I Am No King

I Am No King
Chapter 112 – Aliansi


__ADS_3

"Terima kasih atas kesediaannya untuk menghadiri pertemuan siang ini. Saya, Lugalgin Alhold, kepala dan perwakilan intelijen Kerajaan Bana'an, mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya pada para tamu sekalian."


 


Kami menggunakan ruang konferensi mal yang biasanya disewakan untuk acara tertentu. Ruang konferensi ini sangat besar, dapat menampung hingga 200 orang lebih. Namun, kali ini, di dalam ruang ini hanya terdapat 10 orang dan sebuah meja bundar.


 


Meski ada 10 orang, yang duduk hanya tiga orang. Di kiriku, duduk seorang perwakilan dari Akadia. Aku sama sekali tidak mengira ibu akan mengirim seorang bangsawan ke pertemuan ini. Beruntung bagiku karena ibu mengirim orang yang mengenalku.


 


Perwakilan dari Akadia bernama Marlien Awan, laki-laki berambut hitam panjang dikuncir gaya man bun dengan pakaian penuh ornamen berwarna dasar putih dan biru. Fitur yang mencolok adalah dagu yang tajam, seperti pandangannya. Dia adalah klien yang memesan sepeda motor ketika aku baru menang Battle Royale.


 


Di sisi kananku, duduk seorang laki-laki dengan fitur generik, rambut coklat dan mata coklat. Namun, aku tahu benar kalau wajah laki-laki ini adalah palsu. Ibla mengenakan topeng silikon yang dibuat oleh Emir.


 


"Tidak perlu formal seperti itu. Aku sudah mengenalmu sejak lama, Gin."


 


"Iya, benar. Dan lagi, tidak mungkin aku menolak tawaran dari orang yang telah banyak berjasa untuk Agade." Ibla mengalihkan pandangan. "Kepada perwakilan Akadia, perkenalkan, namaku adalah Sarru, pemimpin sekaligus perwakilan Agade."


 


Haha, dan Ibla menggunakan namaku.


 


"Ah, sungguh suatu kehormatan untuk saya bisa melihat wajah tuan Sarru. Perkenalkan, nama saya Marlien Awan. Saya adalah perwakilan Akadia dan orang yang telah diberi kepercayaan oleh pemimpin untuk berkomunikasi dengan kepala intelijen Negara."


 


Setelah mereka berdua saling mengenalkan diri, kami sedikit mengobrol dan basa-basi, mencoba mencairkan suasana.


 


Di belakang kami, ada beberapa orang berjaga. Di belakangku, ada Emir, Inanna, Shu En, dan Jeanne. Di belakang Ibla, berdiri seseorang dengan mengenakan topeng gorila. Dari tingginya, aku memperkirakan Ninmar. Di belakang Marlien, berdiri dua orang yang mengenakan pakaian militer berwarna hitam, bukan warna militer negara ini.


 


Namun, yang menjadi perhatianku adalah satu orang dengan rambut hitam panjang, menyentuh kerah. Wajahnya tampak sedikit gemuk. Meski dia mengenakan topeng silikon, aku tidak akan pernah bisa melupakan auranya. Sudah tiga tahun aku mengenalnya. Tidak mungkin topeng silikon bisa membuatku lupa.


 


Mengingat Akadia adalah organisasi tempat bernaung orang-orang penting dan berpengaruh di kerajaan ini, menurutku adalah hal yang lumrah kalau dia juga menjadi anggota di dalamnya. Apalagi, dia juga seorang bangsawan.


 


Jika seandainya Illuvia tidak berubah, masih memancarkan aura yang sama seperti SMA, seperti sosok di belakang Marlien ini, mungkin aku tidak akan pernah menghancurkan bahunya. Ya, yang sudah terjadi biarlah terjadi. Sekarang, aku harus fokus pada pertemuan ini.


 


"Baiklah, bagaimana kalau kita mulai masuk ke topik pembicaraan utama?"


 


Aku mengakhiri basa-basi kami. Ketika aku mengatakannya, Shu En pergi ke Marlien dan Jeanne mendekat ke Ibla. Mereka meletakkan sebuah map di samping Marlien dan Ibla, kemudian kembali ke belakangku.


 


Mereka berdua membuka dan mulai membaca dokumen tersebut.


 


Di dalam map itu, terdapat sebuah dokumen berisi tawaran yang kuberikan. Daripada tawaran, lebih tepatnya, sebuah peraturan yang akan kuberlakukan.


 


Isinya sama seperti yang telah kuucapkan pada ibu. Pada dasarnya, aku berusaha mengatur transaksi ilegal yang dilakukan oleh organisasi-organisasi di negara ini. Pengaturan yang aku maksud adalah kuota maksimal transaksi ilegal masing-masing organisasi.


 


Aku tidak akan memberi suplai anak-anak sebagai kompensasi seperti yang telah dilakukan oleh keluarga Cleinhad. Kompensasi yang akan kuberi adalah sebuah keistimewaan, yaitu agen schneider akan membantu mereka agar transaksi yang dilakukan tidak tercium oleh pihak militer, kepolisian, ataupun warga sipil. Kalau perlu, kami akan memfasilitasi transaksi dan pertemuan tersebut.


 

__ADS_1


"Kalau dilihat secara sekilas, penawaranmu amat sangat tidak menarik," Marlien merespon. "Namun, kalau dibaca baik-baik, kamu tidak hanya mengabaikan nepotisme dan penyuapan yang mungkin kami lakukan, tapi bahkan melindungi kami. Apa benar demikian?"


