugalgin tidak mengetahui kedatangan Illuvia. Apa ini berarti, Lugalgin memang menginginkan Illuvia tewas? Jujur, sebenarnya, akan sangat mudah bagiku untuk membunuh Illuvia sekarang juga.


Sejak masuk militer, sebelum menjadi agen schneider, hal pertama yang diajari adalah membunuh dengan sekop. Jika menggunakan senjata api, efek psikologinya tidak cukup. Kamu hanya menarik pelatuk dan lawan tewas. Dengan kata lain, kamu tidak akan benar-benar sadar kalau sudah membunuh orang lain. Namun, sekop berbeda dengan senjata api. Kamu bisa merasakan getaran sekop ketika menghantam dan menghancurkan tulang lawan, apalagi tengkorak. Getaran ini membuatmu benar-benar sadar kalau kamu sudah membunuh orang.


Sebenarnya senjata tajam memiliki efek psikologi yang mirip, tapi tidak seefektif sekop. Tebasan dan tusukan membuat getaran di tangan berkurang drastis. Jadi, kamu tidak benar-benar merasakan efek membunuh lawan, berbeda dengan sekop yang relatif tumpul. Karena hal ini lah banyak bangsawan lebih memilih sekolah kesatria dan kepolisian yang dilatih menggunakan pedang daripada militer yang dilatih dengan sekop.


Namun, ketika melihat perempuan ini, sulit bagiku untuk membunuhnya, aku merasa iba. Dia dibutakan oleh cintanya pada Lugalgin. Dia mungkin melihat kalau bukan aku, dirinya lah yang akan berdiri di samping Lugalgin.


Meski berkali-kali cintanya ditolak Lugalgin, dia tidak kunjung menyerah. Namun, akhirnya, dia terpaksa menyerah ketika aku melamarnya. Ketika melihatnya, aku sedikit penasaran. Kalau seandainya saat itu Lugalgin menuruti Bu Yueni dan menolakku, apakah aku akan bernasib sama kalau saat itu Lugalgin menolakku? Apakah aku akan terus mengejar Lugalgin?


Meski ucapan Inanna tadi soal aku meninggalkan status tuan putri adalah kuncinya, kalau dipikir secara realistis, keputusan Illuvia adalah yang lebih tepat. Tidak mungkin kamu meninggalkan sumber penghidupan, menjadi bangsawan, hanya untuk seorang inkompeten yang sulit mendapat pekerjaan. Jika menggunakan dasar realistis, keputusanku lah yang salah.


Aku mengalihkan serangan Illuvia dan melemparnya ke ujung ruangan. Ketika melihatnya terluka, selain iba, aku juga sedikit kesal. Wajahnya sangat mirip dengan Inanna. Melihatnya terluka sama seperti melihat Inanna terluka. Dan, momen ketika kami diserang oleh Apollo pun terlintas di benakku.


Saat itu, kalau saja aku lebih cepat dalam mengaktifkan pertahanan rumah, wajah dan kulit Inanna tidak akan terluka. Meski Inanna mengatakan setelah perang ini berakhir dia bisa melakukan operasi, meski Lugalgin mengatakan kalau itu adalah salah Apollo, aku tidak bisa berhenti menyalahkan diriku sendiri.


Kalau seandainya saat itu aku mengaktifkan pertahanan rumah lebih awal, Lugalgin tidak akan terburu-buru menyerang Apollo. Dia tidak akan menggunakan serum pembangkit. Kalau Lugalgin tidak menggunakan serum pembangkit, dia tidak akan dipaksa tidur. Dan, dengan keberadaan Lugalgin, Mari tidak akan tewas.


Maafkan aku, Lugalgin. Aku....


Clang


Suara logam berdenting menyadarkanku. Tanpa disadari, pikiranku sudah mengembara entah kemana dan mengelak serangan Illuvia hanya dengan insting, auto-pilot. Bahkan, aku tidak menyadari Illuvia sudah mengganti senjatanya menjadi tombak.


