
~Lacuna POV~
"Eh? Apa itu Merah?"
"Hah? Dimana? Sebelah mana?"
Aku menggerak-gerakkan senapan, mencoba mencari sosok Merah.
"Di bangunan ujung barat. Sebelah lapangan tenis."
Aku mengarahkan senapan ke tempat yang dimaksud Pirang. Dan, benar saja, di situ sudah ada Merah. Dia berjalan sambil sesekali melihat kanan dan kiri.
"Ya, benar itu adalah Merah." Aku membenarkan.
"Hoo, jadi itu ya rencananya."
Pirang mengeluarkan sebuah respon. Tampaknya, bukan hanya aku yang sudah menyadari rencana Merah.
Rencana Merah yang sebenarnya, tampaknya, setelah mendapat tawaran dari keluarga Ibrahim, adalah menyusup dan mungkin membersihkan keluarga Ibrahim dari dalam. Namun, apa dia akan dibiarkan berkeliaran begitu saja?
Belum lama aku mengatakan hal itu, agak jauh di belakang Merah, terlihat seorang laki-laki mengikuti Merah. Ya, tentu saja. Keluarga Ibrahim tidak sebodoh itu.
Laki-laki itu juga memiliki rambut merah tapi panjang. Dia membawa sebuah tas yang mungkin berisi senjata.
Aku membuka topik baru. "Taruhan, apakah laki-laki yang mengikuti akan berhasil membunuh Merah atau tidak?"
"Satu juta En untuk Merah akan tewas."
"Kalau begitu, aku satu juta En kalau Merah akan bertahan. Kemungkinan besar kabur."
"Oke."
Kami berdua berjabat tangan tanpa bergerak dari tempat duduk.
"Ngomong-ngomong, mau kamu panggil apa laki-laki berambut merah panjang itu?" Pirang bertanya.
Aku menjawab. "Namanya adalah Davic. Jadi, aku tidak akan memanggilnya dengan nama lain."
"Eh? Kamu mengenalnya?"
Aku memberi penjelasan lebih lanjut, "lebih tepatnya tahu. Dia adalah salah satu Mercenary yang cukup ternama di kota lain. Dia adalah pengguna shotgun dan rapier, tapi, kali ini, aku tidak melihat rapier."
__ADS_1
"Ah, jadi, taruhan yang barusan, aku pasti kalah ya."
"Tidak, belum tentu." Aku menolak pernyataan Pirang. "Permasalahannya adalah, aku tidak tahu identitas Merah yang sebenarnya. Aku mencoba mencari wajahnya di database Mercenary yang kubuat, tapi tidak ketemu. Mungkin dia baru mengganti mukanya atau berasal dari negara lain yang belum pernah kudengar, seperti kamu. Jadi, hasil taruhannya belum jelas."
"Hmm, begitu ya."
Melalui teropong senapan, kami memperhatikan merah yang sesekali celingak-celinguk, hingga akhirnya dia memasuki sebuah rumah. Rumah itu adalah rumah tipe 60, sama seperti rumah lain di perumahan tersebut.
"Rumah itu, yang baru dimasuki Merah, tempat apa?"
"Sebentar," Pirang mengambil smartphone dari saku jaket, melihat gambar. "Itu adalah tempat dokumen, berisi laporan lengkap bahan dan senjata yang keluar masuk."
Jadi, kalau aku masuk ke ruangan itu, mungkin aku bisa menemukan bahan yang mampu menghilangkan kekuatan itu? Namun, kalau ternyata rahasianya berada pada proses, aku tidak akan bisa mengetahuinya dari ruangan itu saja.
Setelah beberapa saat, Merah terlihat mengamuk. Dia membanting buku-buku dan dokumen yang ada.
Ada apa?
"Ah, Merah sudah kepergok."
Seperti ucapan Pirang. Akhirnya Davic mengonfrontasi Merah. Untuk sebuah rumah yang seharusnya rahasia, tempat itu memiliki terlalu banyak jendela. Bahkan kami bisa melihat apa yang terjadi di dalam.
Di lain pihak, Davic hanya mengendalikan delapan shotgun, melayang di sekitarnya, tidak ada yang mencolok. Namun, sejak Davic melepaskan tembakan pertama, Merah sudah menghindar dan bersembunyi dari tembakan yang dilepaskan. Tampaknya peluru yang digunakan Davic bukan timah, dan Merah menyadarinya.
