
~Ninlil's POV~
"Selamat menikmati,"
"Terima kasih, kak."
Kami menjawab kakak pelayan yang menghidangkan camilan dan minuman.
Aku memesan teh alpine seperti biasa. Teh ini membawa kenangan yang banyak dan indah untukku. Untuk Nanna, dia memesan es Red Velvet. Padahal menu spesial kafe ini adalah teh herbal, masa pesan menu non teh? Kan aneh. Untuk Suen, dia memesan teh jahe. Aku pernah mencoba, tapi rasa pedas dan panasnya tidak cocok untukku. Aku tidak tahu kenapa Suen menyukainya.
Untuk makanan, kami memesan beberapa kentang dan jamur goreng tepung.
Kata kakak, kalau membawa teman, aku diharuskan menunggu di kafe ini. Cukup sebutkan nama kakak dan kami bisa pesan apapun semaunya. Kakak tidak mau ada orang luar yang mengetahui pekerjaannya. Namun, Nanna dan Suen kan teman baikku. Masa masih dianggap orang luar?
"Ngomong-ngomong, tidak apa kita pesan semua ini?"
"Tidak apa. Tidak apa," Aku menenangkan Nanna. "Sebenarnya, pemilik kafe ini adalah kakak. Jadi kakak bilang kalau kita mau main ke sini, cukup bilang nama kakak, seperti tadi. Bahkan, kalau mau, kalian bisa datang sendiri ke sini dan menyebutkan nama kakak seperti tadi."
"Apa ini berarti kita mengurangi keuntungan kafe ini?" Suen menambah pertanyaan.
"Tidak. Tidak. Hanya karena kafe ini miliki kakak, kakak tidak akan melakukan hal itu. Sederhananya, kakak yang akan membayar pesanan kita. Entah dari gaji dia sebagai kepala security di mal ini, atau dari hadiah battle royale, atau memotong sebagian keuntungan pribadinya di kafe ini. Intinya, kita datang ke sini tidak memiliki efek buruk pada kafe."
Dan mereka tidak perlu mengkhawatirkan uang kakak. Padahal, dulu, kakak bilang tidak suka memegang uang banyak. Namun, saat ini, aku tidak bisa memperkirakan pemasukan kakak per bulan. Tidak! Jangankan per bulan. Aku bahkan tidak mampu memperkirakan pemasukan kakak per minggu.
Pertama, kakak mendapatkan uang dari battle royale sebesar.... aku lupa. Apa 10 ribu Zenith per bulan? Atau 100 ribu Zenith? Yah, intinya ada uang dari battle royale. Lalu, kakak bilang, dia juga ada usaha jual beli barang antik. Aku tidak tahu usaha yang ini masih jalan atau tidak. Kelihatannya masih, tapi mungkin seperti kafe ini, Kakak melimpahkan manajemen ke orang lain.
Dan lalu, pemasukan sebagai pemimpin Agade. Aku tidak tahu bisnis apa yang digeluti oleh Agade. Namun, tidak mungkin organisasi besar pasar gelap memiliki penghasilan kecil, kan? Mungkin kakak mendapatkan jutaan Zenith per minggu dari Agade. Lalu ada gaji sebagai kepala intelijen. Belum lagi, mungkin, kakak memiliki toko-toko lain seperti kafe Ease ini.
Uh, aku pusing. Berapa banyak pemasukan Kakak? Kakak tidak konsisten! Kalau bilang tidak suka pegang uang banyak, lalu kenapa pemasukannya bisa sebanyak itu?
"Kalau kalian mau tambah atau pesan untuk dibungkus tidak apa. Aku yakin kakak tidak akan keberatan."
"Benarkah? Kalau begitu, aku pesan teh jahe bubuk untuk dibungkus ya, untuk orang rumah."
Suen sama sekali tidak sungkan dan langsung berdiri. Tanpa menunggu izin, dia langsung pergi ke bar dan memesan sesuatu.
"Dasar Suen. Tidak tahu malu banget dia."
"Nanna, kalau mau, kamu juga bisa tambah atau pesan untuk dibawa pulang."
"Tapi, apa tagihan kakakmu tidak akan membengkak."
"Ahaha, santai saja. Uang kakak tidak akan berkurang kalau hanya seperti ini. Percayalah..."
"Ka, kalau begitu..."
__ADS_1
Nanna mengeluarkan smartphone dan mengirim pesan. Di kejauhan, aku melihat Suen mengambil smartphone dari dalam saku. Nanna pasti mengirim apa yang mau dia pesan melalui pesan. Ahaha, Nanna masih malu-malu kucing ternyata.
Setelah Suen memesan, dia pun kembali ke tempat duduk. Kami mengobrol kira-kira setengah jam hingga akhirnya kakak masuk ke kafe. Aku tidak bilang kalau kami akan berkunjung ke sini. Aku hanya bilang kami akan main. Jadi, kemungkinan besar, kakak mengira kami langsung ke rumah.
Saat ini, pasti kakak membeli teh herbal untuk dihidangkan pada kami nanti.