 


"Ya, benar sekali." Aku membenarkan Marlien. "Namun, perlu diingat. Penyuapan dan transaksi yang akan kami lindungi hanyalah transaksi yang kalian laporkan dan masih berada di bawah kuota. Kalau kalian melakukan transaksi tanpa melapor atau di luar kuota, maka kami tidak akan bertanggung jawab kalau ada hal buruk terjadi."


 


Kami tidak bertanggung jawab, dibaca kami akan melakukan sesuatu yang merugikanmu. Marlien mengetahui benar maksud ucapanku dan kembali mengembalikan pandangan ke dokumen di tangannya.


 


Sebenarnya isi dokumen itu sudah kukirim ke ibu. Jadi, aku yakin, sebenarnya Marlien datang hanya untuk formalitas.


 


"Perwakilan dari Agade, ada pertanyaan?"


 


"Katakan, apakah intelijen negara juga akan bersedia membantu kami dalam bisnis yang resmi?"


 


"Eh?"


 


Meski tidak kencang, aku bisa mendengar Jeanne yang terkejut di belakangku. Tampaknya dia terkejut ketika mendengar Ibla, yang mengaku sebagai Sarru, menyebutkan bisnis resmi, tidak ilegal.


 


"Bisa aku tahu bantuan yang kau maksud?" Aku meminta kejelasan.


 


"Kami, Agade, juga memiliki beberapa perusahaan yang bergerak di bidang impor dan ekspor. Permintaan kami sederhana. Kami ingin mencatut nama kalian dalam negosiasi. Kalau perlu, kalian membuat surat rekomendasi yang menyatakan kalau intelijen negara menyetujui usaha kami, untuk meyakinkan lawan negosiasi kalau kami memang benar resmi."


 


"Hehe," aku tertawa kecil mendengar Ibla.


 


 


"Sayangnya, kamu tidak akan pernah mendapatkan surat rekomendasi dari intelijen negara. Maksudku, orang bodoh mana yang akan percaya kalau intelijen negara membuat surat rekomendasi, kan?"


 


"Kamu tidak salah. Tapi–


 


"Tapi kamu berpikir aku bisa meminta surat dari instansi lain, seperti bea cukai, untuk membuat surat rekomendasi untukmu, kan?"


 


Ibla tidak memberi jawaban. Dia hanya tersenyum sambil mengistirahatkan dagunya di atas tangan


 


Aku tidak langsung menjawab, tapi melihat ke belakang kiri, ke arah Shu En yang berdiri di dekat Inanna.


 


Menyadari pandanganku, Shu En pun angkat bicara.


 


"Kalau Anda menginginkannya, saya bisa mendapatkan surat rekomendasi itu minggu ini juga. Cukup berikan data perusahaan yang Anda maksud."


 


"Baiklah, cukup membantu. Nanti, aku akan mengirimkan data perusahaan tersebut pada Lugalgin."


 


"Hoo, jadi Agade juga memiliki perusahaan impor ekspor." Marlien masuk ke pembicaraan. "Tuan Sarru, kalau Anda tertarik, bagaimana kalau kita bekerja sama? Anda impor barang yang saya inginkan, saya akan menyebarkannya di daerah saya."

__ADS_1


 


"Kalau akan membawa keuntungan, kenapa tidak?"


 


"Baiklah, mari kita bicarakan lebih lanjut lain waktu. Lugalgin," Marlien menoleh padaku. "Kalau kami ingin mengadakan pertemuan untuk bisnis resmi, apakah intelijen negara akan memfasilitasi kami juga? Sekalian sebagai saksi."


 


"Biaya tiket dan akomodasi kalian ditanggung masing-masing ya."


 


Kami bertiga tertawa terbahak-bahak dengan respon yang kuberikan.


 


Meski kami bertiga tertawa terbahak-bahak, orang-orang yang berdiri tidak ada yang tertawa. Mereka saling memperhatikan satu sama lain, berjaga-jaga kalau ada pihak yang memutuskan untuk bertindak bodoh dengan melancarkan serangan.


 


Setelah itu, kami melanjutkan negosiasi mengenai apa yang bisa dan apa yang tidak bisa kuberi. Mereka berdua pun juga mulai memberi beberapa penawaran dan persyaratan.


 


Beberapa hal lain seperti mereka akan bersedia mengirimkan perwakilan untuk menjadi saksi, bersama dengan agen schneider, jika ada organisasi lain yang akan menyetujui aturan yang akan kuberlakukan atau akan ingin melakukan transaksi.


 


Meski ada sedikit masalah dengan organisasi lain yang mungkin akan menentang, aku tidak membawanya ke permukaan. Mereka berdua pasti juga menyadari masalah itu dan mulai menyiapkan diri untuk berperang.


 


Pada akhir negosiasi, mereka berdua memberi sebuah dokumen padaku. Dokumen yang diberi oleh Ibla adalah laporan mengenai pembantaian keluarga Susek semalam. Dokumen yang diberi oleh Marlien adalah daftar agen yang menentangku. Meski semua agen yang menentangku sudah kurumahkan, ada kemungkinan satu atau dua yang menyatakan setia berkhianat. Dokumen yang diberi Marlien akan cukup membantuku.


 


Mereka menyatakan dokumen ini sebagai free service, sebagai itikad baik untuk bekerja sama.


 


Bersambung


 


 


\============================================================


 


 


Halo semuanya.


 


Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.


 


Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


 


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


 


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


 


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.


 


Sampai jumpa di chapter selanjutnya

__ADS_1


 



__ADS_2