
"Ini adalah laporan terakhir."
"Terima kasih, Mulisu."
Aku menerima dokumen dari Mulisu.
Perempuan berambut coklat gelap diikat twin tail ini sudah bisa berjalan dengan normal. Ya, sebenarnya tidak normal sih. Bagian bawah Mulisu, mulai dari pinggang, telah lumpuh karena serangan Ukin. Sejak saat itu, dia harus mengenakan rangka luar yang terbuat dari tembaga. Dengan rangka tersebut, Mulisu menggunakan pengendalian untuk bergerak.
Pada awalnya, dia kesulitan bergerak. Namun, setelah berlatih, kini Mulisu sudah selincah dulu. Tidak. Bahkan, aku bisa bilang dia lebih gesit sekarang. Selain itu, dia bilang pengendaliannya semakin kuat. Sebuah sisi positif yang tidak terduga.
Sekarang, kalau kepercayaan diri Mulisu bisa didongkrak, bukan tidak mungkin dia bisa lebih kuat dariku atau Ukin. Namun, akan kupikirkan itu lain kali.
Saat ini, setelah sebulan, akhirnya kami telah mengumpulkan daftar orang-orang, atau aku harus bilang anak-anak karena mereka semua berusia kurang dari 16 tahun? Ya, tidak penting. Intinya, anak-anak ini adalah calon siswa sekolah intelijen kerajaan.
Dalam waktu satu bulan, banyak hal yang terjadi. Seperti serangan dari agen schneider yang kuberhentikan, pembersihan keluarga agen yang berkhianat, organisasi pasar gelap berontak, dan beberapa gerakan di Mariander. Selain tiga hal itu, tidak ada yang perlu mendapat perhatian.
Setidaknya, dalam seminggu, ada lima hingga enam percobaan pembunuhan. Namun, sayangnya, aku yang seharusnya menjadi korban justru menjadi pelaku.
Untuk agen yang berkhianat, baru terjadi satu kali. Setelah aku membersihkan keluarga agen tersebut hingga 3 generasi, tidak ada lagi yang berkhianat. Pada awalnya, banyak agen yang ragu aku akan benar-benar melakukan pembersihan. Karena itu, aku melakukan pembersihan seorang diri.
Keluarga pengkhianat itu tidak terlalu besar, jadi tidak serepot keluarga Cleinhad. Dan, setelah aku memberi laporan dan menyebarkan info mengenai pembersihan yang kulakukan, belum ada tanda-tanda pengkhianat lain akan muncul. Untuk saat ini.
Untuk organisasi pasar gelap, sebagian berontak, sebagian bergabung. Namun, belum ada tanda-tanda enam pilar akan bergerak. Jadi, menurutku, situasi masih normal.
Lalu, untuk Mariander, pergerakan True One semakin gencar. Namun, kini, True One lebih cerdas dari sebelumnya. Sebelumnya, mereka lebih sering menggunakan taktik menyandera dan minta tebusan. Sekarang, mereka lebih sering melakukan penyerangan pada tempat besar dan lalu menyebarkan uang yang didapat ke orang-orang miskin, seperti Robin Hood.
Namun, cara tersebut hanya bekerja pada daerah yang dikelola dengan buruk. Pada daerah yang dikelola dengan baik, tidak.
Soal Mariander, tentu saja aku mengonsultasikannya dengan Selir Filial dan Inanna. Tanpa mereka, aku tidak tahu daerah mana saja yang pengelolaannya buruk. Setelah itu, informasi kuteruskan pada Etana.
Ada momen ketika Etana berniat mengunjungiku. Namun, aku melarangnya. Aku tidak mau terlihat menemui seorang pemberontak. Aku memberinya syarat kalau ingin menemuiku, True One harus sudah menggaet setengah dari Mariander.
Pada titik Ini, Etana yang seharusnya lebih tua, berasa seperti adik. Ada apa dengan orang-orang tua di sekitarku? Kenapa mereka bisa memperlakukanku, yang lebih muda, seperti kakak atau pemandu mereka?
Setidaknya, tidak semua orang yang aku pandu lebih tua dariku. Sudah hampir sebulan sejak aku melatih Shinar. Karena dia tidak memiliki fisik yang matang seperti Ufia, maka aku terpaksa melatih aspek itu terlebih dahulu.
Di pagi hari, ketika aku pergi ke makam Tasha, Inanna dan Emir akan menemani Shinar lari. Menu olahraganya sederhana. Hanya lari setengah jam, sit up, dan push up. Setelah itu, dia akan sarapan bersama kami bertiga, lalu berangkat ke kantor intelijen.
Di kantor, aku tidak memperbolehkannya istirahat. Dia masih harus bekerja seperti halnya agen schneider lain. Membuat laporan dan lain sebagainya hingga jam pulang karyawan. Namun, hari ini spesial, sampai malam. Sekarang, tepat setelah Mulisu memberi laporan, Shinar duduk lemas di sofa.