Namun, aku masih belum terbiasa melihat kakak yang berjalan diikuti Kak Emir dan Kak Inanna. Mereka bertiga tampak mengobrol dengan akrab dan santai, seolah tidak ada beban di dunia ini.
Uhhh..... aku iri. Aku juga ingin mengobrol santai dengan kakak.
Selain itu, aku penasaran, apakah Kak Inanna dan Kak Emir tidak berselisih? Maksudku, mereka bukanlah satu-satunya istri kakak? Apa mereka mau kakak poligami begitu saja? Meskipun Bana'an tidak melarang poligami, dan sering dilakukan oleh bangsawan, tapi bagi rakyat jelata seperti kami, praktik poligami itu... entahlah. Aku tidak menyukainya.
Ya, aku tidak suka praktik poligami.
Ketika aku terhanyut pada pikiranku, salah satu karyawan menunjuk ke sini. Spontan, kakak pun menoleh. Setelah mengucapkan salam pada karyawan, kakak mendatangi kami.
Nanna tiba-tiba bangkit dari kursi.
"Adalah sebuah kehormatan bagi saya dapat bertemu dengan Anda, Tuan Putri Emir, Tuan Putri Inanna."
"Eh, eh, eh, jangan." Kak Emir mencegah Nanna yang hampir merendahkan tubuh. "Aku bukan tuan putri lagi. Sekarang, aku hanya rakyat jelata, seperti kalian."
"Aku juga sama. Jadi, tolong, jangan merendahkan diri di depan kami."
"Sudahlah, turuti saja." Kak Lugalgin tiba-tiba masuk. "Kamu tidak mau membuat mereka tidak nyaman, kan?"
Nanna tidak langsung menjawab. Dia melihat padaku, dan aku mengangguk.
"Baiklah, kalau begitu. Maafkan saya."
"Aku." Kak Emir menempelkan telunjuk di bibir Nanna. "Jangan terlalu formal, ya. Dan panggil kami kak, ya. Jangan panggil kami Tuan Putri."
"Baik, Kak Emir."
Seolah tidak menganggap semua itu penting, Kak Lugalgin berbicara ke kami.
"Aku tidak menyangka kalian akan menjemput kami di mal. Aku kira kalian akan langsung ke rumah."
"Tidak apa. Kami butuh refreshing. Sesekali main sedikit lah. Hanya karena mau ujian, bukan berarti kami harus belajar terus, kan? Jangan khawatir. Kami pasti lulus ujian kok."
"Aku tidak mengkhawatirkanmu," Kakak menjawab cepat. "Aku mengkhawatirkan Nanna dan Suen. Bukannya menghina Nanna dan Suen, tapi, Ninlil, kadang kamu lupa kalau kamu itu pintarnya keterlaluan. Kamu, mungkin, hanya dengan memperhatikan di kelas sudah paham. Namun, Nanna dan Suen tidak demikian. Aku khawatir kamu terlalu sering mengajak mereka refreshing."
Nanna dan Suen mengangguk-angguk merespon ucapan kakak.
Sebentar, aku tidak tahu harus senang atau sedih. Di satu pihak, aku senang karena mendapat pujian dari kakak. Kakak mengakui kalau aku pintar. Namun, di lain pihak, aku juga sedih. Kakak seolah lebih mementingkan Nanna dan Suen.
__ADS_1
"Yah, sudahlah, ayo kita pulang."
Kami pun pergi meninggalkan mal dan pulang menuju rumah. Sepanjang perjalanan, Suen terus melekat ke Kakak. Di lain pihak, Nanna terus melekat ke Kak Emir dan Kak Inanna. Bahkan, ketika sampai rumah, Nanna ikut ke dapur.
Di lain pihak, aku ditinggal sendirian. Aku tidak mau sendiri!
Nanna, aku kira alasan dia ingin bertemu dengan Kak Emir dan Kak Inanna hanya lah bohong dan sebenarnya ingin bertemu Kak Lugalgin. Apa dia jujur? Namun, tadi, dia memejamkan matanya ketika berkata ingin bertemu dengan Kak Emir dan Kak Inanna. Apa dia menunggu Suen lepas dari kakak?
Di lain pihak, gara-gara Suen, perhatian kakak sepenuhnya fokus padanya. Kakak sama sekali tidak memperhatikanku. Apa yang harus kulakukan?
"Sebentar, untuk bagian ini, aku tidak terlalu paham. Ninlil, kesini sebentar."
"Ya, kak?"
Akhirnya kakak memanggilku! Akhirnya kakak membutuhkanku!
"Ya? Ada apa kak?"
"Ini, soal pertanyaan Suen. Dia bertanya apakah ada trik untuk bisa meningkatkan pengendalian. Jawaban yang bisa kuberi hanyalah jawaban teori, memperdalam pengetahuannya. Untuk praktiknya bisa kamu bantu? Emir spesial dan berbakat. Dia tidak tahu apa itu latihan pengendalian. Inanna juga sedang sibuk di dapur. Jadi, tolong ya. Kakak percayakan Suen ke kamu."
"Baik Kak!"
Bersambung
\============================================================
Halo semuanya.
Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.
Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.
Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
__ADS_1