
~Lacuna POV~
Si Pirang bilang akan menyerang malam ini. Siang ini, dia menghabiskan waktunya untuk menyiapkan persenjataan dan mengatakan "kalau kamu tidak mau bergerak, aku bergerak sendiri. Semua uangnya akan jadi milikku.".
Hah.... dia terlalu terburu-buru. Informasi belum cukup. Peluru itu menghilangkan kekuatan pengendalian ketika bersentuhan dengan benda, tapi aku belum tahu efeknya kalau peluru itu menyentuh tubuh.
Ada dendam kesumat apa dia dengan keluarga Ibrahim?
Di lain pihak, aku sedikit merasa bersalah karena memberinya ide kalau senjata itu belum layak beredar karena belum memenuhi kriteria. Sedikit. Namun, kalau dia mau berangkat duluan dan mati, aku tidak keberatan.
Sekarang, aku sedang menikmati crepes blueberry di taman, di sore hari. Taman ini berada di samping sungai besar dengan jembatan suspensi sebagai latar. Suara orang-orang dan anak-anak pun terdengar di setiap sudut.
Aku belum tahu mau melakukan apa malam ini. Apa aku amati serangan Pirang saja ya? Itu bisa juga. Sementara dia menyerang, aku menonton dari kejauhan, mencari informasi.
Mungkin, kalau beruntung, aku bisa melihat ketika satu peluru mendarat di tubuh Pirang. Ya, kalau aku beruntung. Kalau aku sial, efek peluru itu tidak terlalu signifikan meski mendarat di tubuh manusia dan Pirang mampu menghancurkan keluarga Ibrahim seorang diri. Ya, itu kalau aku–
Tiba-tiba saja, aku merasakan tubuhku ditekan dari segala arah. Tidak jauh dariku, sebuah sosok berambut pirang panjang nan jelita sedang berjalan. Dan, kami saling melempar pandangan.
Pengendalian utama perak bukanlah pengendalian yang generik, jadi kami lebih peka jika merasakan ada pengendali perak lain di sekitar. Pengendali perak lain ini, tidak lain dan tidak bukan, adalah Mila, ibuku.
"Ah, Lacuna? Tidak kusangka akan menemuimu di tempat seperti ini."
Dia berjalan mendekat, sambil makan crepes.
"Apa kau tidak khawatir keluarga Ibrahim akan dihabisi oleh dua orang itu?"
Tanpa meminta izin, Mila langsung duduk di sebelahku.
Sial, kenapa dia duduk begitu saja di sebelahku. Meskipun dia tidak menginginkannya, tapi kekuatan pengendaliannya benar-benar mendominasi tubuhku. Aku merasa seolah-olah seluruh perak yang ada di wig dan pakaianku bisa menyerangku kapan saja.
Pikiranku tidak bisa tenang sama sekali dan aku kesulitan bernafas.
"Ah, maaf, sebentar ya."
Setelah mengatakan hal itu, Mila mengenakan sebuah cincin. Tepat setelah dia mengenakan cincin tersebut, semua tekanan yang kurasakan menghilang. Tidak, bukan sejak mengenakan, tapi semenjak dia mengambilnya itu, sejak jarinya bersentuhan dengan cincin tersebut.
__ADS_1
Setelah pikiran dan nafasku normal kembali, aku langsung mengajukan pertanyaan.
"Cincin itu–"
"Sebelum aku menjelaskan cincin apa ini, jawab dulu pertanyaanku yang sebelumnya."
Cih! Dasar sentimen.
"Aku tidak khawatir. Informasi yang kalian berikan, dan kudapatkan, masih terlalu minim. Aku belum tahu apapun mengenai senjata penghilang pengendali itu, berapa lama efeknya bertahan, dan lain sebagainya. Menyerang ketika belum mendapatkan semua informasi ini sama saja dengan bunuh diri."
"Hmm...." Mila mendengung sambil makan crepes, yang tampaknya juga rasa strawberry.
"Giliran. Cincin itu?"
Sambil menanti jawaban Mila, aku kembali memakan crepes yang sempat terhenti karena pengendalian perempuan ini.
Mila tersenyum. "Cincin ini adalah purwarupa dari senjata yang digunakan keluarga Ibrahim."
"Purwarupa?"
Mila menjawab dengan enteng, tanpa ada beban sama sekali. Namun, kalau dia bilang purwarupa, bagaimana senjata yang dihasilkan bisa mencapai keluarga Ibrahim? Apa ada kebocoran? Atau...
"Tidak, tidak ada kebocoran teknologi dari organisasiku atau pun dari keluarga Ibrahim."
Mila berkata seolah bisa membaca pikiranku.
"Cincin ini adalah penelitian yang dilakukan oleh pemerintah. Ketika ada orang dengan pengendalian utama yang langka dan bersebelahan, seperti kau dan aku, pihak yang pengendaliannya lebih lemah pasti akan merasa tertekan dan terintimidasi, kan? Semakin besar perbedaannya, semakin besar tekanannya."
Aku hanya mengangguk, sambil memakan crepes. Tidak salah aku membeli porsi super jumbo. Aku jadi ada camilan sambil mendengarkan perempuan ini berkata.
"Kalau dua orang itu bukanlah orang yang dekat dan jarang bertemu, seperti kita, tidak akan ada masalah. Namun, bagaimana kalau hal itu terjadi pada orang tua dan anak?"
Aku terhenti ketika dia mengatakannya?
"Normalnya, yang terjadi adalah sang anak lahir dengan tingkat kekuatan dan pengendalian yang sama dengan orang tua. Untuk orang spesial dan berbakat, hal ini adalah biasa. Ada alasan kenapa generasi baru selalu lebih kuat dari generasi lama."
__ADS_1
Oke, lalu?
"Namun, hal ini tidak berlaku bagi keluarga dengan kekuatan pengendalian generik dan normal. Ketika keluarganya adalah keluarga normal, sang anak tidak akan mewarisi hasil latihan orang tua. Hal ini berakibat ketika sang anak lahir, anak tersebut akan tertekan oleh aura pengendalian orang tuanya. Dan hal ini, adalah salah satu alasan kematian bayi pada kelahiran.
Ung, aku harap dugaanku salah.
“Dan, terkadang, ada kasus langka walaupun orang tua dan anak sama-sama tidak umum, kekuatan orang tua tidak menurun pada anak."
Oke, aku mulai membenci dugaanku.
"Tentu saja, cincin ini tidak beredar secara bebas. Normalnya, cincin ini hanya beredar di lingkungan militer. Hal ini karena banyak tentara yang adalah orang normal namun dipaksa untuk melatih pengendaliannya hingga ke batas. Namun, namanya juga pasar gelap, apa sih yang tidak bocor."
Aku harus mengalihkan perhatian. "Dari caramu mengatakannya, seolah-olah pasar gelap negeri ini sudah mengetahui itu semua. Namun, kenapa di informasi yang kau berikan, dan aku kumpulkan, mengatakan bahwa semua itu hanya rumor?"
Bersambung
\============================================================
Chapter ini diupload Selasa sore.
Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author
Kali ini tidak terlalu banyak post note nya karena masih di tengah cerita. Belum ada komentar yang berhubungan dencan cerita juga. Jadi, sesi respon komentar pun juga kosong.
Dan, seperti biasa, author ingin melakukan endorse. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita. Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
__ADS_1