__ADS_1
"Hahaha, aku jadi teringat ketika ka– Lugalgin melatihku."
Mari mengatakannya dengan nada datar. Perempuan berambut putih dengan potongan bob pendek itu mengusap bahu Shinar sambil memperdengarkan tawa yang juga datar.
Aku sudah mengatakan kalau dia mau memanggilku Kakak, aku tidak keberatan. Namun, dia menolak, menyatakan itu bisa merusak reputasiku. Jujur, aku tidak tahu apa yang ada di pikirannya. Namun, aku tidak akan memaksanya.
Sekarang, di ruangan ini, ada aku, Mulisu, Shu En, Ur, Mari, Simurrum, Uru'a, dan Jeanne. Emir dan Inanna sedang di pantri, melihat-lihat apakah ada bahan makanan yang bisa dibawa pulang.
Normalnya, kegiatan pengumpulan dokumen ini akan dihentikan pada sore hari. Namun, mereka memaksa untuk lembur karena ini adalah dokumen terakhir.
"Jadi, dengan begini, kita bisa mulai seleksinya?"
Shu En, ibu-ibu berambut pirang panjang, mengajukan pertanyaan padaku.
"Ya, kita bisa mulai," aku menjawab. "Jadi, menurut kalian, metode mana yang paling efektif?"
"Menurut tim, metode paling efektif dan praktis adalah metode C. Dengan metode C, kita bisa memangkas banyak waktu. Selain itu, kita bisa keliling keluar kota."
"Aku setuju dengan Shu En!" Mulisu mengangkat tangan.
Tapi, aku juga ingin metode C sih. Dengan begini, aku bisa menghemat banyak waktu.
Berikut adalah detail mengenai metode C. Kami akan mengumpulkan sekitar 100 orang dalam satu ruangan dan mereka akan dibiarkan terpapar oleh aura membunuhku. Tentu saja aku tidak langsung memunculkan seluruh aura membunuh. Aku akan memunculkannya dari 10 persen, berlanjut ke 25 persen, dan yang terakhir 50 persen.
Selain aku, Mulisu dan Ur juga akan melakukannya. Namun, perbandingan aura membunuh kami bisa dibilang berbeda jauh. Sederhananya, aura membunuh mereka hanya setengah dariku. Kalau aku 50 persen, mereka 100 persen, dan seterusnya.
Lalu, penilaiannya, untuk yang tidak bisa bertahan ketika aku memunculkan 10 persen aura membunuh, diskualifikasi instan. Pingsan di angka 25 persen, kelas D. Pingsan di angka 50 persen kelas C. Masih bertahan di angka 50 persen, kelas B.
Kelas A, saat ini, hanya diisi oleh Shinar. Ke depannya, kelas A akan digunakan jika ada siswa yang menarik perhatian dan ada yang ingin melatihnya secara personal. Aku membatasi satu orang maksimal memasukkan dua orang ke dalam Kelas A.
Kalau anggota Agade yang ada di sini, termasuk Emir dan Inanna, mengambil dua murid, sudah ada 14 orang murid. Tambah Shinar, 15. Jeanne dan Shu En bilang ingin mengambil murid juga, total 19. Untuk agen lain, sebagian besar menolak. Mereka lebih memilih untuk mengajar kelas B, C, dan D.
Tentu saja tidak semua agen kukerahkan untuk sekolah ini. Justru sebaliknya. Tidak sampai 10 persen dari jumlah agen yang kuperintahkan menjadi instruktur. Lainnya? Masih pada pekerjaan lama.
"Ngomong-ngomong, Shinar, aku tidak melihat dua laki-laki yang dulu bersamamu."
"Ah, maksud guru Der dan Kutha? Mereka tidak sudi aku berguru padamu. Jadi, mereka meninggalkanku."
__ADS_1
Sejak aku melatihnya, Shinar memanggilku dengan sebutan Guru. Meski aku sudah memintanya agar cukup memanggilku dengan nama, atau kak, dia menolak. Karena ini hanyalah hal trivial, aku pun tidak memedulikannya.
"Ya, baguslah. Aku tidak terlalu repot jadinya. Ngomong-ngomong, Shinar, aku mau kamu ke sini."
"Ya?"
Aku menarik laci di meja dan mengambil satu map, meletakkannya di atas meja.
"Baca."
"Baik!"
Sesuai perintahku, Shinar membaca dokumen itu. Dia membuka lembar demi lembar. Semakin ke belakang, matanya terbuka semakin lebar. Kedua tangannya pun bergetar. Pada akhirnya, dia sampai di lembar terakhir.
Shinar meletakkan map itu di atas meja. Pandangannya tidak fokus. Nafasnya tersengal-sengal. Tanpa meminta izinku, dia menenggak air minum kemasan di ujung meja. Akhirnya, setelah menghabiskan air, dia pun berbicara.
"Guru, apa ini serius?"
Bersambung
\============================================================
Halo semuanya.
Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.
Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.
Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
__ADS_1