I Am No King

I Am No King
Chapter 334 – Ngidam


__ADS_3

"Hmm ... jujur, menurutku, kamu mulai cenderung ke yang manis-manis bukan karena stres, tapi lebih karena kehamilan."


"Kehamilanku?"


"Sederhananya, kamu ngidam yang manis."


"...."


"Tunggu dulu Inanna." Emir masuk. "Aku kira perempuan hamil cari yang asam-asam."


"Tidak juga. Sebenarnya, perempuan hamil cari asam dikira sebagai gejala ngidam hanya karena keanehan dan keunikannya. Menurut penelitian, ngidam setiap perempuan beda-beda. Ada yang asin, manis, pahit, dan asam. Namun, asin, manis, dan pahit, bisa dibilang, tidak terlihat aneh oleh orang luar, jadi jarang diperhatikan."


"Inanna, apakah ada cara untuk menekan ngidam ini?"


"Sampai sekarang tidak ada penelitian yang tahu pasti penyebab ibu hamil ngidam. Jadi, sayangnya, tidak."


Meski aku bilang ingin berhenti, tangan dan mulut ini tidak setuju. Aku tetap meminum cokelat dingin dengan tambahan gula tanpa perlawanan.


Kami tenang untuk sejenak, menikmati minuman.


Sudah 3 hari sejak Lugalgin menghilang. Setelah pencarian besar-besaran oleh militer dan pasar gelap Bana'an, bisa dipastikan Lugalgin tidak ada di 3 wilayah yang sudah jatuh atau wilayah tetangga.


Di satu sisi, aku bersyukur karena tidak ada tanda-tanda kalau Lugalgin tewas. Namun, di sisi lain, perasaanku belum tenang karena Lugalgin masih menghilang.


Aku benar-benar kagum pada Inanna dan Emir yang mampu tenang dan mendukungku saat ini. Mereka tampak mampu memercayai Lugalgin sepenuh hati. Emir dan Inanna sama sekali tidak menunjukkan kekhawatiran di raut wajah mereka.


Lugalgin, kalau standar istri yang baik untukmu adalah Emir dan Inanna, aku masih jauh. Aku masih belum bisa memercayaimu seperti mereka.


Sebenarnya, saat ini, ada sebuah kemungkinan yang terlintas di kepalaku. Namun, aku tidak memiliki bukti, lebih kepada dugaan. Untuk Inanna, besar kemungkinan dia sudah mencapai kesimpulan yang sama denganku. Untuk Emir, entahlah.


"Rina, Inanna, aku ingin menanyakan sesuatu, tentang menghilangnya Lugalgin."


Lugalgin dan Inanna bilang kalau insting Emir adalah yang paling kuat. Kalau menuruti ucapan mereka, kemungkinan, Emir pasti sudah memiliki dugaan yang sama denganku.


"Menurut kalian, berapa persen kemungkinan Lugalgin diculik oleh Ratu Amana?"


Aku tidak langsung menjawab, tapi melempar pandangan ke Inanna. Setelah saling menatap, kami mengangguk.


"Jujur, menurutku adalah 100 persen."


"Aku setuju dengan Rina, 100 persen."


"Begitu ya ...."

__ADS_1


Tiba-tiba saja, aku merasakan niat membunuh dari Emir. Dan, seperti biasa, aura membunuhnya sangat pekat. Refleks, aku mundur, menjauh dari Emir. Bukan hanya aku, Inanna juga mundur. Kami berdua menjaga jarak dari Emir.


"Um, Emir, bisa tolong kamu tarik niat membunuhmu?"


"Niat membunuh apa, Rina? Sejauh yang aku tahu, aku tidak bisa memancarkan niat membunuh."


Emir menjawab dengan senyum. Namun, matanya sama sekali tidak tersenyum.


Tidak bisa memancarkan niat membunuh? Kamu pasti bercanda, kan? Apa Emir tidak sadar kalau dia sedang memancarkan niat membunuh?


Lugalgin, tolong segera kembali!


***


"Wow. Tidurku nyenyak sekali."


Setelah 3 hari 2 malam, efek serum pembangkit hilang. Setelah efeknya hilang, pagi ini, aku langsung tertidur. Dan, aku sama sekali tidak menduga bisa tertidur, selama 12 jam, dengan begitu nyenyak. Aku sudah 3 hari tidak tidur, terus menahan sakit. Jadi, aku tidak peduli walaupun berada di wilayah musuh. Namun, bukan hanya itu alasan aku bisa tidur nyenyak.


