
Aku berjalan keluar sambil menarik Emir yang emosi. Inanna mengikuti tanpa mengatakan apapun.
"Heh, mau kabur kemana kau!"
"Kau takut orang melihat cara kotormu itu? Hah?"
"Der! Kutha!"
Mereka bertiga pun mengikuti kami.
Aku berjalan cepat, tidak memedulikan protes dan caci maki yang terus dilontarkan oleh Der dan Kutha. Di lain pihak, tangan Emir semakin sulit ditahan. Kalau telapak kami tidak bersentuhan seperti sekarang, aku khawatir dia sudah menggunakan pengendaliannya.
Sementara tangan kananku menahan Emir, tangan kiriku mengambil smartphone. Aku harus mempersiapkan segalanya.
Di lain pihak, aku cukup bersyukur karena sebagian amarah dua laki-laki ini masih bisa ditekan oleh Shinar. Kalau tidak, bukan hanya caci maki yang melayang ke arah kami, tapi juga berbagai macam benda.
Akhirnya, kami tiba di sebuah taman yang agak jauh dari mal. Pada akhir minggu, taman ini akan ramai, digunakan sebagai event atau konser lokal. Pada hari biasa seperti sekarang, tidak berfungsi apapun. Dan karena matahari mulai terbenam, tempat ini menjadi semakin sepi.
Begitu tiba, aku melepas tangan Emir.
"Gin, titip."
Emir langsung memberi tas karton yang dia pegang padaku dan melayangkan sebuah tinju ke wajah Der. Tubuh Der pun melayang beberapa meter dan terjatuh. Terlihat hidungnya mengeluarkan darah. Aku berani bilang hidungnya sudah patah.
"Berani-beraninya kau menghina Inan–"
Bletak
"Aduh!" Emir langsung jongkok sambil memegangi kepalanya. "Lugalgin, sakit."
"Hah..." Aku menghela nafas. "Emir, kamu ini agen schneider, kamu harus belajar menekan emosi. Kalau aku tidak menahanmu, kamu pasti sudah melepaskan tinju itu di kafe kan?"
"I, itu..."
"Dengar, sebagai intelijen, kamu harus memiliki kepala dingin. Tidak peduli seburuk apapun hinaan orang padamu dan orang di dekatmu, kamu harus memastikan tidak menunjukkan kekesalan di depan publik. Kalau seandainya kamu dalam misi infiltrasi, identitasmu akan mudah diketahui."
"Ma, maaf....."
Emir meminta maaf sambil memegangi kepalanya yang aku pukul. Terlihat sedikit air mata di ujung kelopaknya.
Aku menghela nafas berat.
"Emir," Inanna merendahkan badan di sebelah Emir. "Terima kasih ya sudah membelaku. Aku tidak akan menegurmu karena itu sudah dilakukan oleh Lugalgin. Aku hanya akan berterima kasih."
"Te-terima kasih, Inanna."
"Kalian! Kami masih ada di–"
Syut
Sebuah suara angin terdengar, diikuti dengan tanah yang sedikit berhamburan ke udara. Di jalurnya, terlihat pipi Kutha yang tergores, mengeluarkan darah.
Angin itu berasal dari peluru yang dikendalikan oleh Inanna. Selama perjalanan, Inanna beberapa kali membuang sampah kertas dan plastik. Di dalam sampah yang dia buang, terdapat beberapa butir peluru. Ketika dua laki-laki dan Shinar sudah melewati tempat sampat tersebut, Inanna menggunakan pengendalian pada peluru yang dia buang.
Aku mengetahuinya karena di rumah, Inanna beberapa kali menceritakan semua taktik yang pernah dia gunakan. Dan taktik penyebaran butir dalam sampah adalah salah satunya.
Jadi saat ini, ada peluru melayang di udara yang kami tidak tahu lokasi dan jumlahnya. Kalau salah satu dari mereka memiliki pengendalian utama berupa timah, maka mereka akan mampu menyadari keberadaan semua peluru yang disebar Inanna. Sayangnya, tidak. Dan, mereka pasti sadar kalau sudah dikepung oleh peluru.
Di saat seperti ini, aku kembali diingatkan betapa tidak berdayanya aku tanpa rencana dan strategi. Kalau saat ini Inanna adalah musuh, dia sudah mampu menyarangkan peluru ke tubuhku, mencabut nyawaku.
"Ku-kumohon maafkan mereka. Mereka hanya sedang marah. Mereka sama sekali tidak serius dengan ucapan mereka."
Shinar langsung berdiri di depanku dan membungkuk.
__ADS_1
"Kamu tidak memiliki kewajiban ataupun hak untuk meminta maaf," aku melemparkan pandangan pada dua laki-laki di belakang Shinar. "Mereka lah yang harus meminta maaf."
Dua laki-laki itu hanya terdiam dan menggertakkan gigi.
Di saat seperti ini, kalau Lacuna, dia akan menyulut rokok dan berkata, "tidak ingin meminta maaf? Jangan salahkan aku atas apa yang akan terjadi, ya.". Sayangnya, aku tidak merokok. Jadi, aku akan mengatakan hal lain.
"Biar kutebak. Kalian, siang tadi, berencana ikut protes dengan agen schneider yang lain. Namun, sayangnya, kalian justru tidak mampu berbuat apa pun ketika berhadapan dengan rekan-rekanku, yang berakibat pada terakumulasinya kekesalan kalian."
Mereka tidak menjawab, masih menggertakkan gigi.