Pertarungan mereka tidak seru. Sejak awal, Merah hanya menghindar dari serangan Davic. Karena ada delapan shotgun, Davic dapat melepaskan tembakan dan mengisi peluru secara bergantian, membuat tembakannya tidak kunjung berhenti.
Meski tidak terkena peluru secara langsung, debris yang muncul dari benda-benda yang hancur menuju ke Merah. Bahkan, beberapa kayu terlihat menancap di tubuh Merah.
Hoi! Hoi! Ruangan itu adalah ruangan dokumen, kan? Tidak apa kamu merusak ruangan itu begitu saja? Atau jangan-jangan, keluarga Ibrahim sudah menunggu Merah memasuki ruangan itu dan menyerang? Dengan kata lain, isi dokumen di dalam ruangan itu adalah palsu, bahkan hanya kertas kosong. Kalau benar, hal ini menjelaskan kekesalan Merah yang sebelumnya.
"Ah, Merah sama sekali tidak memberi perlawanan. Kalau begini, besar kemungkinan dia akan tewas."
"Kalau itu terjadi, aku menang." Pirang merespons positif.
Kami berdua mengobrol santai sambil melihat Merah bertarung, mempertahankan hidupnya. Bagi kami, mercenary, hidup orang lain yang tidak dikenal sama sekali tidak memiliki nilai, kecuali pada saat seperti ini. Contohnya sekarang. Sebenarnya, aku sama sekali tidak peduli dengan hidup matinya merah, tapi kalau dia mati aku akan kehilangan satu juta En, aku ingin agar dia tetap hidup.
Akhirnya, Merah menjulurkan ikatan pisau, berusaha mendobrak pintu. Di saat itu, Davic menarik pistol dari dalam jas dan melepaskan tembakan. Davic tidak mengarahkan tembakan tersebut ke Merah, tapi ke ikatan pisau yang mengarah ke pintu. Ketika terkena tembakan dari pistol Davic, seluruh pisau yang melayang langsung jatuh ke tanah.
"Hitung!"
__ADS_1
"Sudah dimulai," Pirang merespons.
Pikiran kami sama. Ketika aku mengatakannya, Pirang mulai menghitung waktu.
Tidak salah lagi. Pistol itu pasti berisi peluru penghilang pengendalian. Dan, tampaknya, Merah juga menyadari hal ini. Tidak, bahkan, sepertinya, Merah sudah menduga dan langsung melompat melalui jendela ketika Davic fokus pada pisau yang dia kirim ke pintu.
Setelah Merah keluar dari rumah, pisau yang sebelumnya terjatuh kembali melayang, seperti ular melata di udara, menuju ke arah Merah.
"Sial!" Pirang, masih memegang smartphone sedikit geram. "Nomor rekening?"
Aku tersenyum. "193-199912-122 Bank Orion."
Sebuah getaran terasa di dada, di saku dalam jaket. Aku mengambil smartphone dari dalam saku dan membuka pemberitahuan, memberi kabar kalau satu juga En sudah masuk ke rekening.
"Senang berbisnis dengan Anda. Kembali ke pekerjaan," aku mencoba kembali ke pokok masalah. "Jadi, berapa detik?"
"Cuma tiga detik." Pirang membenarkan. "Kamu benar. Kalau hanya untuk sesaat, peluru itu belum layak beredar. Hanya orang-orang dengan kemampuan bertarung tinggi seperti kita yang dapat memanfaatkannya dengan optimal." Pirang mengalihkan pandangan dari teropong. “Jadi, karena kita sudah tahu rahasia keluarga Ibrahim, mau kapan menyerang?"
"Tidak, belum." Aku menolak. "Kita belum tahu efeknya kalau peluru itu mendarat di tubuh. Jadi, menurutku, kita belum bisa melancarkan serangan."
Bersambung
\============================================================
Chapter ini adalah chapter terakhir dari 6 chapter yang diupload secara bersamaan (53-58)
Akhirnya sudah bisa pulang dari rawat inap. Seperti biasa, terima kasih atas semua dukungan, like, dan komentar pendukungnya. Author sangat berterima kasih bagi reader yang masih kembali setelah sempat kosong gara-gara rawat inap.
Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author
Dan, seperti biasa, author ingin melakukan endorse. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita. Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
__ADS_1