Tiga hari lalu, Ratu Amana menculikku dengan helikopter. Setelah menangkapku, dia langsung mengoleskan darah ke leherku, mematikan segala pengendalian. Jadi, selama 3 hari terakhir, aku hanya terdiam, lumpuh, dan menahan rasa sakit. Kalau orang normal yang mengalaminya, pasti mereka sudah gila.


Setelah tidur nyenyak, untuk pertama kali sejak datang ke sini, aku bisa memperhatikan sekitar. Kasur dengan atap, cahaya terang, furnitur ekstravagan. Yap, tidak salah lagi, aku pasti dibawa ke istana. Pertanyaannya adalah, kamar siapa ini? Pertanyaan itu sedikit terjawab ketika aku melihat pigura kecil di atas meja.


Jarak antara kasur dan meja adalah 10 meter, tapi aku bisa melihat fotonya dengan cukup baik. Pada pigura, terlihat seorang anak perempuan dan laki-laki. Mereka berdua memiliki rambut perak.


"Itu adalah foto Rina dan Tera ketika masih kecil."


Aku tidak terkejut, hanya tersenyum dan melempar pandangan ke pintu. Sosok yang menghampiriku, tidak lain dan tidak bukan, adalah Ratu Amana. Aku sudah menemuinya 3 hari lalu, saat dia menculikku. Jadi, aku sudah mengetahui aura keberadaannya.


"Selamat malam Yang Mulia Paduka Ratu Amana. Rambut perakmu seindah rambut Rina."


"Ayolah, jangan panggil aku Ratu. Panggil saja aku ibu. Secara, aku kan sudah jadi mertuamu."


Ratu Amana merespons enteng. Bukan enteng, lebih tepatnya mabuk. Terlihat wajahnya memerah dan pakaiannya berantakan.


"Baiklah. Ibu, bisa tolong jaga harga diri di depan menantumu?"


"Ehehe, apa kamu tergoda dengan tubuh ibu-ibu, Lugalgin?"


Ibu Amana melompat dan memelukku erat, membenamkanku ke dadanya, membiarkan bau alkohol menusuk hidung. Tunggu dulu. Dadanya?


Refleks, tanganku bergerak dan meremas dada Ibu Amana. Kenyal, memiliki volume, dan tidak lepas. Dengan kata lain, dadanya tidak palsu.


"Ahh ...."

__ADS_1


Desahan muncul dari Ibu Amana. Namun, aku tidak memedulikannya. Yang paling mengejutkanku, saat ini, hanya 1 hal. Kenapa Ratu Amana memiliki buah dada? Dia adalah perempuan Alhold. Bagaimana bisa perempuan Alhold memiliki buah dada?


"Lugalgin, apa kamu tidak puas dengan tiga istri? Apa kamu juga ingin melakukannya denganku?"


"Ibu, kamu sudah mabuk. Aku hanya penasaran kenapa kamu bisa memiliki buah dada padahal seorang Alhold."


Aku melepaskan diri dan mengantarkan Ibu Amana ke kasur, membiarkannya terbaring.


"Ah, ini?"


Ibu Amana menekan dadanya dari kanan dan kiri, mempertemukannya di tengah.


"...."


Aku tidak tahu harus memberi respon seperti apa. Apa Ibu Amana berniat menjadikanku suaminya seperti Permaisuri Rahayu? Semoga saja tidak. Kalau Ibu Amana dalam kondisi normal, aku bisa mengetahui apakah dia serius atau hanya main-main. Namun, karena mabuk, semua yang Ibu Amana katakan seolah main-main.


"Hahahaha. Tenang saja, Gin. Aku sama sekali tidak ada niatan untuk menidurimu. Aku masih memiliki suami dan aku menyayanginya. Aku tidak seperti permaisuri lacur itu."


Wow, tampaknya informasi mengenai Permaisuri Rahayu sudah mencapai kerajaan ini.


Bersambung


 


 


\============================================================


Halo semuanya.


Seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya digunakan untuk cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.


Sampai jumpa di chapter selanjutnya


 


__ADS_1


__ADS_2