Aku tidak memedulikan dua laki-laki itu dan memilih untuk berbicara pada Shinar, perempuan di depanku ini.
"Jadi, Shinar, apa kau masih ingin aku menerima posisi sebagai instruktur dan menyeleksi orang-orang yang berpotensi menjadi agen schneider?"
Shinar membelalakkan mata, "Anda mengingat nama saya?"
Pemilihan kata dan nada bicaranya sangat formal, seolah di sedang berbicara dengan atasannya. Ahh, iya, aku kan memang atasannya.
"Ya, aku mengingatmu. Sekarang, jawab pertanyaanku."
"Ah, ya, baik," Shinar menurut. "Ya, saya masih berkeinginan demikian."
"Dan, aku akan mengulangi pertanyaan itu lagi. Apa alasan dari keinginanmu tersebut?"
"I... itu..."
Sama seperti sebelumnya, perempuan ini tidak mau menjawab. Dia hanya mengalihkan pandangan ke sekitar.
"Gin, jangan maksa cewek."
"Maaf ya, dik, Lugalgin mungkin terlihat mengerikan, tapi dia tidak berniat buruk kok. Dia hanya ingin tahu."
"Ti, tidak apa. Saya juga yang salah," Shinar menjawab Inanna, lalu melihat ke arahku. "Alasannya adalah karena saya ingin agar Anda melatih saya."
"Hm?"
"Eh?"
Sementara aku sedikit mengangkat alis kanan, Emir dan Inanna langsung mengarahkan pandangan padaku. Aku akan mengabaikan pandangan mereka untuk saat ini.
"Dengar, aku tidak akan melatih siapa pun."
"Eh?"
"Kenapa kau terkejut? Saat ini, aku adalah pemimpin, kan? Tugasku adalah melakukan manajemen intelijen, memastikan semuanya berjalan sesuai tujuan dan fungsi, tidak serta merta menjadi alat pengangkat status bagi kalian para bangsawan. Jadi, aku tidak perlu menjadi instruktur dan melatih agen-agen baru seperti kalian."
Ketika aku mengatakan hal itu, pelipis Shinar sedikit berkedut.
"Dari ucapanku, bagian mana yang kamu tidak setuju?"
"Ti-tidak, saya tidak."
"Apa bagian alat pengangkat status?"
Shinar tidak menjawab, dan tidak ada reaksi apapun di wajahnya.
"Atau pada bagian aku mengatakan agen baru seperti kalian?"
"Ti-ti–"
"Atau pada bagian aku tidak perlu menjadi instruktur?"
__ADS_1
Akhirnya, pelipis Shinar kembali berkedut.
Heh, ternyata bagian ini yang membuatnya tersinggung. Seperti ucapan Emir dan Inanna, tidak baik kalau aku terus memaksa. Namun, saat ini, aku harus memperpanjang percakapan ini.
Emir dan Inanna tidak lagi fokus padaku. Tidak. Secara sekilas, mereka masih melempar pandangan ke arahku. Namun, sebenarnya, mereka melihat ke depan dan belakangku, ke sekitar. Tampaknya, mereka sudah menyadarinya.
"Kenapa kamu ingin menjadikanku instruktur?"
"I-itu...."
"Kamu tidak bisa menjawab selain itu...itu,,,? Hah?"
"Ma-maaf."
"Padahal, kalau alasanmu cukup menarik, mungkin aku akan mempertimbangkannya."
"Eh?"
"Dan kalian." Aku melemparkan pandangan pada dua laki-laki yang berdiri lemas di belakang Shinar. "Aku masih tidak paham kenapa kalian kesal. Apa kalian kesal karena sekarang tidak bisa naik status dengan mudah? Atau sebatas kesal karena organisasi ini dipimpin oleh rakyat jelata inkompeten sepertiku, bukan orang berbakat ataupun bangsawan?"
Mereka tetap tidak menjawab, hanya menggertakkan gigi. Di lain pihak Shinar meletakkan kedua tangannya di depan dada dengan pandangan tajam. Tampaknya, dia mencoba mengukuhkan hatinya. Sayangnya, aku harus mengabaikannya untuk sekarang.
Aku berbicara pelan, berbisik, "Emir, Inanna, menurut kalian ada berapa orang?"
"Aku merasakan lima belas orang,"
"Eh? Aku hanya merasakan tiga belas orang."
Inanna lebih baik dibanding Emir. Tapi, Emir juga tidak terlalu buruk.
"Jawaban yang tepat adalah jawaban Inanna. Emir, kamu masih butuh latihan. Ada empat orang yang berdiri berdekatan, jadi keberadaan mereka seperti hanya dua orang."
Alasan lain aku memilih tempat yang cukup sepi adalah karena hal ini. Semenjak tiga orang ini masuk ke kafe, aku merasakan kehadiran lima belas orang lain. Kemungkinan, tiga orang di depanku ini tidak mengetahui kalau mereka sedang diikuti, dan dimanfaatkan.
Aku melihat ke langit yang telah kehilangan cahaya matahari sepenuhnya. Kini, lampu adalah sumber cahaya di tempat ini.
Aku mengambil smartphone dan mengecek teks yang baru masuk. Teks ini memberi sebuah senyuman di wajahku.
"Baiklah, kalian boleh beraksi."
Bersambung
\============================================================
Halo semuanya.
Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.
Ini adalah akhir dari empat chapter beruntun.
Dan, seperti biasa, author ingin melakukan endorse. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.
Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
__ADS_1