Meski mengganti senjata, tidak ada perubahan berarti pada serangannya. Bahkan, walaupun Illuvia menggunakan senjata api, aku bisa menghindar karena gerakannya begitu sederhana.

__ADS_1


Perlahan tapi pasti, kecepatan menyerang Illuvia menurun. Dan, akhirnya, aku tidak lagi mendengar Illuvia berteriak seperti sebelumnya. Kini, dia hanya menggumam. Normalnya, aku tidak akan memedulikan apa yang diucapkan oleh lawanku. Namun, karena dia Illuvia, teman SMA Lugalgin, aku tidak bisa mengabaikannya.


"Lugalgin, kenapa....kenapa......"


Suaranya terdengar lirih. Sekarang Illuvia justru mewek.


Orang bilang, proses berkembangnya seseorang adalah penolakan, amarah, tangisan, penerimaan, pencerahan, dan move on. Illuvia sudah mengalami penolakan dan amarah. Dan, tampaknya, kini dia sudah berada pada tahap tangisan. Kalau dibimbing, mungkin dia bisa melanjutkan hidupnya.


Akhirnya, Illuvia berhenti menyerang. Namun, aku tidak balik menyerang. Aku menunggu.


Di saat itu, aku melihat sesuatu yang tidak pada tempatnya. Di lantai, terlihat sebuah besi kecil berbentuk segitiga dan ada tonjolan di ujungnya, pin granat.


"Kalau Lugalgin tidak mau bersamaku, apalah arti hidup ini."


"Sial!"


Refleks, aku maju menerjang Illuvia. Pandanganku fokus tangan Illuvia yang keluar dari jubah, mencengkeram granat. Karena dia mengenakan jubah, aku tidak tahu apa yang dilakukan tangannya.


Pegangan tangan Illuvia tampak begitu erat seolah granat itu adalah tangannya. Akan sulit kalau aku berusaha mengambilnya dengan cara biasa.


Aku menarik pisau dari kaki dan menebas tangan Illuvia.


"Kyaa,"


Aku hanya menggores pergelangan tangan yang tidak dilindungi jaket anti peluru, tidak sampai memotongnya. Begitu Illuvia membiarkan granat terlepas dari genggaman, aku langsung melemparkannya. Sebelum meledak, aku mendorong kepala Illuvia ke bawah, memaksanya tiarap bersamaku.


Granat itu meledak. Beruntung, kami tidak terluka.


"Illuvia! Apa yang kamu lakukan! Kamu–sial!"


Aku melompat ke belakang, berusaha memberi jarak. Namun, sudah sangat terlambat. Sebelum aku melompat, Illuvia menarik pisau di kakiku dan menusuk perut kiriku. Dan, karena bagian belakang pisau itu bergerigi, luka di perutku tidak menutup sempurna. Kalau dibiarkan, aku akan kehilangan banyak darah.

__ADS_1


"Uhuk, uhuk,"


Darah muncul dari batukku. Sial! Tusukan ini terlalu dalam.


Dor


Aku menggeser badan. Namun, aku tidak bisa sepenuhnya menghindari serangan Illuvia. Luka di perut ini membuatku melambat. Meski jaket ini anti peluru, hantaman peluru ke lengan sama saja seperti dipukul dengan palu, sakit dan memberi efek memar. Gerakanku akan sangat melambat setelah ini.


"Ehe, ehehehe....setelah kau tewas, giliran Lugalgin. Lalu, aku akan menyusul kalian. Jangan khawatir. Aku akan berbaik hati dan membiarkanmu menjadi istri kedua Lugalgin di alam sana."


 


 


Bersambung


 


 


\============================================================


Halo semuanya.


Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.


Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.

__ADS_1


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.


Sampai jumpa di chapter selanjutnya


__ADS_2